seseorang yang senang mendaki gunung / foto: Magnific/aimenda123
Namun, bagi banyak orang, pengalaman mendaki sebenarnya bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mampu melangkah. Ada proses psikologis yang berlangsung sepanjang perjalanan tersebut.
Ketika seseorang memilih untuk tetap berjalan meskipun kakinya lelah, mengambil keputusan saat jalur mulai sulit, menghadapi rasa takut, atau akhirnya berdiri di sebuah puncak setelah berjam-jam berjalan, ia sedang mendapatkan pengalaman yang jauh lebih berharga daripada sekadar pemandangan indah.
Ia sedang belajar mengenal dirinya sendiri.
Bagi perempuan, pengalaman seperti ini dapat menjadi ruang untuk membangun kepercayaan terhadap kemampuan diri. Bukan karena mendaki secara otomatis membuat seseorang menjadi lebih percaya diri, tetapi karena kegiatan tersebut memberikan berbagai pengalaman yang secara psikologis dapat memperkuat keyakinan: “Saya ternyata mampu.”
Dalam psikologi, keyakinan terhadap kemampuan diri ini berkaitan erat dengan konsep self-efficacy, yang diperkenalkan oleh psikolog Albert Bandura. Secara sederhana, self-efficacy adalah keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu melakukan tindakan tertentu dan menghadapi tantangan yang muncul.
Menariknya, kepercayaan diri tidak selalu tumbuh dari pujian orang lain.
Kadang-kadang, kepercayaan diri tumbuh ketika seseorang mengalami sendiri bahwa dirinya mampu melewati sesuatu yang sebelumnya terlihat sulit.
Mendaki memberikan banyak kesempatan untuk mengalami hal tersebut.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (24/10), terdapat lima cara yang mungkin terasa mengejutkan bagaimana kegiatan mendaki dapat membantu perempuan membangun kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
1. Mendaki Mengajarkan Bahwa Rasa Takut Tidak Selalu Berarti Harus Berhenti
Salah satu hal yang sering disalahpahami tentang kepercayaan diri adalah anggapan bahwa orang percaya diri berarti orang yang tidak takut.
Padahal, secara psikologis, kepercayaan diri tidak selalu berarti ketiadaan rasa takut.
Seseorang dapat merasa takut sekaligus tetap mengambil langkah.
Inilah salah satu pelajaran penting yang bisa muncul ketika seseorang mendaki.
Bayangkan seorang perempuan yang pertama kali menghadapi jalur terjal. Napasnya mulai berat. Jalurnya sempit. Tangannya mungkin berkeringat. Di dalam pikirannya muncul berbagai pertanyaan:
“Apakah saya bisa?”
“Bagaimana kalau saya jatuh?”
“Bagaimana kalau saya tidak kuat sampai atas?”
Perasaan tersebut sangat manusiawi.
Namun, ketika ia berhenti sejenak, mengatur napas, memperhatikan pijakan, lalu melanjutkan langkah, ia mendapatkan sebuah pengalaman psikologis yang penting.
Ia belajar bahwa rasa takut dapat hadir tanpa harus mengendalikan seluruh tindakannya.
Ini berbeda dengan berpikir, “Saya tidak takut.”
Pesan yang lebih kuat justru adalah:
“Saya takut, tetapi saya masih bisa mengambil keputusan dengan hati-hati.”
Pengalaman seperti ini dapat membantu seseorang mengubah hubungan dengan rasa takut.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip yang sama dapat muncul ketika perempuan harus berbicara di depan umum, mengajukan pendapat di tempat kerja, memulai sesuatu yang baru, mengatakan tidak kepada orang lain, atau mengambil keputusan yang selama ini ditunda.
Kepercayaan diri akhirnya tidak lagi bergantung pada hilangnya rasa takut.
Sebaliknya, seseorang mulai memahami bahwa dirinya tetap memiliki kemampuan untuk bertindak meskipun merasa takut.
Keberanian bukan berarti tidak takut
Mendaki juga memberikan pelajaran penting tentang perbedaan antara keberanian dan tindakan ceroboh.
Jika jalur terlalu berbahaya, cuaca memburuk, atau kondisi tubuh tidak memungkinkan, keputusan terbaik justru bisa berupa berhenti atau kembali turun.
Ini penting secara psikologis.
Mempercayai diri sendiri bukan berarti selalu memaksa diri untuk terus maju.
Mempercayai diri sendiri berarti mampu mengenali kemampuan, keterbatasan, risiko, dan kebutuhan diri sendiri—kemudian membuat keputusan berdasarkan semuanya.
Dengan kata lain, keberanian tidak selalu berbentuk “saya lanjut”.
Kadang-kadang keberanian berbentuk:
“Saya memilih berhenti karena saya tahu apa yang saya butuhkan.”
Kemampuan mengambil keputusan seperti ini dapat memperkuat rasa percaya terhadap penilaian diri sendiri.
2. Tanjakan yang Panjang Mengubah Cara Perempuan Melihat Kegagalan
Ada satu pengalaman unik ketika mendaki: perjalanan menuju puncak hampir tidak pernah terasa seperti garis lurus yang mudah.
Kadang seseorang berjalan jauh tetapi puncaknya belum terlihat.
Kadang ia merasa sudah dekat, tetapi ternyata masih ada tanjakan berikutnya.
Kadang seseorang harus berhenti karena kelelahan.
Dan terkadang, tujuan awal bahkan harus dibatalkan karena kondisi tidak memungkinkan.
Situasi seperti ini dapat mengajarkan sebuah konsep penting dalam psikologi: kegagalan atau hambatan tidak selalu menjadi bukti bahwa seseorang tidak mampu.
Ketika seseorang mengalami kesulitan lalu tetap dapat mengevaluasi apa yang terjadi, ia memiliki kesempatan untuk mengembangkan cara berpikir yang lebih adaptif.
Misalnya, seorang pendaki mungkin berpikir:
“Saya lambat.”
Kemudian pemikiran itu dapat berkembang menjadi:
“Saya memang lebih lambat dari teman saya, tetapi saya masih bergerak.”
Perubahan kecil tersebut penting.
Sebab kepercayaan diri tidak harus dibangun dari perbandingan dengan orang lain.
Tidak semua orang memiliki kecepatan yang sama.
Tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama.
Tidak semua tubuh memiliki kapasitas yang sama.
Dan tidak semua perjalanan harus menghasilkan pencapaian yang sama.
Mendaki mengajarkan progres, bukan kesempurnaan
Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering menghadapi tekanan untuk terlihat mampu dalam banyak hal sekaligus.
Harus berhasil.
Harus produktif.
Harus terlihat kuat.
Harus mampu mengurus banyak hal.
Harus memenuhi ekspektasi keluarga, pasangan, pekerjaan, atau lingkungan sosial.
Dalam kondisi seperti itu, kesalahan kecil terkadang terasa seperti bukti bahwa diri sendiri tidak cukup baik.
Mendaki dapat memberikan perspektif berbeda.
Ketika berada di jalur pendakian, seseorang tidak perlu menaklukkan seluruh gunung dalam satu langkah.
Ia hanya perlu menentukan langkah berikutnya.
Satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Dan satu lagi.
Secara psikologis, cara berpikir seperti ini dapat membantu seseorang memecah tujuan besar menjadi tindakan yang lebih kecil dan dapat dikelola.
Pada akhirnya, kepercayaan diri dapat tumbuh bukan karena seseorang selalu berhasil, melainkan karena ia melihat bahwa dirinya mampu menghadapi proses.
“Saya tidak harus sempurna untuk tetap bergerak maju.”
Kalimat sederhana seperti ini bisa menjadi fondasi kepercayaan diri yang jauh lebih sehat.
3. Mendaki Membuat Perempuan Menyadari Bahwa Tubuhnya Bukan Sekadar Sesuatu yang Harus Dinilai
Ini mungkin salah satu dampak yang paling menarik.
Dalam kehidupan sehari-hari, tubuh perempuan sering kali menjadi objek penilaian.
Terlalu kurus.
Terlalu gemuk.
Kurang tinggi.
Tidak cukup atletis.
Tidak sesuai standar kecantikan tertentu.
Media sosial bahkan dapat membuat seseorang semakin mudah membandingkan tubuhnya dengan tubuh orang lain.
Dalam konteks tersebut, olahraga dan aktivitas fisik terkadang juga diperlakukan hanya sebagai cara untuk mengubah penampilan.
Namun, mendaki dapat menawarkan pengalaman yang berbeda.
Di gunung, tubuh bukan hanya sesuatu yang dilihat.
Tubuh adalah sesuatu yang digunakan.
Kaki membawa seseorang melewati tanjakan.
Tangan membantu menjaga keseimbangan.
Paru-paru bekerja lebih keras.
Jantung berdetak lebih cepat.
Punggung membawa beban.
Tubuh memberi sinyal ketika membutuhkan istirahat.
Perhatian seseorang perlahan dapat bergeser dari:
“Bagaimana penampilan tubuh saya?”
menjadi:
“Lihat apa yang tubuh saya bisa lakukan.”
Perubahan perspektif tersebut sangat berarti.
Dari body image menuju body appreciation
Dalam psikologi, terdapat perbedaan antara sekadar menilai penampilan tubuh dengan menghargai fungsi tubuh.
Seseorang mungkin tidak selalu menyukai setiap bagian tubuhnya, tetapi tetap dapat menghargai apa yang tubuhnya mampu lakukan.
Mendaki memberikan pengalaman konkret mengenai hal tersebut.
Setelah beberapa jam berjalan, seorang perempuan mungkin melihat kembali perjalanan yang telah ditempuh dan menyadari:
“Tubuh saya ternyata membawa saya sejauh ini.”
Pengalaman seperti ini dapat memperkuat hubungan yang lebih positif dengan tubuh.
Bukan karena tubuh tiba-tiba menjadi sempurna.
Melainkan karena tubuh mulai dilihat sebagai partner, bukan sebagai musuh yang terus-menerus harus diperbaiki.
Dan ketika seseorang mulai mempercayai tubuhnya, sering kali ia juga mendapatkan pengalaman baru dalam mempercayai dirinya secara keseluruhan.
4. Ketika Tidak Ada Sinyal, Seseorang Belajar Mendengarkan Suara Dirinya Sendiri
Kehidupan modern membuat kita sangat terbiasa mendapatkan validasi dari luar.
Pesan masuk.
Notifikasi.
Komentar.
Likes.
Pendapat teman.
Pendapat keluarga.
Pendapat pasangan.
Pendapat rekan kerja.
Tanpa disadari, seseorang dapat menjadi terlalu bergantung pada respons eksternal untuk menentukan apakah keputusan yang dibuatnya benar.
Mendaki dapat menciptakan situasi yang berbeda.
Di beberapa jalur, koneksi internet mungkin terbatas atau bahkan tidak tersedia.
Untuk sementara waktu, dunia digital tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Yang tersisa adalah jalur di depan mata, kondisi tubuh, teman seperjalanan, cuaca, dan keputusan yang harus dibuat.
Situasi seperti ini dapat mendorong seseorang untuk lebih memperhatikan sinyal internal.
“Apakah saya masih sanggup?”
“Apakah saya perlu istirahat?”
“Apakah saya merasa aman?”
“Apakah keputusan ini masuk akal?”
“Apakah saya ingin melanjutkan?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut melatih seseorang untuk kembali mendengarkan dirinya sendiri.
Kepercayaan diri juga berarti mempercayai penilaian sendiri
Perempuan yang terlalu sering meragukan dirinya mungkin terbiasa mencari persetujuan sebelum mengambil keputusan.
“Aku boleh nggak?”
“Menurut kamu aku harus bagaimana?”
“Kalau aku memilih ini, orang lain akan marah nggak?”
Tentu saja, meminta saran bukan sesuatu yang buruk.
Kita semua membutuhkan perspektif orang lain.
Namun, kemampuan untuk mempertimbangkan masukan lalu membuat keputusan sendiri juga merupakan bagian penting dari kemandirian psikologis.
Mendaki dapat memberikan latihan sederhana untuk hal tersebut.
Ketika menghadapi persimpangan jalur, kondisi fisik yang menurun, atau perubahan cuaca, seseorang harus belajar menimbang informasi dan menentukan tindakan.
Dari pengalaman kecil tersebut dapat muncul keyakinan:
“Saya bisa mengambil keputusan untuk diri saya sendiri.”
Dan keyakinan itu dapat terbawa ke kehidupan di luar gunung.
5. Sampai di Puncak Membuktikan Bahwa “Saya Bisa” Tidak Harus Datang dari Orang Lain
Ada alasan mengapa momen mencapai puncak sering terasa begitu emosional.
Bukan hanya karena pemandangannya.
Bukan hanya karena rasa lelah akhirnya terbayar.
Tetapi karena seseorang baru saja mendapatkan bukti nyata tentang dirinya sendiri.
Sebelum mendaki, mungkin muncul keraguan:
“Apakah saya mampu?”
Setelah perjalanan selesai, jawabannya tidak lagi sekadar teori.
Ada pengalaman nyata di belakangnya.
“Saya pernah berjalan sejauh itu.”
“Saya pernah merasa ingin menyerah.”
“Saya pernah kelelahan.”
“Saya pernah takut.”
“Tetapi saya berhasil melewati bagian tersebut.”
Inilah yang membuat pengalaman keberhasilan menjadi penting dalam pembentukan self-efficacy.
Ketika seseorang mengalami bahwa dirinya mampu menyelesaikan tantangan, pengalaman tersebut dapat menjadi referensi psikologis ketika menghadapi tantangan berikutnya.
Misalnya, beberapa bulan kemudian ia menghadapi presentasi penting di tempat kerja.
Situasinya memang berbeda dengan mendaki.
Namun, memori tentang keberhasilan menghadapi tantangan dapat memberikan keyakinan:
“Dulu saya juga pernah merasa tidak yakin. Saya tetap bisa melewatinya.”
Tetapi bagaimana jika tidak sampai puncak?
Ini bagian yang tidak kalah penting.
Kepercayaan diri tidak seharusnya hanya diberikan kepada orang yang mencapai puncak.
Ada kalanya seseorang harus turun sebelum mencapai tujuan.
Cuaca dapat berubah.
Tubuh dapat mengalami masalah.
Waktu tidak cukup.
Kondisi jalur tidak aman.
Atau seseorang memang menyadari bahwa target tersebut terlalu berat untuk saat itu.
Jika demikian, pengalaman tersebut tetap dapat menjadi sumber pembelajaran.
Seseorang mungkin pulang dengan kesadaran:
“Saya belum mencapai puncak kali ini.”
Namun, kalimat itu berbeda dengan:
“Saya tidak mampu.”
Ada jarak besar di antara keduanya.
Belum berhasil bukan berarti tidak mampu.
Kadang-kadang, mempercayai diri sendiri justru berarti mampu menerima bahwa kita belum siap, lalu menentukan apa yang perlu dilakukan selanjutnya.
Mengapa Lima Pengalaman Ini Bisa Berdampak pada Kepercayaan Diri?
Jika dirangkum, mendaki memberikan beberapa pengalaman psikologis yang saling berkaitan.
Pertama, seseorang menghadapi tantangan secara langsung.
Kedua, ia mengalami ketidaknyamanan dan belajar mengelolanya.
Ketiga, ia mengambil keputusan.
Keempat, ia melihat hasil dari keputusan dan usahanya.
Kelima, ia memiliki pengalaman nyata yang dapat diingat ketika menghadapi tantangan lain.
Proses tersebut dapat membantu membangun keyakinan terhadap kemampuan diri.
Namun, penting untuk memahami bahwa mendaki bukan terapi otomatis untuk meningkatkan kepercayaan diri.
Dampaknya dapat berbeda pada setiap orang.
Pengalaman mendaki juga harus dilakukan secara aman dan sesuai kemampuan. Kepercayaan diri tidak dibangun dengan memaksakan diri melampaui batas fisik atau mengambil risiko yang tidak perlu.
Justru salah satu pelajaran terbesar dari mendaki adalah kemampuan mengenali batas diri.
Gunung Tidak Mengajarkan Bahwa Kita Harus Selalu Kuat
Mungkin inilah pelajaran paling penting.
Kepercayaan diri yang sehat bukan keyakinan bahwa:
“Saya bisa melakukan semuanya.”
Kepercayaan diri yang lebih realistis justru berbunyi:
“Saya bisa belajar.”
“Saya bisa mencoba.”
“Saya bisa meminta bantuan.”
“Saya bisa berhenti ketika diperlukan.”
“Saya bisa mengambil keputusan.”
“Saya bisa menghadapi rasa takut.”
“Dan jika saya gagal, saya masih bisa mencoba lagi atau memilih jalan yang berbeda.”
Mendaki memperlihatkan bahwa perjalanan seseorang tidak selalu mudah.
Ada tanjakan.
Ada turunan.
Ada jalan yang licin.
Ada rasa lelah.
Ada keraguan.
Ada momen ketika seseorang ingin berhenti.
Tetapi semua itu tidak otomatis membuat perjalanan menjadi gagal.
Begitu pula kehidupan.
Perempuan tidak harus menjadi sosok yang selalu kuat untuk dapat mempercayai dirinya sendiri.
Ia tidak harus selalu yakin.
Ia tidak harus selalu berhasil.
Ia bahkan tidak harus selalu mencapai puncak.
Yang lebih penting adalah memiliki pengalaman bahwa dirinya mampu menghadapi kehidupan dengan kesadaran, keberanian, dan penghargaan terhadap batas dirinya.
Karena pada akhirnya, mungkin hal paling berharga yang dibawa pulang dari sebuah pendakian bukanlah foto di puncak.
Bukan pula cerita tentang ketinggian gunung yang berhasil dicapai.
Melainkan sebuah keyakinan sederhana yang perlahan tumbuh di dalam diri:
“Ternyata saya lebih mampu daripada yang selama ini saya kira.”
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022