Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 18 Juli 2026 | 03.20 WIB

8 Alasan Mengapa Perilaku Scroll Media Sosial Kian Hari Makin Menjadi Masalah Menurut Psikologi

seseorang yang tak menyadari masalah dari scroll media sosial / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Beberapa tahun terakhir, kebiasaan membuka media sosial selama "hanya lima menit" sering kali berubah menjadi satu hingga dua jam tanpa disadari. Aktivitas yang dikenal sebagai doomscrolling atau endless scrolling telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari jutaan orang. Fitur infinite scroll, video pendek, hingga algoritma yang terus menyajikan konten baru membuat pengguna sulit berhenti.

Dari sudut pandang psikologi, perilaku ini bukan sekadar persoalan kurang disiplin. Otak manusia memang dirancang untuk mencari informasi baru, hadiah (reward), dan rangsangan yang menarik. Ketika media sosial memanfaatkan mekanisme tersebut secara terus-menerus, perilaku scrolling dapat berkembang menjadi kebiasaan yang mengganggu kesehatan mental, produktivitas, bahkan hubungan sosial.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (17/7), terdapat delapan alasan mengapa perilaku scroll media sosial semakin menjadi masalah menurut ilmu psikologi.

1. Sistem Reward Otak Terus Distimulasi

Salah satu alasan utama seseorang sulit berhenti scrolling adalah karena media sosial mengaktifkan sistem penghargaan (reward system) di otak.

Setiap kali menemukan video lucu, komentar menarik, atau mendapatkan notifikasi baru, otak melepaskan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa senang dan antisipasi terhadap hadiah.

Yang membuatnya semakin adiktif adalah hadiah tersebut tidak datang secara pasti. Kadang kontennya membosankan, tetapi tiba-tiba muncul video yang sangat menarik. Pola hadiah yang tidak menentu ini dikenal dalam psikologi sebagai variable reward, mekanisme yang juga ditemukan pada mesin judi.

Akibatnya, pengguna terus berpikir:

"Mungkin video berikutnya lebih menarik."

Inilah yang membuat seseorang terus menggeser layar tanpa tujuan yang jelas.

2. Scroll Tanpa Henti Membentuk Kebiasaan Otomatis

Dalam psikologi perilaku, kebiasaan terbentuk melalui siklus:

Pemicu (cue)
Perilaku (routine)
Hadiah (reward)

Misalnya:

Bosan → buka Instagram
Menunggu kendaraan → buka TikTok
Sebelum tidur → buka media sosial

Lama-kelamaan otak tidak lagi membutuhkan keputusan sadar. Jari secara otomatis membuka aplikasi ketika muncul sedikit rasa bosan.

Inilah yang disebut sebagai automatic behavior.

Semakin sering perilaku diulang, semakin kuat jalur kebiasaan tersebut sehingga seseorang merasa "refleks" membuka media sosial tanpa benar-benar berniat melakukannya.

3. Perhatian Menjadi Semakin Pendek

Media sosial modern didominasi oleh video berdurasi 10–60 detik.

Setiap beberapa detik pengguna menerima:

informasi baru,
gambar baru,
suara baru,
emosi baru.

Akibatnya, otak terbiasa menerima stimulasi yang cepat.

Dalam psikologi kognitif, kondisi ini dapat mengurangi kemampuan sustained attention, yaitu kemampuan mempertahankan fokus pada satu tugas dalam waktu lama.

Dampaknya antara lain:

sulit membaca buku,
cepat bosan saat belajar,
tidak sabar menonton video panjang,
sering berpindah pekerjaan sebelum selesai.

Otak akhirnya lebih menyukai hiburan instan dibanding aktivitas yang membutuhkan konsentrasi mendalam.

4. Terjadi Perbandingan Sosial yang Berlebihan

Menurut Social Comparison Theory yang dikembangkan Leon Festinger, manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain.

Media sosial memperbesar kecenderungan tersebut.

Yang terlihat di layar biasanya adalah:

liburan terbaik,
pencapaian terbesar,
wajah paling menarik,
hubungan paling romantis,
kesuksesan finansial.

Padahal yang tidak terlihat adalah:

kegagalan,
stres,
konflik,
kesepian,
proses panjang di balik pencapaian tersebut.

Ketika seseorang terus membandingkan kehidupan nyata dengan "versi terbaik" kehidupan orang lain, muncul berbagai perasaan negatif seperti:

minder,
iri,
tidak puas,
merasa tertinggal,
harga diri menurun.

5. Doomscrolling Meningkatkan Kecemasan

Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus membaca berita negatif atau konten yang memicu kecemasan.

Secara psikologis, manusia memiliki negativity bias, yaitu kecenderungan memberi perhatian lebih besar pada informasi negatif dibanding informasi positif.

Karena itulah berita seperti:

bencana,
kriminalitas,
konflik,
krisis ekonomi,
penyakit,

lebih mudah menarik perhatian.

Semakin lama seseorang mengonsumsi konten semacam ini, semakin tinggi kemungkinan muncul:

rasa cemas,
takut,
stres,
kelelahan mental.

Ironisnya, meskipun membuat tidak nyaman, otak justru terdorong mencari lebih banyak informasi sebagai bentuk usaha mendapatkan rasa aman.

6. Mengganggu Kualitas Tidur

Banyak orang mengakhiri hari dengan scrolling di tempat tidur.

Dari perspektif psikologi dan ilmu tidur, kebiasaan ini bermasalah karena:

otak tetap aktif menerima stimulasi,
muncul rasa penasaran terhadap konten berikutnya,
emosi menjadi naik turun,
sulit memasuki kondisi relaksasi.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore