seseorang yang terlalu membutuhkan validasi orang lain / foto: Magnific/garetsvisual
Dalam banyak kasus, kita tergoda mencari satu penyebab sederhana. Padahal, dari sudut pandang psikologi, perselingkuhan merupakan fenomena yang kompleks. Ada faktor pribadi, kualitas hubungan, kesempatan, kepuasan emosional, batasan dalam berinteraksi dengan orang lain, hingga kemampuan seseorang mengendalikan dorongan.
Karena itu, penting untuk memahami satu hal sejak awal: tidak ada sifat pasangan yang dapat dijadikan alasan atau pembenaran untuk perselingkuhan. Seseorang yang memilih berselingkuh tetap bertanggung jawab atas keputusannya.
Namun, ada sejumlah pola perilaku dan sifat dalam hubungan yang dapat menciptakan kondisi kurang sehat dan berpotensi meningkatkan kerentanan terhadap masalah seperti ketidakpuasan, konflik, jarak emosional, atau pencarian validasi dari orang lain.
Menariknya, beberapa sifat tersebut bukan hanya harus dihindari oleh pasangan, tetapi juga perlu kita evaluasi dalam diri sendiri.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (5/9), terdapat tujuh sifat yang sebaiknya mulai ditinggalkan jika ingin membangun hubungan yang lebih sehat dan tahan terhadap godaan dari luar.
1. Terlalu Membutuhkan Validasi dari Orang Lain
Salah satu pola yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan yang sangat besar terhadap pengakuan dari luar hubungan.
Orang yang terus-menerus membutuhkan pujian, perhatian, atau kekaguman orang lain bisa menjadi lebih rentan ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. Mereka mungkin merasa berharga ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa mereka menarik, pintar, sukses, atau istimewa.
Masalahnya muncul ketika validasi tersebut mulai dicari secara diam-diam dari orang di luar hubungan.
Awalnya mungkin terlihat sederhana.
Seseorang memberikan pujian. Kita merasa senang. Kemudian percakapan menjadi semakin sering. Ada perhatian khusus, pesan pribadi, candaan yang hanya dipahami berdua, hingga akhirnya muncul kedekatan emosional.
Tidak semua interaksi seperti ini akan berakhir menjadi perselingkuhan. Namun, ketika seseorang memiliki kebutuhan validasi yang sangat tinggi dan tidak mampu menetapkan batasan, hubungan dengan orang ketiga dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius.
Mengapa sifat ini berbahaya?
Karena seseorang bisa mulai mengandalkan perhatian dari luar untuk mempertahankan harga dirinya.
Alih-alih berkata kepada pasangan, "Aku sedang membutuhkan perhatian dan penghargaan," ia justru mencarinya dari orang lain.
Hubungan yang sehat bukan berarti pasangan harus memberikan pujian setiap saat. Yang lebih penting adalah seseorang mampu memiliki rasa berharga yang tidak sepenuhnya bergantung pada perhatian eksternal.
Yang perlu ditinggalkan: kebiasaan mencari pembuktian bahwa diri kita menarik atau berharga melalui perhatian orang lain.
Yang perlu dibangun: rasa percaya diri, komunikasi terbuka, dan kemampuan mendapatkan validasi secara sehat tanpa melanggar batas hubungan.
2. Mudah Bosan dan Selalu Mengejar Sensasi Baru
Hubungan jangka panjang tidak selalu terasa seperti masa pendekatan.
Pada awal hubungan, semuanya terasa baru. Ada pesan yang ditunggu, pertemuan yang membuat gugup, kejutan kecil, dan rasa penasaran yang terus meningkat.
Namun setelah bertahun-tahun bersama, hubungan memasuki fase yang berbeda.
Rutinitas mulai muncul.
Kita mengetahui kebiasaan pasangan. Kita sudah tahu cerita-ceritanya. Bahkan mungkin bisa menebak apa yang akan ia pesan ketika pergi ke restoran.
Bagi sebagian orang, perubahan ini terasa membosankan.
Jika seseorang memiliki kebutuhan sangat tinggi terhadap kebaruan dan sensasi, ia mungkin tergoda mencari kembali "perasaan baru" tersebut di luar hubungan.
Orang ketiga bisa memberikan sesuatu yang terasa berbeda: perhatian baru, percakapan baru, ketertarikan baru, dan fantasi tentang kehidupan yang berbeda.
Padahal, rasa berdebar karena sesuatu yang baru tidak selalu berarti hubungan tersebut lebih baik.
Sering kali kita hanya sedang membandingkan fase awal hubungan baru dengan fase matang hubungan lama.
Itu adalah perbandingan yang tidak seimbang.
Hubungan sehat membutuhkan kemampuan menghadapi kebosanan
Hubungan yang matang bukan berarti selalu penuh kejutan. Justru salah satu kemampuan penting dalam hubungan jangka panjang adalah menciptakan kebaruan di dalam hubungan yang sudah ada.
Mencoba aktivitas baru bersama, bepergian, belajar sesuatu, memperbaiki kehidupan seksual, memiliki tujuan bersama, atau sekadar mengubah rutinitas dapat membantu menjaga hubungan tetap hidup.
Yang perlu ditinggalkan: keyakinan bahwa hubungan yang sehat harus selalu terasa mendebarkan.
Yang perlu dibangun: kemampuan menciptakan kedekatan dan kebaruan tanpa harus mencari orang baru.
3. Tidak Mampu Menetapkan Batasan dengan Lawan Jenis atau Orang yang Menarik
Banyak masalah dalam hubungan tidak dimulai dari niat untuk berselingkuh.
Kadang-kadang masalah dimulai dari batasan yang tidak jelas.
"Kan cuma teman."
"Kan cuma chat."
"Kan tidak pernah bertemu."
"Kan cuma bercanda."
Kalimat-kalimat seperti ini memang bisa benar. Tidak semua pertemanan merupakan ancaman bagi hubungan.
Namun, masalahnya bukan hanya pada aktivitasnya. Masalahnya juga terletak pada niat, intensitas, kerahasiaan, dan kedekatan emosional.
Misalnya, seseorang mulai rutin berbicara dengan orang lain mengenai masalah pribadi yang seharusnya dibicarakan dengan pasangan. Lama-kelamaan, orang tersebut menjadi tempat pertama untuk mencari kenyamanan ketika sedang sedih.
Hubungan emosional mulai berpindah.
Bahkan sebelum terjadi kontak fisik, seseorang bisa saja sudah membangun hubungan yang secara emosional melampaui batas yang sehat.
Batasan bukan berarti posesif
Memiliki batasan bukan berarti pasangan tidak boleh memiliki teman.
Justru hubungan yang sehat memberikan ruang untuk pertemanan dan kehidupan pribadi.
Tetapi terdapat perbedaan antara memiliki teman dan membangun kedekatan rahasia yang sengaja disembunyikan dari pasangan.
Jika sebuah interaksi harus terus-menerus disembunyikan, itu bisa menjadi tanda bahwa batas hubungan mulai bermasalah.
Yang perlu ditinggalkan: kebiasaan menganggap semua interaksi sebagai "tidak ada apa-apanya" hanya karena belum terjadi perselingkuhan fisik.
Yang perlu dibangun: batasan yang jelas, transparansi yang wajar, dan kesadaran terhadap kedekatan emosional.
4. Menghindari Komunikasi Ketika Ada Masalah
Salah satu sifat yang dapat merusak hubungan secara perlahan adalah kebiasaan menghindari konflik.
Ketika ada masalah, seseorang memilih diam.
Ketika merasa kecewa, ia memendam.
Ketika kebutuhan emosional tidak terpenuhi, ia tidak mengatakannya.
Ketika marah, ia menjauh.
Pada awalnya, cara seperti ini mungkin terasa lebih mudah. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada percakapan yang melelahkan.
Namun masalah yang tidak dibicarakan tidak otomatis menghilang.
Ia bisa berubah menjadi jarak emosional.
Dan ketika jarak emosional semakin besar, seseorang mungkin mulai mencari tempat lain untuk merasa dipahami.
Di sinilah hubungan dengan orang ketiga dapat menjadi berbahaya.
Seseorang mungkin bertemu dengan orang yang mau mendengarkan semua keluh kesahnya. Ia merasa "akhirnya ada yang mengerti saya."
Padahal, kedekatan tersebut bisa berkembang karena kebutuhan emosional yang tidak pernah dikomunikasikan di dalam hubungan utama.
Diam bukan selalu kedewasaan
Ada perbedaan antara menenangkan diri sebelum berbicara dan menghindari pembicaraan sama sekali.
Kita boleh mengambil waktu ketika emosi sedang tinggi.
Tetapi setelah tenang, masalah perlu dibicarakan.
Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik. Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana dua orang mampu menghadapi konflik tanpa menghancurkan satu sama lain.
Yang perlu ditinggalkan: silent treatment, memendam masalah, dan berharap pasangan bisa membaca pikiran.
Yang perlu dibangun: komunikasi asertif, kemampuan mendengarkan, dan keberanian membicarakan kebutuhan.
5. Merasa Berhak Mendapatkan Apa Pun yang Diinginkan
Ada sifat lain yang cukup berbahaya: rasa berhak atau entitlement.
Seseorang dengan pola ini mungkin berpikir:
"Saya sudah banyak berkorban."
"Pasangan saya tidak memberikan apa yang saya butuhkan."
"Kalau saya mencari kebahagiaan di luar, saya pantas mendapatkannya."
Pola pikir seperti ini dapat membuat seseorang lebih mudah membenarkan perilaku yang sebenarnya melanggar komitmen.
Masalahnya bukan pada memiliki kebutuhan.
Setiap orang berhak memiliki kebutuhan emosional, fisik, dan sosial.
Masalahnya adalah ketika seseorang menganggap kebutuhan tersebut otomatis memberinya izin untuk mengabaikan kesepakatan dalam hubungan.
Misalnya, seseorang merasa kurang diperhatikan oleh pasangan. Itu adalah masalah yang sah.
Namun terdapat beberapa pilihan yang lebih sehat: membicarakannya, mencari solusi bersama, menjalani konseling pasangan, atau jika hubungan memang sudah tidak dapat dipertahankan, mengakhirinya secara jujur.
Perselingkuhan bukan satu-satunya jalan.
Tanggung jawab tetap penting
Hubungan yang dewasa membutuhkan kemampuan berkata:
"Hubungan ini sedang tidak memenuhi kebutuhanku, jadi aku perlu membicarakannya."
Bukan:
"Karena kebutuhanku tidak terpenuhi, aku berhak melakukan apa saja."
Yang perlu ditinggalkan: pembenaran diri yang membuat kita merasa bebas melanggar komitmen.
Yang perlu dibangun: rasa tanggung jawab, empati, dan keberanian menghadapi konsekuensi dari pilihan sendiri.
6. Tidak Mampu Mengendalikan Impuls
Ketertarikan kepada orang lain adalah sesuatu yang manusiawi.
Memiliki pasangan tidak membuat seseorang tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk tertarik kepada orang lain.
Yang membedakan hubungan sehat dan hubungan yang bermasalah bukan selalu ada atau tidaknya ketertarikan tersebut.
Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang merespons ketertarikan itu.
Seseorang mungkin berpikir:
"Dia menarik."
Pikiran tersebut sendiri bukan pengkhianatan.
Namun kemudian seseorang memilih mencari kesempatan untuk mendekat.
Mulai mengirim pesan pribadi.
Mulai menggoda.
Mulai bertemu secara rahasia.
Mulai menghapus percakapan.
Di titik tersebut, masalahnya bukan lagi sekadar perasaan. Sudah ada serangkaian keputusan.
Orang yang kesulitan mengendalikan impuls mungkin lebih mudah mengambil keputusan berdasarkan kesenangan sesaat tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Padahal sebuah keputusan yang hanya memberikan kesenangan selama beberapa menit atau beberapa jam dapat menghancurkan kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun.
Yang perlu ditinggalkan: kebiasaan mengikuti setiap dorongan hanya karena "ingin mencoba".
Yang perlu dibangun: kemampuan menunda kepuasan, mempertimbangkan konsekuensi, dan menjaga batasan ketika muncul godaan.
7. Menganggap Masalah Hubungan Harus Diselesaikan dengan Orang Ketiga
Ini mungkin salah satu pola paling berbahaya.
Ketika hubungan sedang bermasalah, seseorang mulai mencari orang ketiga sebagai tempat pelarian.
Pasangan sedang bertengkar?
Cari orang lain untuk menghibur.
Merasa tidak dihargai?
Cari orang lain yang memberikan pujian.
Merasa kesepian?
Cari orang lain yang selalu siap mendengarkan.
Secara psikologis, pola ini dapat menciptakan hubungan alternatif yang terasa sangat nyaman karena orang ketiga hanya melihat bagian tertentu dari kehidupan kita.
Orang ketiga mungkin tidak melihat kebiasaan buruk kita.
Tidak melihat konflik rumah tangga.
Tidak melihat tekanan pekerjaan.
Tidak melihat tanggung jawab sehari-hari.
Akibatnya, hubungan baru bisa terasa jauh lebih sempurna daripada kenyataannya.
Ini sering kali menciptakan ilusi:
"Dia lebih memahami saya."
"Dia lebih perhatian."
"Saya lebih bahagia bersamanya."
Padahal, seseorang sedang membandingkan kehidupan nyata dengan hubungan yang sebagian besar berlangsung dalam kondisi terpilih dan terbatas.
Hadapi masalah sebelum mencari pelarian
Jika hubungan sedang bermasalah, ada tiga pilihan yang jauh lebih sehat.
Pertama, perbaiki hubungan.
Kedua, cari bantuan profesional jika masalah terlalu berat untuk diselesaikan sendiri.
Ketiga, jika hubungan memang tidak dapat dipertahankan, akhiri hubungan tersebut sebelum memulai hubungan baru.
Yang perlu ditinggalkan: menjadikan orang ketiga sebagai tempat pelarian dari masalah hubungan.
Yang perlu dibangun: keberanian menghadapi masalah secara langsung.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Membuat Hubungan Lebih Aman dari Perselingkuhan?
Bukan dengan mengawasi pasangan setiap saat.
Bukan dengan memeriksa ponselnya setiap malam.
Bukan dengan melarang pasangan berteman dengan orang tertentu.
Dan bukan pula dengan berusaha menjadi pasangan yang "sempurna".
Hubungan yang lebih sehat justru dibangun melalui beberapa hal sederhana tetapi tidak selalu mudah dilakukan.
1. Komunikasi terbuka
Katakan apa yang dirasakan sebelum masalah berubah menjadi kebencian.
2. Batasan yang jelas
Sepakati bersama apa yang dianggap sebagai perilaku yang melanggar kepercayaan.
3. Kejujuran
Jangan membangun hubungan yang sehat di atas kebohongan kecil yang terus menumpuk.
4. Kedekatan emosional
Pasangan perlu merasa bahwa hubungan tersebut merupakan tempat yang aman untuk berbagi.
5. Kehidupan pribadi yang sehat
Hubungan yang kuat tetap membutuhkan ruang bagi masing-masing individu untuk memiliki teman, minat, dan tujuan pribadi.
6. Kemampuan mengelola konflik
Pertengkaran tidak selalu berarti hubungan gagal. Yang penting adalah bagaimana konflik diselesaikan.
7. Tanggung jawab terhadap pilihan sendiri
Ini yang paling penting.
Jika seseorang berselingkuh, tanggung jawab utamanya tetap berada pada orang yang memilih untuk berselingkuh.
Jangan Salah Memahami: Anda Tidak Harus Menjadi "Sempurna" Agar Tidak Diselingkuhi
Ada satu kesalahan berpikir yang perlu dihindari.
Ketika seseorang diselingkuhi, ia sering bertanya:
"Apakah karena saya terlalu sibuk?"
"Apakah saya kurang cantik atau tampan?"
"Apakah saya terlalu banyak menuntut?"
"Apakah saya kurang perhatian?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin berguna untuk mengevaluasi hubungan.
Tetapi jangan sampai berubah menjadi:
"Berarti saya menyebabkan pasangan saya berselingkuh."
Itu dua hal yang berbeda.
Sebuah hubungan memang dapat memiliki masalah. Anda mungkin melakukan kesalahan. Pasangan mungkin merasa tidak bahagia. Komunikasi mungkin buruk.
Namun seseorang tetap memiliki pilihan mengenai bagaimana ia menghadapi masalah tersebut.
Ia bisa berbicara.
Ia bisa meminta bantuan.
Ia bisa mencoba memperbaiki hubungan.
Ia bisa mengakhiri hubungan dengan jujur.
Atau ia bisa memilih berselingkuh.
Karena itu, jangan menggunakan psikologi untuk menyalahkan korban perselingkuhan.
Psikologi seharusnya membantu kita memahami pola, bukan memberikan alasan untuk menghapus tanggung jawab.
Pada Akhirnya, Tinggalkan Sifat-Sifat yang Merusak Hubungan—Bukan Karena Takut Diselingkuhi
Tujuh sifat yang perlu diperhatikan adalah:
Terlalu membutuhkan validasi dari orang lain.
Mudah bosan dan terus mengejar sensasi baru.
Tidak mampu menetapkan batasan dengan orang lain.
Menghindari komunikasi ketika muncul masalah.
Merasa berhak mendapatkan apa pun yang diinginkan.
Tidak mampu mengendalikan impuls.
Menjadikan orang ketiga sebagai pelarian dari masalah hubungan.
Tetapi tujuan meninggalkan sifat-sifat tersebut bukan semata-mata agar pasangan tidak berselingkuh.
Tujuannya jauh lebih besar.
Kita ingin menjadi seseorang yang mampu mencintai tanpa kehilangan diri sendiri, mampu menghadapi konflik tanpa melarikan diri, mampu menetapkan batasan tanpa menjadi posesif, dan mampu mengambil keputusan tanpa mengorbankan nilai-nilai yang kita pegang.
Hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah menghadapi godaan.
Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memiliki kejujuran, batasan, komunikasi, tanggung jawab, dan dua orang yang memilih untuk menjaga kepercayaan setiap hari.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Sidang Kasus Pemuda Dipukul Pengusaha Buah di Surabaya, Saksi Sebut Tak Melihat Kejadian Jelas
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Toulouse vs Lille di Liga Prancis: Les Dogues Berpeluang Sikat Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Bali United vs PSS Sleman: Dominikus Dion Harap Super Elja Main Pede
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
