Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 Oktober 2023 | 19.26 WIB

Penyakit Paru Obstruktif Kronis Emfisema Dipicu Paparan Polutan Ekstrem, Asap Rokok, hingga Polusi Udara

Batuk dan bermasker. Pancaroba membuat ketahanan tubuh jadi rentan dan bisa memicu batuk dan pilek. - Image

Batuk dan bermasker. Pancaroba membuat ketahanan tubuh jadi rentan dan bisa memicu batuk dan pilek.

Kerusakan kantong udara di paru-paru membuat penderitanya mengalami sesak napas. Gejala akan timbul tiap melakukan aktivitas sehingga mengganggu kualitas hidup. Perokok aktif maupun pasif berisiko besar terkena emfisema. Mari terapkan gaya hidup sehat di bulan paru sehat.

---

RASA sesak napas yang muncul setiap melakukan kegiatan berat tidak boleh dianggap remeh. Bisa jadi itu gejala awal emfisema. Yakni, kondisi paru yang mengalami kerusakan pada kantong udara atau alveolus.

’’Lama-kelamaan, sesak napas itu bisa muncul saat aktivitas ringan seperti mandi atau menyisir rambut, bahkan ketika istirahat,’’ terang dr Rita Hapsari Meta SpP FAPSR.

Penyakit yang termasuk dalam klasifikasi penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) itu bersifat kronis dan progresif. Ditandai dengan kelainan anatomi berupa pelebaran rongga udara dan kerusakan parenkim paru.

’’Orang menyebutnya paru-paru molor atau tidak elastis lagi,’’ lanjut dokter spesialis paru Mayapada Hospital Surabaya itu.

Alveolus yang rusak tidak bisa dipulihkan kembali. Jadi, pengobatan pada emfisema hanya bertujuan mengendalikan gejala dan mencegah perburukan atau komplikasi. Termasuk menurunkan angka kematian akibat terapi yang kurang tepat.

’’Emfisema tidak bisa disembuhkan. Jadi, segera konsultasi bila ada keluhan di saluran pernapasan,’’ imbaunya.

Umumnya, emfisema ditandai dengan gejala awal seperti napas pendek atau sesak napas, batuk, mengi, dan mudah lelah. Pada kondisi yang buruk, beberapa orang dapat mengalami perubahan warna bibir atau kuku menjadi abu-abu kebiruan lantaran kekurangan oksigen.

’’Pada beberapa kasus, penderita emfisema bisa jadi tidak menyadari gejalanya hingga bertahun-tahun,’’ ujar dr Rita.

Biasanya, penderita emfisema kesulitan dalam mengembuskan napas. Kondisi itu terjadi secara bertahap. Ada pula kondisi yang khas saat dada terlihat membesar seperti tong atau disebut barrel chest.

’’Orang dengan kondisi ini juga memiliki tulang rusuk yang meluas seperti sedang mengambil napas panjang akibat emfisema paru,’’ imbuhnya.

Dokter Rita menyebut paparan jangka panjang terhadap iritasi udara sebagai penyebab utama emfisema. Di antaranya, asap tembakau, polusi udara, asap kimia, dan debu. Di samping itu, pertambahan usia juga berpengaruh. Jaringan paru-paru pada lansia lebih rentan rusak sehingga memicu emfisema.

’’Pada pengidap emfisema akibat merokok berat, tentu langkah awal pengobatan harus stop merokok,’’ urai dr Rita.

Emfisema jarang menyerang usia muda. Kalaupun terjadi, biasanya karena ada kelainan genetik, defisiensi antitripsin alfa-1 (AATD).

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore