Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 Juli 2026 | 17.50 WIB

7 Alasan Mengapa Sebagian Orang yang Benar Baik Hati Akhirnya Tidak Memiliki Teman Dekat Saat Mereka Bertambah Tua Menurut Psikologi

seseorang yang tidak memiliki teman baik saat menua./Magnific/stefamerpik - Image

seseorang yang tidak memiliki teman baik saat menua./Magnific/stefamerpik

JawaPos.com - Banyak orang beranggapan bahwa semakin baik seseorang, semakin banyak pula teman yang akan dimilikinya. Sekilas, anggapan ini terdengar masuk akal. Orang yang ramah, suka membantu, dan mudah memaafkan seharusnya menjadi sosok yang disenangi banyak orang.

Namun, kenyataan hidup sering kali menunjukkan hal yang berbeda. Tidak sedikit orang yang dikenal sangat baik hati justru menghabiskan masa dewasanya dengan lingkaran pertemanan yang semakin kecil, bahkan nyaris tidak memiliki teman dekat sama sekali.

Fenomena ini bukan berarti kebaikan adalah kelemahan atau membuat seseorang tidak disukai. Dalam psikologi, hubungan sosial dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari batasan pribadi, perubahan prioritas hidup, hingga dinamika emosional yang berkembang seiring bertambahnya usia.

Menjadi orang baik memang bisa membuka pintu bagi banyak hubungan. Tetapi mempertahankan persahabatan yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar sifat baik hati. Diperlukan keseimbangan antara memberi, menerima, menetapkan batasan, dan memilih orang yang tepat untuk berada dalam hidup.

Dilansir dari Hack Spirit pada Minggu (12/7), terdapat tujuh alasan psikologis mengapa sebagian orang yang benar-benar baik hati justru kehilangan teman dekat ketika usia mereka semakin bertambah.

1. Mereka Terlalu Sering Mengutamakan Orang Lain Dibandingkan Diri Sendiri

Salah satu karakteristik orang yang sangat baik adalah kecenderungan untuk selalu mendahulukan kebutuhan orang lain.

Mereka rela membatalkan rencana pribadi, mengorbankan waktu istirahat, bahkan mengesampingkan kepentingannya sendiri demi membantu orang lain. Dalam jangka pendek, perilaku ini mungkin membuat mereka dihargai.

Namun, dalam jangka panjang, pengorbanan yang terus-menerus dapat menimbulkan kelelahan emosional atau emotional exhaustion.

Psikologi menjelaskan bahwa seseorang yang terus memberi tanpa pernah mengisi kembali energi emosionalnya akan lebih rentan mengalami stres, kejenuhan, dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore