Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Juli 2026 | 22.47 WIB

Jika Anda Memiliki Seorang Anak yang Sangat Sensitif, Lakukanlah 6 Cara Ini untuk Mendukung Perkembangannya Menurut Psikologi

seseorang yang mendukung penuh anaknya / foto: Magnific/tirachardz

 

JawaPos.com - Setiap anak memiliki kepribadian yang unik. Ada anak yang berani mencoba hal-hal baru, mudah bergaul, dan tampak tidak terlalu terpengaruh oleh lingkungan. Namun, ada pula anak yang lebih peka terhadap suara, emosi orang lain, perubahan situasi, maupun kritik. Anak seperti ini sering disebut sebagai anak yang sangat sensitif atau highly sensitive child.
 
Sayangnya, masih banyak orang tua yang salah memahami sifat sensitif sebagai tanda kelemahan, manja, atau kurang mandiri. Padahal, menurut psikologi, sensitivitas bukanlah gangguan maupun kekurangan. Sensitivitas adalah salah satu karakter bawaan yang membuat seorang anak memproses informasi dan pengalaman secara lebih mendalam dibandingkan anak lainnya.

Anak yang sangat sensitif biasanya memiliki empati tinggi, perhatian terhadap detail, kreativitas yang baik, serta mampu memahami perasaan orang lain dengan lebih mendalam. Namun, mereka juga lebih mudah merasa kewalahan ketika menghadapi lingkungan yang bising, tekanan sosial, konflik, atau perubahan mendadak.

Karena itu, peran orang tua sangat penting dalam membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tangguh, dan mampu mengelola emosinya.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (25/7), terdapat enam cara yang direkomendasikan berdasarkan prinsip-prinsip psikologi perkembangan.

1. Terima Sensitivitasnya, Jangan Menganggapnya Sebagai Kelemahan

Langkah pertama yang paling penting adalah menerima bahwa setiap anak memiliki temperamen yang berbeda. Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa temperamen merupakan karakter dasar yang sebagian besar sudah tampak sejak usia dini.

Ketika orang tua terus-menerus mengatakan, "Kamu terlalu cengeng," "Jangan lebay," atau "Masa begitu saja nangis?", anak akan merasa ada yang salah dengan dirinya. Lama-kelamaan, ia belajar menekan emosinya demi memenuhi harapan orang lain.

Sebaliknya, orang tua dapat mengatakan:

"Ayah tahu kamu sedang sedih."
"Tidak apa-apa merasa takut."
"Perasaanmu penting."

Kalimat sederhana seperti ini membuat anak merasa diterima dan aman. Saat anak merasa diterima, ia lebih mudah belajar mengelola emosinya daripada sekadar menyembunyikannya.

2. Ajarkan Anak Mengenali dan Memberi Nama pada Emosinya

Menurut psikologi, kemampuan mengenali emosi merupakan dasar dari kecerdasan emosional (emotional intelligence). Anak yang mampu memahami apa yang sedang ia rasakan akan lebih mudah mengendalikan reaksinya.

Daripada langsung meminta anak berhenti menangis, bantu ia mengidentifikasi emosinya.

Misalnya:

"Apakah kamu kecewa?"
"Kamu merasa malu karena teman-teman menertawakanmu?"
"Apakah suara tadi membuatmu kaget?"

Semakin sering anak diajak mengenali emosinya, semakin berkembang kemampuan otaknya dalam mengatur respons terhadap berbagai situasi. Ia juga belajar bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi harus disalurkan dengan cara yang sehat.

3. Ciptakan Lingkungan yang Aman dan Tenang

Anak yang sangat sensitif lebih mudah mengalami kelelahan akibat rangsangan berlebihan, seperti suara keras, keramaian, jadwal yang terlalu padat, atau konflik keluarga.

Karena itu, psikologi menyarankan orang tua menciptakan lingkungan yang memberikan rasa aman.

Beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

Menjaga rutinitas harian yang konsisten.
Memberikan waktu istirahat setelah aktivitas yang melelahkan.
Mengurangi pertengkaran di depan anak.
Menyediakan sudut tenang di rumah tempat anak bisa menenangkan diri.

Lingkungan yang stabil membantu sistem saraf anak lebih rileks sehingga ia lebih siap belajar, bermain, dan berinteraksi dengan orang lain.

4. Hindari Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Kalimat seperti "Lihat kakakmu berani," atau "Temanmu saja tidak menangis," mungkin dimaksudkan sebagai motivasi. Namun, bagi anak yang sangat sensitif, perbandingan justru dapat menurunkan rasa percaya diri.

Dalam psikologi, perbandingan sosial yang dilakukan terus-menerus dapat membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik.

Lebih baik fokus pada perkembangan dirinya sendiri.

Misalnya:

"Hari ini kamu lebih berani berbicara daripada kemarin."
"Ibu bangga kamu mau mencoba meskipun masih takut."

Pujian yang berfokus pada usaha, bukan hasil, membantu membangun pola pikir berkembang (growth mindset) sehingga anak lebih berani menghadapi tantangan.

5. Ajarkan Strategi Mengelola Stres Sejak Dini

Sensitivitas bukan berarti anak harus dijauhkan dari semua tantangan. Sebaliknya, orang tua perlu membekali mereka dengan keterampilan menghadapi tekanan.

Beberapa strategi sederhana yang dapat diajarkan antara lain:

Mengatur napas ketika mulai cemas.
Menghitung sampai sepuluh sebelum bereaksi.
Menggambar atau menulis untuk mengekspresikan perasaan.
Berbicara kepada orang tua ketika merasa kewalahan.

Keterampilan ini akan menjadi bekal penting hingga anak dewasa. Ia belajar bahwa perasaan tidak nyaman bisa dihadapi dengan cara yang sehat, bukan dihindari.

6. Dukung Kelebihan yang Dimiliki Anak

Di balik sensitivitasnya, anak sering kali memiliki banyak kelebihan.

Mereka biasanya:

Memiliki empati yang tinggi.
Kreatif dalam berkarya.
Teliti terhadap detail.
Pendengar yang baik.
Peka terhadap kebutuhan orang lain.

Daripada hanya fokus pada kesulitannya, bantu anak mengembangkan kekuatan tersebut melalui kegiatan yang sesuai dengan minatnya, seperti menggambar, membaca, musik, menulis, atau aktivitas kreatif lainnya.

Ketika anak merasa kelebihannya dihargai, rasa percaya dirinya akan tumbuh. Ia tidak lagi melihat sensitivitas sebagai kelemahan, melainkan sebagai bagian dari dirinya yang berharga.

Mengapa Dukungan Orang Tua Sangat Penting?

Penelitian dalam psikologi menunjukkan bahwa anak yang memiliki orang tua responsif dan penuh kehangatan cenderung mampu mengembangkan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik. Mereka juga memiliki harga diri yang lebih tinggi, hubungan sosial yang lebih sehat, serta lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

Sebaliknya, jika anak terus-menerus dikritik karena sifat sensitifnya, ia berisiko mengalami kecemasan, menarik diri dari lingkungan sosial, atau kesulitan mengekspresikan emosinya.

Karena itu, tujuan orang tua bukan menghilangkan sensitivitas anak, melainkan membantu mereka memahami, menerima, dan mengelola karakter tersebut secara positif.

Penutup

Memiliki anak yang sangat sensitif bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Sensitivitas adalah bagian dari keunikan kepribadian yang, jika diarahkan dengan tepat, dapat menjadi kekuatan besar dalam kehidupannya.

Dengan menerima perasaannya, mengajarkan pengelolaan emosi, menyediakan lingkungan yang aman, menghindari perbandingan, melatih kemampuan menghadapi stres, dan mendukung potensi yang dimilikinya, orang tua membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tangguh, penuh empati, dan mampu menghadapi berbagai tantangan hidup.

Pada akhirnya, anak yang sangat sensitif tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang mau memahami, mendengarkan, dan mendampingi setiap langkah pertumbuhan mereka dengan kasih sayang serta kesabaran.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore