Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 September 2026 | 04.41 WIB

Jika Kamu Menemukan Kembali Jati Diri Setelah Putus Cinta, Lakukan 6 Cara Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tidak layak dipertahankan dalam hidup / foto: Magnific/The Yuri Arcurs Collection

 

JawaPos.com - Putus cinta tidak hanya berarti kehilangan seseorang yang selama ini kita sayangi. Dalam banyak kasus, perpisahan juga membuat kita merasa kehilangan bagian dari diri sendiri.

Selama menjalin hubungan, kita mungkin terbiasa membuat keputusan bersama, mengikuti rutinitas pasangan, menghabiskan waktu luang bersamanya, atau bahkan membangun rencana masa depan yang melibatkan dirinya. Ketika hubungan berakhir, semua itu tiba-tiba berubah.

Tidak mengherankan jika setelah putus cinta muncul pertanyaan seperti:

"Sebenarnya aku ini siapa sekarang?"

"Apa yang ingin aku lakukan setelah ini?"

"Kenapa hidupku terasa kosong padahal sebelumnya baik-baik saja?"

Perasaan tersebut tidak selalu berarti bahwa kita lemah atau belum bisa move on. Secara psikologis, hubungan romantis memang dapat menjadi bagian penting dari identitas seseorang. Karena itu, ketika hubungan berakhir, seseorang membutuhkan waktu untuk membangun kembali rasa dirinya.

Kabar baiknya, kehilangan hubungan bukan berarti kehilangan jati diri untuk selamanya.

Justru, masa setelah putus cinta dapat menjadi kesempatan untuk mengenal diri sendiri dengan lebih jujur—bukan sebagai seseorang yang menjadi "pasangan dari", tetapi sebagai individu yang memiliki keinginan, nilai, batasan, minat, dan tujuan hidupnya sendiri.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (16/9), jika saat ini kamu sedang berusaha menemukan kembali jati diri setelah putus cinta, enam langkah berikut dapat membantu.

1. Berhenti Mendefinisikan Dirimu Berdasarkan Hubungan yang Sudah Berakhir

Salah satu hal pertama yang perlu dilakukan adalah memisahkan antara siapa dirimu dan status hubunganmu.

Ketika menjalani hubungan cukup lama, identitas pribadi dan identitas sebagai pasangan dapat bercampur. Kita mungkin mulai menggunakan kata "kita" lebih sering daripada "aku".

Keputusan yang sebelumnya dibuat berdasarkan kebutuhan berdua, sekarang harus dibuat sendiri.

Pada tahap ini, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hidupmu kehilangan arah.

Cobalah bertanya:

Apa yang sebenarnya penting bagiku?
Apa yang kusukai sebelum menjalin hubungan?
Hal apa yang dulu ingin kulakukan tetapi sering kutunda?
Nilai apa yang ingin kupegang dalam hidup?
Seperti apa kehidupan yang ingin kubangun jika tidak perlu menyesuaikan diri dengan pasangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu menggeser fokus dari "kenapa hubungan ini berakhir?" menuju "siapa aku setelah hubungan ini berakhir?"

Ini merupakan perbedaan yang penting.

Memahami penyebab putus cinta memang bisa membantu, tetapi terlalu lama menjadikan hubungan masa lalu sebagai pusat kehidupan justru dapat membuat identitas kita terus terikat pada sesuatu yang sudah selesai.

Jati diri tidak ditemukan dengan terus-menerus mencari versi dirimu ketika masih bersama mantan.

Jati diri dibangun dengan mengenali siapa dirimu sekarang.

2. Izinkan Dirimu Berduka, Jangan Memaksa Diri Cepat Move On

Ada kecenderungan untuk menganggap bahwa setelah putus cinta seseorang harus segera kembali produktif, bahagia, dan "move on".

Padahal, kehilangan hubungan dapat memunculkan proses berduka.

Kamu mungkin merasa sedih hari ini, marah besok, kemudian merasa baik-baik saja, lalu tiba-tiba kembali menangis ketika menemukan foto lama.

Perubahan emosi seperti itu bisa terasa membingungkan.

Namun, proses pemulihan emosional tidak selalu berjalan lurus.

Karena itu, jangan menjadikan "sudah tidak menangis" sebagai satu-satunya ukuran bahwa kamu sudah sembuh.

Kamu bisa mulai dengan mengakui perasaan tanpa menghakiminya.

Misalnya:

"Aku sedang sedih karena kehilangan seseorang yang penting dalam hidupku."

Bukan:

"Aku seharusnya sudah melupakannya."

Atau:

"Kenapa aku masih memikirkannya? Berarti aku lemah."

Memberi ruang terhadap emosi bukan berarti kamu harus terus hidup di masa lalu. Justru, menerima bahwa rasa kehilangan memang ada dapat membuatmu lebih mampu memprosesnya.

Kamu tidak harus menyukai keadaan ini.

Kamu hanya perlu mengakui bahwa keadaan ini sedang terjadi.

Dan dari sana, perlahan kamu bisa mulai bergerak maju.

3. Bangun Kembali Rutinitas yang Sepenuhnya Milikmu

Ketika masih berpacaran, sebagian rutinitas kita mungkin terbentuk di sekitar pasangan.

Ada waktu untuk menelepon.

Ada tempat yang biasa didatangi bersama.

Ada kebiasaan mengirim pesan sebelum tidur.

Ada akhir pekan yang hampir selalu dihabiskan bersama.

Setelah putus, rutinitas tersebut tiba-tiba menghilang.

Akibatnya, yang terasa hilang bukan hanya seseorang, tetapi juga struktur kehidupan sehari-hari.

Karena itu, salah satu cara untuk menemukan kembali diri sendiri adalah menciptakan rutinitas baru.

Tidak harus spektakuler.

Mulailah dari hal sederhana.

Bangun pada waktu yang relatif konsisten. Berolahraga. Membaca. Memasak. Menata kamar. Pergi berjalan-jalan. Belajar keterampilan baru. Bertemu teman. Mengembangkan pekerjaan atau proyek pribadi.

Yang terpenting adalah aktivitas tersebut tidak dilakukan untuk membuktikan sesuatu kepada mantan.

Lakukan karena aktivitas itu membantu membangun kehidupanmu sendiri.

Ada perbedaan besar antara:

"Aku harus menjadi lebih sukses supaya dia menyesal."

dan:

"Aku ingin berkembang karena hidupku memang layak untuk kuurus."

Yang pertama masih menjadikan mantan sebagai pusat motivasi.

Yang kedua mulai mengembalikan pusat kehidupan kepada dirimu sendiri.

4. Temukan Kembali Hal-Hal yang Dulu Membuatmu Merasa Menjadi Dirimu Sendiri

Coba ingat kehidupanmu sebelum hubungan tersebut.

Bukan untuk kembali menjadi dirimu yang dulu secara persis, tetapi untuk menemukan bagian-bagian dirimu yang mungkin sempat terlupakan.

Mungkin dulu kamu suka bermain musik.

Mungkin kamu senang menulis.

Mungkin kamu sering bertemu teman.

Mungkin kamu memiliki cita-cita yang sempat ditunda.

Mungkin kamu senang bepergian sendirian.

Atau mungkin ada hal sederhana seperti membaca buku pada malam hari yang dulu membuatmu merasa tenang.

Buatlah daftar:

"Hal-hal yang membuatku merasa menjadi diriku sendiri."

Tuliskan sebanyak mungkin.

Kemudian pilih satu atau dua hal yang realistis untuk mulai dilakukan kembali.

Kamu juga bisa mencoba sesuatu yang benar-benar baru.

Mengapa?

Karena identitas bukan sesuatu yang sepenuhnya statis.

Kita terus berkembang melalui pengalaman.

Maka setelah putus cinta, jangan hanya bertanya:

"Bagaimana caranya aku kembali menjadi diriku yang dulu?"

Coba ubah menjadi:

"Siapa aku yang ingin kubangun mulai sekarang?"

Pertanyaan kedua membuka kemungkinan yang jauh lebih luas.

Mungkin kamu tidak perlu kembali menjadi orang yang sama.

Mungkin kamu sedang membangun versi dirimu yang lebih mengenal kebutuhan dan batasannya sendiri.

5. Evaluasi Hubungan Masa Lalu Tanpa Menjadikan Dirimu sebagai Tersangka

Setelah hubungan berakhir, seseorang sering jatuh ke salah satu dari dua ekstrem.

Pertama, menyalahkan mantan untuk segala sesuatu.

Kedua, menyalahkan diri sendiri untuk segala sesuatu.

Keduanya bisa membuat kita sulit belajar dari pengalaman.

Cobalah melakukan refleksi dengan lebih seimbang.

Tanyakan:

Apa yang berjalan baik dalam hubungan tersebut?

Apa yang tidak berjalan baik?

Apa yang sebenarnya kubutuhkan dalam hubungan?

Batasan apa yang dulu sulit kukomunikasikan?

Hal apa yang tidak ingin kuulangi?

Apa yang sekarang lebih kupahami tentang diriku sendiri?

Tujuan refleksi bukan untuk menentukan siapa yang menjadi "orang jahat".

Tujuannya adalah mengambil pelajaran.

Misalnya, mungkin kamu menyadari bahwa selama hubungan kamu terlalu sering mengabaikan kebutuhan sendiri demi mempertahankan hubungan.

Atau mungkin kamu menyadari bahwa komunikasi merupakan sesuatu yang sangat penting bagimu.

Mungkin kamu juga menemukan bahwa kamu membutuhkan ruang pribadi yang lebih besar daripada yang selama ini kamu kira.

Pelajaran seperti ini sangat berharga.

Sebab hubungan yang berakhir tetap dapat meninggalkan pemahaman yang berguna tentang diri kita—selama kita tidak terus-menerus terjebak dalam penyesalan.

6. Bangun Masa Depan yang Tidak Lagi Berpusat pada Mantan

Ini mungkin langkah yang paling penting.

Setelah putus cinta, masa depan yang sebelumnya dibayangkan bersama seseorang bisa terasa seperti ikut menghilang.

Rencana liburan.

Pernikahan.

Rumah.

Keluarga.

Karier.

Atau sekadar kehidupan sehari-hari bersama.

Ketika hubungan berakhir, kita bukan hanya kehilangan masa lalu. Kita juga kehilangan gambaran masa depan yang pernah kita bayangkan.

Karena itu, salah satu bagian dari pemulihan adalah mulai membuat gambaran masa depan yang baru.

Tanyakan:

"Kalau tidak ada lagi yang harus kupertimbangkan selain diriku sendiri, kehidupan seperti apa yang ingin kubangun?"

Jangan langsung memikirkan lima atau sepuluh tahun ke depan.

Mulailah dengan tiga bulan.

Apa yang ingin kamu capai?

Apa yang ingin kamu pelajari?

Siapa yang ingin kamu temui?

Bagaimana kamu ingin menggunakan waktumu?

Apa yang ingin kamu perbaiki dalam kehidupan sehari-hari?

Kemudian buat tujuan kecil yang dapat dilakukan.

Misalnya:

kembali berolahraga tiga kali seminggu;
menyelesaikan satu buku setiap bulan;
mengembangkan keterampilan tertentu;
memperbaiki hubungan dengan keluarga atau teman;
menabung untuk sesuatu yang kamu inginkan;
memulai kembali hobi;
atau mencoba aktivitas yang belum pernah dilakukan.

Tujuannya bukan membuat hidup terlihat sempurna.

Tujuannya adalah menciptakan bukti setiap hari bahwa hidupmu tetap memiliki arah meskipun hubungan tersebut telah berakhir.

Jangan Terburu-buru Mencari Orang Baru untuk Mengisi Kekosongan

Ada satu jebakan yang sering muncul setelah putus cinta: menganggap bahwa cara tercepat untuk merasa utuh kembali adalah menemukan pasangan baru.

Memulai hubungan baru bukan sesuatu yang otomatis salah. Tetapi jika seseorang masuk ke hubungan baru terutama untuk menghindari kesepian, membuktikan bahwa dirinya masih diinginkan, atau membuat mantan cemburu, luka emosional sebelumnya mungkin belum benar-benar diproses.

Cobalah membangun kemampuan untuk merasa nyaman dengan dirimu sendiri terlebih dahulu.

Belajar menikmati waktu sendirian.

Belajar mengambil keputusan sendiri.

Belajar merasa berharga tanpa membutuhkan validasi romantis.

Belajar memahami kebutuhan emosionalmu.

Ketika nantinya kamu memilih untuk menjalin hubungan lagi, kamu bisa masuk ke dalam hubungan bukan karena merasa "tidak lengkap" sendirian, tetapi karena ingin berbagi kehidupan dengan orang lain.

Itu merupakan perbedaan yang sangat penting.

Jati Diri Tidak Hilang, Hanya Sedang Dibangun Kembali

Putus cinta memang dapat membuat kehidupan terasa asing.

Tempat-tempat yang dulu menyenangkan bisa tiba-tiba terasa menyakitkan.

Lagu tertentu bisa mengingatkanmu pada seseorang.

Rutinitas yang sebelumnya biasa saja dapat terasa kosong.

Dan mungkin ada hari ketika kamu merasa sudah baik-baik saja, kemudian keesokan harinya kembali merindukannya.

Jangan menganggap kemunduran emosional kecil sebagai kegagalan.

Pemulihan bukan tentang tidak pernah memikirkan masa lalu lagi.

Pemulihan lebih dekat dengan kemampuan untuk mengingat masa lalu tanpa membiarkannya menentukan seluruh kehidupanmu hari ini.

Pada akhirnya, menemukan kembali jati diri setelah putus cinta bukan tentang menghapus seseorang dari ingatan.

Ini tentang mengembalikan perhatian kepada kehidupanmu sendiri.

Kamu mulai bertanya apa yang kamu inginkan.

Kamu belajar mengenali batasan.

Kamu kembali melakukan hal-hal yang bermakna.

Kamu membangun rutinitas baru.

Kamu memahami pengalaman masa lalu.

Dan perlahan, kamu mulai menyadari:

Kehilangan sebuah hubungan tidak berarti kehilangan dirimu.

Mungkin ada bagian dari dirimu yang berubah setelah hubungan itu berakhir.

Dan itu tidak selalu buruk.

Karena terkadang, proses menjadi diri sendiri bukan tentang kembali menjadi orang yang dulu.

Melainkan tentang mengenal seseorang yang selama ini mungkin kurang kamu dengarkan:

dirimu sendiri.

Jika rasa sedih atau kehilangan terasa sangat berat, berlangsung lama, atau sampai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, maupun kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari, mencari bantuan dari psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat. Meminta bantuan bukan berarti gagal move on; itu merupakan salah satu cara merawat diri.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore