Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 September 2026 | 21.42 WIB

7 Cara Musik Memberikan Apa yang Kamu Butuhkan Saat Kamu Merasa Kurang Berharga Menurut Psikologi

seseorang yang merasa kurang berharga / foto: Magnific/amenic181

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa tidak cukup baik, tidak cukup menarik, tidak cukup sukses, atau seolah-olah apa pun yang kamu lakukan tidak pernah benar-benar berarti?

Pada saat-saat seperti itu, terkadang kita tidak membutuhkan nasihat panjang. Kita hanya ingin sesuatu yang membuat kita merasa sedikit lebih dimengerti. Menariknya, bagi banyak orang, sesuatu itu bisa datang dari musik.

Satu lagu dapat membuat kita menangis ketika kita bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan sendiri. Lagu lain bisa membuat kita merasa lebih kuat setelah hari yang buruk. Bahkan ada kalanya kita memutar lagu yang sama berulang-ulang bukan karena lagunya luar biasa, tetapi karena entah bagaimana lagu tersebut terasa seperti memahami apa yang sedang kita alami.

Secara psikologis, hal ini bukan sekadar kebetulan.

Musik dapat berhubungan dengan emosi, ingatan, identitas, hubungan sosial, dan cara kita mengatur suasana hati. Ketika harga diri sedang turun, musik dapat menjadi salah satu sarana yang membantu kita mendapatkan kembali beberapa kebutuhan psikologis yang sedang terasa hilang.

Tentu, musik bukan pengganti terapi atau solusi untuk semua masalah. Namun, musik dapat menjadi teman psikologis yang kuat—terutama ketika kita menggunakannya dengan sadar.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (1/9), terdapat tujuh cara musik dapat memberikan apa yang mungkin sedang kamu butuhkan ketika kamu merasa kurang berharga.

1. Musik Memberikan Perasaan bahwa Seseorang Memahami Kamu

Salah satu bagian paling menyakitkan dari merasa tidak berharga adalah perasaan bahwa tidak ada yang benar-benar memahami apa yang sedang kita rasakan.

Kamu mungkin berada di tengah banyak orang, tetapi tetap merasa sendirian.

Di sinilah musik bisa terasa begitu kuat.

Ketika kamu mendengar sebuah lagu yang menggambarkan kesedihan, kegagalan, keraguan, kehilangan, atau perjuangan yang sedang kamu alami, ada pengalaman psikologis sederhana yang terjadi: “Ternyata aku tidak sendirian merasakan ini.”

Lirik dapat memberikan nama pada emosi yang sebelumnya sulit kamu ungkapkan. Melodi dan suara penyanyi juga dapat membuat pengalaman emosional terasa lebih nyata.

Misalnya, kamu mungkin tidak mampu mengatakan kepada seseorang:

“Aku sedang merasa tidak cukup baik dan takut bahwa orang lain sebenarnya tidak membutuhkan aku.”

Tetapi ketika mendengar lagu dengan tema serupa, kamu mungkin merasa, “Ini persis yang aku rasakan.”

Perasaan dipahami seperti ini dapat mengurangi pengalaman kesepian emosional.

Menariknya, kamu tidak harus mengenal penyanyi tersebut secara pribadi untuk merasakan kedekatan. Suara, lirik, dan cerita dalam sebuah lagu dapat menciptakan semacam pengalaman hubungan satu arah yang dikenal dalam psikologi sebagai parasocial relationship.

Karena itu, ketika kamu merasa tidak berharga, mungkin sebenarnya yang kamu cari bukanlah lagu yang “membahagiakan”.

Mungkin kamu membutuhkan lagu yang mengatakan:

“Aku tahu rasanya.”

Dan terkadang, merasa dipahami adalah langkah pertama sebelum kita mampu memahami diri sendiri.

2. Musik Membantu Kamu Mengatur Emosi, Bukan Sekadar Mengubah Mood

Ketika merasa kurang berharga, emosi biasanya tidak datang sendirian.

Ada rasa malu, kecewa, cemas, sedih, marah, takut, atau bahkan mati rasa.

Masalahnya, kita sering menganggap emosi negatif sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan.

Akibatnya, kita mencoba memaksa diri untuk bahagia.

Namun, regulasi emosi tidak selalu berarti mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan secepat mungkin. Kadang-kadang, yang kita butuhkan adalah memproses emosi terlebih dahulu.

Musik dapat membantu proses tersebut.

Misalnya, ketika sedang sedih, kamu mungkin memilih lagu yang juga terdengar sedih. Sekilas ini tampak seperti memperburuk keadaan. Tetapi bagi sebagian orang, mendengarkan musik sedih justru memberikan ruang untuk merasakan emosi dengan aman.

Kamu bisa menangis.

Kamu bisa diam.

Kamu bisa mengingat sesuatu.

Kamu tidak harus menjelaskan apa pun.

Setelah emosi terasa lebih diterima, musik dengan tempo atau energi yang berbeda kemudian dapat membantu membawa suasana hati ke arah yang lebih stabil.

Dengan kata lain, musik dapat menjadi semacam jembatan emosional.

Bukan:

sedih → langsung bahagia

melainkan:

sedih → merasa dipahami → memproses emosi → lebih tenang → perlahan pulih.

Inilah salah satu alasan mengapa playlist dapat menjadi sangat personal. Lagu yang tepat bukan selalu lagu yang membuatmu bahagia.

Kadang-kadang, lagu yang tepat adalah lagu yang membantumu melewati perasaan yang sedang ada.

3. Musik Mengingatkan Kamu pada Identitas yang Lebih Besar daripada Kegagalanmu

Saat harga diri menurun, kita sering melakukan kesalahan psikologis: menjadikan satu bagian hidup sebagai definisi keseluruhan diri.

Gagal dalam pekerjaan, lalu berpikir:

“Aku memang gagal.”

Ditolak seseorang, lalu berpikir:

“Aku tidak menarik.”

Membuat kesalahan, lalu berpikir:

“Aku orang yang buruk.”

Padahal, manusia jauh lebih kompleks daripada satu kejadian.

Musik dapat membantu mengingatkan kita akan hal tersebut karena musik sering terhubung dengan identitas.

Coba pikirkan lagu-lagu yang kamu dengarkan ketika:

pertama kali masuk sekolah atau kuliah,
jatuh cinta,
mengalami patah hati,
bepergian bersama teman,
merayakan keberhasilan,
melewati masa sulit,
atau memulai kehidupan baru.

Lagu-lagu tersebut dapat menjadi semacam “penanda” perjalanan hidup.

Ketika mendengarkannya kembali, kamu mungkin tidak hanya mendengar musik.

Kamu mengingat versi dirimu yang pernah bertahan melewati berbagai hal.

Dan ini penting.

Saat sedang merasa tidak berharga, otak cenderung memusatkan perhatian pada bukti yang mendukung penilaian negatif tentang diri sendiri.

Musik yang terhubung dengan pengalaman positif dapat membantu memperluas kembali narasi tersebut.

Kamu bukan hanya orang yang sedang gagal.

Kamu juga adalah orang yang pernah berjuang.

Pernah dicintai.

Pernah membuat seseorang tertawa.

Pernah melewati hari yang sangat sulit.

Pernah memiliki impian.

Pernah merasa bahagia.

Pernah bangkit.

Musik dapat membuka kembali bagian-bagian identitas tersebut.

Dan terkadang, kita tidak membutuhkan identitas baru.

Kita hanya perlu mengingat bahwa identitas kita lebih luas daripada masalah yang sedang kita alami.

4. Musik Memberikan Rasa Kendali Ketika Hidup Terasa Tidak Terkendali

Merasa tidak berharga sering kali berjalan bersama perasaan tidak memiliki kendali.

Kamu mungkin merasa hidup ditentukan oleh keputusan orang lain.

Atasan menentukan apakah pekerjaanmu dihargai.

Pasangan menentukan apakah hubungan berlanjut.

Orang lain menentukan apakah kamu diterima.

Media sosial membuatmu membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.

Dalam situasi seperti itu, memilih musik sendiri bisa menjadi bentuk kecil dari kontrol.

Kamu memilih lagu.

Kamu memilih volume.

Kamu memilih kapan mendengarkannya.

Kamu memilih playlist.

Kamu bahkan dapat memilih apakah ingin mendengarkan sesuatu yang menenangkan, memberi energi, atau membantumu menangis.

Hal kecil seperti ini mungkin terdengar sepele.

Namun, kebutuhan akan autonomy, atau perasaan bahwa kita memiliki kendali atas pilihan diri sendiri, merupakan salah satu kebutuhan psikologis manusia yang penting.

Ketika banyak hal di luar kendali, menciptakan ruang kecil yang masih bisa kamu kendalikan dapat memberikan rasa agensi.

Misalnya, kamu bisa membuat playlist bernama:

“Untuk Hari Ketika Aku Meragukan Diriku Sendiri.”

Isinya bukan hanya lagu motivasi.

Masukkan lagu yang membuatmu merasa dipahami, lagu yang mengingatkanmu pada orang-orang yang mencintaimu, lagu dari masa ketika kamu merasa kuat, dan lagu yang membuatmu ingin bergerak kembali.

Dengan begitu, playlist tersebut menjadi lebih dari sekadar kumpulan lagu.

Ia menjadi sebuah ritual pribadi untuk mengambil kembali sedikit kendali.

5. Musik Membantu Kamu Merasakan Koneksi dengan Orang Lain

Manusia membutuhkan hubungan.

Kita ingin merasa menjadi bagian dari sesuatu.

Ketika merasa tidak berharga, kebutuhan ini sering menjadi semakin kuat. Kita mungkin mulai berpikir bahwa kita berbeda dari orang lain, tidak disukai, atau tidak memiliki tempat.

Musik dapat menciptakan rasa kebersamaan.

Pikirkan pengalaman ketika ribuan orang menyanyikan lagu yang sama dalam sebuah konser.

Tidak semua orang di sana saling mengenal.

Namun selama beberapa menit, mereka melakukan hal yang sama.

Mendengar melodi yang sama.

Menyanyikan kata-kata yang sama.

Mengikuti ritme yang sama.

Ada rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di konser.

Musik juga hadir dalam:

komunitas penggemar,
pesta,
acara keagamaan,
pertandingan olahraga,
festival,
perjalanan bersama teman,
hingga aktivitas sederhana seperti bernyanyi bersama keluarga.

Musik dapat menjadi bahasa sosial.

Dan ketika kamu merasa kurang berharga, pengalaman seperti ini dapat memberikan pesan psikologis yang penting:

“Aku punya tempat di dunia ini.”

Tentu, rasa memiliki tidak harus selalu datang dari kerumunan besar.

Bisa juga dari satu teman yang mengirimkan lagu dan berkata:

“Aku dengar ini dan langsung ingat kamu.”

Kalimat sederhana itu bisa terasa sangat berarti.

Karena pada dasarnya, manusia ingin merasa diingat.

6. Musik Membantu Kamu Mengubah Cara Kamu Menceritakan Kisah tentang Dirimu Sendiri

Setiap orang memiliki narasi pribadi.

Kita memiliki cerita tentang siapa diri kita, apa yang sudah kita lalui, mengapa kita gagal, mengapa kita berhasil, dan seperti apa masa depan kita.

Ketika merasa tidak berharga, narasi tersebut bisa berubah menjadi sangat keras.

Misalnya:

“Aku selalu gagal.”

“Tidak ada yang akan memilihku.”

“Aku tertinggal dari semua orang.”

“Hidupku tidak ke mana-mana.”

Musik dapat ikut membentuk cara kita menceritakan kisah tersebut.

Sebuah lagu tentang seseorang yang jatuh tetapi bangkit kembali mungkin membuat kita melihat pengalaman sendiri melalui sudut pandang berbeda.

Kegagalan tidak lagi hanya menjadi bukti bahwa kita tidak mampu.

Kegagalan dapat menjadi bagian dari perjalanan.

Patah hati tidak hanya berarti bahwa kita tidak layak dicintai.

Patah hati dapat menjadi pengalaman yang mengajarkan kita tentang kebutuhan, batasan, dan hubungan.

Kehilangan tidak selalu berarti bahwa hidup selesai.

Ia dapat menjadi bagian dari perubahan.

Musik tidak mengubah fakta yang terjadi.

Tetapi musik dapat membantu mengubah makna emosional yang kita berikan pada pengalaman tersebut.

Dan ini sangat penting.

Karena manusia tidak hanya hidup berdasarkan apa yang terjadi kepada kita.

Kita juga hidup berdasarkan cerita yang kita bangun tentang apa arti semua itu.

7. Musik Mengingatkan Kamu bahwa Nilai Dirimu Tidak Harus Selalu Dibuktikan

Mungkin ini adalah hal paling penting.

Ketika merasa kurang berharga, kita sering mencoba membuktikan nilai diri.

Kita bekerja lebih keras.

Mencari validasi.

Mengumpulkan pencapaian.

Mencoba terlihat menarik.

Mengejar perhatian.

Membandingkan diri.

Mencari tanda bahwa kita cukup.

Masalahnya, validasi eksternal hampir tidak pernah memberikan rasa aman secara permanen.

Setelah mendapatkan satu pencapaian, kita mungkin segera membutuhkan pencapaian berikutnya.

Setelah mendapat pujian, kita takut pujian itu berhenti.

Setelah diterima seseorang, kita takut ditinggalkan.

Musik dapat memberikan pengalaman yang berbeda.

Kamu tidak harus melakukan apa pun untuk “layak” mendengarkan musik.

Kamu cukup hadir.

Duduk.

Bernapas.

Mendengarkan.

Mungkin selama beberapa menit kamu tidak perlu menjadi orang paling produktif.

Tidak perlu memenangkan apa pun.

Tidak perlu membuktikan kecerdasan.

Tidak perlu terlihat sukses.

Tidak perlu membuat siapa pun terkesan.

Kamu hanya menjadi seseorang yang sedang mengalami sebuah lagu.

Dan mungkin di situlah musik memberikan sesuatu yang sangat kita butuhkan ketika harga diri sedang rendah:

izin untuk menjadi manusia tanpa harus terus-menerus membuktikan nilai diri.

Tetapi Ada Satu Hal yang Perlu Diingat

Musik bisa menjadi alat yang sangat kuat untuk mengelola emosi, tetapi cara kita menggunakannya juga penting.

Tidak semua musik selalu membantu.

Jika kamu terus-menerus memutar lagu yang memperkuat pikiran seperti “aku tidak berharga”, “tidak ada yang menyayangiku”, atau “semuanya sudah berakhir”, musik mungkin justru membuatmu semakin tenggelam dalam pola pikiran tersebut.

Karena itu, cobalah memperhatikan bagaimana perasaanmu sebelum dan sesudah mendengarkan musik.

Tanyakan:

“Apakah lagu ini membantuku merasakan emosiku, atau justru membuatku terjebak di dalamnya?”

Ada perbedaan antara memproses kesedihan dan memperpanjang kesedihan.

Ada perbedaan antara merasa dipahami dan terus menguatkan kebencian terhadap diri sendiri.

Kamu tidak harus selalu memilih lagu yang ceria.

Namun, setelah memberi ruang pada emosi, cobalah perlahan berpindah ke musik yang memberi rasa aman, harapan, energi, atau koneksi.

Buat perjalanan emosional, bukan sekadar playlist.

Misalnya:

Lagu 1–2: “Aku boleh merasakan ini.”

Lagu 3–4: “Aku tidak sendirian.”

Lagu 5–6: “Aku pernah melewati masa sulit.”

Lagu 7–8: “Aku masih punya pilihan.”

Lagu terakhir: “Aku belum selesai.”

Pada Akhirnya, Musik Tidak Membuatmu Berharga

Dan mungkin justru di sinilah keindahan musik.

Musik sebenarnya tidak perlu membuatmu berharga.

Karena kamu tidak perlu menjadi lebih sukses, lebih cantik, lebih produktif, lebih populer, atau lebih sempurna untuk memiliki nilai sebagai manusia.

Musik hanya dapat membantu kamu mengingatnya kembali.

Ketika pikiranmu mengatakan:

“Aku tidak cukup.”

Sebuah lagu mungkin mengingatkan:

“Kamu sedang terluka, bukan tidak berharga.”

Ketika kamu berpikir:

“Aku gagal.”

Musik mungkin mengingatkan:

“Satu kegagalan tidak menceritakan seluruh hidupmu.”

Ketika kamu merasa:

“Tidak ada yang memahami aku.”

Sebuah lagu mungkin berbisik:

“Perasaan ini pernah dirasakan manusia lain juga.”

Dan ketika kamu tidak tahu harus melakukan apa, mungkin kamu hanya perlu duduk sebentar, memasang headphone, dan membiarkan sebuah lagu menemanimu melewati beberapa menit berikutnya.

Bukan untuk melarikan diri dari hidup.

Tetapi untuk mendapatkan cukup tenaga untuk kembali menghadapinya.

Karena terkadang, pemulihan tidak dimulai dari perasaan bahwa kita sudah kuat.

Kadang-kadang, pemulihan dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana:

kita merasa ditemani ketika sedang merasa sendirian.

Dan bagi sebagian orang, teman itu datang dalam bentuk sebuah lagu.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore