Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 September 2026 | 22.11 WIB

6 Alasan Mengapa Keluarga Tidak Berubah, Bahkan Saat Seharusnya Mereka Berubah Menurut Psikologi

seseorang yang berada di keluarga yang tidak berubah / foto: Magnific/The Yuri Arcurs Collection

 

JawaPos.com - Ada keluarga yang sebenarnya tahu bahwa sesuatu dalam hubungan mereka sudah tidak sehat. Mereka tahu komunikasi penuh konflik, tahu ada anggota keluarga yang merasa tidak dihargai, tahu cara mendidik anak sudah tidak relevan, atau tahu bahwa kebiasaan lama justru semakin merusak hubungan.

Namun anehnya, mereka tetap melakukan hal yang sama.

Setiap kali konflik muncul, pola yang sama kembali terulang. Orang yang sama marah. Orang yang sama diam. Orang yang sama merasa disalahkan. Orang yang sama meminta maaf. Lalu semuanya kembali normal untuk sementara—sampai masalah berikutnya datang.

Dari luar, situasi seperti ini mudah terlihat sebagai keras kepala.

“Kenapa mereka tidak berubah saja?”

“Bukankah sudah jelas cara itu tidak berhasil?”

“Bukankah mereka sendiri bisa melihat bahwa hubungan ini semakin buruk?”

Psikologi memberikan jawaban yang jauh lebih kompleks.

Manusia tidak selalu mempertahankan suatu perilaku karena mereka menganggap perilaku tersebut benar. Sering kali, manusia mempertahankan perilaku karena perilaku itu sudah dikenal, terasa aman, memberi keuntungan tertentu, atau menjadi bagian dari cara keluarga mempertahankan keseimbangan internalnya.

Keluarga bahkan memiliki pola yang dapat bertahan selama bertahun-tahun atau lintas generasi.

Karena itu, perubahan dalam keluarga bukan sekadar persoalan “sadar atau tidak sadar”. Perubahan berarti mengganggu pola hubungan yang sudah lama terbentuk.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (3/9), terdapat enam alasan psikologis mengapa keluarga bisa tetap tidak berubah, bahkan ketika perubahan sebenarnya sangat dibutuhkan.

1. Karena Pola Lama Sudah Menjadi “Normal”

Salah satu alasan terbesar keluarga sulit berubah adalah karena sesuatu yang sudah berlangsung lama akhirnya tidak lagi dianggap sebagai masalah.

Ia menjadi normal.

Dalam keluarga tertentu, membentak dianggap sebagai cara berkomunikasi yang biasa.

Diam selama berhari-hari dianggap sebagai cara menyelesaikan konflik.

Membandingkan anak dianggap sebagai motivasi.

Mengontrol kehidupan anggota keluarga dianggap sebagai bentuk perhatian.

Tidak membicarakan emosi dianggap sebagai tanda kedewasaan.

Meminta anak selalu mengalah dianggap sebagai bentuk menghormati orang tua.

Masalahnya, sesuatu yang normal belum tentu sehat.

Jika seseorang tumbuh dalam lingkungan tertentu sejak kecil, ia akan belajar bahwa pola tersebut adalah bagian dari kehidupan. Anak tidak memiliki banyak kesempatan untuk membandingkan kondisi keluarganya dengan keluarga lain. Apa yang ia lihat setiap hari menjadi referensi tentang bagaimana hubungan “seharusnya” bekerja.

Karena itu, ketika seseorang dewasa dan mencoba mengubah pola tersebut, perubahan justru bisa terasa aneh bagi anggota keluarga lainnya.

Misalnya, seorang anak dewasa mulai berkata:

“Kalau kita sedang marah, lebih baik kita bicara setelah semuanya tenang.”

Bagi orang yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan teriakan, kalimat tersebut mungkin terdengar seperti pembangkangan.

Bukan karena permintaannya tidak masuk akal, tetapi karena aturan interaksi keluarga sedang berubah.

Dalam psikologi keluarga, keluarga sering dipahami sebagai sebuah sistem. Setiap anggota memiliki peran dan pola interaksi tertentu. Ketika satu orang berubah, anggota lain mungkin ikut merasakan ketidaknyamanan karena keseimbangan lama terganggu.

Contohnya:

Jika selama bertahun-tahun satu anak selalu menjadi “anak yang mengalah”, lalu suatu hari ia mulai menetapkan batas, keluarga mungkin mengatakan bahwa ia sekarang berubah, egois, atau tidak peduli keluarga.

Padahal bisa jadi bukan dia yang menjadi lebih buruk.

Dia hanya berhenti memainkan peran lama.

Mengapa ini sulit?

Karena otak manusia menyukai sesuatu yang dapat diprediksi.

Pola yang sudah dikenal membutuhkan lebih sedikit energi mental. Bahkan pola yang tidak sehat dapat terasa lebih aman daripada pola baru yang belum diketahui.

Itulah sebabnya seseorang bisa bertahan dalam situasi yang tidak menyenangkan hanya karena situasi tersebut sudah familiar.

Dalam konteks keluarga, perubahan sering kali bukan hanya berarti mengganti perilaku.

Perubahan berarti mengganti definisi tentang apa yang dianggap “normal”.

Dan itu jauh lebih sulit.

2. Karena Mengakui Kesalahan Terasa Mengancam Identitas Diri

Alasan kedua adalah sesuatu yang sangat manusiawi: sulit mengakui bahwa selama ini kita salah.

Bayangkan seseorang telah mendidik anaknya selama 25 tahun dengan cara tertentu.

Kemudian anaknya mengatakan:

“Cara Ayah mendidik saya dulu membuat saya takut.”

Jika orang tua menerima pernyataan tersebut, konsekuensinya bisa sangat berat secara emosional.

Ia mungkin harus menghadapi pertanyaan:

“Kalau caraku salah, apakah selama ini aku menjadi orang tua yang buruk?”

“Apakah aku sudah menyakiti anakku?”

“Apakah semua pengorbananku tidak cukup?”

“Apakah aku harus meminta maaf setelah bertahun-tahun?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat menimbulkan rasa bersalah, malu, atau kehilangan harga diri.

Karena itu, manusia sering menggunakan mekanisme psikologis untuk melindungi dirinya dari rasa sakit tersebut.

Salah satunya adalah defensiveness atau sikap defensif.

Daripada mengatakan:

“Ya, mungkin aku salah.”

Seseorang mungkin berkata:

“Dulu semua orang tua juga begitu.”

“Kamu terlalu sensitif.”

“Aku melakukan itu demi kebaikanmu.”

“Kamu sekarang bisa sukses juga karena didikan kami.”

Perhatikan bahwa respons tersebut tidak selalu membuktikan bahwa orang tersebut jahat.

Sering kali, respons itu merupakan cara untuk mempertahankan gambaran dirinya sendiri.

Manusia memiliki kebutuhan untuk melihat dirinya sebagai orang yang masuk akal, baik, dan benar.

Ketika perilaku masa lalu bertentangan dengan gambaran tersebut, muncul ketegangan psikologis.

Mengubah perilaku berarti harus mengakui kemungkinan bahwa keyakinan lama tidak sepenuhnya benar.

Dan bagi sebagian orang, itu sangat menyakitkan.

Inilah paradoksnya

Kadang-kadang seseorang lebih memilih mempertahankan perilaku yang salah daripada menghadapi rasa malu karena mengakui bahwa dirinya salah.

Bukan karena mereka tidak melihat masalah.

Mereka mungkin melihatnya.

Tetapi menerima masalah tersebut berarti harus menerima konsekuensi emosional yang lebih dalam.

Karena itu, perubahan sering kali membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada pengetahuan.

Ia membutuhkan kerendahan hati dan kemampuan menoleransi rasa tidak nyaman.

3. Karena Perubahan Satu Orang Bisa Mengganggu “Keseimbangan” Keluarga

Keluarga bukan kumpulan individu yang sepenuhnya terpisah.

Perilaku satu anggota dapat memengaruhi perilaku anggota lainnya.

Misalnya ada sebuah keluarga yang selama bertahun-tahun memiliki pola seperti ini:

Ayah mudah marah.
Ibu berusaha menenangkan semua orang.
Anak sulung menjadi penengah.
Anak bungsu menghindari konflik.
Tidak ada yang membicarakan masalah secara langsung.

Walaupun pola tersebut tidak sehat, semua orang sudah mengetahui perannya.

Kemudian anak sulung mulai menolak menjadi penengah.

Ia berkata:

“Aku tidak mau lagi ikut campur setiap kali kalian bertengkar.”

Secara individu, keputusan tersebut mungkin sangat sehat.

Namun dari sudut pandang sistem keluarga, terjadi perubahan besar.

Ibu kehilangan orang yang selama ini membantunya.

Ayah kehilangan orang yang biasanya menjadi perantara.

Anak bungsu mungkin menjadi lebih sering terkena konflik.

Akibatnya, keluarga dapat mencoba menarik anak sulung kembali ke peran lamanya.

“Sebagai anak, kamu harus membantu orang tua.”

“Kamu sekarang berubah.”

“Dulu kamu paling mengerti keluarga.”

“Kenapa sekarang kamu tidak peduli?”

Ini menunjukkan sesuatu yang penting:

Keluarga terkadang menolak perubahan bukan karena perubahan tersebut buruk, tetapi karena perubahan tersebut mengganggu pola hubungan yang sudah stabil.

Dalam psikologi sistem keluarga, fenomena seperti ini dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan homeostasis—kecenderungan sistem untuk mempertahankan keadaan yang sudah dikenal.

Masalahnya, stabil bukan berarti sehat.

Sebuah keluarga bisa sangat stabil dalam pola yang tidak sehat.

Mereka bisa bertahun-tahun hidup dengan:

komunikasi pasif-agresif,
konflik yang tidak pernah selesai,
peran anak sebagai penengah,
kontrol berlebihan,
penghindaran emosi,
atau kebiasaan saling menyalahkan.

Semua orang mungkin tidak bahagia.

Tetapi semua orang tahu bagaimana sistem tersebut bekerja.

Ketika seseorang mencoba mengubahnya, ketidaknyamanan muncul.

Ironisnya, anggota keluarga yang mulai berubah sering kali justru dianggap sebagai sumber masalah.

Padahal ia mungkin hanya menjadi orang pertama yang berhenti mengikuti pola lama.

4. Karena Mereka Lebih Takut pada Perubahan Daripada pada Masalahnya

Ini salah satu alasan yang paling menarik.

Manusia bisa mengetahui bahwa sesuatu buruk, tetapi tetap mempertahankannya karena alternatifnya terasa lebih menakutkan.

Misalnya seseorang tahu bahwa hubungan keluarganya penuh konflik.

Namun jika ia mulai menetapkan batas, ia takut dianggap durhaka.

Jika ia mulai mengatakan “tidak”, ia takut ditolak.

Jika ia berhenti memenuhi semua tuntutan keluarga, ia takut kehilangan hubungan.

Jika ia membicarakan luka masa lalu, ia takut konflik menjadi lebih besar.

Akhirnya muncul pilihan psikologis:

“Lebih baik tetap seperti sekarang daripada menghadapi sesuatu yang tidak diketahui.”

Ini berkaitan dengan kecenderungan manusia terhadap status quo.

Status quo memberikan kepastian.

Bahkan ketika situasi sekarang tidak menyenangkan, setidaknya seseorang tahu apa yang akan terjadi.

Perubahan membawa ketidakpastian.

Dan ketidakpastian sering kali memicu kecemasan.

Karena itu, seseorang dapat berpikir:

“Aku tahu keluargaku seperti ini. Aku tahu bagaimana menghadapi mereka.”

Tetapi ketika perubahan terjadi:

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”

Bagi sebagian orang, ketidakpastian terasa lebih mengancam daripada masalah itu sendiri.

Inilah mengapa nasihat sederhana seperti “tinggalkan saja kebiasaan itu” sering tidak efektif.

Secara logika mungkin benar.

Namun secara psikologis, manusia tidak hanya mempertimbangkan apakah sesuatu baik atau buruk.

Mereka juga mempertimbangkan:

“Apakah aku merasa aman jika melakukan hal tersebut?”

5. Karena Pola Keluarga Sering Diwariskan Antar-Generasi

Tidak semua pola keluarga dimulai dari generasi sekarang.

Sebagian merupakan warisan psikologis.

Seseorang yang tumbuh dengan orang tua yang sangat keras mungkin belajar bahwa kasih sayang harus disertai kontrol.

Orang yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak pernah membicarakan perasaan mungkin belajar bahwa emosi adalah sesuatu yang harus disimpan.

Seseorang yang selalu melihat konflik diselesaikan dengan teriakan dapat belajar bahwa kemarahan adalah cara normal untuk mendapatkan sesuatu.

Kemudian, ketika ia memiliki anak sendiri, pola tersebut dapat muncul kembali.

Bukan karena ia secara sadar berkata:

“Aku ingin menjadi seperti orang tuaku.”

Sering kali justru sebaliknya.

Ia mungkin berkata:

“Aku tidak akan pernah menjadi seperti ayahku.”

Namun ketika menghadapi stres, kemarahan, atau konflik, respons lama dapat muncul secara otomatis.

Mengapa?

Karena keluarga bukan hanya mengajarkan apa yang harus dikatakan.

Keluarga juga mengajarkan cara bereaksi.

Anak mengamati:

Bagaimana orang tua bertengkar.

Bagaimana mereka meminta maaf.

Bagaimana mereka menunjukkan kasih sayang.

Bagaimana mereka menghadapi kegagalan.

Bagaimana mereka merespons kritik.

Bagaimana mereka memperlakukan orang yang lebih lemah.

Semua itu menjadi semacam “manual hubungan” yang tersimpan dalam diri seseorang.

Ketika dewasa, manual tersebut dapat muncul secara otomatis.

Inilah sebabnya seseorang dapat berkata:

“Aku benci ketika ibuku melakukan ini kepadaku.”

Tetapi beberapa tahun kemudian ia menyadari bahwa dirinya melakukan hal yang sama kepada anaknya.

Bukan karena ia tidak punya niat untuk berubah.

Tetapi karena niat sadar harus berhadapan dengan pola yang sudah dipelajari selama bertahun-tahun.

Kabar baiknya, pola yang dipelajari bukan berarti tidak bisa diubah.

Namun perubahan membutuhkan kesadaran, latihan, dan sering kali keberanian untuk mengenali pola yang selama ini dianggap normal.

6. Karena Mereka Tidak Melihat Alasan yang Cukup untuk Berubah

Alasan terakhir mungkin yang paling sederhana sekaligus paling sulit.

Seseorang berubah ketika ia memiliki alasan yang cukup kuat untuk berubah.

Dan “orang lain terluka” belum tentu terasa sebagai alasan yang cukup bagi semua orang.

Misalnya seorang anggota keluarga terbiasa mengontrol.

Anaknya mengatakan:

“Aku merasa tertekan ketika semua keputusan hidupku diatur.”

Orang tua tersebut mungkin mendengar kalimat itu.

Tetapi dalam pikirannya:

“Aku hanya sedang membantu.”

Jika ia percaya bahwa perilakunya adalah bentuk kasih sayang, ia tidak akan melihat kebutuhan mendesak untuk berubah.

Hal yang sama dapat terjadi dalam konflik.

Satu pihak berkata:

“Kamu selalu membentakku.”

Pihak lainnya menjawab:

“Aku membentak karena kamu tidak mendengarkan.”

Keduanya memiliki narasi masing-masing.

Selama seseorang merasa perilakunya memiliki alasan yang benar, motivasi untuk berubah menjadi rendah.

Inilah mengapa perubahan tidak selalu bisa dipaksakan dari luar.

Kita bisa menjelaskan.

Kita bisa memberikan contoh.

Kita bisa mengatakan bahwa perilaku tertentu menyakiti kita.

Tetapi pada akhirnya, orang tersebut harus sampai pada titik:

“Cara lama ini tidak lagi bisa dipertahankan.”

Kadang-kadang titik tersebut muncul setelah konsekuensi menjadi semakin jelas.

Hubungan menjadi renggang.

Anak mulai menjauh.

Pasangan kehilangan kepercayaan.

Keluarga tidak lagi mau berkomunikasi.

Atau seseorang akhirnya menyadari bahwa cara yang selama ini digunakan untuk “mempertahankan keluarga” justru membuat keluarganya semakin jauh.

Namun tidak semua orang sampai pada kesadaran tersebut.

Dan di sinilah kita perlu memahami satu kenyataan yang tidak selalu menyenangkan:

Kita tidak dapat mengendalikan kemauan orang lain untuk berubah.

Kita hanya dapat mengendalikan respons kita sendiri.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan agar Keluarga Berubah?

Perubahan keluarga biasanya membutuhkan lebih dari sekadar satu percakapan.

Ada beberapa hal yang sangat penting.

1. Kesadaran

Seseorang harus mampu melihat pola yang sedang terjadi.

Bukan hanya melihat kesalahan orang lain, tetapi juga bertanya:

“Apa peranku dalam pola ini?”

2. Kemampuan menerima ketidaknyamanan

Perubahan hampir selalu terasa tidak nyaman pada awalnya.

Menetapkan batas dapat membuat seseorang merasa bersalah.

Meminta maaf dapat membuat seseorang merasa malu.

Mengubah cara komunikasi dapat terasa canggung.

Tetapi ketidaknyamanan tidak selalu berarti kita melakukan sesuatu yang salah.

Kadang-kadang ketidaknyamanan adalah tanda bahwa kita sedang melakukan sesuatu yang berbeda.

3. Kemauan untuk bertanggung jawab

Perubahan sulit terjadi jika setiap orang hanya berkata:

“Ini semua salah dia.”

Keluarga yang sehat tidak harus memiliki orang yang sempurna.

Mereka membutuhkan orang yang mampu berkata:

“Aku salah.”

“Aku bereaksi terlalu keras.”

“Aku mengerti mengapa kamu terluka.”

“Aku akan mencoba cara yang berbeda.”

4. Batas yang jelas

Batas bukan hukuman.

Batas adalah cara seseorang menjelaskan apa yang bisa dan tidak bisa ia terima.

Contohnya:

“Aku bersedia membicarakan masalah ini, tetapi aku tidak akan melanjutkan percakapan jika aku dibentak.”

Kalimat seperti ini tidak menjamin orang lain akan berubah.

Tetapi ia mengubah bagian yang masih berada dalam kendali kita: respons kita sendiri.

Ketika Keluarga Tidak Mau Berubah

Salah satu pelajaran paling sulit dalam hubungan keluarga adalah menerima bahwa memahami alasan seseorang tidak berarti kita harus terus menerima perilakunya.

Kita bisa memahami bahwa orang tua kita juga memiliki luka.

Kita bisa memahami bahwa mereka dibesarkan dengan cara tertentu.

Kita bisa memahami bahwa mereka tidak pernah belajar komunikasi yang sehat.

Kita bisa memahami bahwa mereka mungkin takut kehilangan kendali.

Tetapi memahami bukan berarti membenarkan.

Dua hal dapat benar pada saat yang sama:

“Aku memahami mengapa kamu menjadi seperti ini.”

dan

“Aku tetap tidak bersedia diperlakukan seperti ini.”

Ini merupakan perbedaan penting.

Karena terkadang kita terlalu sibuk mencari alasan mengapa keluarga tidak berubah sampai lupa bahwa kita juga memiliki hak untuk menentukan bagaimana kita ingin diperlakukan.

Perubahan keluarga memang ideal.

Tetapi ketika orang lain tidak berubah, kita masih dapat mengubah cara kita merespons.

Kita dapat berhenti mengikuti pola lama.

Kita dapat belajar berkomunikasi dengan lebih sehat.

Kita dapat menetapkan batas.

Kita dapat mengurangi konflik yang tidak produktif.

Kita dapat mencari bantuan profesional ketika diperlukan.

Dan dalam situasi tertentu, kita bahkan mungkin perlu mengambil jarak.

Bukan karena kita tidak mencintai keluarga.

Tetapi karena menjaga hubungan tidak selalu berarti harus mempertahankan pola yang sama.

Penutup: Tidak Semua yang Bertahan Layak Dipertahankan

Keluarga memiliki kekuatan luar biasa dalam membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri dan dunia.

Namun keluarga juga bisa menjadi tempat di mana pola lama bertahan paling lama.

Sebab keluarga membawa sejarah.

Ada kenangan, peran, harapan, rasa bersalah, loyalitas, ketakutan, dan identitas yang saling terhubung.

Itulah mengapa perubahan sering kali terasa seperti ancaman terhadap seluruh sistem.

Enam alasan tadi menunjukkan bahwa keluarga dapat sulit berubah karena:

Pola lama sudah dianggap normal.
Mengakui kesalahan dapat mengancam harga diri dan identitas.
Perubahan satu orang dapat mengganggu keseimbangan keluarga.
Perubahan terasa lebih menakutkan daripada masalah yang sudah dikenal.
Pola perilaku dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tidak semua orang merasa memiliki alasan yang cukup kuat untuk berubah.

Namun ada satu hal yang penting untuk diingat.

Kita tidak harus menunggu seluruh keluarga berubah agar kehidupan kita bisa mulai berubah.

Terkadang perubahan dimulai dari satu orang yang akhirnya berkata:

“Aku tidak bisa mengubah keluargaku, tetapi aku bisa mengubah cara aku hidup di dalam pola ini.”

Dan dari situlah siklus yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun mungkin mulai berhenti.

Bukan karena keluarga tiba-tiba menjadi sempurna.

Tetapi karena seseorang akhirnya memilih untuk tidak meneruskan pola lama.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore