seseorang yang sulit menenangkan diri saat berkonflik / foto: Magnific/prostock-studio
Namun, yang sering menjadi masalah bukan semata-mata apa yang diperdebatkan, melainkan bagaimana seseorang merespons ketika konflik mulai memanas.
Ada orang yang ketika marah memilih diam. Ada yang membutuhkan waktu sendiri. Ada pula yang justru semakin banyak berbicara, meminta penjelasan, mengejar pasangan, atau ingin masalah segera diselesaikan saat itu juga.
Bagi sebagian orang, nasihat seperti "tenangkan diri dulu sebelum membicarakannya" terdengar sederhana. Tetapi dalam praktiknya, tidak semua orang mampu melakukannya.
Mengapa?
Menurut psikologi, ketika seseorang merasa terancam secara emosional, kemampuan untuk berpikir tenang dan melihat situasi secara objektif dapat menurun. Respons yang muncul bukan selalu hasil dari keputusan yang sepenuhnya rasional, melainkan juga dipengaruhi oleh sistem stres, pengalaman masa lalu, pola keterikatan, serta kebiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (3/9), terdapat enam alasan mengapa pasangan bisa kesulitan menenangkan diri terlebih dahulu ketika sedang menghadapi konflik.
1. Sistem saraf sedang berada dalam mode "ancaman"
Ketika konflik dengan pasangan menjadi intens, tubuh tidak selalu membedakan antara ancaman fisik dan ancaman emosional.
Perasaan seperti ditolak, tidak dihargai, ditinggalkan, disalahpahami, atau kehilangan kendali dapat memicu respons stres. Tubuh kemudian masuk ke keadaan yang sering dikenal sebagai respons fight, flight, freeze, atau fawn.
Pada kondisi fight, seseorang mungkin menjadi lebih agresif secara verbal, mudah membantah, meninggikan suara, atau terus berusaha memenangkan argumen.
Pada kondisi flight, seseorang mungkin ingin segera pergi atau mengakhiri percakapan.
Pada kondisi freeze, seseorang dapat mendadak diam, sulit berbicara, atau merasa pikirannya kosong.
Sementara fawn dapat membuat seseorang terlalu cepat mengalah demi meredakan ancaman yang dirasakan.
Artinya, ketika seseorang sedang sangat teraktivasi secara emosional, mengatakan "coba tenang dulu" tidak selalu cukup.
Masalahnya bukan sekadar orang tersebut tidak mau tenang, tetapi tubuhnya mungkin sedang berada dalam keadaan siaga.
Dalam kondisi seperti ini, kemampuan untuk melakukan refleksi, mempertimbangkan sudut pandang pasangan, dan memilih kata-kata dengan hati-hati dapat menjadi lebih sulit.
Itulah sebabnya seseorang yang sebenarnya cukup rasional dalam keadaan normal bisa mengatakan sesuatu yang sangat tajam ketika sedang marah.
Setelah emosinya mereda, ia bahkan mungkin berkata:
"Aku sebenarnya tidak bermaksud mengatakan itu."
Bukan berarti perkataannya otomatis dapat dibenarkan. Namun, secara psikologis, intensitas emosi memang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengatur responsnya.
Karena itu, salah satu langkah penting dalam konflik adalah mengenali kapan percakapan sudah terlalu panas untuk dilanjutkan.
2. Konflik dapat mengaktifkan ketakutan akan ditolak atau ditinggalkan
Tidak semua orang mengalami konflik hanya sebagai perbedaan pendapat.
Bagi sebagian orang, konflik dapat terasa seperti ancaman terhadap hubungan itu sendiri.
Misalnya, ketika pasangan berkata:
"Aku butuh waktu sendiri dulu."
Satu orang mungkin memahami kalimat tersebut sebagai permintaan yang sehat untuk mengambil jeda.
Namun orang lain bisa menerjemahkannya menjadi:
"Dia sudah tidak mencintaiku."
"Dia akan meninggalkanku."
"Hubungan ini mungkin akan berakhir."
Interpretasi tersebut kemudian memunculkan kecemasan.
Akibatnya, bukannya menenangkan diri, orang tersebut justru semakin mengejar pasangan untuk mendapatkan kepastian.
Dalam psikologi hubungan, pola semacam ini dapat berkaitan dengan attachment atau pola keterikatan. Seseorang yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap penolakan atau kehilangan hubungan mungkin merasa sangat sulit untuk mengambil jarak ketika terjadi konflik.
Semakin pasangan menjauh, semakin ia merasa cemas.
Semakin cemas, semakin ia mencari kedekatan atau jawaban.
Semakin ia mengejar, semakin pasangan merasa tertekan dan ingin menjauh.
Akhirnya terbentuk pola:
satu pihak mengejar → pihak lain menjauh → pihak pertama semakin cemas → konflik semakin besar.
Penting untuk dipahami bahwa pola tersebut tidak selalu berarti salah satu pasangan "terlalu manja" dan yang lainnya "tidak peduli".
Sering kali keduanya sedang berusaha mengatasi rasa tidak aman dengan cara yang berbeda.
Salah satu mencari kedekatan.
Yang lain mencari jarak.
Masalahnya muncul ketika kedua kebutuhan tersebut bertabrakan tanpa adanya komunikasi yang sehat.
3. Mereka belum memiliki keterampilan regulasi emosi yang cukup
Kemampuan menenangkan diri bukan sesuatu yang otomatis dimiliki setiap orang.
Regulasi emosi adalah keterampilan.
Sebagian orang sejak kecil terbiasa mengenali perasaan, membicarakan emosi, mengambil jeda, dan mencari cara yang sehat untuk mengatasi kemarahan.
Namun sebagian lainnya tumbuh dalam lingkungan yang tidak mengajarkan hal tersebut.
Misalnya, seseorang mungkin terbiasa melihat konflik diselesaikan dengan berteriak.
Ada pula yang belajar bahwa menangis adalah tanda kelemahan.
Sebagian orang bahkan tidak pernah diajarkan bagaimana mengatakan:
"Aku sedang terlalu emosional. Aku membutuhkan waktu sebentar agar bisa berbicara dengan lebih baik."
Akibatnya, ketika dewasa dan menghadapi konflik dalam hubungan, mereka mungkin hanya mengandalkan pola yang sudah familiar.
Jika dulu kemarahan diekspresikan dengan suara keras, ia mungkin melakukan hal yang sama.
Jika dulu masalah selalu dihindari, ia mungkin memilih menghilang.
Jika dulu seseorang harus terus menjelaskan dirinya agar didengar, ia mungkin merasa harus terus berbicara meskipun pasangan sudah meminta jeda.
Jadi, kemampuan regulasi emosi sangat berkaitan dengan apa yang pernah dipelajari seseorang mengenai emosi dan konflik.
Kabar baiknya, keterampilan tersebut dapat dikembangkan.
Seseorang dapat belajar mengenali tanda-tanda tubuh ketika mulai teraktivasi, mengidentifikasi pemicu emosional, menggunakan teknik pernapasan, mengambil time-out yang sehat, serta kembali ke percakapan ketika kondisi sudah lebih stabil.
Dengan kata lain, kesulitan menenangkan diri bukan berarti seseorang tidak bisa berubah.
4. Mereka merasa harus segera "menyelesaikan masalah"
Ada orang yang sangat tidak nyaman dengan konflik yang belum selesai.
Ketika terjadi masalah, mereka ingin segera membicarakannya sampai mendapatkan solusi.
Bagi mereka, menunda percakapan justru terasa menyiksa.
Pikiran seperti berikut mungkin muncul:
"Kalau tidak dibicarakan sekarang, masalahnya akan semakin besar."
"Aku tidak bisa tidur sebelum masalah ini selesai."
"Kenapa kita harus berhenti bicara kalau masalahnya belum selesai?"
Motivasi tersebut sebenarnya bisa berasal dari keinginan yang sehat untuk memperbaiki hubungan.
Namun masalah muncul ketika kebutuhan untuk menyelesaikan masalah mengalahkan kebutuhan untuk menenangkan sistem emosi terlebih dahulu.
Percakapan yang dilakukan ketika kedua pihak sedang sangat marah sering kali tidak menghasilkan penyelesaian yang baik.
Seseorang mungkin mendengar kritik sebagai serangan.
Pasangan mungkin mendengar penjelasan sebagai pembelaan diri.
Pertanyaan dianggap interogasi.
Permintaan dianggap tuntutan.
Dan akhirnya percakapan berubah menjadi pertarungan untuk membuktikan siapa yang paling benar.
Padahal, dalam banyak konflik pasangan, tujuan akhirnya bukan menemukan siapa yang menang.
Tujuannya adalah memahami:
"Apa sebenarnya yang terjadi pada kita, dan bagaimana kita bisa memperbaikinya?"
Karena itu, mengambil jeda bukan berarti mengabaikan masalah.
Jeda yang sehat justru dapat menjadi bagian dari proses penyelesaian masalah.
Perbedaannya terletak pada cara mengambil jeda.
Menghilang tanpa penjelasan dapat membuat pasangan semakin cemas.
Sebaliknya, mengatakan:
"Aku masih ingin membicarakan ini. Aku cuma sedang terlalu emosi. Beri aku waktu satu jam, setelah itu kita lanjutkan."
memberikan batas sekaligus kepastian.
5. Konflik menyentuh luka emosional dari pengalaman sebelumnya
Kadang-kadang, reaksi seseorang terhadap konflik saat ini jauh lebih besar daripada masalah yang sedang terjadi.
Bukan berarti reaksinya palsu.
Justru mungkin ada pengalaman emosional sebelumnya yang ikut aktif.
Misalnya, seseorang pernah mengalami pengabaian dalam hubungan masa lalu. Ketika pasangan sekarang tidak membalas pesan selama beberapa jam setelah bertengkar, situasi tersebut mungkin terasa jauh lebih mengancam baginya dibandingkan bagi orang lain.
Atau seseorang yang pernah sering diremehkan mungkin menjadi sangat sensitif ketika pasangannya mengatakan:
"Kamu terlalu sensitif."
Kalimat yang bagi seseorang terdengar biasa bisa memiliki makna yang jauh lebih besar bagi orang lain karena berkaitan dengan pengalaman sebelumnya.
Inilah salah satu alasan mengapa respons emosional dalam hubungan terkadang tampak "berlebihan" jika hanya dilihat dari kejadian saat ini.
Yang bereaksi bukan hanya orang dewasa yang sedang menghadapi masalah sekarang.
Bisa jadi pengalaman-pengalaman sebelumnya ikut memengaruhi bagaimana situasi tersebut ditafsirkan.
Namun memahami asal-usul reaksi tidak berarti membenarkan perilaku yang menyakiti.
Jika seseorang memiliki luka emosional, ia tetap bertanggung jawab untuk belajar mengelolanya dan tidak menjadikan masa lalunya sebagai alasan untuk terus menyakiti pasangan.
Pasangan juga tidak bertanggung jawab untuk "menyembuhkan" seluruh luka tersebut.
Hubungan yang sehat membutuhkan dua hal sekaligus:
empati terhadap luka dan tanggung jawab terhadap perilaku.
6. Mereka mengira menenangkan diri berarti mengalah
Ini adalah salah satu alasan yang sering tidak disadari.
Sebagian orang memiliki keyakinan bahwa jika mereka berhenti berdebat, mengambil jeda, atau menurunkan emosi, berarti mereka kalah.
Mereka takut jika berhenti berbicara:
"Nanti pasangan menganggap aku salah."
"Nanti dia merasa menang."
"Kalau aku diam, dia tidak akan memahami sudut pandangku."
Akibatnya, seseorang merasa harus terus mempertahankan argumennya.
Padahal menenangkan diri tidak sama dengan mengakui kesalahan.
Mengambil jeda juga tidak berarti menyerahkan posisi.
Justru kemampuan mengatakan:
"Aku terlalu marah untuk membicarakan ini dengan baik sekarang"
menunjukkan adanya kesadaran diri.
Seseorang tidak harus menyelesaikan konflik dalam keadaan emosional maksimal.
Ia dapat menunda pembicaraan tanpa menghindari masalah.
Ia dapat mengatakan:
"Aku tetap ingin menyelesaikan ini, tetapi aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang akan kita sesali nanti."
Dalam konteks hubungan jangka panjang, kemampuan seperti ini jauh lebih konstruktif daripada memenangkan satu perdebatan tetapi meninggalkan luka yang panjang.
Lalu, bagaimana seharusnya pasangan menghadapi konflik?
Jika pasangan sedang sulit menenangkan diri, respons yang membantu bukan selalu mengatakan:
"Tenang."
Kalimat tersebut justru dapat terdengar seperti perintah dan membuat seseorang merasa emosinya tidak valid.
Lebih baik membantu menciptakan kondisi yang memungkinkan emosi menurun.
Misalnya:
1. Validasi tanpa harus menyetujui semuanya
"Aku mengerti kamu sedang sangat kecewa."
Validasi bukan berarti mengatakan bahwa semua tuduhan pasangan benar. Validasi berarti mengakui bahwa perasaan tersebut memang sedang dialami.
2. Gunakan jeda yang jelas
Daripada pergi tanpa penjelasan, sepakati waktu untuk berhenti sementara.
"Kita istirahat dulu 30 menit. Setelah itu kita lanjutkan."
3. Hindari memperpanjang konflik saat emosi berada di puncak
Tidak semua hal harus dijawab saat itu juga.
Kadang-kadang, semakin banyak seseorang mencoba menjelaskan ketika sedang marah, semakin banyak pula kesalahpahaman yang muncul.
4. Kembali ke masalah setelah emosi mereda
Jeda bukan berarti mengubur masalah.
Setelah kondisi lebih stabil, pembicaraan tetap perlu dilanjutkan.
5. Fokus pada masalah, bukan menyerang karakter
Berbeda antara:
"Aku kecewa karena kamu membatalkan rencana tanpa memberitahuku."
dengan:
"Kamu memang selalu egois."
Pernyataan pertama membahas perilaku tertentu.
Pernyataan kedua menyerang identitas seseorang.
Menenangkan diri bukan berarti tidak peduli
Ada kesalahpahaman bahwa orang yang benar-benar mencintai pasangannya harus selalu menyelesaikan konflik secepat mungkin.
Padahal, terkadang bentuk kepedulian justru adalah berhenti sejenak sebelum mengatakan sesuatu yang dapat melukai hubungan.
Menenangkan diri bukan berarti mengabaikan pasangan.
Bukan berarti kalah.
Bukan berarti masalah tidak penting.
Dan bukan pula berarti seseorang harus memendam emosinya.
Menenangkan diri berarti memberikan ruang bagi otak dan tubuh untuk keluar dari keadaan reaktif sehingga seseorang dapat kembali menggunakan kemampuan berpikir, mendengarkan, dan berkomunikasi dengan lebih baik.
Hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah bertengkar.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana kedua orang belajar bagaimana bertengkar tanpa menghancurkan rasa aman satu sama lain.
Karena pada akhirnya, konflik bukan hanya menguji seberapa kuat seseorang mempertahankan pendapatnya.
Konflik juga menguji apakah dua orang mampu mengatakan:
"Aku sedang marah, tetapi aku tetap menghargaimu."
"Aku tidak setuju denganmu, tetapi aku masih ingin memahami kamu."
"Aku butuh jeda, tetapi aku tidak sedang meninggalkan hubungan ini."
Dan mungkin yang paling penting:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
