seseorang yang memiliki masalah dengan alkohol / foto: Magnific/drobotdean
Di satu sisi, ini adalah bagian normal dari proses menuju kedewasaan.
Namun, masa kuliah juga merupakan periode ketika seorang anak bisa menghadapi berbagai tekanan baru: tuntutan akademik, pergaulan, masalah hubungan, kesepian, tekanan untuk diterima lingkungan, hingga kebingungan mengenai masa depan.
Dalam situasi tertentu, alkohol dapat menjadi salah satu cara yang digunakan sebagian mahasiswa untuk mencari hiburan, menyesuaikan diri dengan kelompok, atau melarikan diri sementara dari masalah yang sedang mereka hadapi.
Masalahnya, penggunaan alkohol tidak selalu langsung terlihat sebagai sesuatu yang serius.
Tidak semua mahasiswa yang minum alkohol berarti mengalami gangguan penggunaan alkohol. Tetapi ketika pola minum mulai mengganggu kuliah, hubungan sosial, kesehatan, keuangan, atau kehidupan sehari-hari, orang tua sebaiknya tidak mengabaikannya.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (5/9), menurut pendekatan psikologi, yang perlu diperhatikan bukan hanya "Apakah anak saya minum alkohol?", tetapi lebih jauh:
"Apa yang terjadi pada kehidupan anak saya setelah alkohol mulai menjadi bagian dari kehidupannya?"
Ada beberapa perubahan yang dapat menjadi sinyal peringatan.
1. Prestasi kuliah tiba-tiba menurun tanpa alasan yang jelas
Salah satu tanda yang patut diperhatikan adalah perubahan drastis dalam kehidupan akademik.
Anak yang sebelumnya cukup bertanggung jawab terhadap kuliahnya mungkin mulai sering terlambat mengumpulkan tugas, tidak masuk kelas, kehilangan motivasi belajar, atau mendapatkan nilai yang jauh lebih buruk daripada biasanya.
Tentu saja, penurunan prestasi akademik tidak otomatis berarti anak memiliki masalah dengan alkohol.
Ada banyak penyebab lain, seperti stres, masalah kesehatan mental, kesulitan beradaptasi, konflik hubungan, masalah keluarga, atau bahkan jurusan yang ternyata tidak sesuai dengan minatnya.
Namun, jika penurunan akademik muncul bersamaan dengan perubahan perilaku lain, orang tua perlu memberikan perhatian lebih.
Misalnya, anak mulai sering tidak masuk kelas setelah malam sebelumnya pergi bersama teman. Atau ia mengatakan sedang belajar, tetapi ternyata sering menghabiskan malam untuk berpesta dan minum.
Yang penting bukan satu kejadian.
Yang perlu diperhatikan adalah pola yang berulang.
Dalam psikologi perilaku, perubahan fungsi sehari-hari merupakan salah satu hal penting untuk diperhatikan. Ketika kebiasaan tertentu mulai membuat seseorang kesulitan menjalankan tanggung jawabnya, kebiasaan tersebut sudah layak mendapatkan perhatian.
Jangan langsung berkata:
"Kamu kuliah bukannya belajar, malah mabuk terus!"
Kalimat seperti itu mungkin membuat orang tua merasa sudah menyampaikan kekhawatiran, tetapi anak justru bisa menjadi defensif.
Lebih baik mencoba:
"Ayah/Ibu melihat akhir-akhir ini kuliahmu agak berubah. Kamu kelihatannya lebih sering kesulitan bangun dan beberapa tugas juga tertunda. Ada sesuatu yang sedang kamu hadapi?"
Pertanyaan seperti ini membuka pintu komunikasi tanpa langsung memberikan label.
2. Perubahan pergaulan dan perilaku yang sangat drastis
Memasuki dunia kuliah memang sering membuat lingkungan pertemanan anak berubah.
Itu normal.
Anak mungkin memiliki teman baru dari berbagai daerah, organisasi, komunitas, atau kelompok belajar. Orang tua tidak perlu menganggap setiap teman baru sebagai ancaman.
Tetapi perubahan yang sangat drastis dan disertai perilaku berisiko perlu diperhatikan.
Misalnya, anak yang sebelumnya terbuka tiba-tiba menjadi sangat tertutup. Ia mulai sering menghilang tanpa penjelasan, sulit dihubungi pada waktu-waktu tertentu, atau sering pulang dalam kondisi yang tidak biasa.
Orang tua juga mungkin melihat bahwa anak mulai menjauh dari teman-teman lamanya dan hanya bergaul dengan kelompok tertentu.
Sekali lagi, masalahnya bukan semata-mata siapa teman anak tersebut.
Yang lebih penting adalah perubahan perilaku anak setelah berada dalam lingkungan tersebut.
Apakah ia mulai sering mengonsumsi alkohol?
Apakah ia merasa harus minum agar diterima oleh kelompok?
Apakah ia mulai melakukan hal-hal yang sebelumnya bertentangan dengan prinsipnya karena tekanan teman?
Dalam psikologi sosial, kebutuhan untuk diterima oleh kelompok dapat menjadi faktor yang kuat, terutama pada masa transisi menuju kehidupan dewasa.
Seorang mahasiswa mungkin berpikir:
"Kalau aku tidak ikut minum, aku akan dianggap aneh."
Pada awalnya mungkin hanya mengikuti teman.
Namun, jika kebiasaan tersebut terus berulang, konsumsi alkohol dapat berubah dari aktivitas sosial menjadi sesuatu yang semakin sulit dikendalikan.
3. Sering mencari alasan untuk minum atau menjadikan alkohol sebagai "pelarian"
Ini adalah salah satu tanda yang sangat penting.
Ada perbedaan antara:
"Saya minum karena sedang berkumpul dengan teman."
dan
"Saya minum supaya tidak terlalu stres."
atau:
"Kalau tidak minum, saya tidak bisa tidur."
atau:
"Saya minum supaya tidak kepikiran masalah."
Ketika alkohol mulai digunakan sebagai cara utama untuk mengatur emosi, orang tua perlu lebih waspada.
Secara psikologis, seseorang dapat menggunakan suatu perilaku sebagai strategi menghadapi tekanan atau emosi yang tidak nyaman.
Masalah muncul ketika strategi tersebut menjadi semakin dominan.
Mahasiswa yang sedang mengalami stres mungkin awalnya minum sesekali untuk "bersantai". Setelah beberapa waktu, ia bisa mulai mengasosiasikan alkohol dengan rasa lega.
Stres → minum → merasa lebih tenang.
Masalah → minum → merasa lebih baik.
Kesepian → minum → pikiran menjadi lebih tenang.
Pola seperti ini dapat menjadi berbahaya karena otak belajar bahwa alkohol adalah jalan cepat untuk mengurangi ketidaknyamanan emosional.
Akibatnya, ketika menghadapi masalah berikutnya, seseorang mungkin kembali mencari alkohol.
Bukan karena ia ingin menjadi "nakal", tetapi karena ia telah belajar bahwa alkohol memberikan perubahan perasaan dalam waktu singkat.
Itulah mengapa orang tua sebaiknya tidak hanya bertanya:
"Berapa banyak kamu minum?"
Tetapi juga:
"Biasanya kamu minum ketika sedang mengalami apa?"
Pertanyaan kedua bisa memberikan informasi yang jauh lebih penting.
4. Mulai sering berbohong atau menyembunyikan aktivitas yang berhubungan dengan alkohol
Orang tua mungkin mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
Anak menjadi lebih defensif ketika ditanya mengenai aktivitasnya.
Pesan-pesan tertentu dihapus.
Jadwalnya tidak jelas.
Ia memberikan penjelasan yang berubah-ubah mengenai ke mana pergi dan dengan siapa.
Atau anak menjadi sangat marah ketika orang tua sekadar bertanya tentang aktivitas malamnya.
Perlu dipahami bahwa mahasiswa memang memiliki hak atas privasi.
Jadi, privasi bukan berarti masalah.
Namun, jika kerahasiaan muncul bersamaan dengan berbagai perubahan negatif lainnya, orang tua sebaiknya tidak mengabaikannya.
Misalnya:
semakin sering keluar malam,
sulit dihubungi,
prestasi kuliah menurun,
uang cepat habis,
sering meminta uang tambahan,
dan menjadi sangat defensif ketika ditanya.
Kombinasi beberapa tanda tersebut jauh lebih bermakna daripada satu tanda saja.
Orang tua juga perlu berhati-hati agar tidak berubah menjadi "detektif" yang terus-menerus mengawasi anak.
Tujuannya bukan menangkap anak sedang melakukan kesalahan.
Tujuannya adalah memahami apakah anak sedang menghadapi masalah dan membutuhkan bantuan.
5. Ada perubahan fisik, emosi, atau kebiasaan sehari-hari
Masalah alkohol tidak selalu terlihat dalam bentuk anak pulang dalam keadaan mabuk.
Kadang-kadang tandanya jauh lebih halus.
Misalnya terjadi perubahan pada:
pola tidur,
nafsu makan,
energi,
konsentrasi,
suasana hati,
kemampuan mengendalikan emosi,
kebersihan diri,
atau rutinitas sehari-hari.
Anak mungkin menjadi lebih mudah marah.
Hal kecil membuatnya tersinggung.
Ia terlihat sangat lelah pada siang hari dan aktif pada malam hari.
Atau ia mengalami perubahan suasana hati yang cukup drastis.
Namun, tanda-tanda tersebut juga dapat disebabkan oleh banyak hal lain.
Mahasiswa dapat mengalami perubahan tidur karena tugas, ujian, penggunaan gawai, stres, atau kehidupan sosial.
Karena itu, jangan langsung menyimpulkan:
"Anak saya berubah karena alkohol."
Lebih tepat jika orang tua melihat keseluruhan pola.
Apakah perubahan tersebut muncul bersamaan dengan semakin seringnya aktivitas minum?
Apakah anak mengalami masalah setelah minum?
Apakah ia mulai kesulitan menjalankan aktivitas yang sebelumnya bisa dilakukan dengan baik?
Apakah ia pernah mengalami kecelakaan, konflik, atau masalah lain setelah mengonsumsi alkohol?
Semakin banyak aspek kehidupan yang terdampak, semakin penting masalah tersebut untuk diperhatikan.
6. Anak tetap minum meskipun sudah mengalami konsekuensi buruk
Ini mungkin merupakan salah satu tanda yang paling serius.
Bayangkan seorang mahasiswa sudah mengalami beberapa masalah setelah minum.
Pernah melewatkan kuliah.
Pernah bertengkar dengan teman.
Pernah menghabiskan terlalu banyak uang.
Pernah membuat keputusan yang disesali.
Atau bahkan pernah mengalami masalah keselamatan.
Namun setelah itu, pola minumnya tetap berlanjut.
Di sinilah orang tua perlu melihat lebih jauh daripada sekadar "anak saya minum".
Pertanyaan pentingnya adalah:
Apakah anak masih dapat mengendalikan perilaku tersebut meskipun sudah mengetahui konsekuensinya?
Jika alkohol mulai mengambil tempat yang semakin besar dalam kehidupan seseorang, itu dapat menjadi tanda bahwa ia membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Gangguan penggunaan alkohol merupakan kondisi klinis yang dinilai berdasarkan pola gejala dan dampaknya terhadap kehidupan seseorang. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak mencoba mendiagnosis anak hanya berdasarkan enam tanda di atas.
Diagnosis membutuhkan penilaian profesional.
Tetapi orang tua tidak perlu menunggu sampai kondisinya menjadi sangat parah untuk mulai berbicara.
Mengapa Anak Kuliah Bisa Lebih Rentan Mengalami Masalah dengan Alkohol?
Masa kuliah adalah masa transisi.
Anak mulai memiliki kebebasan yang jauh lebih besar dibandingkan ketika masih tinggal bersama orang tua dan bersekolah.
Ia harus mengatur sendiri:
waktu tidur,
uang,
pertemanan,
kuliah,
pekerjaan atau aktivitas tambahan,
hubungan romantis,
serta keputusan sehari-hari.
Kebebasan ini merupakan bagian penting dari perkembangan menuju dewasa.
Tetapi kebebasan juga berarti anak harus belajar mengatur dirinya sendiri.
Dalam kondisi tertentu, tekanan akademik dan sosial dapat membuat seseorang mencari cara cepat untuk merasa lebih baik.
Alkohol bisa terlihat seperti solusi yang mudah.
Minum membuat seseorang merasa lebih santai untuk sementara.
Bisa membuat seseorang merasa lebih percaya diri dalam lingkungan sosial.
Bisa mengurangi ketegangan secara subjektif.
Tetapi efek tersebut bersifat sementara dan tidak menyelesaikan sumber masalah.
Jika alkohol terus digunakan sebagai cara menghadapi stres, pola tersebut dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih sulit dikendalikan.
Jangan Langsung Memberi Label "Pemabuk"
Ini sangat penting.
Ketika orang tua mengetahui anaknya minum alkohol, reaksi spontan yang muncul mungkin adalah marah.
"Kenapa kamu jadi begini?"
"Kamu bikin malu keluarga."
"Kamu sudah mengecewakan orang tua."
"Kamu pemabuk!"
Masalahnya, label seperti ini dapat membuat anak merasa diserang.
Ketika seseorang merasa diserang, respons yang muncul bisa berupa menyangkal, berbohong, menjauh, atau berhenti bercerita.
Padahal, komunikasi terbuka justru sangat dibutuhkan.
Cobalah memisahkan anak dari perilakunya.
Bukan:
"Kamu anak bermasalah."
Tetapi:
"Ayah/Ibu khawatir dengan kebiasaan minummu karena kami melihat kuliah dan kehidupanmu mulai terganggu."
Perbedaannya sangat besar.
Kalimat pertama menyerang identitas.
Kalimat kedua membicarakan perilaku dan dampaknya.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua?
Jika Anda melihat beberapa tanda di atas, jangan langsung panik.
Langkah pertama adalah mengumpulkan gambaran yang lebih lengkap.
Perhatikan apakah perubahan tersebut hanya terjadi sekali atau sudah menjadi pola.
Kemudian pilih waktu yang tepat untuk berbicara.
Jangan memulai percakapan ketika anak sedang mabuk, sedang marah, atau baru saja pulang dari pesta.
Cari waktu ketika suasana relatif tenang.
Gunakan kalimat yang menunjukkan kepedulian.
Misalnya:
"Ayah/Ibu tidak ingin menghakimi kamu. Kami cuma melihat beberapa perubahan dan khawatir kamu sedang menghadapi sesuatu. Kalau memang ada masalah, kamu boleh cerita."
Kemudian dengarkan.
Jangan langsung memberikan ceramah panjang.
Kadang-kadang anak sebenarnya ingin bercerita, tetapi takut akan langsung dimarahi.
Tanyakan:
"Apa yang membuat kamu akhir-akhir ini sering minum?"
"Apakah kamu merasa sulit menolak ketika teman mengajak?"
"Apakah kamu minum karena sedang banyak pikiran?"
"Apakah pernah ada kejadian setelah minum yang sebenarnya kamu sesali?"
Pertanyaan seperti ini dapat membantu orang tua memahami konteksnya.
Kapan Sebaiknya Meminta Bantuan Profesional?
Jika penggunaan alkohol sudah mulai mengganggu kehidupan anak, jangan ragu mencari bantuan profesional.
Psikolog, psikiater, dokter, atau layanan konseling kampus dapat membantu melakukan penilaian yang lebih objektif.
Terutama jika anak:
kesulitan mengendalikan konsumsi alkohol,
terus minum meskipun sudah mengalami masalah,
mengalami gangguan kuliah atau pekerjaan,
mengalami konflik hubungan yang berulang,
menggunakan alkohol untuk mengatasi masalah emosional,
sering mengalami situasi berbahaya setelah minum,
atau menunjukkan perubahan perilaku yang semakin berat.
Mencari bantuan profesional bukan berarti anak sudah pasti kecanduan.
Justru konsultasi dapat membantu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Bisa saja masalah utamanya bukan alkohol, melainkan stres akademik, kecemasan, masalah hubungan, kesulitan beradaptasi, atau persoalan lain yang kemudian membuat anak menggunakan alkohol sebagai cara menghadapi keadaan.
Yang Paling Penting: Jangan Kehilangan Hubungan dengan Anak
Pada akhirnya, orang tua sering kali terlalu fokus pada satu pertanyaan:
"Bagaimana supaya anak saya berhenti minum?"
Pertanyaan tersebut memang penting.
Tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:
"Bagaimana supaya anak saya tetap merasa aman untuk meminta bantuan kepada saya?"
Anak yang sudah kuliah memang bukan lagi anak kecil.
Ia membutuhkan ruang untuk mengambil keputusan sendiri.
Namun, menjadi dewasa bukan berarti ia tidak membutuhkan orang tua.
Justru ketika menghadapi masalah, seorang anak mungkin membutuhkan orang tua yang bisa menjadi tempat pulang tanpa langsung menghakimi.
Jadi, jika Anda melihat enam tanda di atas, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa anak Anda seorang "pemabuk".
Perhatikan pola, frekuensi, dampak, dan alasan di balik perilakunya.
Satu tanda belum tentu berarti masalah alkohol.
Dua tanda juga belum tentu menjadi diagnosis.
Tetapi ketika berbagai perubahan muncul bersamaan dan kehidupan anak mulai terganggu, itu adalah alasan yang cukup untuk berhenti sejenak dan berkata:
"Mungkin ada sesuatu yang sedang dialami anak saya. Saya perlu mendekatinya, bukan hanya memarahinya."
Karena terkadang, di balik kebiasaan minum yang terlihat sebagai kenakalan, ada seorang mahasiswa yang sebenarnya sedang kesulitan menghadapi tekanan, kesepian, kecemasan, kegagalan, atau masalah lain yang belum mampu ia ceritakan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Prediksi Skor Villarreal vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Amankan 3 Poin!
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
