Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Oktober 2026 | 05.22 WIB

7 Hal yang Perlu Dilakukan agar Media Sosial Tidak Menjadi Senjata Lain untuk Pembullyan

seseorang yang menghindari pembullyan di media sosial / foto: Magnific/egoitz_bengoetxea

 

JawaPos.com - Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berkomunikasi, berbagi pengalaman, mencari informasi, membangun komunitas, dan mengekspresikan diri. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, media sosial juga dapat menjadi ruang yang memungkinkan terjadinya pembullyan atau cyberbullying.

Pembullyan di media sosial memiliki karakteristik yang berbeda dari pembullyan yang terjadi secara langsung. Sebuah komentar yang menyakitkan dapat dilihat oleh banyak orang, sebuah foto dapat disebarkan tanpa izin, dan sebuah unggahan yang dibuat dalam hitungan detik dapat meninggalkan dampak psikologis yang jauh lebih lama. Korban tidak selalu dapat dengan mudah menjauh dari pelaku karena ruang digital mengikuti seseorang ke rumah, sekolah, kampus, bahkan tempat kerja.

Dari perspektif psikologi, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan "orang yang berkata kasar" atau "orang yang terlalu sensitif". Ada berbagai proses psikologis yang berperan di dalamnya, mulai dari rendahnya empati, kecenderungan mengikuti kelompok, impulsivitas, pencarian perhatian, hingga efek anonimitas di internet.

Karena itu, mencegah media sosial menjadi senjata untuk pembullyan membutuhkan lebih dari sekadar nasihat untuk "berhati-hati menggunakan internet". Dibutuhkan kebiasaan, kesadaran psikologis, dan budaya digital yang mendorong orang untuk berpikir sebelum bertindak.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (13/10), terdapat tujuh hal yang dapat dilakukan.

1. Berhenti Sejenak Sebelum Menulis atau Mengunggah Sesuatu

Salah satu kebiasaan paling sederhana sekaligus paling penting adalah belajar memberikan jeda sebelum bereaksi di media sosial.

Di dunia digital, seseorang dapat menulis komentar ketika sedang marah, kecewa, tersinggung, atau merasa dipermalukan. Masalahnya, emosi yang kuat sering memengaruhi kemampuan seseorang untuk mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.

Ketika seseorang sedang marah, perhatian cenderung terfokus pada apa yang dirasakan saat itu. Keinginan untuk membalas dapat terasa lebih penting daripada mempertimbangkan bagaimana komentar tersebut akan diterima oleh orang lain.

Karena itu, sebelum mengunggah komentar, membagikan foto seseorang, atau membalas sebuah perdebatan, cobalah berhenti sejenak dan bertanya:

Apakah saya sedang marah?

Apakah saya menulis ini untuk menyelesaikan masalah atau untuk menyakiti seseorang?

Apakah saya akan mengatakan hal yang sama jika bertemu langsung?

Apa yang mungkin dirasakan orang yang membaca komentar saya?

Apakah unggahan ini masih pantas jika dilihat oleh keluarga, guru, teman, atau rekan kerja saya?

Apakah saya akan menyesal jika unggahan ini tersebar lebih luas?

Jeda sederhana dapat memberikan kesempatan kepada otak untuk berpindah dari reaksi emosional menuju pertimbangan yang lebih rasional.

Dalam psikologi, kemampuan untuk mengenali dan mengatur respons emosional merupakan bagian penting dari regulasi emosi. Regulasi emosi bukan berarti seseorang tidak boleh marah atau kecewa. Justru, seseorang belajar mengenali emosinya tanpa membiarkan emosi tersebut langsung menentukan perilakunya.

Media sosial membutuhkan kemampuan ini karena tombol "kirim" sering kali hanya berjarak satu detik dari emosi yang sedang memuncak.

Prinsip sederhananya:

Rasakan emosinya, tetapi jangan langsung bertindak berdasarkan emosi tersebut.

Jika sedang sangat marah, menunggu beberapa menit atau bahkan beberapa jam sebelum membalas dapat membuat respons menjadi jauh lebih sehat.

2. Belajar Melihat Orang di Balik Layar sebagai Manusia

Salah satu alasan pembullyan di media sosial mudah terjadi adalah karena teknologi menciptakan jarak psikologis.

Ketika kita melihat seseorang secara langsung, kita dapat melihat ekspresi wajah, nada suara, bahasa tubuh, dan reaksi emosionalnya. Sebaliknya, ketika seseorang hanya muncul sebagai foto profil, nama pengguna, atau komentar di layar, kita lebih mudah lupa bahwa ada manusia nyata di balik akun tersebut.

Jarak ini dapat membuat seseorang mengatakan hal-hal yang mungkin tidak akan berani dikatakannya ketika berhadapan langsung.

Karena itu, salah satu cara mencegah pembullyan adalah melatih empati digital.

Sebelum menulis komentar yang merendahkan seseorang, bayangkan bahwa orang tersebut sedang duduk di depan kita. Bayangkan ekspresinya ketika membaca komentar itu. Bayangkan jika komentar tersebut dilihat oleh orang tua, pasangan, sahabat, atau orang-orang yang menyayanginya.

Pertanyaan seperti ini bukan berarti kita harus selalu setuju dengan orang lain.

Kita tetap boleh mengkritik pendapat, karya, perilaku, atau sebuah keputusan. Namun, kritik terhadap perilaku berbeda dengan penghinaan terhadap harga diri seseorang.

Misalnya:

Kritik:

"Menurut saya, argumen dalam video ini kurang kuat karena tidak menyertakan sumber."

Berbeda dengan:

"Orang seperti kamu memang bodoh."

Kalimat pertama menyerang gagasan. Kalimat kedua menyerang identitas dan harga diri seseorang.

Dalam komunikasi yang sehat, kita perlu belajar membedakan kritik terhadap perilaku dan serangan terhadap pribadi.

Empati digital berarti bertanya:

"Jika saya berada di posisi orang tersebut, bagaimana perasaan saya ketika membaca ini?"

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi rem psikologis sebelum seseorang melakukan pembullyan.

3. Jangan Ikut Menjadi Penonton yang Memperbesar Pembullyan

Pembullyan tidak selalu dilakukan oleh satu pelaku dan satu korban.

Dalam banyak situasi, terdapat orang-orang lain yang melihat, menyukai, membagikan, memberikan komentar tambahan, atau bahkan hanya menonton tanpa melakukan apa pun.

Di media sosial, sebuah konten yang awalnya hanya dilihat oleh beberapa orang dapat menyebar dengan cepat karena interaksi pengguna.

Inilah mengapa pengguna media sosial perlu menyadari bahwa engagement juga dapat memperbesar dampak sebuah pembullyan.

Ketika seseorang mengunggah foto yang mempermalukan orang lain, misalnya, kemudian banyak orang memberikan komentar, membuat meme, menyebarkan ulang, atau menjadikannya bahan lelucon, korban bukan hanya menghadapi satu komentar. Ia menghadapi gelombang perhatian dari banyak orang.

Secara psikologis, situasi kelompok juga dapat memengaruhi perilaku individu.

Seseorang mungkin awalnya tidak memiliki niat untuk menghina, tetapi ketika melihat banyak orang melakukan hal yang sama, ia dapat merasa bahwa perilaku tersebut normal atau dapat diterima.

Karena itu, penting untuk tidak menjadi bagian dari "kerumunan digital" yang memperbesar penghinaan.

Kita tidak selalu harus menjadi pahlawan internet. Tetapi kita dapat memilih untuk tidak ikut memperburuk keadaan.

Misalnya dengan:

tidak membagikan konten yang mempermalukan seseorang;

tidak ikut memberikan komentar penghinaan;

tidak memberikan "like" pada konten yang jelas-jelas bertujuan merendahkan;

melaporkan konten yang melanggar aturan platform;

mengingatkan teman secara pribadi jika mereka sudah melewati batas;

memberikan dukungan kepada korban jika memungkinkan.

Kadang-kadang, tindakan paling bertanggung jawab di media sosial bukanlah memberikan komentar, melainkan memilih untuk tidak memperbesar masalah.

4. Bedakan Kebebasan Berpendapat dengan Pembullyan

Media sosial memberi setiap orang ruang untuk menyampaikan pendapat. Namun, kebebasan berpendapat tidak berarti seseorang bebas menyakiti orang lain tanpa konsekuensi.

Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Bahkan, konflik dan perdebatan dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial yang sehat apabila dilakukan dengan cara yang konstruktif.

Masalah muncul ketika perbedaan pendapat berubah menjadi penghinaan, ancaman, pelecehan, atau serangan berulang terhadap seseorang.

Kita perlu membangun kebiasaan untuk memisahkan:

"Saya tidak setuju dengan pendapatmu"

dari

"Saya ingin membuat kamu merasa tidak berharga."

Keduanya sangat berbeda.

Misalnya, seseorang mengunggah pendapat tentang sebuah isu. Orang lain dapat memberikan tanggapan kritis:

"Saya memiliki pandangan berbeda. Menurut saya, ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan."

Tetapi percakapan dapat berubah menjadi pembullyan ketika komentar mulai berbunyi:

"Kamu memang tidak punya otak."

atau:

"Malu-maluin keluarga saja."

Dari sudut pandang psikologi sosial, serangan terhadap identitas dapat jauh lebih mengancam dibandingkan perbedaan pendapat biasa. Ketika seseorang merasa harga dirinya diserang di hadapan banyak orang, respons emosionalnya dapat menjadi lebih kuat.

Karena itu, budaya diskusi digital perlu dibangun dengan prinsip:

serang gagasannya jika perlu, tetapi jangan merendahkan manusianya.

Kita dapat tidak menyukai pendapat seseorang tanpa harus membencinya sebagai manusia.

5. Gunakan Fitur Digital sebagai Bentuk Perlindungan, Bukan Hanya untuk Hiburan

Banyak orang mengenal media sosial sebagai tempat untuk mengunggah foto, menonton video, atau berkomunikasi. Namun, platform digital juga menyediakan berbagai fitur yang dapat digunakan untuk melindungi diri dari perilaku yang mengganggu.

Fitur seperti memblokir, membatasi interaksi, menyaring komentar, menghapus komentar, mengatur privasi akun, dan melaporkan konten dapat menjadi bagian dari strategi menjaga kesehatan psikologis.

Sayangnya, sebagian orang menganggap menggunakan fitur tersebut sebagai tanda bahwa seseorang "lemah" atau "tidak tahan kritik".

Pandangan tersebut perlu diubah.

Menetapkan batas bukan berarti lemah.

Dalam psikologi, batas pribadi atau personal boundaries membantu seseorang menentukan perilaku seperti apa yang dapat diterima dan perilaku seperti apa yang perlu dihentikan.

Jika seseorang terus mengirimkan komentar menghina, mengirim pesan mengancam, atau menyebarkan informasi pribadi, kita tidak memiliki kewajiban untuk terus memberikan akses kepadanya.

Dalam situasi tertentu, justru lebih sehat untuk:

memblokir akun;

membatasi siapa yang dapat berkomentar;

menyimpan bukti;

melaporkan akun;

meminta bantuan orang yang dipercaya;

mencari bantuan profesional jika situasi tersebut sudah sangat mengganggu kehidupan sehari-hari.

Bagi korban pembullyan, penting pula untuk memahami bahwa tanggung jawab atas perilaku pelaku bukan berada di pundak korban.

Korban tidak menjadi penyebab pembullyan hanya karena mengunggah sesuatu, memiliki penampilan tertentu, berbeda pendapat, atau tidak disukai seseorang.

6. Jangan Menjadikan Viralitas sebagai Ukuran Nilai Seseorang

Media sosial bekerja dengan mekanisme perhatian.

Konten yang mendapatkan banyak komentar, likes, shares, dan penonton dapat terasa lebih penting daripada konten yang tidak mendapatkan perhatian.

Dalam kondisi tertentu, kebutuhan akan perhatian tersebut dapat membuat seseorang melakukan berbagai hal untuk mendapatkan respons dari orang lain.

Masalahnya, perhatian tidak selalu berarti penghargaan.

Konten yang viral karena seseorang dipermalukan tetap dapat memberikan dampak psikologis yang buruk kepada korban, meskipun pelaku mendapatkan banyak likes.

Kita perlu berhenti menganggap viral sebagai ukuran keberhasilan.

Sebuah video mungkin memiliki jutaan penonton tetapi tetap tidak etis.

Sebuah komentar mungkin mendapatkan ribuan likes tetapi tetap merupakan penghinaan.

Jumlah orang yang tertawa tidak menentukan apakah sesuatu itu benar atau salah.

Di sinilah pentingnya literasi psikologis dan digital.

Kita perlu memahami bahwa perilaku manusia dalam kelompok dapat berbeda dibandingkan ketika seseorang sendirian. Ketika melihat ribuan orang menertawakan seseorang, kita mungkin lebih mudah menganggap tindakan tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Padahal, banyak orang yang melakukan sesuatu bukan karena benar-benar menganggapnya baik, tetapi karena melihat orang lain juga melakukannya.

Karena itu, sebelum ikut menyebarkan konten yang sedang viral, tanyakan:

"Jika konten ini tidak viral, apakah saya tetap menganggapnya pantas?"

Jika jawabannya tidak, mungkin kita perlu berhenti dan berpikir ulang.

7. Bangun Budaya Media Sosial yang Lebih Berempati

Pada akhirnya, pencegahan pembullyan tidak dapat dibebankan hanya kepada korban.

Pelaku perlu bertanggung jawab atas perilakunya. Platform perlu menyediakan mekanisme perlindungan. Sekolah dan keluarga perlu memberikan pendidikan literasi digital. Masyarakat juga perlu membangun budaya komunikasi yang lebih sehat.

Dengan kata lain, kita membutuhkan ekosistem digital yang tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara menjadi manusia yang bertanggung jawab ketika menggunakan teknologi.

Orang tua dapat mengajarkan anak bahwa komentar di internet memiliki dampak nyata.

Guru dapat mengajarkan siswa tentang empati digital, privasi, dan konsekuensi sosial dari pembullyan.

Sekolah dan kampus dapat menyediakan mekanisme pelaporan yang aman.

Teman dapat menjadi orang pertama yang mengatakan, "Ini sudah kelewatan."

Pengguna media sosial dapat memilih untuk tidak ikut menyebarkan penghinaan.

Dan korban perlu tahu bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan.

Budaya digital yang sehat tidak dibangun hanya dengan aturan. Ia dibangun dari kebiasaan sehari-hari.

Ketika seseorang melihat komentar kasar dan memilih untuk tidak ikut menertawakan, itu adalah bagian dari budaya digital yang sehat.

Ketika seseorang tidak menyebarkan foto pribadi orang lain tanpa izin, itu juga bagian dari budaya digital yang sehat.

Ketika seseorang berbeda pendapat tetapi tetap menghormati lawan bicaranya, itu juga merupakan bentuk kesehatan psikologis dalam bermedia sosial.

Media Sosial Bukan Ruang Tanpa Konsekuensi

Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.

Media sosial dapat menjadi tempat untuk menemukan teman, belajar, mendapatkan dukungan, membangun karier, menyebarkan informasi positif, dan menciptakan komunitas. Namun, media sosial juga dapat menjadi alat untuk mempermalukan, mengintimidasi, mengisolasi, dan menyakiti orang lain.

Karena itu, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana membuat teknologi menjadi lebih aman, tetapi juga bagaimana membuat perilaku manusia di dalamnya menjadi lebih bijaksana.

Tujuh langkah yang dapat dilakukan adalah:

Berhenti sejenak sebelum menulis atau mengunggah sesuatu.

Melatih empati dan mengingat bahwa ada manusia nyata di balik layar.

Tidak ikut memperbesar pembullyan dengan menjadi penonton yang aktif menyebarkan.

Membedakan kebebasan berpendapat dari penghinaan dan pembullyan.

Menggunakan fitur keamanan dan privasi sebagai bentuk perlindungan diri.

Tidak menjadikan viralitas dan jumlah likes sebagai ukuran nilai seseorang.

Membangun budaya media sosial yang lebih empatik bersama-sama.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan sebelum menggunakan media sosial bukan hanya "Apakah saya boleh mengatakan ini?", tetapi juga:

"Apa dampaknya terhadap orang lain?"

Sebab, di balik setiap akun, foto, komentar, dan unggahan terdapat manusia dengan perasaan, pengalaman, dan kehidupan yang tidak selalu kita ketahui.

Media sosial tidak harus menjadi ruang yang penuh ketakutan. Ia dapat menjadi ruang yang lebih manusiawi apabila penggunanya memiliki kesadaran bahwa setiap tindakan digital memiliki konsekuensi psikologis.

Kita mungkin tidak dapat mengendalikan semua perilaku orang di internet. Namun, kita dapat mengendalikan apa yang kita tulis, apa yang kita bagikan, apa yang kita dukung, dan kapan kita memilih untuk berhenti.

Dan sering kali, perubahan budaya digital dimulai dari keputusan yang sangat sederhana:

berpikir sebelum mengirim, berempati sebelum menghakimi, dan memilih untuk tidak menjadikan penderitaan orang lain sebagai hiburan.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore