Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 Oktober 2026 | 03.12 WIB

6 Kesalahan Profil Dating Apps yang Kerap Mendatangkan Orang yang Salah Menurut Psikologi

seseorang yang bersama orang yang salah / foto: Magnific/mego-studio

 

JawaPos.com - Dating apps seharusnya membantu seseorang menemukan pasangan yang cocok. Namun, tidak sedikit orang justru merasa pengalaman mereka di aplikasi kencan seperti sebuah siklus yang berulang: bertemu orang yang tidak serius, terlalu cepat menghilang, hanya mencari hubungan kasual, terlalu posesif, atau memiliki nilai hidup yang sama sekali berbeda.

Menariknya, masalahnya tidak selalu terletak pada “algoritma yang salah” atau karena seseorang “selalu sial dalam percintaan”. Dalam banyak kasus, profil dating apps ikut berperan dalam menentukan siapa yang merasa tertarik, siapa yang berani mengirim pesan, dan tipe orang seperti apa yang akhirnya masuk ke dalam percakapan.

Dalam psikologi sosial, profil dating apps dapat dipahami sebagai bentuk self-presentation—cara seseorang mengatur informasi tentang dirinya untuk membentuk kesan tertentu pada orang lain.

Artinya, ketika seseorang menulis bio, memilih foto, mencantumkan hobi, atau menuliskan tipe pasangan yang dicari, sebenarnya ia sedang mengirimkan berbagai sinyal.

Masalahnya, sinyal tersebut tidak selalu diterjemahkan seperti yang kita bayangkan.

Seseorang mungkin bermaksud terlihat “santai”, tetapi justru terbaca sebagai tidak serius. Ingin terlihat “mandiri”, tetapi dianggap tidak membutuhkan pasangan. Ingin terlihat “tidak banyak tuntutan”, tetapi malah menarik orang yang hanya mencari hubungan tanpa komitmen.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (14/10), terdapat enam kesalahan profil dating apps yang cukup sering membuat seseorang menarik tipe orang yang sebenarnya tidak mereka inginkan.

1. Menulis Profil yang Terlalu Umum: “Aku Suka Traveling, Kuliner, dan Nongkrong”

Kesalahan pertama adalah membuat profil yang terdengar aman, tetapi terlalu generik.

Misalnya:

“Suka traveling, kulineran, nonton film, dan menikmati hidup.”

Atau:

“Easy going, suka bercanda, open minded, dan senang mencoba hal baru.”

Tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat tersebut. Masalahnya, hampir semua orang bisa menggunakannya.

Dalam psikologi, informasi yang terlalu umum memberikan sedikit bahan bagi orang lain untuk memahami kepribadian kita. Akibatnya, calon pasangan akan mengisi kekosongan informasi tersebut berdasarkan asumsi mereka sendiri.

Orang yang serius mungkin membaca profil seperti itu dan tidak menemukan alasan kuat untuk memulai percakapan. Sebaliknya, orang yang memang terbiasa melakukan pendekatan secara massal mungkin tetap menggeser profil tersebut karena mereka tidak membutuhkan banyak informasi untuk memulai interaksi.

Di sinilah terjadi masalah person-environment fit.

Profil yang terlalu umum tidak secara efektif menyaring orang berdasarkan karakteristik yang penting bagi kita.

Bayangkan Anda mengatakan:

“Saya suka hubungan yang sehat.”

Hampir semua orang akan setuju.

Tetapi kalimat tersebut tidak memberi tahu bagaimana Anda mendefinisikan hubungan sehat.

Apakah komunikasi setiap hari penting bagi Anda? Apakah Anda membutuhkan ruang pribadi? Apakah Anda mencari hubungan monogamis? Apakah Anda ingin menikah dalam beberapa tahun? Apakah Anda nyaman dengan pasangan yang sangat sibuk? Apakah Anda membutuhkan pasangan yang memiliki gaya komunikasi tertentu?

Semakin sedikit informasi spesifik yang diberikan, semakin besar ruang bagi orang lain untuk melakukan interpretasi sendiri.

Bagaimana memperbaikinya?

Alih-alih menulis:

“Suka traveling.”

Cobalah memberikan detail yang lebih personal:

“Paling senang traveling ke tempat yang bisa dieksplor dengan jalan kaki. Weekend ideal: cari coffee shop baru, museum, lalu makan malam tanpa buru-buru.”

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi secara psikologis informasi kedua jauh lebih kaya.

Orang yang memiliki gaya hidup serupa akan lebih mudah mengenali kecocokan.

Dengan kata lain, profil yang baik bukan profil yang disukai semua orang. Profil yang baik adalah profil yang membantu orang yang tepat mengenali Anda.

2. Terlalu Berusaha Terlihat “Tidak Butuh Siapa-Siapa”

Kesalahan kedua adalah menggunakan kemandirian sebagai identitas utama.

Misalnya:

“Aku sebenarnya nggak butuh pasangan.”

“Hidupku sudah bahagia sendiri.”

“Kalau cocok ya lanjut, kalau nggak ya sudah.”

“No drama. Don't waste my time.”

Sekilas, kalimat seperti ini dapat terlihat percaya diri.

Namun, ada perbedaan antara self-confidence dan defensiveness.

Seseorang yang percaya diri biasanya mampu menunjukkan bahwa ia memiliki kehidupan sendiri sekaligus terbuka terhadap hubungan.

Sebaliknya, profil yang terlalu menekankan bahwa dirinya “tidak membutuhkan siapa pun” dapat memberikan sinyal bahwa hubungan romantis bukan sesuatu yang benar-benar ia inginkan.

Dalam psikologi hubungan, orang sering mencoba melindungi diri dari kemungkinan penolakan dengan membangun jarak sejak awal.

Masalahnya, calon pasangan tidak dapat melihat alasan di balik kalimat tersebut.

Mereka hanya melihat sinyalnya.

Jika profil Anda berkali-kali mengatakan:

“Aku nggak butuh siapa-siapa.”

Orang lain mungkin berpikir:

“Berarti dia mungkin sulit didekati.”

Atau:

“Dia mungkin tidak tertarik dengan hubungan serius.”

Yang lebih menarik, profil seperti ini juga dapat menarik orang yang menyukai hubungan dengan jarak emosional.

Orang yang memang tidak mencari komitmen bisa merasa nyaman dengan sinyal tersebut.

Akhirnya muncul paradoks:

Anda ingin menunjukkan bahwa Anda punya standar tinggi, tetapi yang terbaca justru bahwa Anda tidak tertarik membangun kedekatan.

Kemandirian yang lebih menarik

Kemandirian sebenarnya merupakan kualitas positif.

Tetapi cara menyampaikannya bisa berbeda.

Daripada:

“Aku nggak butuh pasangan.”

Lebih baik:

“Aku nyaman dengan hidupku sekarang, tapi tetap terbuka bertemu seseorang yang bisa menambah sesuatu yang baik dalam hidup masing-masing.”

Pesannya sama-sama menunjukkan kemandirian.

Namun, versi kedua juga menunjukkan availability—kesiapan untuk membangun hubungan.

3. Menuliskan Daftar Panjang tentang “Red Flags”

Ini adalah salah satu kesalahan paling umum.

Profil berisi kalimat seperti:

“Kalau kamu suka bohong, swipe left.”

“Jangan chat kalau cuma cari fun.”

“No narcissist.”

“Kalau masih belum move on dari mantan, jangan ganggu.”

“Jangan yang cuma modal good morning setiap hari.”

Sekilas, semuanya masuk akal.

Kita memang berhak memiliki batasan.

Tetapi secara psikologis, ada perbedaan antara menyatakan preferensi dan membuat profil sebagai daftar larangan.

Profil yang didominasi larangan dapat menciptakan kesan bahwa seseorang sedang datang ke dating apps bukan untuk mengenal orang baru, tetapi untuk menghindari pengalaman buruk.

Hal tersebut dapat memengaruhi siapa yang merasa nyaman melakukan pendekatan.

Orang yang matang secara emosional mungkin berpikir:

“Kayaknya orang ini punya banyak pengalaman buruk dan masih sangat defensif.”

Sementara orang yang memang tidak terlalu peduli dengan batasan dapat mengabaikan semua peringatan tersebut.

Akibatnya, ironisnya, daftar red flags yang panjang belum tentu efektif mengusir orang yang memiliki perilaku bermasalah.

Ada pula fenomena yang berkaitan dengan negativity bias, yaitu kecenderungan manusia memberikan perhatian lebih besar terhadap informasi negatif.

Jika 80 persen profil Anda berbicara tentang hal-hal yang tidak Anda sukai, calon pasangan kemungkinan besar akan mengingat bagian negatif tersebut.

Mereka lebih mudah menangkap:

“Jangan begini.”

daripada:

“Saya mencari hubungan seperti ini.”

Ubah “larangan” menjadi “preferensi”

Daripada:

“Jangan yang suka ghosting.”

Cobalah:

“Saya lebih nyaman dengan komunikasi yang jelas dan konsisten.”

Daripada:

“No hookup.”

Cobalah:

“Saya lebih tertarik membangun hubungan yang berkembang secara perlahan dan punya arah.”

Pesannya tetap jelas.

Tetapi Anda tidak menempatkan diri sebagai seseorang yang sedang memusuhi calon pasangan sebelum mereka melakukan kesalahan.

Batasan tetap penting. Hanya saja, batasan tidak harus ditulis seperti papan pengumuman larangan.

4. Menggunakan Foto yang Terlalu “Sempurna” atau Tidak Konsisten

Foto merupakan salah satu bagian paling penting dari dating apps.

Dalam beberapa detik pertama, orang biasanya sudah membentuk kesan awal berdasarkan penampilan, ekspresi, pakaian, lingkungan, dan konteks foto.

Ini berkaitan dengan thin-slice judgment, yaitu kecenderungan manusia membuat penilaian awal berdasarkan informasi yang sangat terbatas.

Masalah muncul ketika semua foto terlihat seperti hasil pemotretan profesional.

Misalnya:

semua foto menggunakan filter berat,

semua foto menggunakan pose yang sama,

tidak ada foto yang menunjukkan aktivitas sehari-hari,

foto terlihat jauh berbeda satu sama lain,

atau justru hanya ada satu foto terbaik dengan penampilan yang sangat berbeda dari keseharian.

Tujuan seseorang mungkin sederhana:

“Aku ingin terlihat menarik.”

Tetapi terlalu banyak manipulasi visual dapat menciptakan masalah lain: expectation mismatch.

Orang tertarik kepada versi yang mereka lihat di profil.

Ketika bertemu langsung dan melihat versi yang jauh berbeda, mereka bisa merasa bahwa informasi sebelumnya tidak sepenuhnya jujur.

Ini bukan semata-mata soal fisik.

Masalah utamanya adalah konsistensi antara ekspektasi dan realitas.

Sebaliknya, foto yang terlalu santai juga bisa bermasalah.

Jika seluruh foto adalah:

selfie di kamar,

foto gelap,

foto dari jarak jauh,

foto bersama teman tanpa penanda siapa diri Anda,

atau foto lama,

calon pasangan mungkin kesulitan mendapatkan gambaran tentang diri Anda.

Profil yang lebih efektif

Idealnya, gunakan kombinasi foto yang memberikan gambaran utuh:

satu foto wajah yang jelas,

satu foto full body yang natural,

satu foto ketika melakukan aktivitas yang Anda sukai,

satu foto sosial bersama teman jika relevan,

satu foto yang menunjukkan gaya hidup sehari-hari.

Tujuannya bukan membuat profil terlihat sempurna.

Tujuannya adalah membuat profil representatif.

Karena orang yang tertarik kepada versi diri Anda yang realistis memiliki kemungkinan lebih besar cocok ketika bertemu langsung.

5. Menulis “Aku Suka Orang yang...” Tanpa Menjelaskan Diri Sendiri

Kesalahan berikutnya adalah membuat profil yang seluruh isinya berbicara tentang pasangan ideal.

Contohnya:

“Cari cowok yang dewasa, mapan, humoris, setia, komunikatif, family oriented, dan punya tujuan hidup.”

Atau:

“Aku suka cewek yang feminine, mandiri, pintar, nggak drama, dan bisa diajak ngobrol.”

Tidak ada yang salah dengan memiliki preferensi.

Namun, jika profil hanya menjelaskan apa yang kita inginkan dari orang lain, kita kehilangan kesempatan untuk menunjukkan apa yang kita tawarkan dalam hubungan.

Dalam psikologi sosial, ketertarikan bukan hanya tentang “apakah orang ini memenuhi kriteriaku?”

Ada juga pertanyaan:

“Apakah aku merasa kita cocok?”

Misalnya seseorang membaca:

“Saya mencari pasangan yang komunikatif.”

Pertanyaan berikutnya secara alami muncul:

“Apakah dia sendiri komunikatif?”

Jika profil hanya berisi daftar kriteria, orang lain harus menebak jawabannya.

Selain itu, daftar kriteria yang terlalu panjang dapat membuat profil terasa seperti proses rekrutmen kerja.

Usia: sekian.
Tinggi: sekian.
Pendidikan: sekian.
Pekerjaan: harus begini.
Kepribadian: harus begitu.
Hobi: harus cocok.

Semakin panjang daftar tersebut, semakin besar kemungkinan seseorang merasa bahwa mereka sedang dinilai berdasarkan checklist.

Coba ubah fokus

Daripada:

“Saya mencari pasangan yang humoris dan suka traveling.”

Bisa ditulis:

“Saya tipe orang yang gampang tertawa dan senang spontan mencari tempat baru di akhir pekan. Akan menyenangkan kalau kamu juga menikmati hal-hal sederhana seperti itu.”

Versi kedua memberikan informasi tentang pasangan yang dicari sekaligus menunjukkan kepribadian Anda.

Inilah prinsip penting dalam dating profile:

Jangan hanya menjelaskan siapa yang Anda cari. Tunjukkan juga siapa Anda ketika berada dalam sebuah hubungan.

6. Mengirim Sinyal “Saya Ingin Hubungan Serius”, tetapi Profilnya Justru Terlihat Seperti Mencari Validasi

Kesalahan terakhir cukup halus.

Seseorang mungkin menulis:

“Looking for serious relationship.”

Tetapi seluruh profil berisi:

foto yang sengaja dibuat sangat provokatif,

caption yang hanya mengandalkan penampilan,

tidak ada informasi tentang kepribadian,

bio sangat pendek,

atau seluruh profil berfokus pada mendapatkan pujian.

Tentu saja, menggunakan foto menarik bukan berarti seseorang tidak serius.

Yang menjadi masalah adalah ketidaksesuaian antara pesan verbal dan sinyal keseluruhan profil.

Dalam psikologi komunikasi, orang tidak hanya membaca kata-kata.

Mereka juga membaca konteks, perilaku, dan berbagai sinyal nonverbal.

Jika seseorang menulis:

“Saya mencari hubungan serius.”

tetapi profilnya memberikan kesan:

“Yang penting banyak orang tertarik.”

maka calon pasangan akan menghadapi sinyal yang ambigu.

Dan ketika informasi ambigu, manusia cenderung menggunakan pengalaman masa lalu dan asumsi untuk menginterpretasikannya.

Inilah salah satu alasan mengapa profil yang konsisten sangat penting.

Jika Anda ingin hubungan serius, profil tidak harus terlihat formal atau membosankan.

Cukup tunjukkan beberapa petunjuk tentang:

bagaimana Anda menghabiskan waktu,

apa yang penting bagi Anda,

seperti apa gaya komunikasi Anda,

apa yang membuat Anda bersemangat,

dan hubungan seperti apa yang ingin Anda bangun.

Dengan begitu, Anda tidak hanya mengatakan:

“Saya serius.”

Anda memberikan konteks yang membuat orang lain memahami seperti apa keseriusan tersebut.

Jadi, Mengapa Kita Sering Mendapat “Orang yang Salah”?

Pada akhirnya, dating apps bukan hanya persoalan menemukan sebanyak mungkin orang yang tertarik kepada kita.

Yang lebih penting adalah siapa yang merasa bahwa profil kita relevan bagi mereka.

Ini adalah perbedaan antara attraction dan selection.

Profil yang sangat menarik secara umum mungkin menghasilkan banyak match.

Tetapi banyak match tidak otomatis berarti banyak kecocokan.

Bahkan, jika profil Anda terlalu umum, Anda mungkin mendapatkan perhatian dari banyak tipe orang yang berbeda—termasuk orang yang sebenarnya memiliki tujuan hubungan yang bertolak belakang dengan Anda.

Sebaliknya, profil yang lebih spesifik mungkin menghasilkan jumlah match yang lebih sedikit.

Tetapi match tersebut bisa lebih relevan.

Misalnya:

“Aku suka traveling.”

bisa menarik hampir semua orang yang menyukai traveling.

Sedangkan:

“Weekend ideal buatku bukan clubbing, tapi road trip singkat, cari tempat makan lokal, dan ngobrol panjang sampai malam.”

memberikan informasi yang jauh lebih spesifik.

Orang yang tidak cocok mungkin langsung melewati profil tersebut.

Dan itu sebenarnya bukan kegagalan.

Itu justru fungsi penyaringan.

Profil Dating Apps Bukan Iklan, Melainkan Filter

Banyak orang memperlakukan dating profile seperti iklan.

Tujuannya adalah:

“Bagaimana supaya sebanyak mungkin orang tertarik?”

Padahal pendekatan yang lebih sehat adalah:

“Bagaimana supaya orang yang memang cocok bisa mengenali saya?”

Perbedaannya sangat besar.

Jika tujuan Anda adalah mendapatkan sebanyak mungkin match, Anda mungkin akan memilih foto paling menarik, bio paling aman, dan pernyataan yang paling universal.

Namun, jika tujuan Anda adalah menemukan pasangan yang kompatibel, Anda justru membutuhkan sedikit specificity.

Anda perlu berani menunjukkan:

apa yang Anda sukai,

gaya hidup Anda,

prinsip yang penting bagi Anda,

bentuk hubungan yang Anda inginkan,

dan hal-hal yang membuat Anda berbeda.

Karena orang yang tepat tidak membutuhkan Anda untuk terlihat cocok dengan semua orang.

Mereka membutuhkan cukup informasi untuk menyadari:

“Oh, sepertinya cara berpikir dan gaya hidup kami mirip.”

Checklist: Apakah Profil Anda Justru Menarik Orang yang Salah?

Sebelum memperbarui profil dating apps, coba tanyakan enam hal berikut:

1. Apakah profil saya terlalu umum?
Jika bio Anda bisa ditempelkan ke ratusan profil lain tanpa terasa aneh, mungkin sudah waktunya menambahkan detail yang lebih personal.

2. Apakah saya terlalu banyak menulis tentang apa yang tidak saya sukai?
Batasan penting, tetapi jangan sampai profil terasa seperti daftar keluhan.

3. Apakah foto saya menggambarkan kehidupan nyata saya?
Tujuannya bukan terlihat sempurna, tetapi terlihat autentik dan konsisten.

4. Apakah saya hanya menjelaskan pasangan ideal?
Berikan juga gambaran tentang siapa Anda dan seperti apa Anda dalam sebuah hubungan.

5. Apakah profil saya memberikan sinyal yang konsisten?
Pastikan foto, bio, dan pernyataan tentang hubungan yang dicari tidak saling bertentangan.

6. Apakah profil saya melakukan penyaringan?
Profil yang baik bukan hanya membuat orang tertarik. Profil yang baik juga membuat orang yang tidak cocok menyadari bahwa mereka mungkin bukan target yang tepat.

Penutup: Jangan Hanya Mencari Orang yang Tertarik

Salah satu jebakan terbesar dalam dating apps adalah menganggap banyak perhatian sebagai tanda bahwa profil kita berhasil.

Padahal perhatian dan kecocokan adalah dua hal yang berbeda.

Anda bisa mendapatkan ratusan match dan tetap merasa tidak menemukan siapa pun yang benar-benar cocok.

Sebaliknya, profil yang lebih jujur, spesifik, dan konsisten mungkin menghasilkan lebih sedikit match—tetapi orang yang datang bisa lebih sesuai dengan kehidupan yang ingin Anda bangun.

Karena itu, pertanyaan terbaik saat membuat dating profile bukan:

“Bagaimana supaya semua orang menyukaiku?”

Melainkan:

“Informasi apa yang perlu diketahui orang yang tepat agar mereka bisa mengenaliku?”

Dalam konteks psikologi, profil dating apps pada dasarnya adalah sebuah sistem sinyal.

Anda memberi informasi.

Orang lain menafsirkan informasi tersebut.

Kemudian mereka memutuskan apakah ingin mendekat.

Jika sinyal yang Anda kirim terlalu umum, terlalu defensif, terlalu negatif, atau tidak konsisten dengan tujuan hubungan Anda, jangan heran jika orang yang datang juga tidak sesuai dengan yang Anda harapkan.

Anda tidak selalu membutuhkan profil yang lebih menarik. Kadang-kadang Anda membutuhkan profil yang lebih jujur dan lebih spesifik.

Sebab dalam mencari pasangan, tujuan akhirnya bukan mendapatkan perhatian sebanyak mungkin.

Tujuannya adalah mendapatkan perhatian dari orang yang tepat.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore