Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 September 2026 | 21.07 WIB

7 Alasan Utama Mengapa Sebagian Orang Bertahan dalam Hubungan yang Toxic Menurut Psikologi

seseorang yang bertahan dalam hubungan toxic / foto: Magnific/halayalex

 

JawaPos.com - Hubungan yang toxic sering kali terlihat mudah dari luar: jika hubungan membuat seseorang terus-menerus terluka, mengapa tidak pergi saja?

Pertanyaan tersebut terdengar logis, tetapi dalam kenyataannya, meninggalkan hubungan yang tidak sehat tidak selalu sesederhana mengambil keputusan lalu pergi. Banyak orang tetap bertahan meskipun mereka sadar bahwa hubungan tersebut membuat mereka lelah, kehilangan kepercayaan diri, bahkan merasa tidak bahagia.

Dari sudut pandang psikologi, seseorang bisa bertahan karena adanya kombinasi antara keterikatan emosional, pengalaman masa lalu, ketakutan, harapan, kebutuhan psikologis, dan pola hubungan yang terbentuk secara perlahan.

Yang juga penting dipahami: bertahan dalam hubungan toxic bukan berarti seseorang lemah, bodoh, atau tidak memiliki harga diri. Dalam banyak kasus, orang tersebut sedang berada dalam dinamika psikologis yang membuat keputusan untuk pergi terasa jauh lebih sulit daripada yang terlihat dari luar.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (3/9), terdapat tujuh alasan utama mengapa sebagian orang bertahan dalam hubungan yang toxic.

1. Masih Memiliki Harapan Bahwa Pasangannya Akan Berubah

Salah satu alasan paling kuat seseorang bertahan adalah harapan.

Orang yang berada dalam hubungan toxic tidak selalu mengalami perlakuan buruk setiap saat. Ada kalanya pasangan bersikap sangat perhatian, meminta maaf, berjanji akan berubah, atau kembali menunjukkan sisi romantisnya.

Inilah yang membuat situasinya menjadi rumit.

Seseorang mungkin berpikir:

"Sebenarnya dia baik, hanya sedang banyak masalah."

Atau:

"Kalau aku lebih sabar, mungkin dia akan berubah."

Atau bahkan:

"Dia sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi."

Harapan tersebut dapat membuat seseorang terus memberikan kesempatan.

Dalam hubungan yang sehat, kesalahan dapat diikuti oleh perubahan perilaku yang konsisten. Namun dalam hubungan toxic, pola yang sering muncul justru berupa konflik → permintaan maaf → hubungan membaik sementara → masalah kembali terjadi.

Karena sesekali ada periode yang menyenangkan, seseorang bisa terus percaya bahwa versi pasangan yang baik itulah "dirinya yang sebenarnya", sedangkan perilaku buruk dianggap sebagai sesuatu yang sementara.

Masalahnya, janji perubahan tidak sama dengan perubahan yang nyata.

Perubahan biasanya terlihat dari perilaku yang konsisten dalam jangka waktu tertentu, bukan hanya dari kata-kata setelah konflik terjadi.

Karena itu, salah satu jebakan psikologis dalam hubungan toxic adalah seseorang tidak hanya mempertahankan hubungan yang sedang terjadi, tetapi juga mempertahankan harapan terhadap hubungan yang mereka inginkan terjadi di masa depan.

2. Adanya Trauma Bonding dan Pola Hadiah-Hukuman yang Tidak Konsisten

Salah satu dinamika yang dapat membuat hubungan toxic terasa sangat sulit ditinggalkan adalah apa yang sering disebut trauma bonding.

Istilah ini banyak digunakan untuk menggambarkan keterikatan emosional yang kuat dalam hubungan yang diwarnai perlakuan menyakitkan, terutama ketika periode buruk bercampur dengan periode kasih sayang atau perhatian yang intens.

Misalnya, seseorang bisa mengalami:

pasangan marah dan merendahkan dirinya,
kemudian pasangan meminta maaf,
setelah itu menjadi sangat romantis,
hubungan kembali terasa indah,
lalu konflik besar kembali terjadi.

Pola yang tidak konsisten seperti ini dapat membuat emosi seseorang menjadi sangat terikat.

Menariknya, ketidakpastian justru dapat membuat seseorang semakin terpaku pada hubungan tersebut.

Ketika perhatian dan kasih sayang muncul secara tidak terduga setelah periode buruk, momen positif itu bisa terasa sangat berharga. Seseorang kemudian mulai menunggu "versi pasangan yang baik" muncul kembali.

Akibatnya, hubungan tersebut tidak hanya terdiri dari penderitaan. Ada pula momen bahagia yang membuat seseorang merasa, "Mungkin semuanya masih bisa diselamatkan."

Itulah sebabnya orang dari luar mungkin berkata:

"Kalau dia memang disakiti, kenapa masih kembali?"

Padahal secara psikologis, keterikatan seseorang tidak hanya dibentuk oleh pengalaman buruk, tetapi juga oleh momen-momen positif yang datang di antara pengalaman buruk tersebut.

3. Takut Sendirian dan Takut Menghadapi Kehidupan Setelah Putus

Alasan berikutnya adalah ketakutan terhadap kesendirian.

Bagi sebagian orang, kehilangan pasangan bukan hanya berarti kehilangan seseorang yang dicintai. Putus juga berarti menghadapi perubahan besar dalam kehidupan.

Mereka mungkin takut:

tidak akan menemukan pasangan lain,
harus memulai semuanya dari awal,
merasa kesepian,
kehilangan rutinitas,
menghadapi pertanyaan dari keluarga atau teman,
atau tidak tahu bagaimana menjalani kehidupan tanpa pasangan.

Ketakutan tersebut dapat membuat hubungan yang buruk terasa lebih aman dibandingkan ketidakpastian setelah hubungan berakhir.

Ada perbedaan antara:

"Aku bahagia bersamanya."

dan

"Aku takut hidup tanpa dirinya."

Keduanya sering kali terasa mirip, padahal secara psikologis sangat berbeda.

Seseorang bisa tetap berada dalam hubungan bukan karena hubungan tersebut memberikan kebahagiaan, tetapi karena rasa takut meninggalkan hubungan terasa lebih besar daripada rasa sakit yang sudah dikenal.

Dalam psikologi, manusia memang cenderung mencari sesuatu yang terasa familiar. Bahkan situasi yang tidak menyenangkan dapat terasa lebih mudah diprediksi dibandingkan masa depan yang penuh ketidakpastian.

Itulah mengapa seseorang mungkin berpikir:

"Setidaknya aku tahu seperti apa hidupku sekarang."

Meskipun kehidupan tersebut sebenarnya tidak sehat.

4. Harga Diri yang Menurun Membuat Seseorang Merasa Tidak Layak Mendapatkan yang Lebih Baik

Hubungan toxic yang berlangsung lama dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Pasangan yang sering merendahkan, mengkritik, mengontrol, atau menyalahkan dapat membuat seseorang perlahan mempertanyakan nilai dirinya.

Awalnya mungkin muncul pikiran:

"Mungkin dia memang sedang emosi."

Namun jika hal tersebut terjadi terus-menerus, seseorang dapat mulai berpikir:

"Mungkin aku memang terlalu sensitif."

Lama-kelamaan:

"Mungkin tidak ada orang lain yang mau menerimaku."

Dan akhirnya:

"Mungkin aku memang pantas diperlakukan seperti ini."

Di sinilah hubungan toxic dapat menjadi semakin sulit untuk ditinggalkan.

Ketika harga diri seseorang telah terkikis, pilihan untuk pergi tidak lagi terasa seperti kesempatan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya, pergi justru bisa terasa seperti mengambil risiko besar karena dirinya tidak yakin bahwa ia layak mendapatkan hubungan yang sehat.

Padahal, perlakuan buruk dari pasangan bukanlah ukuran nilai seseorang.

Seseorang tidak menjadi tidak berharga hanya karena ada orang lain yang gagal menghargainya.

5. Terjebak dalam Sunk Cost: "Aku Sudah Berinvestasi Terlalu Banyak"

Bayangkan seseorang telah menjalani hubungan selama lima, sepuluh, atau bahkan dua puluh tahun.

Mereka sudah menghabiskan waktu, energi, uang, kenangan, dan berbagai pengorbanan.

Semakin besar investasi tersebut, semakin sulit bagi sebagian orang untuk menerima bahwa hubungan itu mungkin memang harus diakhiri.

Muncullah pemikiran seperti:

"Masa setelah selama ini aku harus menyerah?"

"Aku sudah mengorbankan banyak hal."

"Sayang kalau semuanya berakhir begitu saja."

Ini berkaitan dengan fenomena psikologis yang dikenal sebagai sunk cost—kecenderungan mempertimbangkan investasi masa lalu ketika mengambil keputusan tentang apakah akan melanjutkan sesuatu.

Padahal, waktu yang sudah berlalu tidak dapat dikembalikan.

Pertanyaan yang lebih sehat bukan:

"Aku sudah bertahan selama berapa lama?"

melainkan:

"Jika hubungan ini terus seperti sekarang, apakah aku masih ingin menjalani lima atau sepuluh tahun berikutnya dengan kondisi yang sama?"

Masa lalu memang memiliki nilai. Tetapi masa lalu seharusnya tidak selalu menjadi alasan untuk mempertahankan masa depan yang tidak sehat.

Terkadang, meninggalkan sesuatu bukan berarti semua waktu yang telah diberikan menjadi sia-sia.

Bisa jadi, pengalaman tersebut justru menjadi bagian dari proses seseorang memahami batasan, kebutuhan, dan nilai dirinya.

6. Ketergantungan Emosional, Finansial, Sosial, atau Praktis

Tidak semua orang memiliki kebebasan yang sama untuk meninggalkan sebuah hubungan.

Seseorang mungkin bergantung kepada pasangannya secara finansial.

Ada pula yang tinggal bersama dan tidak memiliki tempat lain untuk pergi. Ada yang memiliki anak. Ada yang kehilangan jaringan sosial setelah bertahun-tahun bersama pasangan. Ada pula yang pekerjaannya, kehidupan sosialnya, atau lingkungan keluarganya sudah sangat terhubung dengan hubungan tersebut.

Karena itu, mengatakan:

"Tinggalkan saja."

sering kali terlalu menyederhanakan situasi.

Secara psikologis, manusia membutuhkan rasa aman. Jika meninggalkan hubungan berarti kehilangan tempat tinggal, sumber penghasilan, dukungan sosial, atau stabilitas kehidupan, keputusan tersebut menjadi jauh lebih kompleks.

Bahkan seseorang yang secara emosional sudah ingin pergi mungkin masih merasa belum mampu melakukannya.

Dalam kondisi seperti ini, yang dibutuhkan bukan sekadar nasihat untuk "lebih kuat", melainkan dukungan yang konkret.

Misalnya:

membangun kembali hubungan dengan orang-orang yang dipercaya,
memiliki akses terhadap sumber daya finansial,
mencari tempat tinggal yang aman jika diperlukan,
mendapatkan dukungan profesional,
dan membuat rencana secara bertahap.

Dengan kata lain, kemampuan untuk pergi sering kali membutuhkan rasa aman, bukan sekadar keberanian.

7. Hubungan Toxic Sering Tidak Terlihat Toxic Sejak Awal

Ini adalah salah satu alasan yang paling sering dilupakan.

Banyak hubungan toxic tidak dimulai dengan perilaku yang jelas-jelas buruk.

Pada awal hubungan, seseorang mungkin justru merasa sangat dicintai.

Pasangan terlihat perhatian, sering menghubungi, ingin selalu bersama, sangat protektif, dan memberikan banyak perhatian.

Beberapa perilaku bahkan bisa terlihat romantis pada awalnya.

Masalah muncul ketika intensitas tersebut perlahan berubah menjadi kontrol.

Misalnya:

"Kenapa kamu tidak membalas pesanku?"

berubah menjadi:

"Kamu tidak boleh berteman dengan orang itu."

Kemudian:

"Kamu harus memberitahuku ke mana pun kamu pergi."

Dan akhirnya:

"Kamu tidak boleh melakukan sesuatu tanpa persetujuanku."

Perubahan tersebut sering terjadi secara bertahap.

Karena setiap tahap hanya sedikit berbeda dari tahap sebelumnya, seseorang mungkin tidak menyadari bahwa batasannya telah bergeser jauh.

Ini membuat hubungan toxic sulit dikenali, terutama ketika seseorang sudah sangat terikat secara emosional.

Selain itu, ketika perilaku buruk muncul sedikit demi sedikit, seseorang dapat beradaptasi terhadapnya.

Hal yang awalnya dianggap tidak dapat diterima perlahan menjadi sesuatu yang dianggap "biasa".

Di titik tertentu, seseorang mungkin bahkan tidak lagi bertanya:

"Apakah hubungan ini sehat?"

Melainkan:

"Bagaimana caranya supaya aku tidak membuat dia marah?"

Perubahan fokus tersebut merupakan tanda yang patut diperhatikan.

Mengapa Orang yang Cerdas dan Mandiri Juga Bisa Terjebak?

Ada anggapan bahwa hanya orang yang lemah atau kurang percaya diri yang dapat bertahan dalam hubungan toxic.

Anggapan ini tidak tepat.

Orang yang cerdas, berpendidikan, mandiri, sukses, dan memiliki kehidupan sosial yang baik pun dapat mengalami hubungan yang tidak sehat.

Alasannya sederhana: keterikatan emosional tidak selalu mengikuti logika.

Seseorang mungkin secara rasional mengetahui bahwa hubungannya bermasalah, tetapi secara emosional masih memiliki keterikatan yang sangat kuat.

Mengetahui bahwa sesuatu tidak sehat tidak otomatis membuat seseorang mampu meninggalkannya.

Hal ini mirip dengan seseorang yang mengetahui bahwa suatu kebiasaan buruk merugikan dirinya, tetapi tetap kesulitan menghentikannya.

Karena itu, menyalahkan korban dengan kalimat seperti "kenapa kamu mau saja diperlakukan begitu?" justru dapat memperburuk keadaan.

Rasa malu dan rasa bersalah dapat membuat seseorang semakin terisolasi.

Bertahan Tidak Selalu Berarti Tidak Sadar

Ada orang yang sebenarnya sangat sadar bahwa hubungannya toxic.

Mereka tahu bahwa pasangan mereka manipulatif.

Mereka tahu bahwa hubungan tersebut menguras energi.

Mereka tahu bahwa mereka tidak bahagia.

Namun kesadaran dan kemampuan untuk bertindak adalah dua hal berbeda.

Seseorang bisa berkata:

"Aku tahu hubungan ini tidak sehat, tetapi aku belum tahu bagaimana keluar."

Kalimat tersebut jauh lebih masuk akal jika kita memahami kompleksitas hubungan manusia.

Kadang seseorang membutuhkan waktu untuk mengumpulkan keberanian.

Kadang mereka membutuhkan dukungan.

Kadang mereka perlu membangun kembali kemandirian.

Kadang mereka harus memproses rasa kehilangan sebelum benar-benar siap pergi.

Dan dalam hubungan yang melibatkan kekerasan atau kontrol yang serius, keselamatan harus menjadi prioritas utama. Pergi secara tiba-tiba tanpa perencanaan dalam situasi tertentu justru dapat meningkatkan risiko.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?

Jika seseorang mulai menyadari bahwa hubungannya tidak sehat, langkah pertama bukan selalu langsung mengambil keputusan besar.

Langkah pertama bisa berupa mengakui kenyataan yang sedang terjadi.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya merasa aman dalam hubungan ini?
Apakah saya bebas menjadi diri sendiri?
Apakah pendapat saya dihargai?
Apakah pasangan menghormati batasan saya?
Apakah saya sering merasa takut membuat pasangan marah?
Apakah saya terus-menerus merasa bersalah?
Apakah saya semakin kehilangan kepercayaan diri sejak berada dalam hubungan ini?
Apakah masalah yang sama terus berulang meskipun pasangan berkali-kali berjanji berubah?
Jika teman dekat saya mengalami hubungan seperti ini, apa yang akan saya sarankan kepadanya?
Jika tidak ada yang berubah selama lima tahun ke depan, apakah saya masih ingin berada dalam hubungan ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang melihat hubungan dari perspektif yang lebih objektif.

Jika hubungan melibatkan kekerasan fisik, ancaman, pemaksaan, penguntitan, kontrol ekstrem, atau bentuk kekerasan lainnya, penting untuk mencari bantuan dari orang atau layanan yang dapat membantu membuat rencana keselamatan yang sesuai dengan situasi.

Kesimpulan

Ada banyak alasan mengapa seseorang bertahan dalam hubungan toxic.

Bukan semata-mata karena mereka "terlalu bodoh untuk pergi" atau "tidak punya harga diri".

Mereka mungkin masih memiliki harapan bahwa pasangan akan berubah. Mereka mungkin terikat secara emosional melalui pola perlakuan buruk dan kasih sayang yang bergantian. Mereka mungkin takut sendirian, mengalami penurunan harga diri, merasa sudah menginvestasikan terlalu banyak waktu, atau memiliki ketergantungan finansial dan sosial.

Mereka juga mungkin tidak menyadari sejak awal bahwa hubungan tersebut sedang berubah menjadi toxic.

Yang paling penting untuk dipahami adalah bahwa keluar dari hubungan yang tidak sehat merupakan sebuah proses, bukan sekadar satu keputusan.

Karena itu, ketika seseorang berada dalam hubungan toxic, hal yang paling mereka butuhkan sering kali bukan penghakiman.

Mereka membutuhkan pemahaman.

Mereka membutuhkan dukungan.

Dan yang tidak kalah penting, mereka perlu kembali menyadari bahwa memiliki hubungan dengan seseorang tidak berarti harus kehilangan hubungan dengan diri sendiri.

Hubungan yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang terus-menerus hidup dalam ketakutan, kehilangan identitas, atau merasa bahwa dirinya harus mengorbankan harga diri agar tetap dicintai.

Pada akhirnya, cinta bukan hanya tentang seberapa kuat seseorang mampu bertahan.

Kadang, cinta kepada diri sendiri justru dimulai ketika seseorang berani bertanya:

"Apakah hubungan ini masih membuatku bertumbuh, atau justru perlahan membuatku kehilangan diriku sendiri?"***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore