Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 September 2026 | 06.15 WIB

8 Cara Memetik Sisi Positif dari Setiap Tantangan Hidup yang Datang Menurut Psikologi, Apa Sajakah?

seseorang yang memetik sisi positif pada setiap tantangan hidup./Magnific/wirestock - Image

seseorang yang memetik sisi positif pada setiap tantangan hidup./Magnific/wirestock

JawaPos.com - Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana. Ada masa ketika seseorang harus menghadapi kegagalan, kehilangan, konflik, tekanan pekerjaan, masalah keuangan, hubungan yang tidak berjalan baik, atau perubahan besar yang datang tanpa diduga. Tantangan-tantangan tersebut tentu tidak selalu menyenangkan. Bahkan, dalam situasi tertentu, masalah hidup dapat membuat seseorang merasa lelah, kecewa, takut, atau kehilangan arah.

Namun, psikologi menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan menemukan makna dari pengalaman sulit. Tantangan tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih kuat, tetapi cara seseorang memaknai dan merespons tantangan dapat membuka peluang bagi pertumbuhan pribadi.

Memetik sisi positif dari kesulitan bukan berarti menganggap masalah sebagai sesuatu yang baik atau berpura-pura bahagia ketika sedang terluka. Sebaliknya, ini berarti mencoba menemukan pelajaran, kekuatan, atau perubahan yang masih mungkin dibangun dari pengalaman tersebut.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (2/9), terdapat delapan cara yang dapat membantu seseorang memetik sisi positif dari tantangan hidup menurut perspektif psikologi.

1. Mengubah Cara Pandang terhadap Masalah

Salah satu hal penting dalam menghadapi tantangan adalah cara kita memandang peristiwa tersebut. Dua orang dapat mengalami kejadian yang sama, tetapi memberikan makna yang berbeda terhadap pengalaman tersebut.

Dalam psikologi, proses menilai kembali suatu situasi dikenal dengan istilah cognitive reappraisal atau penilaian ulang secara kognitif. Seseorang mencoba melihat sebuah kejadian dari sudut pandang yang lebih seimbang sehingga respons emosionalnya menjadi lebih adaptif.

Misalnya, seseorang yang gagal mendapatkan pekerjaan mungkin langsung berpikir, "Saya tidak cukup baik." Cara berpikir tersebut dapat membuat kegagalan terasa seperti bukti bahwa dirinya tidak berharga.

Namun, sudut pandang lain mungkin berbunyi, "Saya memang belum mendapatkan pekerjaan ini, tetapi saya sekarang tahu bagian mana yang perlu saya tingkatkan."

Peristiwa yang terjadi tetap sama. Yang berubah adalah interpretasinya.

Editor: Hanny Suwindari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore