seseorang yang terlalu cepat jatuh cinta / foto: Magnific/magnific
Baru mengenal beberapa minggu, tetapi sudah membayangkan masa depan bersama. Baru mendapatkan sedikit perhatian, tetapi hati sudah terlanjur berharap terlalu banyak. Bahkan terkadang, hubungan belum benar-benar dimulai, tetapi perasaan sudah berkembang begitu dalam.
Sebagian orang memang tampak lebih cepat jatuh cinta dibandingkan orang lain.
Mereka mudah merasa nyaman, cepat terbawa suasana, mudah memikirkan seseorang sepanjang hari, dan sering kali mulai membayangkan hubungan yang lebih serius meskipun proses mengenal satu sama lain masih sangat singkat.
Namun, apakah cepat jatuh cinta berarti seseorang terlalu emosional?
Tidak selalu.
Dalam psikologi, munculnya perasaan romantis dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kebutuhan emosional, pengalaman masa lalu, pola keterikatan, cara seseorang memandang dirinya sendiri, hingga bagaimana otak merespons ketertarikan dan penghargaan sosial.
Artinya, seseorang yang cepat jatuh cinta tidak otomatis berarti lemah, naif, atau tidak mampu mengendalikan diri.
Bisa jadi, ada kebutuhan psikologis tertentu yang membuat kedekatan emosional terasa sangat kuat baginya.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (28/9), terdapat enam alasan yang dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian orang lebih mudah dan lebih cepat jatuh cinta.
1. Mereka Sangat Membutuhkan Kedekatan Emosional
Salah satu alasan seseorang mudah jatuh cinta adalah adanya kebutuhan yang kuat untuk merasa dekat dengan orang lain.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan hubungan, penerimaan, perhatian, dan rasa memiliki. Ketika seseorang sudah lama merasa kesepian atau kurang mendapatkan kedekatan emosional, kehadiran seseorang yang memberikan perhatian dapat terasa sangat berarti.
Sebuah percakapan sederhana bisa terasa istimewa.
Pesan "sudah makan?" bisa terasa seperti bentuk kepedulian yang sangat dalam.
Ajakan bertemu bisa membuat seseorang merasa akhirnya ada orang yang benar-benar memperhatikannya.
Masalahnya, ketika kebutuhan emosional sedang sangat besar, perhatian yang sebenarnya masih biasa saja dapat terasa jauh lebih kuat.
Seseorang mungkin belum benar-benar mengenal orang tersebut, tetapi sudah merasakan kenyamanan yang besar.
Di sinilah perasaan bisa berkembang dengan cepat.
Bukan selalu karena orang tersebut benar-benar sangat cocok, melainkan karena interaksi dengannya memenuhi kebutuhan psikologis yang selama ini belum terpenuhi.
Karena itu, penting membedakan antara "aku menyukai orang ini" dan "aku menyukai perasaan yang muncul ketika bersama orang ini."
Keduanya bisa terasa hampir sama, tetapi sebenarnya berbeda.
Ketika seseorang merasa dihargai, didengarkan, dan diperhatikan, otak dapat mengasosiasikan pengalaman tersebut dengan orang yang memberikannya.
Akibatnya, kita bukan hanya tertarik pada orangnya, tetapi juga pada perasaan nyaman yang muncul ketika berada di dekatnya.
2. Pola Keterikatan Masa Lalu Dapat Memengaruhi Cara Seseorang Mencintai
Psikologi juga mengenal konsep attachment atau keterikatan, yaitu pola seseorang dalam membangun hubungan emosional dengan orang lain.
Pola ini dapat terbentuk melalui berbagai pengalaman hubungan sepanjang kehidupan, terutama pengalaman awal bersama pengasuh dan kemudian berkembang melalui pengalaman hubungan interpersonal.
Salah satu pola yang sering dibahas adalah anxious attachment atau keterikatan cemas.
Orang dengan kecenderungan ini dapat menjadi lebih sensitif terhadap tanda-tanda penerimaan maupun penolakan dalam hubungan.
Ketika bertemu seseorang yang disukai dan mendapatkan respons positif, perasaannya bisa berkembang dengan sangat cepat.
Sebaliknya, ketika respons mulai berubah, ia dapat menjadi sangat khawatir kehilangan hubungan tersebut.
Misalnya, seseorang baru beberapa kali berkencan tetapi sudah sering bertanya dalam hati:
"Apakah dia benar-benar menyukaiku?"
"Kenapa dia belum membalas pesan?"
"Apakah dia akan meninggalkanku?"
"Apa hubungan ini akan menjadi serius?"
Pertanyaan seperti itu dapat membuat perhatian mental terhadap seseorang meningkat.
Semakin sering seseorang memikirkan orang lain, semakin besar pula ruang emosional yang diberikan kepada hubungan tersebut.
Namun, perlu dipahami bahwa attachment bukanlah label sederhana yang menentukan seluruh kepribadian seseorang.
Pola keterikatan juga dapat berubah dan dipengaruhi oleh pengalaman hubungan berikutnya. Karena itu, seseorang tidak perlu menganggap dirinya "terjebak" dalam pola tertentu.
Yang lebih penting adalah menyadari bagaimana dirinya merespons kedekatan.
Apakah kamu bisa menikmati proses mengenal seseorang tanpa buru-buru memastikan masa depan?
Apakah kamu merasa panik ketika seseorang belum memberikan kepastian?
Atau apakah kamu cenderung memberikan seluruh perhatian kepada seseorang hanya karena dia menunjukkan sedikit ketertarikan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang memahami pola emosionalnya.
3. Mereka Mudah Mengidealkan Seseorang
Alasan lain mengapa seseorang cepat jatuh cinta adalah kecenderungan untuk mengisi kekosongan informasi dengan imajinasi.
Ketika baru mengenal seseorang, sebenarnya kita hanya mengetahui sebagian kecil tentang dirinya.
Kita mungkin tahu bagaimana dia berbicara, bagaimana dia memperlakukan kita, apa hobinya, pekerjaannya, atau beberapa cerita tentang kehidupannya.
Tetapi kita belum mengetahui seluruh kepribadiannya.
Kita belum melihat bagaimana dia menghadapi konflik.
Belum tahu bagaimana dia bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan.
Belum tahu bagaimana dia memperlakukan orang ketika sedang marah.
Belum tahu bagaimana nilai-nilai kehidupannya ketika menghadapi masalah besar.
Namun, otak manusia tidak selalu nyaman dengan ketidaklengkapan informasi.
Akibatnya, kita dapat membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang terbatas.
Jika seseorang terlihat perhatian, kita mungkin menyimpulkan bahwa dia pasti penyayang.
Jika dia memiliki selera humor yang sama, kita mungkin merasa bahwa dia pasti sangat cocok dengan kita.
Jika dia menunjukkan perhatian ketika kita sedang mengalami masalah, kita mungkin mulai membayangkan bahwa dia adalah orang yang selama ini kita cari.
Inilah yang membuat seseorang dapat jatuh cinta bukan hanya kepada orang yang nyata, tetapi juga kepada versi orang tersebut yang terbentuk dalam pikirannya.
Idealization atau pengidealan dapat membuat seseorang melihat sisi positif secara berlebihan sementara informasi yang bertentangan belum cukup terlihat.
Karena itu, semakin sedikit kita mengenal seseorang, semakin penting untuk memberi ruang bagi proses pengenalan.
Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa seseorang adalah "orang yang tepat" hanya karena dia membuat kita merasa sangat nyaman di awal.
Perasaan awal bisa benar, tetapi tetap perlu diuji oleh waktu dan pengalaman nyata.
4. Pengalaman Masa Lalu Membuat Perhatian Terasa Sangat Berharga
Ada orang yang menjadi sangat mudah tersentuh oleh perhatian karena pengalaman hidupnya.
Misalnya, seseorang mungkin pernah berada dalam hubungan yang membuatnya merasa tidak dihargai.
Kemudian ia bertemu orang baru yang memperlakukannya dengan lebih lembut.
Perbedaannya bisa terasa sangat besar.
Jika sebelumnya ia terbiasa merasa diabaikan, perhatian kecil dari orang baru dapat terasa luar biasa.
Jika sebelumnya ia jarang didengarkan, percakapan panjang dengan seseorang dapat menciptakan perasaan kedekatan yang kuat.
Jika sebelumnya ia sering merasa tidak cukup baik, pujian dari seseorang dapat memberikan pengalaman emosional yang sangat menyenangkan.
Dalam kondisi seperti ini, orang baru tersebut mungkin menjadi simbol dari pengalaman yang selama ini dirindukan.
Tanpa disadari, seseorang bukan hanya jatuh cinta kepada individu tersebut, tetapi juga kepada pengalaman emosional yang diberikan oleh hubungan itu.
Ini bukan berarti perasaannya palsu.
Perasaannya tetap nyata.
Namun, sumber kekuatan perasaan tersebut mungkin lebih kompleks daripada sekadar "aku menemukan orang yang cocok."
Kadang-kadang, kita perlu bertanya:
"Apa yang sebenarnya membuatku begitu tertarik?"
"Apakah aku benar-benar mengenal orang ini?"
"Atau aku sangat menyukai bagaimana perasaanku ketika dia memperlakukanku?"
Pertanyaan tersebut dapat membantu memisahkan ketertarikan terhadap seseorang dari kebutuhan emosional yang sedang terpenuhi.
5. Sistem Penghargaan Otak Membuat Ketertarikan Terasa Sangat Intens
Jatuh cinta juga memiliki dimensi biologis.
Ketertarikan romantis dapat melibatkan sistem penghargaan otak dan berbagai proses neurokimia yang berkaitan dengan motivasi, perhatian, dan rasa senang.
Ketika seseorang yang kita sukai memberikan perhatian, mengirim pesan, mengajak bertemu, atau menunjukkan ketertarikan, pengalaman tersebut dapat terasa sangat menyenangkan.
Kita kemudian ingin mengulanginya.
Pesan berikutnya ditunggu.
Pertemuan berikutnya dinantikan.
Perhatian berikutnya terasa semakin berharga.
Karena itu, seseorang yang sedang jatuh cinta dapat mengalami perubahan besar dalam fokus perhatiannya.
Orang tersebut bisa lebih sering muncul dalam pikiran.
Hal-hal kecil yang berkaitan dengannya menjadi lebih menarik.
Musik tertentu mengingatkan kita kepadanya.
Tempat tertentu terasa istimewa karena pernah dikunjungi bersamanya.
Bahkan notifikasi dari ponsel bisa membuat jantung terasa lebih berdebar.
Semua itu menunjukkan bahwa pengalaman romantis dapat melibatkan sistem motivasi dan penghargaan yang kuat.
Namun, intensitas perasaan bukan selalu ukuran kedalaman hubungan.
Ini merupakan hal penting yang sering dilupakan.
Perasaan yang sangat kuat pada awal hubungan belum tentu menunjukkan bahwa hubungan tersebut akan bertahan lama.
Sebaliknya, hubungan yang sehat terkadang berkembang dengan lebih perlahan karena dibangun melalui pengenalan, kepercayaan, komunikasi, dan pengalaman bersama.
Jadi, jangan selalu menganggap "semakin kuat rasanya, semakin benar hubungannya."
Intensitas dan kualitas adalah dua hal yang berbeda.
6. Mereka Cenderung Membayangkan Masa Depan Sebelum Mengenal Masa Kini
Ada orang yang ketika menyukai seseorang langsung mulai membayangkan banyak hal.
Bagaimana jika kami menikah?
Bagaimana jika kami tinggal bersama?
Bagaimana jika dia adalah pasangan hidupku?
Bagaimana jika hubungan ini bertahan sampai tua?
Membayangkan masa depan memang merupakan bagian alami dari ketertarikan romantis.
Namun, ketika imajinasi tentang masa depan berkembang jauh lebih cepat daripada proses mengenal seseorang, seseorang dapat merasa seolah-olah hubungan tersebut sudah lebih serius daripada kenyataannya.
Misalnya, baru beberapa kali bertemu tetapi sudah membayangkan kehidupan bersama selama bertahun-tahun.
Ketika itu terjadi, yang dicintai bisa jadi bukan hanya orang yang ada di depan kita, tetapi juga cerita masa depan yang kita bangun di dalam pikiran.
Semakin detail cerita tersebut, semakin kuat pula keterikatan emosional yang mungkin muncul.
Padahal, kenyataan hubungan masih berada pada tahap awal.
Orang tersebut mungkin belum menunjukkan apakah nilai hidupnya benar-benar sejalan dengan kita.
Belum diketahui bagaimana ia menghadapi konflik.
Belum terlihat bagaimana ia memperlakukan hubungan ketika menghadapi tekanan.
Karena itu, salah satu cara untuk menjaga keseimbangan adalah kembali ke masa kini.
Daripada terus bertanya:
"Apakah dia akan menjadi pasangan hidupku?"
Cobalah bertanya:
"Bagaimana sebenarnya dia memperlakukanku sekarang?"
"Apakah komunikasi kami sehat?"
"Apakah aku merasa aman menjadi diriku sendiri?"
"Apakah kami memiliki nilai dan tujuan yang cukup selaras?"
"Apakah aku mengenalnya secara nyata atau hanya mengenal versi dirinya yang ada dalam pikiranku?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu seseorang kembali dari imajinasi menuju realitas.
Cepat Jatuh Cinta Tidak Selalu Berarti Ada yang Salah
Penting untuk tidak memberikan stigma kepada orang yang mudah jatuh cinta.
Setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengalami ketertarikan dan membangun kedekatan emosional.
Ada yang membutuhkan waktu lama sebelum percaya kepada seseorang.
Ada yang bisa merasa dekat dengan cepat.
Ada pula yang awalnya sangat intens, tetapi kemudian perasaannya berkembang menjadi hubungan yang lebih stabil setelah keduanya benar-benar saling mengenal.
Yang perlu diperhatikan bukan semata-mata seberapa cepat seseorang jatuh cinta, melainkan apakah ia masih mampu melihat hubungan tersebut secara realistis.
Apakah ia masih memiliki batasan?
Apakah ia masih mempertahankan kehidupan dan identitasnya sendiri?
Apakah ia mampu menerima bahwa orang yang disukai juga memiliki kekurangan?
Apakah ia bisa menghormati proses tanpa memaksakan kepastian?
Dan yang tidak kalah penting, apakah perasaan tersebut membuat hidupnya berkembang atau justru membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri?
Jika seseorang mampu mencintai sambil tetap berpijak pada kenyataan, perasaan yang kuat tidak harus menjadi sesuatu yang buruk.
Cara Menikmati Perasaan Tanpa Terburu-buru
Jika kamu menyadari bahwa dirimu mudah jatuh cinta, kamu tidak harus mematikan perasaan tersebut.
Kamu hanya perlu memberikan waktu kepada kenyataan untuk mengejar perasaan.
Nikmati perhatian yang diberikan.
Nikmati percakapan.
Nikmati rasa penasaran.
Nikmati proses mengenal seseorang.
Tetapi jangan buru-buru mengubah beberapa momen menyenangkan menjadi kesimpulan besar tentang masa depan.
Biarkan waktu memperlihatkan siapa sebenarnya orang tersebut.
Perhatikan konsistensi, bukan hanya intensitas.
Perhatikan tindakan, bukan hanya kata-kata.
Perhatikan bagaimana dia memperlakukan orang lain, bukan hanya bagaimana dia memperlakukanmu ketika semuanya berjalan baik.
Dan yang paling penting, tetap pertahankan kehidupanmu sendiri.
Tetap lakukan pekerjaanmu.
Tetap bertemu teman.
Tetap menjalani hobi.
Tetap merawat dirimu.
Tetap memiliki tujuan yang tidak bergantung pada hubungan tersebut.
Karena hubungan yang sehat seharusnya menjadi bagian dari kehidupan, bukan satu-satunya sumber makna dalam kehidupan.
Pada Akhirnya, Cinta Tidak Harus Selalu Terburu-buru
Jatuh cinta adalah pengalaman manusia yang kompleks.
Ada kebutuhan akan kedekatan, pengalaman masa lalu, pola keterikatan, proses biologis, cara berpikir, dan harapan tentang masa depan yang dapat berinteraksi satu sama lain.
Itulah sebabnya sebagian orang bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum merasa yakin, sementara orang lain dapat merasakan keterikatan emosional hanya dalam waktu singkat.
Tidak ada satu ukuran sederhana yang dapat menjelaskan semuanya.
Namun, ada satu prinsip yang layak diingat:
Perasaan boleh datang dengan cepat, tetapi keputusan tidak harus mengikutinya dengan kecepatan yang sama.
Kamu boleh merasa sangat tertarik.
Kamu boleh merasa bahagia ketika melihat namanya muncul di layar.
Kamu boleh merasa nyaman ketika berbicara dengannya.
Kamu bahkan boleh mulai berharap.
Tetapi berikan dirimu kesempatan untuk mengenal seseorang secara utuh sebelum menyerahkan seluruh harapan kepadanya.
Sebab terkadang, cinta yang matang bukanlah tentang seberapa cepat kita jatuh.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Prediksi Skor Kroasia vs Inggris di Liga Nations UEFA: The Three Lions Redam Tuan Rumah
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022