
DETEKSI PNEUMONIA: Ortu perlu waspada jika anak balita batuk berkepanjangan disertai demam dan kesulitan bernapas.
JawaPos.com – Dua bulan terakhir, kasus pneumonia pada anak di Surabaya meningkat. Selain disebabkan virus dan bakteri, cuaca panas juga menjadi faktor pemicunya.
Menurut dokter spesialis anak Mayapada Hospital dr Deasy Fiasry SpA, gejala pneumonia pada anak bisa dikenali lewat frekuensi batuk yang jarang, lantas cepat meningkat menjadi batuk skala berat. Gejala lain yang bisa dilihat pada bayi adalah frekuensi napas yang makin cepat.
”Jadi, dari cuping hidung yang kembang kempisnya cepat. Lalu, ada tarikan napas dada yang lebih berat. Jadi, saat napas, dadanya terlihat lebih dalam,” ucap Deasy.
Gejala lainnya berupa demam dan penurunan nafsu makan. Menurut Deasy, kenaikan kasus pneumonia pada anak sebenarnya terjadi sejak awal tahun.
Terutama sejak kondisi kegiatan mulai normal dan aturan masker dicabut. Namun, peningkatan signifikan justru terjadi selama dua bulan terakhir. Itu dipengaruhi beberapa faktor.
Cuaca panas juga memicu pneumonia. ”Dampaknya ke imunitas tubuh yang menurun. Kemudian, orang cenderung malas pakai masker karena panas,” ucapnya. Selain itu, cuaca panas diikuti dengan tingginya polutan di udara.
Pneumonia pada anak juga disebabkan aktivitas orang dewasa. Bisa jadi, selepas kerja, orang dewasa pulang membawa virus. ”Tapi, karena imunitas anak lebih rentan, anaknya yang sakit,” jabarnya.
Pasien pneumonia pada anak didominasi usia 2–5 tahun. Persentasenya 60 persen. Selanjutnya, kelompok usia di bawah 8 tahun, di bawah 10 tahun, dan belasan tahun. Kasus berat pada bayi juga sudah ditemukan.
Kepala Puskesmas Sidosermo dr Arista Agung Santoso mengatakan, pihaknya belum banyak menemukan kejadian yang mengarah ke pneumonia. Namun, dia mulai menyiapkan langkah pencegahan karena saat ini ada kenaikan kasus pneumonia di Tiongkok dan Singapura.
”Kami mulai lakukan antisipasi. Preventif, promotif, dan rencana kuratifnya nanti bagaimana, pemisahan antara anak gejala pneumonia dan kasus lain,” jelasnya.
Solusinya adalah mengedukasi warga dan memberikan vaksin PCV (pneumococcal conjugate vaccine) untuk mencegah pneumonia akibat bakteri pneumokokus pada bayi dan balita. Vaksin PCV wajib diberikan saat anak menginjak usia 2 bulan. Vaksin tersebut bisa diakses secara gratis di posyandu.
Deasy menambahkan, orang tua bisa memberikan imunisasi influenza pada anak sejak usia 6 bulan. ”Dan diulang berkala hingga usia 7–8 tahun. Ini penting untuk menekan risiko radang otak,” tuturnya. (dya/c7/aph)
TENTANG PNEUMONIA PADA ANAK
- Pneumonia pada anak tak hanya disebabkan virus atau bakteri tertentu.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
