seseorang yang panik saat menerima telepon / foto: Magnific/benzoix
JawaPos.com - Di era komunikasi digital, panggilan telepon seharusnya menjadi hal yang biasa. Namun, bagi sebagian orang, bunyi telepon yang berdering justru memicu rasa cemas, panik, bahkan keinginan untuk mengabaikannya. Mereka lebih nyaman membalas pesan singkat daripada harus berbicara secara langsung melalui telepon.
Fenomena ini dikenal sebagai phone anxiety atau kecemasan saat menerima atau melakukan panggilan telepon. Meski belum termasuk diagnosis gangguan mental tersendiri, psikologi menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut sering kali berkaitan dengan karakter, pola pikir, pengalaman hidup, serta tingkat kecemasan seseorang.
Penting untuk dipahami bahwa tidak semua orang yang menghindari telepon memiliki masalah psikologis. Ada yang sekadar lebih nyaman berkomunikasi lewat teks. Namun, jika rasa panik muncul secara berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, hal itu bisa menjadi sinyal bahwa ada faktor psikologis yang mendasarinya.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (17/7), terdapat tujuh karakter atau kecenderungan kepribadian yang sering ditemukan pada orang yang merasa panik saat menerima panggilan telepon.
1. Cenderung Memiliki Tingkat Kecemasan yang Tinggi
Salah satu karakter yang paling umum adalah memiliki tingkat kecemasan (anxiety) yang relatif tinggi.
Orang dengan kecenderungan ini sering kali membayangkan berbagai kemungkinan buruk sebelum mengangkat telepon. Mereka khawatir akan menerima kabar buruk, dimarahi, diminta melakukan sesuatu yang sulit, atau tidak mampu menjawab pertanyaan lawan bicara.
Akibatnya, pikiran mereka dipenuhi skenario negatif bahkan sebelum percakapan dimulai. Semakin lama telepon berdering, semakin meningkat pula rasa panik yang mereka rasakan.
Dalam psikologi, pola berpikir seperti ini disebut sebagai catastrophizing, yaitu kecenderungan membayangkan hasil terburuk dari suatu situasi yang sebenarnya belum tentu terjadi.
2. Berkepribadian Introvert dan Mudah Kehabisan Energi Sosial
Tidak semua introvert takut berbicara melalui telepon. Namun, banyak individu introvert memang lebih menyukai komunikasi yang memberi mereka waktu untuk berpikir sebelum merespons.
Melalui pesan teks, seseorang dapat menyusun kalimat dengan tenang. Sebaliknya, saat berbicara lewat telepon, mereka harus memberikan jawaban secara spontan.
Tekanan untuk merespons secara langsung inilah yang kadang membuat sebagian introvert merasa tidak nyaman.
Perlu diingat, introvert bukan berarti pemalu atau antisosial. Mereka hanya memperoleh energi dengan cara yang berbeda dibandingkan individu yang lebih ekstrovert.
3. Perfeksionis dan Takut Melakukan Kesalahan
Kepribadian perfeksionis juga sering berkaitan dengan kecemasan saat menerima telepon.
Mereka ingin setiap jawaban terdengar tepat, sopan, dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Sayangnya, percakapan telepon berlangsung secara spontan sehingga tidak ada kesempatan untuk mengedit ucapan seperti saat mengirim pesan.
Karena takut salah berbicara, mereka justru memilih untuk tidak mengangkat telepon sama sekali.
Perfeksionisme yang berlebihan sering membuat seseorang menunda tindakan karena merasa belum cukup siap.
4. Sangat Sensitif terhadap Penilaian Orang Lain
Orang yang sangat memperhatikan penilaian orang lain biasanya lebih mudah merasa gugup ketika harus berbicara secara langsung.
Mereka sering berpikir:
"Bagaimana kalau suaraku terdengar aneh?"
"Bagaimana kalau aku salah bicara?"
"Bagaimana kalau lawan bicara menganggapku tidak kompeten?"
Ketakutan terhadap evaluasi sosial ini merupakan salah satu pemicu utama kecemasan dalam komunikasi verbal.
Akibatnya, mereka lebih memilih media komunikasi yang memungkinkan mereka berpikir lebih lama sebelum memberikan respons.
5. Pernah Memiliki Pengalaman Buruk Melalui Telepon
Pengalaman masa lalu juga dapat membentuk respons emosional seseorang.
Misalnya, seseorang pernah menerima kabar duka melalui telepon, sering dimarahi oleh atasan lewat panggilan, mengalami penipuan, atau pernah mendapatkan pengalaman yang sangat tidak menyenangkan ketika menerima telepon.
Otak kemudian mengaitkan bunyi dering telepon dengan pengalaman negatif tersebut.
Inilah yang disebut sebagai proses pembelajaran melalui asosiasi, yaitu ketika pengalaman emosional di masa lalu memengaruhi respons terhadap situasi serupa di masa depan.
6. Memiliki Kepercayaan Diri yang Rendah
Individu dengan rasa percaya diri yang rendah sering kali meragukan kemampuan mereka sendiri.
Sebelum mengangkat telepon, mereka mungkin berpikir:
"Bagaimana kalau aku tidak tahu harus menjawab apa?"
"Bagaimana kalau aku terdengar bodoh?"
"Bagaimana kalau aku membuat percakapan menjadi canggung?"
Keraguan terhadap diri sendiri membuat percakapan sederhana terasa jauh lebih menegangkan daripada kenyataannya.
Semakin sering telepon dihindari, semakin besar pula rasa takut yang berkembang.
7. Lebih Menyukai Situasi yang Dapat Dikendalikan
Sebagian orang merasa nyaman ketika mereka mengetahui apa yang akan terjadi.
Telepon menghadirkan unsur ketidakpastian. Mereka tidak tahu siapa yang menelepon, apa tujuan panggilannya, berapa lama percakapan akan berlangsung, atau informasi apa yang akan disampaikan.
Bagi individu yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap kepastian dan kontrol, situasi yang tidak dapat diprediksi seperti ini dapat memicu rasa cemas.
Sebaliknya, komunikasi melalui pesan memberikan rasa kendali yang lebih besar karena mereka bisa membaca, berpikir, dan membalas sesuai waktu yang diinginkan.
Apakah Kondisi Ini Selalu Berbahaya?
Jawabannya adalah tidak.
Banyak orang memilih menghindari panggilan telepon hanya karena preferensi komunikasi. Hal tersebut merupakan bagian dari variasi normal dalam kepribadian.
Namun, jika rasa panik sudah menyebabkan seseorang tidak mampu menjawab telepon penting, mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, maka kondisi tersebut layak mendapatkan perhatian lebih.
Dalam situasi seperti itu, berkonsultasi dengan psikolog dapat membantu mengidentifikasi penyebab yang mendasari sekaligus mempelajari strategi untuk mengurangi kecemasan.
Cara Mengurangi Rasa Takut Menerima Telepon
Psikolog umumnya menyarankan beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi kecemasan, antara lain:
Mulailah dengan menerima panggilan dari orang yang paling dipercaya.
Siapkan poin-poin pembicaraan sebelum menelepon.
Latih percakapan singkat secara bertahap agar rasa percaya diri meningkat.
Ingatkan diri bahwa tidak ada percakapan yang harus selalu berjalan sempurna.
Jika kecemasan sangat berat dan berlangsung lama, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional.
Kesimpulan
Merasa panik saat menerima panggilan telepon bukan berarti seseorang lemah atau antisosial. Dalam psikologi, kebiasaan tersebut lebih sering berkaitan dengan kombinasi sifat kepribadian, pengalaman hidup, pola pikir, dan tingkat kecemasan yang dimiliki seseorang.
Tujuh karakter yang sering dikaitkan dengan kondisi ini meliputi kecenderungan memiliki tingkat kecemasan tinggi, sifat introvert, perfeksionisme, sensitivitas terhadap penilaian orang lain, pengalaman negatif di masa lalu, rendahnya rasa percaya diri, serta kebutuhan yang tinggi terhadap kepastian dan kontrol.
Memahami penyebab di balik rasa takut tersebut merupakan langkah awal untuk mengatasinya. Dengan latihan bertahap, dukungan dari orang terdekat, dan bantuan profesional bila diperlukan, banyak orang dapat menjadi lebih nyaman berkomunikasi melalui telepon tanpa harus dikuasai rasa panik.***