Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Agustus 2026 | 05.20 WIB

Jika Merasa Anak Anda Stuck dengan Hidupnya, Lakukan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi

seseorang yang membantu anaknya untuk bangkit / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Ada masa ketika seorang anak terlihat seperti kehilangan arah.

Ia tidak lagi bersemangat seperti dulu. Bangun tidur terasa berat. Sekolah, kuliah, pekerjaan, atau bahkan hal-hal sederhana yang sebelumnya ia sukai mulai terasa tidak menarik. Ketika ditanya tentang masa depan, jawabannya mungkin hanya, “Nggak tahu.”

Sebagai orang tua, kondisi seperti ini bisa sangat mengkhawatirkan.

Anda mungkin mulai berpikir, “Kenapa anak saya tidak punya motivasi?”, “Kenapa dia malas sekali?”, atau bahkan, “Dulu dia punya banyak cita-cita, sekarang kok seperti tidak ingin melakukan apa-apa?”

Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami.

Anak yang terlihat stuck belum tentu anak yang malas.

Kadang-kadang, seseorang terlihat tidak bergerak bukan karena ia tidak ingin maju, tetapi karena ia tidak tahu harus mulai dari mana. Ia mungkin takut gagal, terlalu banyak membandingkan dirinya dengan orang lain, kehilangan rasa percaya diri, merasa hidupnya tidak bermakna, atau terlalu lama berada dalam tekanan.

Karena itu, respons orang tua sangat menentukan.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (11/8), alih-alih terus mendesak, menghakimi, atau membandingkan, ada beberapa perilaku yang lebih konstruktif yang dapat dilakukan orang tua berdasarkan prinsip-prinsip psikologi.

Berikut tujuh di antaranya.

1. Berhenti Terlalu Cepat Memberi Nasihat, Mulailah Mendengarkan

Ketika anak sedang mengalami kebuntuan, naluri orang tua sering kali langsung ingin memperbaiki keadaan.

“Coba kamu cari kerja.”

“Jangan malas.”

“Kamu harus punya tujuan.”

“Lihat temanmu, mereka sudah jauh.”

“Kalau kamu terus seperti ini, masa depanmu bagaimana?”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin muncul karena orang tua merasa khawatir. Namun, ketika seseorang sedang kewalahan, terlalu banyak nasihat justru dapat membuatnya semakin menutup diri.

Karena itu, perilaku pertama yang bisa dilakukan adalah mendengarkan tanpa langsung mencoba memperbaiki semuanya.

Duduk bersama anak.

Tanyakan bagaimana keadaannya.

Lalu dengarkan.

Bukan untuk mencari kesalahan.

Bukan untuk mempersiapkan ceramah berikutnya.

Tetapi untuk benar-benar memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

Anda bisa mengatakan:

“Ayah/Ibu melihat akhir-akhir ini kamu seperti sedang kehilangan arah. Kalau kamu mau cerita, Ayah/Ibu siap mendengarkan. Tidak harus langsung mencari solusi.”

Kalimat sederhana seperti ini dapat menciptakan ruang yang lebih aman untuk berbicara.

Dalam psikologi, hubungan yang penuh penerimaan dan empati dianggap penting karena seseorang cenderung lebih mudah terbuka ketika ia merasa tidak sedang dihakimi.

Kadang-kadang, anak tidak membutuhkan orang tua yang langsung memiliki semua jawaban.

Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia berkata:

“Aku ada di sini. Ceritakan saja.”

Dan dari percakapan itulah, masalah yang sebenarnya sering kali mulai terlihat.

2. Jangan Langsung Menyebutnya Malas

Ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.

Ketika anak tidak produktif, orang tua bisa dengan mudah memberi label:

“Malas.”

“Tidak punya ambisi.”

“Tidak mau berusaha.”

“Manja.”

“Kerjanya cuma main.”

Masalahnya, label yang terus-menerus diberikan dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Bayangkan seorang anak berkali-kali mendengar bahwa dirinya malas.

Lama-kelamaan, ia mungkin tidak lagi berpikir:

“Aku sedang kesulitan.”

Tetapi:

“Memang aku orang yang malas.”

Perbedaannya sangat besar.

Kalimat pertama masih membuka kemungkinan perubahan.

Kalimat kedua mulai menjadi identitas.

Karena itu, cobalah mengganti label dengan observasi.

Daripada berkata:

“Kamu memang malas.”

Cobalah:

“Ibu melihat akhir-akhir ini kamu sulit memulai sesuatu. Menurutmu apa yang membuatnya terasa berat?”

Daripada:

“Kamu tidak punya tujuan hidup.”

Cobalah:

“Kamu kelihatannya sedang bingung menentukan arah. Bagian mana yang paling membuatmu bingung?”

Dengan cara ini, masalah ditempatkan sebagai sesuatu yang sedang dialami, bukan sebagai identitas permanen anak.

Anak bukan “orang malas”.

Ia mungkin sedang mengalami kesulitan untuk memulai.

Dan sesuatu yang sulit dimulai masih bisa dipelajari.

3. Bantu Anak Memulai dari Tujuan yang Sangat Kecil

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah meminta seseorang yang sedang kehilangan arah untuk langsung memiliki tujuan besar.

“Cari passion-mu.”

“Pikirkan lima tahun ke depan.”

“Harus punya karier yang jelas.”

“Mulai membangun masa depan.”

Bagi seseorang yang sedang stuck, kalimat-kalimat tersebut justru bisa terasa sangat berat.

Jika hidup terasa berantakan, memikirkan lima tahun ke depan mungkin terlalu jauh.

Karena itu, bantu anak memulai dari langkah yang kecil dan konkret.

Bukan:

“Apa tujuan hidupmu?”

Tetapi:

“Apa satu hal kecil yang bisa kamu lakukan hari ini?”

Misalnya:

bangun pada waktu yang lebih teratur,
merapikan kamar,
berjalan kaki selama 15 menit,
membaca beberapa halaman buku,
mengirim satu lamaran pekerjaan,
belajar satu keterampilan selama 20 menit,
menyelesaikan satu tugas,
bertemu dengan teman,
atau membantu pekerjaan rumah.

Tujuannya bukan membuat anak langsung menjadi sangat produktif.

Tujuannya adalah mengembalikan rasa bahwa dirinya masih mampu melakukan sesuatu.

Dalam psikologi perilaku, tindakan kecil dapat membantu menciptakan momentum. Ketika seseorang berhasil menyelesaikan satu tugas, ia memperoleh pengalaman bahwa dirinya masih mampu bertindak.

Dari satu tindakan kecil, lahir tindakan berikutnya.

Dari tindakan yang berulang, terbentuk kebiasaan.

Dan dari kebiasaan, perlahan muncul perubahan.

Jangan meremehkan langkah kecil.

Kadang-kadang, seseorang tidak membutuhkan lompatan besar.

Ia hanya membutuhkan satu langkah pertama.

4. Berikan Pilihan, Bukan Perintah Terus-Menerus

Anak yang sudah merasa kehilangan kendali atas hidupnya bisa semakin tertekan ketika semua keputusan dibuatkan untuknya.

“Kamu harus mengambil jurusan ini.”

“Kamu harus bekerja di sana.”

“Kamu harus ikut kursus itu.”

“Kamu harus melakukan ini.”

Mungkin niat orang tua adalah membantu.

Namun, manusia juga membutuhkan perasaan bahwa dirinya memiliki kendali atas hidupnya.

Dalam psikologi motivasi, kebutuhan akan autonomy, atau rasa memiliki kendali atas pilihan sendiri, merupakan salah satu faktor penting dalam motivasi.

Karena itu, daripada selalu memberikan perintah, berikan beberapa pilihan.

Misalnya:

“Kalau kamu ingin mulai bergerak lagi, menurutmu lebih nyaman mulai dari mencari pekerjaan, belajar keterampilan baru, atau memperbaiki rutinitas sehari-hari?”

Atau:

“Minggu ini kamu ingin mencoba satu kegiatan baru atau menyelesaikan satu hal yang sudah lama tertunda?”

Dengan memberikan pilihan, orang tua tetap memberikan arah tanpa mengambil seluruh kendali.

Anak belajar bahwa:

“Aku masih punya pilihan.”

Dan rasa memiliki pilihan tersebut dapat menjadi bagian penting dari proses kembali membangun motivasi.

5. Berhenti Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Ini adalah salah satu kebiasaan yang sebaiknya benar-benar dikurangi.

“Lihat anak tetangga.”

“Temanmu sudah punya pekerjaan.”

“Sepupumu sudah menikah.”

“Adikmu saja bisa.”

“Teman-temanmu sudah sukses.”

Mungkin orang tua bermaksud memotivasi.

Tetapi perbandingan sosial sering kali justru menimbulkan rasa malu, rendah diri, atau merasa tertinggal.

Setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda.

Ada orang yang menemukan arah hidupnya pada usia muda.

Ada yang baru menemukannya setelah mengalami beberapa kegagalan.

Ada yang harus mencoba berkali-kali sebelum menemukan pekerjaan yang cocok.

Ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun kepercayaan dirinya.

Karena itu, daripada membandingkan anak dengan orang lain, bandingkan anak dengan dirinya sendiri di masa lalu.

Misalnya:

“Dulu kamu kesulitan melakukan ini, sekarang sudah mulai bisa.”

“Ibu melihat sekarang kamu lebih berani berbicara daripada beberapa bulan lalu.”

“Kemarin kamu belum mau mencoba, sekarang kamu sudah mulai mencari informasi.”

Perubahan kecil seperti itu layak dihargai.

Anak tidak selalu membutuhkan pujian atas hasil besar.

Kadang-kadang, ia membutuhkan seseorang yang menyadari bahwa ia sebenarnya sedang berusaha.

6. Ciptakan Rutinitas, Bukan Tekanan

Ketika seseorang merasa hidupnya tidak terarah, hari-harinya bisa menjadi semakin tidak terstruktur.

Bangun tidak menentu.

Tidur terlalu larut.

Makan tidak teratur.

Menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar.

Tidak keluar rumah.

Tidak bertemu orang.

Kemudian malam datang, dan ia merasa hari itu kembali berlalu tanpa melakukan apa-apa.

Siklus seperti ini dapat membuat seseorang semakin sulit mendapatkan momentum.

Karena itu, orang tua dapat membantu menciptakan struktur sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak perlu langsung membuat jadwal yang sangat ketat.

Mulailah dari beberapa hal dasar:

waktu bangun yang relatif konsisten,
waktu makan yang teratur,
aktivitas fisik ringan,
waktu belajar atau bekerja,
waktu bersosialisasi,
waktu istirahat,
dan waktu tidur yang cukup.

Namun, jangan menjadikan rutinitas sebagai alat untuk mengontrol setiap menit kehidupan anak.

Tujuannya bukan:

“Kamu harus mengikuti jadwal yang Ibu buat.”

Tujuannya:

“Mari kita bantu hidupmu kembali memiliki struktur.”

Struktur memberikan titik awal.

Dan bagi seseorang yang sedang stuck, memiliki titik awal sering kali jauh lebih berguna daripada mendapatkan ceramah panjang tentang masa depan.

7. Tunjukkan Bahwa Nilai Dirinya Tidak Ditentukan oleh Kesuksesan

Ini mungkin yang paling penting.

Anak perlu tahu bahwa dirinya tetap berharga bahkan ketika hidupnya belum sesuai harapan.

Ketika seseorang gagal mendapatkan pekerjaan, gagal dalam pendidikan, kehilangan hubungan, belum menemukan tujuan, atau merasa tertinggal dari teman-temannya, ia bisa mulai menghubungkan harga dirinya dengan pencapaian.

“Aku belum sukses, berarti aku gagal.”

“Aku belum punya pekerjaan, berarti aku tidak berguna.”

“Teman-temanku sudah maju, berarti aku tertinggal.”

Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting.

Anak perlu mendengar bahwa cinta dan penerimaan tidak hanya diberikan ketika ia berhasil.

Katakan:

“Kamu tidak harus menjadi sukses dulu supaya kami bangga kepadamu.”

“Kami memang ingin melihat kamu berkembang, tetapi kami tidak mengukur nilai dirimu hanya dari pekerjaan atau pencapaianmu.”

“Kalau sekarang kamu sedang bingung, kita bisa menghadapinya pelan-pelan.”

Kalimat seperti ini bukan berarti orang tua harus membiarkan anak tanpa tanggung jawab.

Bukan berarti tidak boleh memiliki harapan.

Tetapi ada perbedaan besar antara mendorong seseorang untuk berkembang dan membuat seseorang merasa dirinya tidak berharga sampai ia berhasil.

Dukungan yang sehat dapat memberikan tempat yang aman untuk gagal, mencoba lagi, dan belajar.

Yang Sebaiknya Tidak Dilakukan Orang Tua

Ketika melihat anak stuck, beberapa respons mungkin terasa alami tetapi justru dapat memperburuk keadaan.

Hindari sebisa mungkin:

1. Mengancam

“Kalau kamu terus begini, hidupmu akan hancur.”

Ancaman mungkin membuat seseorang bergerak sesaat, tetapi belum tentu membangun motivasi yang sehat.

2. Mempermalukan

“Seharusnya kamu malu melihat teman-temanmu.”

Rasa malu bukan fondasi yang baik untuk membangun kepercayaan diri.

3. Membandingkan

“Anak orang lain saja bisa.”

Anak akhirnya bukan hanya menghadapi masalahnya, tetapi juga merasa dirinya kalah dari semua orang.

4. Mengontrol seluruh hidupnya

Orang tua boleh membimbing, tetapi anak juga perlu belajar mengambil keputusan.

5. Menganggap semua masalah sebagai kemalasan

Kadang-kadang perilaku yang tampak seperti malas sebenarnya merupakan tanda bahwa seseorang sedang mengalami tekanan, kebingungan, kelelahan, atau masalah psikologis yang membutuhkan perhatian lebih serius.

Ingat: Anak Tidak Selalu Membutuhkan Orang Tua yang Punya Semua Jawaban

Ketika anak sedang stuck, orang tua mungkin merasa panik.

Ada keinginan untuk segera memperbaiki semuanya.

Namun, proses menemukan kembali arah hidup jarang terjadi dalam satu percakapan.

Tidak ada satu kalimat ajaib yang langsung membuat seseorang mengetahui apa yang ingin ia lakukan dengan hidupnya.

Sering kali prosesnya jauh lebih sederhana dan jauh lebih lambat.

Satu percakapan.

Satu kebiasaan baru.

Satu keberanian untuk mencoba.

Satu kegagalan.

Satu pengalaman baru.

Lalu satu langkah lagi.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Kapan kamu akan sukses?”

Cobalah bertanya:

“Apa yang bisa kami lakukan agar kamu tidak merasa menghadapi semuanya sendirian?”

Pertanyaan tersebut mengubah posisi orang tua.

Dari seorang hakim menjadi pendamping.

Dari seseorang yang terus menuntut hasil menjadi seseorang yang membantu anak menemukan jalan.

Tetapi Bagaimana Jika Anak Benar-Benar Tidak Mau Melakukan Apa Pun?

Di sinilah orang tua perlu lebih berhati-hati.

Jika perubahan perilaku berlangsung lama dan disertai tanda-tanda seperti kehilangan minat terhadap hampir semua aktivitas, perubahan tidur atau makan yang signifikan, menarik diri dari orang lain, kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, merasa tidak berharga, atau berbicara tentang kematian maupun menyakiti diri, jangan langsung menyimpulkan bahwa anak hanya malas atau kurang motivasi.

Kondisi seperti itu dapat memiliki berbagai penyebab dan layak dibicarakan dengan profesional kesehatan mental atau tenaga kesehatan yang sesuai.

Orang tua tidak harus mendiagnosis anak sendiri.

Yang lebih penting adalah memperhatikan perubahan, membuka percakapan, dan mencari bantuan ketika diperlukan.

Meminta bantuan bukan berarti gagal sebagai orang tua.

Justru sebaliknya.

Itu menunjukkan bahwa Anda cukup peduli untuk tidak membiarkan anak menghadapi masalah sendirian.

Pada Akhirnya, Anak Membutuhkan Rumah yang Terasa Aman

Dunia di luar rumah sudah cukup sering membuat seseorang merasa tidak cukup.

Tidak cukup pintar.

Tidak cukup sukses.

Tidak cukup menarik.

Tidak cukup kaya.

Tidak cukup cepat.

Tidak cukup hebat.

Karena itu, rumah seharusnya tidak menjadi tempat lain yang membuat anak merasa harus membuktikan bahwa dirinya layak dicintai.

Rumah idealnya menjadi tempat di mana seseorang bisa mengatakan:

“Aku sedang bingung.”

Tanpa takut langsung dihakimi.

Bisa mengatakan:

“Aku gagal.”

Tanpa langsung dibandingkan.

Bisa mengatakan:

“Aku tidak tahu harus melakukan apa.”

Tanpa langsung disebut malas.

Dan yang paling penting, bisa merasakan:

“Aku boleh belum tahu arah hidupku, tetapi aku tidak sendirian.”

Jika anak Anda sedang stuck, jangan hanya fokus pada seberapa cepat ia bergerak.

Perhatikan juga apa yang membuatnya berhenti.

Mungkin ia membutuhkan batasan.

Mungkin ia membutuhkan rutinitas.

Mungkin ia membutuhkan kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri.

Mungkin ia membutuhkan dukungan.

Atau mungkin ia membutuhkan bantuan profesional.

Setiap anak berbeda.

Namun, satu prinsip tetap penting:

Jangan mencoba menarik anak keluar dari lubang dengan membuatnya merasa bersalah karena berada di dalamnya.

Ulurkan tangan.

Dengarkan.

Dampingi.

Bantu ia menemukan satu langkah kecil.

Kemudian, biarkan langkah berikutnya muncul perlahan.

Karena terkadang, perubahan besar dalam kehidupan seorang anak tidak dimulai dari nasihat yang panjang.

Ia dimulai dari satu kalimat sederhana:

“Tidak apa-apa kalau sekarang kamu belum tahu arahmu. Kita cari pelan-pelan.”***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore