Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Oktober 2026 | 15.20 WIB

5 Alasan Umum Mengapa Perempuan Berselingkuh dari Pasangannya Menurut Psikologi

seseorang yang berselingkuh dari pasangannya. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Perselingkuhan merupakan salah satu masalah yang paling kompleks dalam hubungan romantis. Ketika seseorang mengetahui pasangannya berselingkuh, pertanyaan yang sering muncul adalah: “Mengapa dia melakukan itu?”


Pertanyaan tersebut menjadi semakin rumit ketika yang berselingkuh adalah perempuan. Ada anggapan populer bahwa perempuan cenderung lebih setia atau bahwa perselingkuhan perempuan selalu berkaitan dengan perasaan cinta. Namun, dari sudut pandang psikologi, kenyataannya jauh lebih beragam.

Tidak ada satu alasan tunggal yang dapat menjelaskan mengapa seorang perempuan berselingkuh. Setiap hubungan memiliki dinamika yang berbeda, dan keputusan untuk menjalin hubungan di luar pasangan biasanya merupakan hasil interaksi berbagai faktor—mulai dari kebutuhan emosional, kualitas hubungan, kesempatan, konflik pribadi, hingga karakter dan nilai-nilai individu.

Karena itu, pembahasan berikut sebaiknya tidak dibaca sebagai pembenaran terhadap perselingkuhan. Masalah dalam hubungan dapat membantu menjelaskan mengapa perselingkuhan terjadi, tetapi tidak otomatis membenarkan tindakan tersebut.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (3/10), terdapat lima alasan yang cukup umum dibahas dalam psikologi hubungan.

1. Merasa Tidak Mendapatkan Kebutuhan Emosional dalam Hubungan

Salah satu alasan yang sering muncul dalam pembahasan mengenai perselingkuhan perempuan adalah ketidakpuasan emosional.

Hubungan romantis bukan hanya mengenai tinggal bersama, membayar kebutuhan rumah tangga, melakukan aktivitas bersama, atau menjalankan peran sebagai pasangan. Bagi banyak orang, hubungan juga menjadi tempat untuk memperoleh rasa diperhatikan, dihargai, didengarkan, dipahami, dan dianggap penting.

Ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam waktu lama, seseorang dapat mengalami apa yang sering disebut sebagai emotional disconnection, atau keterputusan emosional.

Misalnya, seorang perempuan mungkin merasa:

pasangannya jarang mendengarkan ceritanya;
perasaannya sering dianggap berlebihan;
komunikasi hanya berisi urusan praktis;
tidak lagi mendapatkan perhatian seperti dahulu;
merasa sendirian meskipun secara fisik selalu bersama pasangan;
atau merasa bahwa pasangannya sudah tidak tertarik mengenal dirinya.

Dalam kondisi seperti itu, perhatian dari orang lain dapat terasa sangat berarti.

Seseorang yang awalnya hanya menjadi teman berbicara bisa perlahan menjadi tempat mencari kenyamanan. Percakapan yang awalnya biasa dapat berubah menjadi komunikasi pribadi, kemudian menjadi kedekatan emosional, dan pada sebagian kasus berkembang menjadi perselingkuhan.

Mengapa perhatian bisa terasa sangat kuat?

Secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan untuk merasa diterima dan dihargai. Ketika seseorang mendapatkan respons positif dari orang lain pada saat hubungan utamanya sedang terasa kosong, perhatian tersebut dapat menjadi sangat menarik.

Contohnya sederhana.

Di rumah, seseorang merasa tidak didengarkan. Kemudian ada orang lain yang selalu bertanya:

“Bagaimana harimu?”

Ia mendengarkan tanpa menghakimi, mengingat hal-hal kecil, memberikan perhatian, dan membuat orang tersebut merasa menarik kembali.

Bukan berarti perhatian itu otomatis menyebabkan perselingkuhan. Namun, dalam kondisi hubungan yang sudah rentan, pengalaman tersebut dapat menciptakan ikatan emosional baru.

Karena itu, perselingkuhan terkadang tidak dimulai dari ketertarikan seksual. Ia bisa dimulai dari kebutuhan yang jauh lebih sederhana: ingin merasa dipahami.

2. Hubungan Sudah Mengalami Keretakan yang Tidak Diselesaikan

Alasan kedua adalah adanya masalah hubungan yang berlangsung lama tanpa penyelesaian yang memadai.

Setiap pasangan pasti mengalami konflik. Perbedaan pendapat bukan berarti hubungan tersebut gagal. Yang lebih penting adalah bagaimana pasangan menangani konflik.

Masalah muncul ketika konflik terus berulang tanpa penyelesaian.

Misalnya:

pertengkaran yang sama terjadi berkali-kali;
masalah komunikasi tidak pernah diperbaiki;
salah satu pasangan selalu menghindari pembicaraan serius;
keluhan terus disampaikan tetapi tidak ada perubahan;
kepercayaan sudah rusak;
atau hubungan berubah menjadi penuh kritik dan kebencian.

Dalam situasi tersebut, hubungan dapat mengalami penurunan kepuasan secara bertahap.

Pada awal hubungan, pasangan mungkin merasa sangat dekat. Namun setelah bertahun-tahun, interaksi dapat berubah menjadi rutinitas.

Percakapan romantis berkurang.

Sentuhan berkurang.

Kegiatan bersama berkurang.

Pertengkaran meningkat.

Dan akhirnya, salah satu pihak merasa hubungan tersebut tidak lagi memberikan pengalaman emosional seperti sebelumnya.

Perselingkuhan sebagai “jalan keluar” yang keliru

Dalam beberapa kasus, seseorang mungkin tidak secara sadar merencanakan perselingkuhan. Kedekatan dengan orang lain muncul ketika hubungan utama sedang berada dalam kondisi rapuh.

Orang ketiga kemudian memberikan pengalaman yang berbeda.

Hubungan baru terasa menyenangkan karena belum memiliki sejarah konflik. Belum ada tagihan yang harus dibayar bersama, masalah keluarga, pekerjaan rumah, atau luka lama.

Semuanya masih terasa ringan.

Di sinilah muncul fenomena psikologis yang menarik: hubungan baru sering dibandingkan dengan hubungan lama pada saat hubungan lama sedang berada pada kondisi terburuknya.

Akibatnya, orang ketiga dapat terlihat jauh lebih menarik.

Padahal, hubungan baru belum melewati berbagai tantangan yang biasanya menguji sebuah hubungan dalam jangka panjang.

Karena itu, seseorang bisa salah menginterpretasikan kebaruan sebagai kecocokan.

3. Mencari Validasi dan Pengakuan Diri

Alasan ketiga berkaitan dengan kebutuhan akan validasi.

Validasi berarti mendapatkan pengalaman bahwa diri kita dianggap berharga, menarik, diinginkan, atau memiliki arti bagi orang lain.

Kebutuhan tersebut sebenarnya manusiawi.

Masalah muncul ketika harga diri seseorang sangat bergantung pada respons dari orang lain.

Misalnya, seorang perempuan mulai merasa tidak menarik setelah bertahun-tahun menjalani hubungan. Ia merasa pasangannya tidak lagi memberikan pujian atau menunjukkan ketertarikan seperti dulu.

Kemudian seseorang datang dan mengatakan:

“Kamu masih cantik.”

Atau:

“Aku suka cara kamu berpikir.”

Atau:

“Aku merasa nyaman ketika berbicara denganmu.”

Kalimat sederhana seperti itu dapat memberikan dorongan emosional yang kuat, terutama ketika seseorang sedang mengalami keraguan terhadap dirinya sendiri.

Perselingkuhan dan harga diri

Dalam psikologi hubungan, penting membedakan antara kebutuhan untuk dicintai dan ketergantungan terhadap validasi eksternal.

Orang yang merasa tidak cukup berharga tanpa perhatian orang lain mungkin lebih rentan mengejar pengalaman yang membuat dirinya merasa diinginkan.

Perselingkuhan dalam konteks ini bukan selalu tentang menemukan pasangan yang “lebih baik”.

Kadang-kadang yang dicari adalah perasaan menjadi menarik kembali.

Perasaan tersebut bisa sangat kuat.

Seseorang yang sebelumnya merasa tidak terlihat tiba-tiba mendapatkan banyak perhatian. Ia merasa muda kembali, menarik kembali, atau memiliki daya tarik seksual kembali.

Namun, efek validasi seperti ini sering bersifat sementara.

Ketika perhatian dari orang ketiga berkurang, kebutuhan untuk mendapatkan validasi dapat muncul kembali.

Karena itu, jika akar masalahnya adalah harga diri yang rapuh, berganti pasangan belum tentu menyelesaikan masalah psikologis yang mendasarinya.

4. Merasa Tidak Puas dalam Kehidupan Seksual

Faktor berikutnya adalah ketidakpuasan seksual.

Seks merupakan salah satu bagian penting dalam banyak hubungan romantis. Namun, kebutuhan seksual setiap orang berbeda.

Ada pasangan yang memiliki perbedaan dalam:

frekuensi hubungan seksual;
tingkat libido;
jenis keintiman yang diinginkan;
kebutuhan akan sentuhan;
keterbukaan membicarakan seks;
atau kemampuan pasangan untuk memahami kebutuhan seksual satu sama lain.

Jika perbedaan tersebut berlangsung lama tanpa komunikasi yang sehat, frustrasi dapat berkembang.

Namun, penting untuk memahami bahwa ketidakpuasan seksual tidak otomatis menyebabkan perselingkuhan.

Banyak pasangan mengalami masalah seksual tetapi tetap memilih untuk membicarakannya, mencari bantuan profesional, atau mencari solusi bersama.

Perselingkuhan merupakan salah satu kemungkinan respons—bukan konsekuensi yang pasti.

Ketika masalah seksual sebenarnya merupakan masalah emosional

Hal lain yang menarik adalah bahwa persoalan seksual sering kali tidak berdiri sendiri.

Bagi sebagian orang, seks berkaitan erat dengan perasaan dicintai, diinginkan, dan dekat secara emosional.

Jika seseorang merasa tidak dihargai dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman seksualnya juga dapat terpengaruh.

Sebaliknya, masalah seksual yang berlangsung lama dapat membuat seseorang merasa ditolak.

Akhirnya terbentuk sebuah lingkaran:

kurang komunikasi → kurang keintiman → frustrasi → semakin jauh secara emosional → semakin sulit membicarakan seks.

Dalam situasi seperti itu, perhatian dari orang ketiga dapat terasa sangat menggoda karena memberikan kembali perasaan “diinginkan”.

5. Kesempatan, Kebaruan, dan Ketertarikan terhadap Pengalaman Baru

Alasan kelima yang sering dilupakan adalah kesempatan.

Tidak semua perselingkuhan muncul karena seseorang sangat tidak bahagia dalam hubungannya.

Kadang-kadang kesempatan dan situasi memainkan peran penting.

Misalnya, seseorang bertemu dengan orang baru melalui:

tempat kerja;
komunitas;
media sosial;
pertemanan;
perjalanan;
kegiatan profesional;
atau lingkungan sosial lainnya.

Interaksi yang awalnya tidak memiliki tujuan romantis dapat berubah ketika kedekatan semakin meningkat.

Di sinilah faktor kebaruan berperan.

Hubungan jangka panjang memiliki rutinitas. Sebaliknya, orang baru memberikan pengalaman yang berbeda.

Ada percakapan baru.

Ada cerita baru.

Ada perhatian baru.

Ada rasa penasaran.

Dan ada ketidakpastian yang membuat hubungan tersebut terasa menarik.

Secara psikologis, pengalaman baru dapat memberikan rangsangan yang berbeda dibandingkan rutinitas hubungan jangka panjang.

Tetapi ketertarikan terhadap kebaruan bukan hanya milik perempuan. Pria maupun perempuan sama-sama dapat mengalami hal tersebut.

Karena itu, menjelaskan perselingkuhan perempuan semata-mata sebagai akibat “kekurangan perhatian dari pasangan” juga terlalu sederhana.

Dalam beberapa kasus, faktor kesempatan dan karakter individu dapat berperan besar.

Faktor Lain yang Tidak Boleh Diabaikan

Kelima alasan di atas bukanlah daftar yang berlaku untuk setiap perempuan.

Ada banyak faktor lain yang dapat berhubungan dengan perselingkuhan, seperti:

1. Pola keterikatan

Cara seseorang membangun kedekatan emosional sejak masa perkembangan dapat memengaruhi cara ia menghadapi hubungan romantis.

Sebagian orang sangat takut ditinggalkan. Sebagian lainnya justru cenderung menghindari kedekatan emosional.

Pola tersebut dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi konflik, kebutuhan emosional, dan komitmen.

2. Impulsivitas

Sebagian orang lebih mudah bertindak berdasarkan dorongan sesaat tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.

Dalam situasi tertentu, kesempatan untuk berselingkuh dapat muncul bersamaan dengan rendahnya kontrol terhadap impuls.

3. Batasan hubungan yang tidak jelas

Ada pasangan yang tidak pernah benar-benar membicarakan apa yang mereka anggap sebagai perselingkuhan.

Apakah berkirim pesan romantis termasuk selingkuh?

Bagaimana dengan makan malam berdua?

Bagaimana jika seseorang memiliki “teman spesial” yang dirahasiakan?

Ketidakjelasan batas dapat menciptakan situasi yang berbahaya bagi hubungan.

4. Pengalaman hubungan sebelumnya

Pengalaman buruk dalam hubungan sebelumnya dapat memengaruhi cara seseorang menjalani hubungan baru.

Namun, pengalaman masa lalu tidak menentukan perilaku seseorang secara otomatis.

5. Dinamika kekuasaan dalam hubungan

Hubungan yang sangat tidak seimbang juga dapat menciptakan masalah.

Misalnya, salah satu pasangan selalu mengontrol kehidupan pasangannya, sementara pihak lain merasa kehilangan kebebasan dan identitas pribadi.

Kondisi seperti itu dapat memperburuk kualitas hubungan dan memengaruhi keputusan seseorang.

Apakah Perempuan Berselingkuh Karena Sudah Tidak Mencintai Pasangannya?

Tidak selalu.

Ini merupakan salah satu kesalahpahaman terbesar tentang perselingkuhan.

Seseorang bisa saja masih memiliki perasaan terhadap pasangannya tetapi tetap melakukan tindakan yang merusak hubungan.

Manusia dapat mengalami emosi yang bertentangan secara bersamaan.

Seseorang dapat mencintai pasangannya, tetapi juga merasa kesepian.

Dapat merasa terikat, tetapi sekaligus tertarik kepada orang lain.

Dapat merasa bersalah, tetapi tetap mengulangi perilakunya.

Karena itu, perselingkuhan tidak selalu menjadi bukti sederhana bahwa cinta sudah hilang.

Sebaliknya, perselingkuhan juga tidak boleh digunakan untuk mengukur seberapa besar seseorang mencintai pasangannya.

Yang lebih penting adalah melihat keseluruhan pola hubungan dan perilaku individu.

Perselingkuhan Tidak Selalu Berarti Hubungan Sebelumnya Buruk

Penting juga untuk melihat persoalan dari sisi lain.

Kadang-kadang hubungan yang terlihat baik dari luar tetap mengalami perselingkuhan.

Mengapa?

Karena perilaku manusia tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas hubungan.

Karakter pribadi, kesempatan, batasan moral, kemampuan mengendalikan impuls, kebutuhan psikologis, dan cara seseorang menghadapi godaan juga berperan.

Dengan kata lain:

Hubungan yang bermasalah dapat menjadi faktor risiko, tetapi hubungan yang bermasalah bukan satu-satunya penyebab perselingkuhan.

Sebaliknya, hubungan yang terlihat harmonis juga tidak memberikan jaminan bahwa perselingkuhan tidak akan pernah terjadi.

Yang Sebenarnya Perlu Ditanyakan Ketika Perselingkuhan Terjadi

Ketika seseorang mengetahui pasangannya berselingkuh, pertanyaan pertama biasanya:

“Apa yang kurang dari saya?”

Pertanyaan tersebut dapat sangat menyakitkan.

Namun, perselingkuhan pasangan tidak otomatis berarti kita kurang cantik, kurang menarik, kurang kaya, kurang perhatian, atau kurang baik.

Begitu pula sebaliknya, seseorang yang berselingkuh tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan mengatakan bahwa pasangannya “tidak memenuhi kebutuhan”.

Untuk memahami perselingkuhan secara lebih sehat, pertanyaan yang lebih konstruktif adalah:

Bagaimana kualitas hubungan sebelum perselingkuhan?
Apakah kebutuhan emosional pernah dibicarakan?
Bagaimana pasangan menangani konflik?
Apakah ada batasan yang dilanggar secara bertahap?
Apakah perselingkuhan merupakan kejadian sekali atau pola berulang?
Apakah orang yang berselingkuh mengambil tanggung jawab atas tindakannya?
Apakah kedua pihak masih ingin memperbaiki hubungan?
Apa yang sebenarnya terjadi sebelum hubungan dengan orang ketiga dimulai?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu melihat masalah secara lebih menyeluruh daripada sekadar mencari satu penyebab.

Kesimpulan

Secara psikologis, perselingkuhan perempuan tidak dapat dijelaskan dengan satu alasan sederhana.

Lima faktor yang sering dibahas adalah:

1. Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Seseorang mungkin mencari perhatian, pemahaman, atau kedekatan yang dirasakan hilang dalam hubungan.

2. Keretakan hubungan yang tidak terselesaikan.
Konflik yang berulang dan komunikasi yang buruk dapat membuat seseorang semakin jauh secara emosional dari pasangannya.

3. Kebutuhan akan validasi.
Perhatian dari orang lain dapat memberikan kembali rasa percaya diri dan perasaan bahwa dirinya masih menarik atau berharga.

4. Ketidakpuasan seksual.
Perbedaan kebutuhan seksual dan kurangnya komunikasi mengenai keintiman dapat menjadi salah satu faktor yang membuat hubungan rentan.

5. Kesempatan dan daya tarik terhadap kebaruan.
Pertemuan dengan orang baru, lingkungan sosial, dan pengalaman yang berbeda dapat menciptakan peluang terjadinya kedekatan yang melampaui batas.

Namun, semua faktor tersebut harus dipahami sebagai kemungkinan faktor, bukan aturan universal.

Perselingkuhan merupakan perilaku kompleks yang muncul dari interaksi antara individu, hubungan, lingkungan, kesempatan, dan keputusan pribadi.

Yang paling penting adalah tidak menggunakan psikologi untuk membenarkan perselingkuhan. Memahami alasan di balik sebuah perilaku berbeda dengan membenarkan perilaku tersebut.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar cinta. Ia membutuhkan komunikasi, kejujuran, batasan yang jelas, rasa aman, penghargaan, dan kesediaan kedua pihak untuk menyelesaikan masalah sebelum masalah tersebut berkembang menjadi keretakan yang lebih besar.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore