Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 September 2026 | 21.13 WIB

Jika Kamu Menemukan 7 Tanda Ini pada Pasangan, Dia Adalah Orang yang Akan Membuatmu Merasa Aman

seseorang yang menemukan pasangan yang membuat merasa aman / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Banyak orang mengira bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan yang selalu romantis.

Ada pesan selamat pagi setiap hari. Ada panggilan sayang. Ada kejutan kecil. Ada foto berdua yang diunggah ke media sosial. Ada kata-kata seperti, “Aku sayang kamu,” atau “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Semua itu memang menyenangkan.

Tetapi psikologi hubungan menunjukkan bahwa rasa aman dalam sebuah hubungan tidak terutama dibangun oleh kata-kata manis. Rasa aman lebih banyak muncul dari pola perilaku yang konsisten.

Sebab pada akhirnya, seseorang tidak merasa aman hanya karena pasangannya mengatakan, “Percaya padaku.”

Kita merasa aman ketika perilaku pasangan berulang kali memberi bukti bahwa kita memang bisa mempercayainya.

Orang yang membuatmu aman bukan selalu orang yang paling romantis. Bukan pula orang yang tidak pernah membuat kesalahan. Dia tetap manusia. Dia bisa lelah, marah, kecewa, salah paham, bahkan terkadang salah mengambil keputusan.

Perbedaannya adalah ketika masalah muncul, dia tidak membuatmu merasa bahwa hubungan ini sewaktu-waktu bisa runtuh.

Dia membuatmu merasa:

“Aku boleh menjadi diriku sendiri di sini.”

Dan perasaan seperti itu sangat berharga.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (3/9), terdapat tujuh tanda yang bisa menunjukkan bahwa pasanganmu memiliki karakter yang mampu menciptakan rasa aman secara emosional.

1. Kamu Tidak Takut Menjadi Dirimu Sendiri di Hadapannya

Salah satu tanda paling kuat dari hubungan yang aman adalah kamu tidak merasa harus terus-menerus memainkan peran tertentu agar pasangan tetap mencintaimu.

Kamu tidak harus selalu terlihat cantik atau tampan.

Kamu tidak harus selalu ceria.

Kamu tidak harus selalu punya jawaban yang tepat.

Kamu bahkan bisa mengatakan, “Hari ini aku sedang tidak baik-baik saja,” tanpa takut pasangan akan menganggapmu merepotkan.

Dalam hubungan yang tidak aman, seseorang sering merasa harus berhati-hati dengan dirinya sendiri.

“Kalau aku mengatakan ini, dia akan marah tidak?”

“Kalau aku berbeda pendapat, dia akan meninggalkanku?”

“Kalau aku sedang membutuhkan perhatian, apakah dia akan menganggapku terlalu manja?”

Lama-kelamaan, seseorang bisa kehilangan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.

Sebaliknya, pasangan yang aman memberi ruang bagi keaslian.

Dia tidak menuntutmu untuk menjadi manusia sempurna.

Dia bisa menerima bahwa kamu memiliki sisi kuat dan sisi lemah.

Bukan berarti dia menyetujui semua perilakumu. Bukan berarti dia tidak pernah mengkritikmu.

Tetapi ketika dia menyampaikan ketidaksetujuan, kamu tetap merasa bahwa harga dirimu tidak sedang dihancurkan.

Ada perbedaan besar antara:

“Aku tidak setuju dengan tindakanmu.”

dan

“Kamu memang selalu menjadi orang yang menyebalkan.”

Yang pertama membahas perilaku.

Yang kedua menyerang identitas.

Pasangan yang aman cenderung mampu membedakan keduanya.

Dan ketika kamu bisa menjadi dirimu sendiri tanpa rasa takut yang terus-menerus, hubungan mulai terasa seperti rumah, bukan seperti ruang ujian.

2. Dia Konsisten, Bukan Hanya Manis Ketika Sedang Mengejarmu

Ini adalah salah satu tanda yang sering diabaikan.

Pada awal hubungan, hampir semua orang bisa terlihat luar biasa.

Dia rajin menghubungi.

Dia memberikan perhatian.

Dia ingin bertemu.

Dia mengatakan hal-hal yang membuatmu merasa istimewa.

Namun rasa aman tidak dibangun pada masa ketika semuanya masih mudah.

Rasa aman terlihat dari konsistensi setelah hubungan mulai memasuki kehidupan nyata.

Apakah dia tetap menghargaimu ketika sedang sibuk?

Apakah dia masih bisa berkomunikasi ketika sedang stres?

Apakah perkataannya sesuai dengan tindakannya?

Apakah dia menepati janji-janji kecil?

Apakah dia hadir bukan hanya ketika membutuhkan sesuatu darimu?

Konsistensi menciptakan prediktabilitas.

Dan prediktabilitas sangat penting dalam hubungan karena manusia cenderung merasa lebih aman ketika mereka dapat memahami pola perilaku orang yang dekat dengan mereka.

Pasangan yang aman tidak membuatmu terus-menerus menebak.

Hari ini dia sangat mencintaimu.

Besok dia menghilang.

Lusa dia kembali seperti tidak terjadi apa-apa.

Kemudian dia tiba-tiba menjadi sangat romantis.

Lalu kembali dingin.

Pola seperti itu dapat membuat seseorang terus berada dalam kondisi waspada.

Sebaliknya, orang yang konsisten mungkin terlihat kurang dramatis.

Tetapi justru itulah kelebihannya.

Dia mungkin tidak selalu memberikan kejutan besar.

Namun kamu tahu bahwa ketika dia mengatakan akan menelepon, dia berusaha menelepon.

Ketika ada masalah, dia tidak tiba-tiba menghilang.

Ketika dia berjanji untuk memperbaiki sesuatu, kamu melihat usaha nyata.

Rasa aman sering kali terasa membosankan bagi orang yang terbiasa dengan hubungan penuh drama.

Padahal terkadang, “membosankan” itu sebenarnya adalah ketenangan.

3. Dia Bisa Membicarakan Masalah Tanpa Mengancam Hubungan

Tidak ada hubungan yang bebas konflik.

Dua orang yang berbeda pasti akan memiliki perbedaan kebutuhan, pendapat, kebiasaan, dan harapan.

Jadi pertanyaannya bukan:

“Apakah kalian pernah bertengkar?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Bagaimana kalian bertengkar?”

Pasangan yang aman tidak menggunakan konflik sebagai senjata untuk membuatmu takut.

Dia tidak selalu mengatakan:

“Kalau kamu begini terus, kita putus.”

Dia tidak sengaja menghilang berhari-hari hanya untuk menghukummu.

Dia tidak menggunakan kelemahan yang pernah kamu ceritakan sebagai senjata ketika sedang marah.

Dia berusaha membicarakan masalah sebagai dua orang yang sedang menghadapi sebuah persoalan, bukan sebagai dua orang yang sedang berusaha menghancurkan satu sama lain.

Misalnya, daripada mengatakan:

“Kamu memang tidak pernah peduli padaku.”

Dia mungkin mengatakan:

“Aku merasa tidak diperhatikan ketika kejadian tadi terjadi. Aku ingin kita membicarakannya.”

Kalimat kedua memang tidak otomatis membuat konflik menjadi mudah.

Tetapi ada satu perbedaan penting:

masalahnya menjadi musuh, bukan pasangannya.

Ini merupakan kemampuan yang sangat berharga dalam hubungan jangka panjang.

Sebab hubungan tidak diuji ketika semuanya berjalan lancar.

Hubungan benar-benar diuji ketika dua orang sedang kecewa, lelah, atau terluka.

Jika bahkan dalam keadaan marah dia masih berusaha menjaga martabatmu, itu adalah tanda yang patut diperhatikan.

4. Dia Menghargai Batasanmu Tanpa Membuatmu Merasa Bersalah

Cinta bukan berarti kehilangan batas pribadi.

Hubungan yang sehat tetap memberikan ruang bagi dua individu untuk memiliki kehidupan, waktu, teman, pekerjaan, keluarga, dan kebutuhan pribadi.

Pasangan yang aman memahami hal tersebut.

Ketika kamu mengatakan:

“Aku butuh waktu sendiri malam ini.”

Dia tidak langsung menganggapmu tidak mencintainya.

Ketika kamu mengatakan:

“Aku tidak nyaman dengan cara itu.”

Dia tidak memaksamu.

Ketika kamu mengatakan “tidak”, dia tidak terus-menerus berusaha mengubah jawabanmu melalui tekanan emosional.

Ini bukan berarti pasangan harus menerima semua batasan tanpa diskusi.

Hubungan yang sehat tetap membutuhkan negosiasi.

Namun ada perbedaan antara bernegosiasi dan memaksa.

Pasangan yang aman mampu mendengar batasan.

Dia mungkin bertanya mengapa.

Dia mungkin menyampaikan kebutuhannya.

Tetapi dia tidak menjadikan rasa bersalah sebagai alat untuk mengontrolmu.

Misalnya:

“Aku kecewa karena tidak bisa bertemu malam ini, tetapi aku mengerti kamu memang membutuhkan waktu untuk istirahat.”

Kalimat seperti ini menunjukkan sesuatu yang sederhana tetapi penting:

perasaanmu boleh ada, dan kebutuhanku juga boleh ada.

Tidak harus selalu ada pemenang dan pecundang.

5. Dia Tidak Membuatmu Cemburu untuk Mendapatkan Validasi

Ada orang yang sengaja membuat pasangannya cemburu karena menganggap kecemburuan adalah bukti cinta.

Mereka sengaja memamerkan perhatian dari orang lain.

Sengaja membandingkan pasangan dengan mantan.

Sengaja mengatakan:

“Banyak yang suka sama aku, lho.”

Atau sengaja bersikap dingin agar pasangannya mengejar.

Perilaku seperti ini mungkin terlihat seperti permainan kecil.

Namun jika menjadi pola, hubungan bisa berubah menjadi arena pembuktian.

Pasangan yang aman tidak membutuhkanmu untuk terus-menerus membuktikan bahwa kamu takut kehilangan dirinya.

Dia tidak merasa harus menciptakan ketidakamanan agar dirinya terasa berharga.

Sebaliknya, dia berusaha membangun kepercayaan.

Dia bisa memiliki teman lawan jenis tanpa sengaja menyembunyikan sesuatu.

Dia bisa mendapatkan perhatian dari orang lain tanpa menjadikannya alat untuk membuatmu gelisah.

Dan yang paling penting, dia tidak menggunakan ancaman kehilangan sebagai cara untuk mendapatkan kontrol.

Ini bukan berarti hubungan yang aman bebas dari rasa cemburu.

Cemburu adalah emosi manusia yang normal.

Yang membedakan adalah cara seseorang mengelolanya.

Orang yang aman bisa mengatakan:

“Aku merasa sedikit cemburu dengan situasi tadi. Bisa kita bicarakan?”

Bukan:

“Aku akan membuatmu merasakan hal yang sama supaya kamu tahu rasanya.”

Yang pertama membuka percakapan.

Yang kedua menciptakan siklus luka.

6. Ketika Kamu Sedang Lemah, Dia Tidak Menggunakan Kelemahanmu untuk Menyerangmu

Bayangkan suatu hari kamu sedang gagal.

Kamu melakukan kesalahan.

Kamu sedang tidak percaya diri.

Atau kamu sedang mengalami hari yang sangat buruk.

Bagaimana respons pasanganmu?

Apakah dia mempermalukanmu?

Apakah dia mengatakan:

“Makanya, kamu memang tidak bisa.”

Atau justru dia tetap melihatmu sebagai manusia yang sedang mengalami masa sulit?

Pasangan yang aman tidak harus selalu membenarkanmu.

Dia bahkan mungkin mengatakan bahwa kamu memang melakukan kesalahan.

Namun caranya berbeda.

Dia dapat mengatakan:

“Aku tahu kamu salah dalam hal ini, tetapi aku tidak berpikir satu kesalahan membuatmu menjadi orang yang buruk.”

Kalimat sederhana seperti itu bisa memiliki pengaruh besar.

Sebab hubungan yang sehat bukan hanya tempat untuk berbagi keberhasilan.

Hubungan yang sehat juga harus menjadi tempat di mana seseorang bisa kembali ketika hidup sedang terasa berat.

Kita semua memiliki sisi yang tidak ingin diperlihatkan kepada dunia.

Ketakutan.

Kegagalan.

Rasa malu.

Ketidakpercayaan diri.

Kekhawatiran mengenai masa depan.

Ketika seseorang menerima sisi tersebut tanpa menggunakannya untuk mengendalikan kita, keintiman emosional dapat tumbuh lebih dalam.

Kamu akhirnya tahu:

“Kalau aku jatuh, dia mungkin tidak selalu bisa menyelesaikan masalahku. Tapi dia tidak akan sengaja mendorongku semakin jauh ke bawah.”

Dan itu adalah bentuk keamanan yang sangat berarti.

7. Dia Membuatmu Merasa Hubungan Ini Bisa Bertahan Bahkan Ketika Ada Masalah

Ini mungkin tanda yang paling dalam.

Orang yang aman tidak menjanjikan bahwa hubungan akan selalu mudah.

Dia tidak mengatakan:

“Kita tidak akan pernah bertengkar.”

Dia tidak mengatakan:

“Aku akan selalu sempurna.”

Dia juga tidak bisa menjamin masa depan secara mutlak.

Tetapi dia menunjukkan melalui perilakunya bahwa masalah tidak otomatis berarti akhir dari hubungan.

Ketika ada konflik, dia mencari solusi.

Ketika ada kesalahan, dia bersedia memperbaiki.

Ketika kebutuhan berubah, dia mau berdiskusi.

Ketika kamu terluka, dia berusaha memahami.

Ketika dirinya salah, dia mampu meminta maaf.

Dengan kata lain, dia memiliki orientasi terhadap perbaikan, bukan sekadar kemenangan.

Dan ini sangat penting.

Sebab hubungan jangka panjang bukan tentang menemukan seseorang yang tidak pernah melukaimu.

Hampir mustahil.

Hubungan jangka panjang lebih banyak tentang menemukan seseorang yang ketika terjadi luka, mau ikut bertanggung jawab dalam proses penyembuhannya.

Jadi, Apa Arti “Aman” dalam Sebuah Hubungan?

Aman bukan berarti kamu tidak pernah merasa cemburu.

Aman bukan berarti kamu tidak pernah bertengkar.

Aman bukan berarti pasanganmu selalu memahami pikiranmu.

Aman juga bukan berarti kamu tidak pernah merasa takut kehilangan.

Rasa aman lebih sederhana dari itu.

Rasa aman adalah ketika kamu tidak perlu hidup dalam keadaan terus-menerus waspada.

Kamu tidak perlu setiap hari bertanya:

“Dia masih sayang aku tidak?”

“Kenapa dia berubah?”

“Apakah dia akan meninggalkanku?”

“Apakah aku harus menjadi orang lain supaya dia tetap bertahan?”

Dalam hubungan yang sehat, tentu akan ada ketidakpastian.

Namun secara umum, kamu mendapatkan pengalaman bahwa pasanganmu dapat dipercaya.

Kamu tahu bagaimana dia memperlakukanmu.

Kamu tahu bagaimana dia menghadapi konflik.

Kamu tahu bahwa perbedaan tidak langsung berarti penolakan.

Dan kamu tahu bahwa kamu tetap memiliki nilai bahkan ketika pasanganmu sedang tidak setuju denganmu.

Satu Hal yang Sering Kita Salah Pahami tentang Cinta

Kadang-kadang kita menganggap hubungan yang penuh intensitas sebagai hubungan yang penuh cinta.

Pertengkaran besar diikuti permintaan maaf yang sangat romantis.

Putus lalu balikan.

Cemburu lalu berdamai.

Menghilang lalu kembali dengan perhatian besar.

Siklus seperti ini bisa terasa sangat intens.

Dan karena intensitas terasa kuat, kita mengira itu adalah kedalaman cinta.

Padahal intensitas dan keamanan adalah dua hal yang berbeda.

Hubungan yang sehat mungkin tidak selalu menghasilkan emosi yang ekstrem.

Justru terkadang ia terasa tenang.

Kamu tidak terus-menerus dibuat penasaran.

Tidak terus-menerus mengejar.

Tidak terus-menerus membuktikan diri.

Kamu hanya menjalani hidup bersama seseorang yang kehadirannya terasa stabil.

Dan mungkin pada awalnya ketenangan seperti itu terasa asing.

Terutama jika seseorang sebelumnya terbiasa dengan hubungan yang penuh ketidakpastian.

Tetapi perlahan-lahan kamu mulai menyadari:

“Ternyata cinta tidak harus membuatku cemas setiap hari.”

Perhatikan Polanya, Bukan Satu Kejadian

Ada satu hal penting yang perlu diingat.

Jangan menilai seseorang hanya dari satu tindakan.

Setiap orang bisa melakukan kesalahan.

Orang yang sehat pun bisa kehilangan kesabaran.

Orang yang biasanya konsisten pun bisa lupa.

Orang yang sangat mencintaimu pun bisa mengatakan sesuatu yang salah.

Karena itu, yang lebih penting adalah pola dalam jangka waktu tertentu.

Apakah dia biasanya menghargaimu?

Apakah dia bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan?

Apakah dia mampu memperbaiki hubungan setelah konflik?

Apakah kata-katanya sejalan dengan tindakannya?

Apakah kamu merasa lebih bebas menjadi dirimu sendiri, bukan semakin takut?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jauh lebih berguna daripada sekadar bertanya:

“Apakah dia romantis?”

Karena hubungan yang sehat bukan dinilai dari satu malam yang indah.

Ia terlihat dari ratusan interaksi kecil yang terjadi sepanjang waktu.

Pada Akhirnya, Orang yang Tepat Bukan yang Membuatmu Tidak Pernah Takut

Mungkin ini bagian yang paling penting.

Jangan mencari pasangan yang menjanjikan bahwa kamu tidak akan pernah terluka.

Carilah seseorang yang ketika luka muncul, tidak sengaja memperburuknya.

Carilah seseorang yang ketika ada masalah, mau duduk bersamamu dan mencari jalan keluar.

Seseorang yang mampu mengatakan:

“Aku salah.”

Seseorang yang bisa berkata:

“Aku mengerti kenapa kamu terluka.”

Seseorang yang mampu menghormati kata “tidak”.

Seseorang yang tidak perlu membuatmu cemburu untuk merasa dicintai.

Seseorang yang tidak membuatmu merasa harus sempurna agar pantas dicintai.

Dan seseorang yang melalui tindakan sehari-hari membuatmu perlahan percaya:

“Aku tidak perlu terus berjuang untuk mendapatkan tempat di dalam hidupnya.”

Karena mungkin, bentuk cinta yang paling dewasa bukanlah perasaan menggebu-gebu setiap saat.

Melainkan sebuah ketenangan yang mengatakan:

“Aku bisa menjadi diriku sendiri di dekatmu. Kita mungkin tidak selalu sepakat. Kita mungkin akan menghadapi masalah. Tetapi aku tahu kita bisa membicarakannya.”

Itulah salah satu bentuk keamanan emosional yang paling berharga dalam sebuah hubungan.

Dan jika kamu menemukan seseorang yang secara konsisten memberikan rasa seperti itu, jangan buru-buru menganggapnya biasa.

Kadang-kadang, orang yang paling aman untuk dicintai bukanlah orang yang membuat jantungmu berdebar paling keras.

Melainkan orang yang membuat hatimu tidak perlu terus-menerus berjaga.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore