Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 8 Oktober 2021 | 18.13 WIB

Dua Pertiga Pasien Kanker Payudara ke Dokter saat Sudah Stadium Lanjut

Ilustrasi: Deteksi kanker payudara dengan mamografi. (Womenfitness) - Image

Ilustrasi: Deteksi kanker payudara dengan mamografi. (Womenfitness)

JawaPos.com - Deteksi dini kanker payudara bisa lebih meningkatkan peluang kesembuhan dan penanganan pengobatan. Sayangnya sebagian besar pasien di Indonesia datang ke dokter dalam kondisi terlambat yakni sudah stadium lanjut.

Dalam aksi kampanye SADARI dan SADANIS oleh PT Uni-Charm Indonesia Tbk dan Aksi Pink Ribbon oleh YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia), Ahli Bedah Onkologi dan Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI) dr. Walta Gautama, Sp.B(K)Onk menjelaskan bahwa masih sekitar 70 persen pasien kanker payudara datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi stadium lanjut. Padahal jika kanker payudara terdeteksi lebih awal, akan ada lebih banyak pilihan perawatan dan kesempatan untuk bertahan hidup juga akan lebih besar.

"Kesembuhan bisa mencapai 95 persen apabila terdeteksi pada stadium pertama," katanya baru-baru ini secara daring.

Dengan begitu, kualitas hidup pasien akan naik dan meminimalkan angka kematian akibat kanker payudara di Indonesia. Oleh karena itu, penting melakukan deteksi dini oleh setiap perempuan Indonesia agar bisa mengetahui sejak dini apabila terjadi perubahan pada payudaranya.

Kapan Deteksi Dini Kanker Payudara Dilakukan?

Deteksi sendiri bisa dilakukan secara teratur setiap bulannya. Dilakukan pada hari ke 7-10 setelah hari pertama menstruasi, atau tanggal tertentu untuk yang sudah menopause.

Kanker payudara masih menjadi ancaman bagi masyarakat Indonesia terutama perempuan Indonesia. Menurut data The Global Cancer Observatory tahun 2020, kanker payudara di Indonesia merupakan kanker paling banyak ditemukan pada perempuan dengan proporsi 30,8 persen dari total kasus kanker lainnya, yakni terdapat 65.858 kasus baru. Sementara itu, kanker payudara di Indonesia menempati urutan kedua penyebab kematian akibat kanker dengan persentase sebesar 9,6 persen.

Salah satu penyebab tingginya angka kasus kejadian dan kematian akibat kanker payudara adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat akan deteksi dini dan pemeriksaan kanker payudara secara klinis, yang di mana menurut riset Kemenkes di tahun 2016, tingkat penetrasi SADARI adalah 46,3 persen.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore