Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Agustus 2026 | 19.12 WIB

8 Alasan Mengapa Melepaskan Penderitaan Akan Menjadi Kabar Baik untuk Kesehatan Menurut Psikologi

seseorang yang berusaha melepaskan penderitaan./ Magnific/The Yuri Arcurs Collection - Image

seseorang yang berusaha melepaskan penderitaan./ Magnific/The Yuri Arcurs Collection

JawaPos.com - Ada masa ketika hidup terasa seperti perjuangan yang tidak kunjung selesai. Kita mengingat kesalahan masa lalu, memikirkan perlakuan buruk orang lain, menyesali keputusan yang sudah terjadi, atau terus bertanya mengapa sesuatu harus terjadi kepada kita.

Menariknya, psikologi menunjukkan bahwa penderitaan tidak selalu berasal dari peristiwa yang sedang terjadi. Sebagian penderitaan justru bertahan karena pikiran terus kembali pada pengalaman yang sama. Kita mungkin tidak lagi berada dalam situasi yang menyakitkan, tetapi pikiran kita masih tinggal di sana.

Melepaskan bukan berarti menyangkal apa yang terjadi. Bukan pula berarti mengatakan bahwa luka tersebut tidak penting. Melepaskan lebih dekat dengan kemampuan menerima bahwa sesuatu memang telah terjadi, mengurangi perjuangan terhadap hal yang tidak bisa diubah, dan memilih untuk tidak terus membawa beban tersebut ke dalam kehidupan sekarang.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (14/8), dari sudut pandang psikologi, kemampuan untuk melepaskan dapat membawa manfaat besar bagi kesejahteraan mental sekaligus kesehatan tubuh.

Ketika pikiran tidak terus-menerus berada dalam mode ancaman, tubuh pun mendapatkan kesempatan untuk kembali ke kondisi yang lebih tenang.

Berikut delapan alasannya.

1. Melepaskan dapat mengurangi stres yang berlangsung terus-menerus

Stres pada dasarnya merupakan respons tubuh terhadap tuntutan atau ancaman. Dalam situasi tertentu, stres sangat berguna. Ia membantu kita menjadi waspada, mempersiapkan tubuh menghadapi tantangan, dan mendorong kita mengambil tindakan.

Masalah muncul ketika tubuh dan pikiran seolah-olah tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berhenti.

Ketika seseorang terus memikirkan penghinaan yang pernah diterimanya, mengulang konflik dalam kepala, atau membayangkan berbagai kemungkinan buruk, tubuh dapat terus berada dalam keadaan siaga. Secara psikologis, peristiwa yang sudah berlalu masih terasa seperti sesuatu yang harus diselesaikan sekarang.

Editor: Hanny Suwindari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore