Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Juli 2026 | 22.03 WIB

Jika Anda Pernah Dikhianati oleh Teman, Lakukan 7 Cara Ini Agar Cepat Pulih Menurut Psikologi

seseorang yang dikhianati oleh teman / foto: Magnific/wayhomestudio

 

JawaPos.com - Persahabatan sering kali menjadi salah satu hubungan paling berharga dalam kehidupan. Seorang teman bukan hanya menjadi tempat berbagi cerita, tetapi juga sosok yang dipercaya untuk menemani suka dan duka. Namun, tidak semua hubungan pertemanan berjalan sesuai harapan. Ada kalanya seseorang harus menghadapi kenyataan pahit ketika teman yang selama ini dipercaya justru melakukan pengkhianatan.
 
Pengkhianatan dari seorang teman bisa berupa menyebarkan rahasia, berbohong, memanfaatkan kebaikan, mengadu domba, hingga meninggalkan kita saat sedang mengalami kesulitan. Rasa sakit yang ditimbulkan sering kali tidak kalah besar dibandingkan putusnya hubungan asmara karena yang rusak bukan hanya hubungan, melainkan juga rasa percaya.

Dalam psikologi, pengalaman dikhianati dapat memicu stres emosional, kekecewaan, kemarahan, bahkan trauma dalam membangun hubungan baru. Jika tidak dikelola dengan baik, seseorang bisa menjadi sulit mempercayai orang lain dan terus membawa luka tersebut dalam waktu yang lama.

Kabar baiknya, luka emosional akibat pengkhianatan bisa dipulihkan. Psikolog menjelaskan bahwa proses penyembuhan membutuhkan waktu, kesadaran diri, serta langkah-langkah yang sehat agar emosi tidak terus menguasai kehidupan.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (25/7), terdapat tujuh cara yang dapat dilakukan agar lebih cepat pulih setelah dikhianati oleh teman.

1. Akui dan Terima Perasaan yang Muncul

Langkah pertama adalah mengakui bahwa Anda sedang terluka. Banyak orang berusaha terlihat kuat dengan berpura-pura tidak peduli. Padahal, menekan emosi justru dapat memperpanjang proses penyembuhan.

Tidak apa-apa jika Anda merasa sedih, kecewa, marah, atau kehilangan. Semua emosi tersebut merupakan respons yang normal terhadap pengkhianatan.

Psikologi menyebut proses ini sebagai emotional acceptance, yaitu menerima emosi tanpa menghakimi diri sendiri. Ketika perasaan diterima, pikiran menjadi lebih mudah menemukan jalan keluar dibandingkan jika terus dipendam.

2. Jangan Menyalahkan Diri Sendiri

Korban pengkhianatan sering bertanya, "Apa salah saya?" atau "Mengapa saya begitu mudah percaya?"

Padahal, tindakan mengkhianati adalah pilihan yang dilakukan oleh orang lain. Meskipun setiap hubungan memiliki dinamika, Anda tidak perlu memikul seluruh kesalahan atas keputusan buruk seseorang.

Psikolog menyarankan untuk membedakan antara tanggung jawab pribadi dan perilaku orang lain. Dengan begitu, rasa bersalah yang tidak perlu dapat dikurangi sehingga proses pemulihan menjadi lebih cepat.

3. Beri Jarak dari Orang yang Menyakiti Anda

Tidak semua hubungan harus dipertahankan. Jika keberadaan seseorang justru terus mengingatkan pada rasa sakit atau membuat kondisi emosional semakin buruk, memberi jarak merupakan langkah yang sehat.

Jarak bukan berarti membenci. Sebaliknya, hal itu memberi ruang bagi pikiran dan emosi untuk kembali stabil.

Dalam psikologi, menjaga batasan atau healthy boundaries merupakan bentuk perlindungan terhadap kesehatan mental agar seseorang tidak terus mengalami luka yang sama.

4. Ceritakan kepada Orang yang Dapat Dipercaya

Memendam rasa kecewa sendirian sering membuat pikiran dipenuhi berbagai kemungkinan negatif. Oleh karena itu, cobalah berbicara dengan keluarga, sahabat lain, pasangan, atau konselor yang dapat dipercaya.

Berbagi cerita bukan bertujuan mencari pembenaran, melainkan membantu melepaskan beban emosional.

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki peran penting dalam menurunkan tingkat stres serta mempercepat pemulihan setelah mengalami pengalaman yang menyakitkan.

5. Fokus pada Pengembangan Diri

Pengkhianatan memang menyakitkan, tetapi jangan biarkan pengalaman tersebut menghentikan pertumbuhan diri.

Alihkan energi untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat, seperti membaca buku, berolahraga, mempelajari keterampilan baru, mengikuti pelatihan, atau mengejar tujuan yang sempat tertunda.

Aktivitas positif membantu otak memproduksi hormon yang berkaitan dengan suasana hati yang lebih baik. Selain itu, keberhasilan kecil dalam pengembangan diri dapat mengembalikan rasa percaya diri yang sempat menurun.

6. Belajar Memaafkan demi Ketenangan Diri

Memaafkan sering disalahartikan sebagai menerima kembali orang yang telah menyakiti. Padahal, dalam psikologi, memaafkan lebih berkaitan dengan melepaskan beban emosional yang terus menguras energi.

Memaafkan bukan berarti melupakan atau membenarkan tindakan mereka. Sebaliknya, Anda memilih untuk tidak lagi membiarkan kemarahan mengendalikan hidup.

Proses ini membutuhkan waktu. Tidak ada kewajiban untuk memaafkan secara instan. Yang terpenting adalah perlahan-lahan melepaskan rasa dendam agar hati menjadi lebih tenang.

7. Bangun Kembali Kepercayaan Secara Bertahap

Setelah dikhianati, wajar jika muncul ketakutan untuk mempercayai orang lain. Namun, jangan biarkan satu pengalaman buruk membuat Anda menutup diri dari semua hubungan.

Bangun kembali kepercayaan secara perlahan. Mulailah dengan mengenal karakter seseorang lebih dalam sebelum memberikan kepercayaan penuh.

Psikolog menekankan bahwa hubungan yang sehat dibangun melalui konsistensi, komunikasi yang baik, serta saling menghargai. Pengalaman pahit dapat menjadi pelajaran untuk lebih bijak memilih lingkungan pertemanan, bukan alasan untuk menghindari semua orang.

Mengapa Pengkhianatan Terasa Sangat Menyakitkan?

Secara psikologis, rasa sakit akibat pengkhianatan muncul karena harapan dan kepercayaan yang telah dibangun tiba-tiba runtuh. Otak memandang pengkhianatan sebagai ancaman terhadap rasa aman dalam hubungan sosial.

Akibatnya, seseorang dapat mengalami stres, sulit tidur, kehilangan semangat, bahkan terus mengingat kejadian tersebut dalam waktu lama. Kondisi ini merupakan reaksi yang normal, terutama jika hubungan pertemanan telah berlangsung bertahun-tahun.

Karena itu, penting untuk memberi waktu bagi diri sendiri untuk sembuh tanpa memaksakan proses.

Jadikan Pengalaman sebagai Pelajaran, Bukan Penjara

Setiap orang mungkin pernah bertemu dengan teman yang tulus maupun teman yang hanya datang saat membutuhkan. Pengalaman dikhianati memang meninggalkan luka, tetapi bukan berarti hidup akan selalu dipenuhi orang-orang yang mengecewakan.

Gunakan pengalaman tersebut sebagai pelajaran untuk mengenali karakter seseorang, menetapkan batasan yang sehat, dan lebih menghargai hubungan yang benar-benar positif.

Ingatlah bahwa proses penyembuhan tidak selalu berjalan cepat. Ada hari-hari ketika Anda merasa sudah baik-baik saja, lalu tiba-tiba kembali mengingat kejadian tersebut. Itu adalah bagian yang normal dari proses pemulihan.

Pada akhirnya, orang yang paling berhak mendapatkan ketenangan adalah diri Anda sendiri. Jangan biarkan kesalahan orang lain merampas kebahagiaan dan kesempatan Anda untuk membangun hubungan yang lebih sehat di masa depan.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore