seseorang yang terlalu menggebu-gebu / foto: Magnific/teksomolika
JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa begitu bersemangat, marah, jatuh cinta, cemas, atau bahagia hingga sulit berpikir jernih? Dalam kondisi seperti itu, emosi sering kali mengambil alih logika. Akibatnya, seseorang bisa mengambil keputusan yang disesali, mengucapkan kata-kata yang melukai orang lain, atau bertindak secara impulsif.
Dalam psikologi, kondisi emosi yang sangat intens merupakan hal yang wajar. Emosi sebenarnya memiliki fungsi penting, yaitu membantu manusia merespons situasi dengan cepat. Namun, ketika intensitasnya terlalu tinggi, kemampuan otak untuk berpikir rasional dapat menurun. Bagian otak yang bertanggung jawab terhadap pengambilan keputusan, yaitu korteks prefrontal, menjadi kurang optimal karena didominasi oleh respons emosional dari sistem limbik, khususnya amigdala.
Kabar baiknya, psikologi juga menawarkan berbagai strategi yang dapat membantu seseorang mengelola emosi sebelum mengambil tindakan.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (3/8), terdapat enam langkah yang dapat dilakukan ketika perasaan Anda sedang terlalu menggebu-gebu.
1. Berhenti Sejenak Sebelum Bereaksi
Langkah pertama yang paling penting adalah menghentikan reaksi spontan. Saat emosi sedang memuncak, otak cenderung memilih respons yang cepat daripada respons yang bijaksana. Itulah sebabnya banyak orang menyesal setelah mengirim pesan saat marah atau membuat keputusan besar ketika sedang sangat bahagia.
Psikolog menyarankan untuk memberikan jeda beberapa menit sebelum mengambil tindakan. Jeda ini memberi kesempatan bagi otak untuk menurunkan intensitas emosi sehingga kemampuan berpikir logis kembali bekerja.
Anda dapat mencoba teknik sederhana seperti:
Menghitung perlahan dari 1 hingga 10.
Menjauh sebentar dari situasi yang memicu emosi.
Menunda membalas pesan atau email hingga perasaan lebih stabil.
Sering kali, keputusan yang diambil setelah jeda singkat jauh lebih bijaksana dibandingkan keputusan yang dibuat dalam hitungan detik.
2. Atur Pernapasan agar Tubuh Lebih Tenang
Ketika emosi memuncak, tubuh ikut bereaksi. Detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, dan otot terasa tegang. Reaksi ini merupakan bagian dari mekanisme "fight or flight" yang diprogram oleh tubuh.
Mengatur napas secara perlahan dapat membantu mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, yaitu sistem yang bertugas menenangkan tubuh.
Salah satu teknik yang banyak digunakan adalah menarik napas selama empat hitungan, menahan napas selama empat hitungan, kemudian menghembuskannya perlahan selama enam hingga delapan hitungan.
Meski terlihat sederhana, latihan pernapasan mampu menurunkan ketegangan fisik sehingga pikiran menjadi lebih tenang. Saat tubuh rileks, kemampuan berpikir objektif pun meningkat.
3. Kenali dan Beri Nama pada Emosi yang Dirasakan
Banyak orang hanya mengatakan, "Saya sedang kesal," padahal emosi yang dirasakan bisa jauh lebih kompleks. Mungkin sebenarnya mereka merasa kecewa, takut, malu, cemburu, atau merasa tidak dihargai.
Dalam psikologi terdapat konsep yang dikenal sebagai affect labeling, yaitu memberi nama pada emosi yang sedang dirasakan. Penelitian menunjukkan bahwa proses sederhana ini dapat membantu menurunkan aktivitas emosional di otak.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
Apa sebenarnya yang saya rasakan?
Apa penyebab utama perasaan ini?
Apakah saya marah, atau sebenarnya saya merasa terluka?
Semakin spesifik Anda mengenali emosi, semakin mudah pula menemukan cara mengatasinya.
4. Jangan Langsung Mengambil Keputusan Besar
Ketika sedang diliputi emosi yang sangat kuat, baik positif maupun negatif, hindari membuat keputusan penting.
Misalnya:
Mengundurkan diri dari pekerjaan saat sedang marah.
Mengakhiri hubungan ketika sedang kecewa.
Menghabiskan banyak uang karena terlalu gembira.
Menyetujui investasi hanya karena sedang bersemangat.
Psikologi menunjukkan bahwa emosi yang sangat intens dapat mengubah cara seseorang menilai risiko. Saat marah, seseorang cenderung bertindak agresif. Saat terlalu bahagia, seseorang sering kali meremehkan kemungkinan kegagalan.
Karena itu, berikan waktu setidaknya beberapa jam atau bahkan satu malam sebelum membuat keputusan besar. Setelah emosi mereda, Anda biasanya dapat melihat situasi dengan sudut pandang yang lebih seimbang.
5. Ubah Fokus pada Fakta, Bukan Asumsi
Saat emosi menguasai pikiran, seseorang sering kali menarik kesimpulan tanpa bukti yang cukup.
Contohnya:
"Dia pasti sengaja mengabaikan saya."
"Semua orang menilai saya buruk."
"Saya pasti akan gagal."
Dalam terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT), seseorang diajak untuk membedakan antara fakta dan interpretasi.
Cobalah membuat dua kolom sederhana:
Fakta
Teman saya belum membalas pesan selama lima jam.
Asumsi
Dia marah kepada saya.
Dia tidak ingin berteman lagi.
Dengan memisahkan fakta dari asumsi, Anda dapat mengurangi kecenderungan berpikir berlebihan yang sering memperburuk emosi.
6. Salurkan Emosi dengan Cara yang Sehat
Emosi tidak perlu dipendam, tetapi juga tidak harus dilampiaskan secara merusak. Yang paling penting adalah menemukan cara yang sehat untuk mengekspresikannya.
Beberapa aktivitas yang direkomendasikan psikolog antara lain:
Menulis jurnal mengenai apa yang dirasakan.
Berjalan kaki atau berolahraga ringan.
Berbicara dengan teman yang dapat dipercaya.
Melakukan meditasi atau latihan mindfulness.
Menggambar, mendengarkan musik, atau melakukan hobi kreatif.
Aktivitas tersebut membantu mengurangi intensitas emosi sekaligus memberi ruang bagi pikiran untuk memproses pengalaman dengan lebih baik.
Mengapa Mengendalikan Emosi Sangat Penting?
Mengendalikan emosi bukan berarti menekan atau mengabaikannya. Justru sebaliknya, pengelolaan emosi adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengekspresikan perasaan secara tepat.
Orang yang memiliki regulasi emosi yang baik cenderung:
Lebih mampu menyelesaikan konflik.
Memiliki hubungan yang lebih sehat.
Mengambil keputusan dengan lebih rasional.
Lebih tahan menghadapi tekanan hidup.
Memiliki kesehatan mental yang lebih baik.
Kemampuan ini dapat dilatih seiring waktu. Semakin sering seseorang melatih kesadaran terhadap emosinya, semakin mudah pula mengendalikan respons terhadap berbagai situasi.
Kesimpulan
Perasaan yang menggebu-gebu merupakan bagian alami dari kehidupan manusia. Namun, ketika emosi menjadi terlalu intens, kemampuan berpikir jernih dapat terganggu. Oleh karena itu, penting untuk memiliki strategi dalam mengelola emosi sebelum bertindak.
Enam langkah yang dapat diterapkan adalah berhenti sejenak sebelum bereaksi, mengatur pernapasan, mengenali emosi yang dirasakan, menunda keputusan besar, membedakan fakta dari asumsi, serta menyalurkan emosi melalui cara-cara yang sehat.
Pada akhirnya, bukan emosi yang menentukan kualitas hidup seseorang, melainkan bagaimana ia merespons emosi tersebut. Dengan melatih regulasi emosi secara konsisten, Anda dapat membuat keputusan yang lebih bijaksana, menjaga hubungan dengan orang lain, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis dalam jangka panjang.