Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Juli 2026 | 21.01 WIB

Jika Anda Melakukan 8 Hal Kecil Ini, Anak-Anak Anda yang Sudah Dewasa Akan Merasa Lebih Dicintai Menurut Psikologi

seseorang yang dicintai oleh anak yang telah dewasa / foto: Magnific/prostooleh

 

JawaPos.com - Ketika anak masih kecil, menunjukkan kasih sayang terasa lebih mudah. Pelukan, ciuman di dahi, atau menemani mereka bermain menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Namun, ketika mereka tumbuh dewasa, hubungan antara orang tua dan anak ikut berubah. Mereka mulai memiliki kehidupan sendiri, pekerjaan, pasangan, bahkan keluarga.

Banyak orang tua mengira bahwa anak yang sudah dewasa tidak lagi membutuhkan perhatian seperti dulu. Padahal, berbagai penelitian dalam psikologi menunjukkan bahwa kebutuhan dasar manusia untuk merasa dicintai, diterima, dan dihargai tidak pernah benar-benar hilang. Bentuknya saja yang berubah.

Menariknya, rasa dicintai tidak selalu berasal dari hadiah mahal atau pengorbanan besar. Justru tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali memberikan dampak emosional yang jauh lebih mendalam.

Dilansir dari Hack Spirit pada Jumat (10/7), terdapat delapan kebiasaan sederhana yang dapat membuat anak-anak Anda yang sudah dewasa merasa lebih dicintai.

1. Mendengarkan Tanpa Langsung Menghakimi atau Memberi Solusi

Banyak orang tua memiliki naluri untuk segera memperbaiki masalah anak. Ketika anak bercerita tentang pekerjaan, hubungan, atau kesulitan hidup, respons pertama sering kali berupa nasihat.

Padahal, psikologi komunikasi menunjukkan bahwa manusia sering kali lebih membutuhkan validasi dibandingkan solusi instan.

Ketika anak berkata, "Aku sedang stres dengan pekerjaanku," mereka belum tentu meminta Anda mencarikan jalan keluar. Mereka mungkin hanya ingin didengar.

Cobalah memberikan respons seperti:

"Pasti berat ya."
"Terima kasih sudah mau cerita."
"Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa begitu."

Kalimat sederhana seperti ini membuat anak merasa emosinya diterima, bukan diabaikan.

2. Menghubungi Mereka Tanpa Ada Maksud Tertentu

Tidak semua komunikasi harus memiliki tujuan.

Mengirim pesan singkat seperti:

"Semoga harimu menyenangkan."
"Tadi lihat makanan favoritmu jadi ingat kamu."
"Jaga kesehatan ya."

Mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa detik, tetapi efek emosionalnya bisa bertahan lama.

Dalam psikologi hubungan, perhatian spontan memperkuat rasa keterikatan karena menunjukkan bahwa seseorang dipikirkan bahkan ketika tidak ada kepentingan tertentu.

3. Menghargai Pilihan Hidup Mereka

Anak yang sudah dewasa akan mengambil keputusan yang mungkin berbeda dengan harapan orang tua.

Mereka mungkin memilih karier yang tidak biasa, tinggal di kota lain, menikah lebih lambat, atau bahkan memiliki pandangan hidup yang berbeda.

Menghargai bukan berarti selalu setuju.

Menghargai berarti mengakui bahwa mereka berhak menentukan arah hidupnya sendiri.

Kalimat seperti:

"Ayah dan Ibu mungkin memilih jalan yang berbeda, tetapi kami percaya kamu sudah memikirkannya dengan matang."

dapat memberikan rasa aman yang luar biasa.

4. Mengucapkan Terima Kasih Kepada Mereka

Sering kali orang tua lupa bahwa anak yang sudah dewasa juga memberikan banyak hal.

Mereka membantu ketika orang tua sakit, menemani saat dibutuhkan, memberikan perhatian, bahkan sekadar meluangkan waktu untuk berkunjung.

Mengucapkan "terima kasih" mungkin terdengar sederhana, tetapi tindakan ini menunjukkan penghargaan.

Dalam hubungan keluarga, rasa dihargai meningkatkan kedekatan emosional dan mengurangi kesan bahwa perhatian anak adalah kewajiban semata.

5. Menghormati Batasan Mereka

Psikologi modern menekankan pentingnya batasan (boundaries) yang sehat.

Anak yang sudah dewasa memiliki hak atas:

waktu pribadi,
privasi,
keputusan rumah tangga,
cara mendidik anak mereka sendiri,
serta kehidupan sosial mereka.

Menghormati batasan bukan berarti menjaga jarak.

Sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa Anda menghormati mereka sebagai individu yang mandiri.

Ironisnya, semakin dihormati batasannya, semakin besar kemungkinan anak ingin tetap dekat dengan orang tuanya.

6. Menunjukkan Rasa Bangga Secara Terbuka

Banyak orang tua merasa bangga, tetapi jarang mengungkapkannya.

Padahal, mendengar kalimat seperti:

"Ayah bangga padamu."
"Ibu senang melihat usahamu."
"Kamu sudah bekerja keras."

memiliki dampak psikologis yang besar.

Pujian yang tulus meningkatkan rasa percaya diri sekaligus memperkuat hubungan emosional.

Yang terpenting, fokuslah pada usaha dan karakter mereka, bukan hanya pencapaiannya.

7. Meminta Maaf Ketika Melakukan Kesalahan

Tidak ada orang tua yang sempurna.

Mungkin ada saat-saat ketika Anda pernah berkata terlalu keras, membuat keputusan yang melukai perasaan anak, atau tidak hadir ketika mereka membutuhkan.

Sebagian orang tua menganggap meminta maaf akan mengurangi wibawa.

Faktanya justru sebaliknya.

Permintaan maaf yang tulus menunjukkan kedewasaan emosional dan memberikan contoh bahwa setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya.

Kalimat sederhana seperti:

"Ayah minta maaf kalau dulu membuatmu merasa tidak didengar."

bisa menjadi awal penyembuhan hubungan yang telah lama menyimpan luka.

8. Menikmati Waktu Bersama Tanpa Tekanan

Tidak semua pertemuan keluarga harus membahas pekerjaan, pernikahan, cucu, atau pencapaian hidup.

Sesekali, cukup nikmati kebersamaan.

Menonton film bersama.

Minum kopi.

Memasak.

Berjalan santai.

Mengobrol tentang hal-hal ringan.

Psikologi menunjukkan bahwa pengalaman positif bersama menciptakan kenangan emosional yang memperkuat ikatan keluarga lebih efektif daripada percakapan yang penuh kritik atau tuntutan.

Mengapa Hal-Hal Kecil Ini Sangat Berarti?

Dalam ilmu psikologi, hubungan yang sehat dibangun melalui akumulasi pengalaman positif yang terjadi berulang kali.

Bukan satu hadiah besar.

Bukan satu percakapan emosional.

Melainkan ratusan tindakan kecil yang mengirimkan pesan yang sama:

"Aku peduli padamu."

Setiap kali Anda mendengarkan tanpa menghakimi, menghormati keputusan mereka, atau sekadar mengirim pesan singkat untuk menanyakan kabar, Anda sedang memperkuat rasa aman emosional yang menjadi fondasi hubungan jangka panjang.

Anak-anak yang sudah dewasa mungkin tidak lagi meminta digendong, ditemani ke sekolah, atau dibacakan cerita sebelum tidur. Namun, mereka tetap ingin mengetahui bahwa orang tua mereka selalu ada—bukan untuk mengendalikan hidup mereka, melainkan untuk mendukung, menerima, dan mencintai mereka apa adanya.

Penutup

Kasih sayang tidak selalu diukur dari seberapa besar pengorbanan yang dilakukan. Dalam banyak kasus, justru perhatian kecil yang diberikan secara konsisten meninggalkan kesan paling mendalam.

Mendengarkan dengan penuh perhatian, menghargai pilihan hidup, mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika salah, serta meluangkan waktu tanpa tuntutan adalah tindakan sederhana yang dapat mempererat hubungan antara orang tua dan anak yang telah dewasa.

Pada akhirnya, setiap orang—berapa pun usianya—ingin merasa dicintai tanpa syarat. Dan sering kali, rasa itu hadir bukan melalui kata-kata yang megah, melainkan melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan tulus setiap hari.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore