Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Agustus 2026 | 22.40 WIB

8 Strategi untuk Menghadapi Gaslighting di Tempat Kerja Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang menghadapi gaslighting di tempat kerja./Magnific/katemangostar - Image

seseorang yang menghadapi gaslighting di tempat kerja./Magnific/katemangostar

JawaPos.com - Gaslighting di tempat kerja merupakan salah satu bentuk manipulasi psikologis yang dapat membuat seseorang meragukan ingatan, persepsi, penilaian, bahkan kemampuan dirinya sendiri.

Situasi ini bisa terjadi secara perlahan sehingga korban sering kali baru menyadari dampaknya setelah mengalami stres, kebingungan, kehilangan kepercayaan diri, atau merasa selalu menjadi pihak yang bersalah.

Di lingkungan kerja, gaslighting dapat muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, atasan menyangkal pernah memberikan instruksi tertentu, rekan kerja mengubah cerita setelah terjadi masalah, seseorang terus-menerus mengatakan bahwa kita “terlalu sensitif”, atau pencapaian kita dianggap tidak pernah terjadi. Jika berlangsung terus-menerus, perilaku tersebut dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis dan hubungan profesional.

Namun, menghadapi gaslighting bukan berarti harus selalu melakukan konfrontasi secara langsung. Pendekatan psikologis justru menekankan pentingnya membangun kembali kepercayaan terhadap persepsi diri, membedakan fakta dari interpretasi, menetapkan batasan, serta mencari dukungan yang objektif.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (16/8), terdapat delapan strategi yang dapat digunakan untuk menghadapi gaslighting di tempat kerja.

1. Kenali Pola Gaslighting, Bukan Hanya Satu Kejadian

Langkah pertama adalah memahami bahwa gaslighting biasanya lebih mudah dikenali sebagai pola perilaku daripada sebagai satu percakapan yang tidak menyenangkan.

Tidak setiap perbedaan pendapat, kritik, atau kesalahan komunikasi merupakan gaslighting. Di tempat kerja, seseorang bisa saja benar-benar lupa, salah memahami instruksi, atau memiliki perspektif berbeda.

Gaslighting menjadi lebih mengkhawatirkan ketika terdapat pola berulang seperti:

seseorang menyangkal kejadian yang sebelumnya jelas-jelas terjadi;
fakta terus-menerus diputarbalikkan;
kesalahan selalu diarahkan kepada orang lain;
pengalaman atau perasaan kita secara konsisten dianggap tidak valid;
seseorang mengatakan kita “terlalu sensitif” setiap kali menyampaikan keberatan;
standar atau aturan berubah-ubah tetapi kita disalahkan ketika tidak dapat mengikutinya;
kita dibuat merasa tidak kompeten meskipun memiliki bukti bahwa pekerjaan telah dilakukan dengan benar.

Editor: Hanny Suwindari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore