seseorang yang berusaha menjadi pria yang baik / foto: Magnific/prostooleh
Pria yang baik bukanlah pria yang sempurna. Ia tetap memiliki kelemahan, membuat kesalahan, dan mengalami kegagalan. Namun, yang membedakannya adalah bagaimana ia belajar, bertanggung jawab, dan terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (3/8), dalam psikologi, terdapat berbagai penelitian mengenai karakter, kecerdasan emosional, hubungan interpersonal, dan perkembangan kepribadian yang menjelaskan kualitas-kualitas penting yang membuat seseorang dihormati, dipercaya, dan dicintai. Berikut delapan aturan yang dapat dijadikan pedoman.
1. Bertanggung Jawab atas Kehidupan Sendiri
Salah satu tanda kedewasaan psikologis adalah memiliki internal locus of control, yaitu keyakinan bahwa hidup kita dipengaruhi oleh keputusan dan tindakan sendiri, bukan semata-mata oleh keadaan atau orang lain.
Pria yang baik tidak sibuk mencari kambing hitam ketika mengalami kegagalan. Ia berani mengakui kesalahan, mengevaluasi penyebabnya, lalu memperbaikinya.
Bertanggung jawab juga berarti:
Menepati janji.
Menyelesaikan pekerjaan.
Mengelola keuangan dengan baik.
Tidak lari dari konsekuensi.
Orang yang bertanggung jawab akan lebih mudah dipercaya dalam hubungan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial.
Mengapa penting menurut psikologi?
Penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki rasa tanggung jawab tinggi cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih baik dan hubungan interpersonal yang lebih sehat.
2. Mampu Mengendalikan Emosi
Banyak orang menganggap pria harus selalu terlihat kuat. Padahal psikologi justru menekankan pentingnya regulasi emosi, bukan menekan emosi.
Mengendalikan emosi berarti mampu mengenali apa yang dirasakan sebelum bereaksi.
Contohnya:
Tidak langsung marah saat dikritik.
Tidak melampiaskan stres kepada pasangan.
Tidak mengambil keputusan saat emosi sedang memuncak.
Pria yang matang secara emosional memahami bahwa kemarahan hanyalah salah satu bentuk ekspresi dari rasa takut, kecewa, atau frustrasi.
Cara sederhana melatihnya:
Berhenti sejenak sebelum merespons.
Tarik napas dalam.
Identifikasi penyebab emosi.
Pilih tindakan yang paling bijaksana.
Kecerdasan emosional terbukti menjadi salah satu prediktor terbesar keberhasilan hubungan dan kepemimpinan.
3. Memiliki Integritas
Integritas berarti keselarasan antara perkataan, tindakan, dan nilai-nilai yang diyakini.
Orang yang berintegritas tetap melakukan hal yang benar meskipun tidak ada yang melihat.
Misalnya:
Tidak berbohong demi keuntungan pribadi.
Tidak mengambil hak orang lain.
Konsisten terhadap prinsip.
Dalam psikologi sosial, integritas menciptakan kepercayaan. Tanpa kepercayaan, hubungan apa pun akan sulit bertahan.
Pria yang berintegritas mungkin tidak selalu disukai semua orang, tetapi ia akan dihormati.
4. Mau Terus Belajar dan Berkembang
Psikolog Carol Dweck memperkenalkan konsep growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan pembelajaran.
Pria yang baik tidak merasa dirinya sudah tahu segalanya.
Ia bersedia:
Menerima kritik.
Belajar keterampilan baru.
Mengubah kebiasaan buruk.
Mengembangkan diri.
Sebaliknya, orang dengan pola pikir tetap (fixed mindset) cenderung mudah menyerah dan merasa harga dirinya terancam ketika gagal.
Belajar bukan hanya soal pendidikan formal, tetapi juga memperbaiki karakter setiap hari.
5. Menghormati Orang Lain
Menghormati bukan berarti selalu setuju.
Psikologi menunjukkan bahwa hubungan yang sehat dibangun di atas rasa saling menghargai.
Pria yang baik menghormati:
Orang tua.
Pasangan.
Teman.
Rekan kerja.
Pelayan restoran.
Petugas kebersihan.
Semua orang tanpa memandang status.
Cara seseorang memperlakukan orang yang tidak bisa memberinya keuntungan sering kali menjadi ukuran karakter yang sebenarnya.
Sikap hormat juga mencakup:
Mendengarkan saat orang lain berbicara.
Tidak merendahkan.
Tidak melakukan kekerasan verbal.
Menghargai perbedaan pendapat.
6. Berani Bersikap Rentan
Banyak pria tumbuh dengan keyakinan bahwa menangis adalah tanda kelemahan.
Namun psikologi modern justru menemukan bahwa kemampuan menunjukkan kerentanan merupakan tanda keberanian.
Berani mengatakan:
"Saya takut."
"Saya sedih."
"Saya salah."
"Saya butuh bantuan."
adalah bentuk kekuatan emosional.
Pria yang mampu terbuka lebih mudah membangun hubungan yang dekat dan penuh kepercayaan.
Sebaliknya, memendam semua emosi justru meningkatkan risiko stres kronis, kecemasan, bahkan depresi.
7. Menjadi Pendengar yang Baik
Kebanyakan orang mendengar untuk menjawab.
Pria yang baik mendengar untuk memahami.
Dalam komunikasi interpersonal, mendengarkan aktif meliputi:
Memberi perhatian penuh.
Tidak memotong pembicaraan.
Mengajukan pertanyaan.
Memastikan memahami maksud lawan bicara.
Kebiasaan sederhana ini membuat orang merasa dihargai.
Dalam hubungan romantis, kemampuan mendengarkan sering kali jauh lebih penting daripada kemampuan memberikan solusi.
Terkadang seseorang hanya ingin dipahami, bukan diperbaiki.
8. Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental
Pria yang baik memahami bahwa dirinya tidak dapat membantu orang lain jika dirinya sendiri sedang hancur.
Karena itu, menjaga kesehatan adalah bentuk tanggung jawab.
Beberapa kebiasaan yang dianjurkan psikologi:
Tidur cukup.
Berolahraga rutin.
Mengonsumsi makanan bergizi.
Mengelola stres.
Memiliki waktu istirahat.
Membangun hubungan sosial yang sehat.
Berkonsultasi kepada profesional bila mengalami gangguan psikologis.
Merawat kesehatan mental bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk menjaga kualitas hidup.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Banyak Pria
Selain memahami aturan di atas, penting juga mengenali beberapa kesalahan umum, seperti:
Terlalu ingin terlihat kuat hingga menekan emosi.
Menolak meminta maaf karena merasa harga diri akan turun.
Menghindari komunikasi ketika ada konflik.
Menyalahkan keadaan atas semua masalah.
Mengukur harga diri hanya dari uang atau jabatan.
Psikologi menunjukkan bahwa kebiasaan-kebiasaan tersebut justru dapat merusak hubungan, meningkatkan stres, dan menghambat perkembangan diri.
Penutup
Menjadi pria yang baik bukan tentang menjadi sempurna atau memenuhi standar maskulinitas tertentu. Yang terpenting adalah terus bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, jujur, berempati, dan mampu mengelola diri dengan baik.
Delapan aturan ini bukanlah daftar yang harus dicapai sekaligus, melainkan proses yang dapat dilatih setiap hari. Semakin seseorang berusaha memperbaiki karakter, semakin besar pula kemampuannya membangun hubungan yang sehat, dipercaya oleh orang lain, dan menjalani hidup dengan lebih bermakna.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022