Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 03.07 WIB

5 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Saat Mencoba Menyusun Rencana Sempurna Menurut Psikologi

seseorang yang mencoba menyusun rencana / foto: Magnific/partystock

 

JawaPos.com - Kita semua tentu ingin memiliki rencana yang baik.

Sebelum memulai sesuatu, kita sering merasa perlu memikirkan semuanya dengan matang: menentukan tujuan, membuat jadwal, memperkirakan hambatan, menyiapkan berbagai kemungkinan, hingga menyusun langkah alternatif jika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.

Pada awalnya, kebiasaan ini terlihat sangat positif. Perencanaan memang dapat membantu seseorang merasa lebih terarah dan meningkatkan kemungkinan tercapainya sebuah tujuan.

Namun, ada satu jebakan yang sering tidak disadari: keinginan untuk membuat rencana yang sempurna justru dapat membuat kita semakin sulit bertindak.

Kita bisa menghabiskan terlalu banyak waktu menyusun strategi, tetapi terlalu sedikit waktu untuk benar-benar memulai. Kita terus memperbaiki jadwal, mencari informasi tambahan, mengganti metode, atau menunggu kondisi yang dianggap ideal.

Dalam psikologi, kecenderungan seperti ini dapat berkaitan dengan perfeksionisme, kebutuhan terhadap kepastian, bias kognitif, serta kecenderungan manusia untuk menghindari ketidaknyamanan.

Dengan kata lain, terkadang kita tidak sedang mempersiapkan diri untuk berhasil.

Kita justru sedang mencari rasa aman melalui perencanaan yang berlebihan.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (28/8), terdapat lima kesalahan yang sering dilakukan orang ketika mencoba menyusun rencana yang dianggap sempurna.

1. Terlalu Fokus Membuat Rencana, tetapi Lupa Memulai

Salah satu kesalahan paling umum adalah menganggap bahwa semakin detail sebuah rencana, semakin besar pula peluang keberhasilannya.

Akibatnya, seseorang bisa menghabiskan berjam-jam atau bahkan berhari-hari membuat daftar tugas, menentukan waktu yang tepat, mencari metode terbaik, membaca berbagai referensi, dan membandingkan berbagai pilihan.

Masalahnya muncul ketika proses perencanaan tidak pernah berubah menjadi tindakan.

Misalnya, seseorang ingin mulai berolahraga.

Ia kemudian mencari program latihan terbaik, membandingkan berbagai jenis olahraga, membeli perlengkapan, membuat jadwal mingguan, mencari menu makanan sehat, memasang aplikasi pelacak kebugaran, dan menonton banyak video motivasi.

Semuanya terlihat produktif.

Tetapi setelah satu minggu, ia masih belum benar-benar rutin berolahraga.

Inilah salah satu paradoks perencanaan: persiapan dapat memberikan perasaan bahwa kita sudah bergerak, meskipun tindakan nyata belum banyak dilakukan.

Secara psikologis, membayangkan diri sedang melakukan sesuatu atau mempersiapkan berbagai langkah dapat memberikan rasa kemajuan tertentu. Padahal, kemajuan yang sebenarnya membutuhkan perilaku nyata.

Mengapa hal ini terjadi?

Salah satu alasannya adalah bahwa tindakan membawa ketidakpastian.

Ketika masih berada dalam tahap perencanaan, kita merasa memiliki kendali. Semua kemungkinan tampak dapat diatur.

Namun begitu mulai bertindak, kita harus berhadapan dengan kenyataan.

Rencana mungkin tidak berjalan. Kita mungkin gagal. Kita mungkin merasa tidak nyaman. Hasilnya mungkin tidak sesuai harapan.

Karena itu, sebagian orang secara tidak sadar terus memperpanjang tahap perencanaan untuk menghindari risiko tersebut.

Padahal, rencana terbaik sekalipun tetap membutuhkan eksekusi.

Rencana bukanlah tujuan. Rencana adalah alat untuk membantu kita mengambil tindakan.

Jika sebuah rencana semakin panjang tetapi tidak membuat kita lebih dekat dengan langkah pertama, mungkin sudah waktunya berhenti menyempurnakannya.

Apa yang bisa dilakukan?

Cobalah membatasi waktu untuk membuat rencana.

Misalnya:

“Saya akan menyusun rencana selama 30 menit, kemudian langsung mengerjakan langkah pertama.”

Tidak perlu menunggu semuanya sempurna.

Mulailah dari sesuatu yang kecil.

Karena setelah kita bertindak, kita mendapatkan informasi nyata yang tidak bisa diperoleh hanya dengan berpikir.

2. Menganggap Semua Hal Harus Bisa Diprediksi

Kesalahan kedua adalah mencoba memasukkan terlalu banyak kemungkinan ke dalam rencana.

Kita ingin mengantisipasi semuanya.

Bagaimana jika hujan?

Bagaimana jika jadwal berubah?

Bagaimana jika orang lain tidak bekerja sama?

Bagaimana jika saya kehilangan motivasi?

Bagaimana jika terjadi masalah?

Bagaimana jika pilihan saya ternyata salah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya tidak selalu buruk. Mempertimbangkan risiko merupakan bagian penting dari perencanaan.

Masalah muncul ketika kebutuhan untuk mengantisipasi segala sesuatu menjadi terlalu besar.

Seseorang akhirnya berusaha membuat rencana yang mampu menghadapi setiap kemungkinan.

Padahal, kehidupan memiliki terlalu banyak variabel yang tidak dapat kita kendalikan.

Dalam psikologi, manusia memang cenderung tidak nyaman dengan ketidakpastian. Ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi, otak kita dapat terdorong untuk mencari informasi, membuat prediksi, dan menciptakan berbagai skenario.

Namun, semakin kita berusaha mendapatkan kepastian mutlak, semakin jelas pula bahwa kepastian tersebut sebenarnya tidak mungkin dicapai.

Rencana yang terlalu kaku bisa menjadi masalah

Bayangkan seseorang membuat jadwal belajar.

Senin pukul 19.00 belajar matematika.

Selasa pukul 19.00 belajar bahasa.

Rabu mengerjakan latihan.

Kamis membaca materi.

Semuanya tersusun dengan sangat rapi.

Namun pada hari Selasa, ia pulang terlambat.

Jadwalnya berantakan.

Karena rencana tersebut dianggap gagal, ia merasa kehilangan momentum dan akhirnya berhenti selama beberapa hari.

Padahal, masalah sebenarnya bukan pada kegagalannya mengikuti jadwal.

Masalahnya adalah ia membuat rencana yang tidak memiliki ruang untuk fleksibilitas.

Rencana yang sehat seharusnya memiliki struktur sekaligus ruang adaptasi.

Alih-alih berkata:

“Saya harus mengikuti rencana ini persis.”

lebih baik berpikir:

“Ini adalah arah yang ingin saya ikuti. Jika keadaan berubah, saya akan menyesuaikan caranya.”

Perbedaan kecil tersebut dapat mengubah cara kita menghadapi hambatan.

3. Menetapkan Target yang Terlalu Ideal

Kesalahan berikutnya adalah membuat target yang terdengar mengesankan, tetapi sebenarnya tidak realistis.

Kita sering membayangkan versi terbaik dari diri sendiri ketika menyusun rencana.

Kita membayangkan akan bangun pagi setiap hari, bekerja dengan konsentrasi penuh, tidak menunda pekerjaan, berolahraga secara rutin, makan sehat, membaca buku, dan tidur tepat waktu.

Masalahnya, manusia nyata tidak selalu berperilaku seperti versi ideal tersebut.

Kita lelah.

Kita kehilangan motivasi.

Kita sakit.

Kita mengalami masalah.

Kita memiliki pekerjaan lain.

Kita mengalami hari yang buruk.

Jika rencana hanya didasarkan pada kondisi ideal, kemungkinan besar rencana tersebut akan kesulitan bertahan ketika kehidupan nyata mulai terjadi.

Optimisme bisa membuat kita salah memperkirakan waktu

Dalam psikologi, terdapat fenomena yang dikenal sebagai planning fallacy, yaitu kecenderungan manusia untuk meremehkan waktu, biaya, atau kesulitan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sesuatu.

Misalnya, kita memperkirakan:

“Proyek ini mungkin selesai dalam tiga hari.”

Padahal pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa pekerjaan serupa sering membutuhkan satu minggu.

Mengapa kita tetap membuat perkiraan optimistis?

Karena ketika membuat rencana, kita sering lebih fokus pada skenario yang berjalan lancar daripada berbagai hambatan yang mungkin muncul.

Kita membayangkan:

“Saya akan langsung mengerjakannya.”

“Saya tidak akan terganggu.”

“Saya akan tetap termotivasi.”

“Tidak akan ada masalah.”

Padahal, pengalaman kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa gangguan hampir selalu muncul.

Cobalah menggunakan target yang lebih realistis

Daripada membuat rencana:

“Saya akan membaca 50 halaman setiap hari.”

mungkin lebih realistis mengatakan:

“Saya akan membaca minimal 10 halaman setiap hari, dan jika punya waktu lebih banyak saya bisa melanjutkannya.”

Target seperti ini memberikan ruang untuk hari-hari yang kurang ideal.

Dan yang lebih penting, keberhasilan kecil yang konsisten sering kali lebih berguna daripada target besar yang hanya bertahan beberapa hari.

4. Terlalu Banyak Membandingkan Rencana Sendiri dengan Orang Lain

Kesalahan keempat adalah menganggap bahwa metode yang berhasil untuk orang lain harus menjadi metode yang tepat untuk kita.

Di era media sosial, masalah ini menjadi semakin mudah terjadi.

Kita melihat seseorang bangun pukul lima pagi.

Seseorang lain berhasil membangun bisnis sambil bekerja penuh waktu.

Ada orang yang berhasil menurunkan berat badan dengan rutinitas tertentu.

Ada orang yang memiliki jadwal produktivitas sangat teratur.

Kemudian kita berpikir:

“Kalau saya mengikuti cara mereka, mungkin saya juga akan berhasil.”

Padahal, kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan mereka.

Kita tidak mengetahui seluruh kondisi, sumber daya, kemampuan, lingkungan, dukungan sosial, pengalaman, dan keadaan psikologis yang mereka miliki.

Akibatnya, kita bisa membuat rencana berdasarkan kehidupan orang lain, bukan berdasarkan keadaan kita sendiri.

Psikologi sosial dan perbandingan

Manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain.

Perbandingan tersebut dapat memberikan informasi dan motivasi. Namun, jika dilakukan tanpa konteks, perbandingan dapat membuat standar kita menjadi tidak realistis.

Contohnya, seseorang melihat rutinitas produktivitas seorang profesional sukses dan kemudian mencoba menirunya secara keseluruhan.

Ia membuat jadwal yang sangat padat.

Awalnya bersemangat.

Namun beberapa hari kemudian kelelahan.

Kemudian ia menyimpulkan:

“Saya tidak disiplin.”

Padahal mungkin masalahnya bukan kurang disiplin.

Bisa jadi rencananya memang tidak sesuai dengan kondisi hidupnya.

Rencana yang baik harus personal

Pertanyaan yang lebih berguna bukan:

“Apa yang berhasil untuk orang lain?”

melainkan:

“Apa yang realistis untuk saya lakukan secara konsisten?”

Ini merupakan perubahan perspektif yang penting.

Tidak semua strategi yang populer harus diterapkan.

Tidak semua rutinitas produktivitas harus ditiru.

Tidak semua metode yang terlihat efektif di internet cocok untuk semua orang.

Rencana yang baik bukanlah rencana yang terlihat paling mengesankan.

Rencana yang baik adalah rencana yang bisa dijalankan oleh orang yang membuatnya.

5. Menganggap Kegagalan Rencana sebagai Kegagalan Diri Sendiri

Ini mungkin merupakan kesalahan yang paling berbahaya.

Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, seseorang bisa langsung menyalahkan dirinya sendiri.

“Berarti saya malas.”

“Saya memang tidak disiplin.”

“Saya tidak punya komitmen.”

“Saya selalu gagal.”

Padahal, kegagalan sebuah rencana tidak selalu berarti kegagalan orang yang menjalankannya.

Terkadang yang perlu diperbaiki bukan manusianya, melainkan sistemnya.

Misalnya, seseorang berencana berolahraga selama satu jam setiap hari.

Setelah beberapa minggu, ia gagal mempertahankan kebiasaan tersebut.

Ia kemudian menganggap dirinya tidak disiplin.

Namun setelah dievaluasi, ternyata ia memilih waktu latihan ketika energi sedang rendah, targetnya terlalu besar, dan ia tidak memiliki alternatif ketika jadwal pekerjaan berubah.

Dalam kondisi seperti itu, mungkin masalahnya bukan karakter.

Masalahnya adalah desain rencana.

Rencana seharusnya menjadi sesuatu yang bisa dievaluasi

Ketika sebuah rencana gagal, jangan langsung bertanya:

“Apa yang salah dengan saya?”

Cobalah bertanya:

“Bagian mana dari rencana ini yang tidak bekerja?”

Pertanyaan tersebut mengubah kegagalan menjadi informasi.

Misalnya:

Apakah target terlalu tinggi?
Apakah waktunya tidak realistis?
Apakah langkah pertama terlalu sulit?
Apakah ada terlalu banyak tugas?
Apakah lingkungan tidak mendukung?
Apakah saya terlalu bergantung pada motivasi?
Apakah saya tidak memiliki rencana ketika muncul hambatan?

Dengan cara ini, kita tidak perlu mengubah kegagalan menjadi penilaian terhadap harga diri.

Kita hanya perlu memperbaiki sistem.

Jadi, Seperti Apa Rencana yang Lebih Sehat?

Jika kelima kesalahan tersebut dirangkum, kita dapat melihat satu pola penting:

Rencana yang efektif bukanlah rencana yang sempurna.

Rencana yang efektif adalah rencana yang cukup jelas untuk memberikan arah, cukup sederhana untuk dijalankan, dan cukup fleksibel untuk menghadapi perubahan.

Anda tidak harus mengetahui semua jawabannya sebelum memulai.

Anda juga tidak harus memiliki strategi terbaik sejak awal.

Sering kali, kita justru menemukan strategi yang lebih baik setelah mencoba.

Karena itu, Anda dapat menggunakan prinsip sederhana berikut.

1. Tentukan tujuan utama

Pastikan Anda tahu apa yang sebenarnya ingin dicapai.

Jangan membuat daftar panjang tanpa prioritas.

Tanyakan:

“Apa satu hal terpenting yang ingin saya capai?”

2. Tentukan langkah pertama

Jangan langsung memikirkan 20 langkah berikutnya.

Cari langkah pertama yang benar-benar bisa dilakukan.

Semakin mudah langkah pertama dilakukan, semakin kecil hambatan untuk memulai.

3. Buat target yang realistis

Pertimbangkan kondisi Anda saat ini, bukan versi ideal diri Anda.

Rencana harus dibuat untuk kehidupan nyata.

4. Sisakan ruang untuk perubahan

Anggap perubahan sebagai bagian dari rencana, bukan sebagai gangguan terhadap rencana.

Jika sesuatu tidak berjalan sesuai jadwal, sesuaikan.

5. Evaluasi secara berkala

Rencana bukan kontrak yang tidak boleh diubah.

Jika tidak bekerja, ubah.

Jika terlalu sulit, sederhanakan.

Jika terlalu mudah, tingkatkan.

Jika keadaan berubah, sesuaikan.

Kesimpulan: Anda Tidak Membutuhkan Rencana yang Sempurna

Keinginan untuk membuat rencana yang sempurna sebenarnya bisa dimengerti.

Kita ingin merasa siap.

Kita ingin mengurangi risiko.

Kita ingin memastikan usaha yang kita lakukan tidak sia-sia.

Namun kehidupan tidak pernah memberikan kepastian penuh.

Selalu ada hal-hal yang tidak dapat diprediksi.

Selalu ada kemungkinan bahwa sesuatu akan berjalan berbeda dari yang kita bayangkan.

Karena itu, tujuan perencanaan bukanlah menghilangkan semua ketidakpastian.

Tujuan perencanaan adalah membuat kita cukup siap untuk mengambil langkah berikutnya.

Jangan sampai Anda begitu sibuk mencari cara terbaik untuk memulai hingga akhirnya tidak pernah benar-benar memulai.

Jangan sampai rencana yang seharusnya membantu justru menjadi alasan untuk menunda.

Dan jangan menganggap setiap perubahan sebagai kegagalan.

Terkadang, kemampuan untuk menyesuaikan rencana justru merupakan bagian dari keberhasilan.

Pada akhirnya, rencana yang sederhana tetapi dijalankan secara konsisten sering kali jauh lebih berharga daripada rencana sempurna yang hanya tersimpan di atas kertas.

Jadi, jika hari ini Anda sedang menyusun sebuah rencana besar, mungkin Anda tidak perlu bertanya:

“Bagaimana saya bisa membuat rencana ini sempurna?”

Cobalah bertanya:

“Apa langkah kecil yang bisa saya lakukan hari ini, lalu bagaimana saya bisa menyesuaikannya berdasarkan apa yang saya pelajari?”

Karena sering kali, kemajuan tidak dimulai ketika kita akhirnya menemukan rencana yang sempurna.

Kemajuan dimulai ketika kita berhenti menunggu kesempurnaan dan mulai bergerak.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore