
seseorang yang jarang merasa benar-benar dicintai (Magnific/yanalya)
JawaPos.com - Masa kecil sering kali menjadi fondasi bagi cara seseorang memandang dirinya sendiri, orang lain, dan dunia di sekitarnya. Ketika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, perhatian, dan dukungan emosional, ia cenderung mengembangkan rasa aman yang sehat. Namun, tidak semua orang memiliki pengalaman seperti itu.
Sebagian orang tumbuh dengan kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Mereka mungkin memiliki orang tua yang sibuk, dingin secara emosional, terlalu kritis, tidak konsisten dalam memberikan perhatian, atau bahkan tidak pernah secara terbuka menunjukkan kasih sayang. Akibatnya, anak tersebut tumbuh tanpa benar-benar merasakan bahwa dirinya dicintai dan dihargai.
Menurut berbagai penelitian dalam psikologi perkembangan dan teori keterikatan (attachment theory), pengalaman ini dapat meninggalkan jejak yang bertahan hingga masa dewasa. Menariknya, banyak orang tidak menyadari bahwa beberapa kebiasaan atau pola perilaku yang mereka miliki saat ini sebenarnya berakar pada pengalaman emosional di masa kecil.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat delapan perilaku yang sering ditunjukkan oleh orang yang jarang merasa benar-benar dicintai saat kecil.
1. Sulit Menerima Pujian atau Apresiasi
Ketika seseorang tumbuh tanpa banyak validasi emosional, ia sering kali mengembangkan keyakinan bawah sadar bahwa dirinya tidak cukup baik.
Akibatnya, saat orang lain memberikan pujian, mereka merasa tidak nyaman atau bahkan curiga. Alih-alih menerima pujian dengan sederhana, mereka mungkin merespons dengan:
"Ah, biasa saja."
"Saya cuma beruntung."
"Tidak sehebat itu kok."
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai bentuk rendahnya self-worth atau harga diri. Karena sejak kecil mereka jarang merasa dihargai, pujian terasa bertentangan dengan citra diri yang telah lama terbentuk.
2. Terlalu Mandiri dan Sulit Meminta Bantuan
Sekilas, kemandirian terlihat sebagai sifat positif. Namun pada sebagian orang, kemandirian yang berlebihan justru merupakan mekanisme bertahan hidup.
Mereka belajar sejak dini bahwa kebutuhan emosional mereka tidak selalu dipenuhi. Karena itu, mereka mulai percaya bahwa satu-satunya orang yang bisa diandalkan adalah diri sendiri.
Saat dewasa, mereka cenderung:
Menanggung masalah sendirian.
Enggan meminta bantuan.
Merasa tidak nyaman bergantung pada orang lain.
Di balik sikap "saya bisa sendiri" sering kali tersimpan ketakutan akan penolakan atau kekecewaan.
3. Selalu Mencari Validasi dari Orang Lain
Ironisnya, sebagian orang yang kurang mendapatkan kasih sayang justru tumbuh menjadi individu yang sangat haus akan pengakuan.
Mereka mungkin terus-menerus mencari tanda bahwa mereka disukai, dihargai, atau diterima.
Contohnya:
Terlalu memikirkan komentar orang lain.
Merasa cemas jika tidak mendapatkan respons.
Mengukur nilai diri berdasarkan penilaian lingkungan.
Hal ini terjadi karena kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi pada masa kecil masih berusaha dipenuhi melalui hubungan dan pencapaian saat dewasa.
4. Takut Ditinggalkan
Rasa takut ditinggalkan merupakan salah satu dampak paling umum dari kurangnya kelekatan emosional yang aman saat kecil.
Mereka mungkin sering khawatir bahwa:
Pasangan akan meninggalkan mereka.
Teman akan menjauh.
Orang yang mereka cintai akan kehilangan minat.
Bahkan dalam hubungan yang sebenarnya sehat, mereka bisa merasa cemas berlebihan hanya karena pesan yang belum dibalas atau perubahan kecil dalam perilaku pasangan.
Ketakutan ini biasanya bukan tentang situasi saat ini, melainkan luka emosional lama yang belum sepenuhnya sembuh.
5. Sulit Mempercayai Orang Lain
Kepercayaan terbentuk ketika seorang anak belajar bahwa orang-orang terdekatnya konsisten dalam memberikan rasa aman dan dukungan.
Jika pengalaman itu tidak ada, seseorang mungkin tumbuh dengan asumsi bahwa orang lain pada akhirnya akan mengecewakan mereka.
Akibatnya, mereka:
Sulit membuka diri.
Menyimpan masalah sendiri.
Curiga terhadap niat baik orang lain.
Membutuhkan waktu lama untuk mempercayai seseorang.
Mereka tidak selalu ingin menjaga jarak, tetapi pengalaman masa lalu membuat mereka merasa bahwa berhati-hati adalah cara terbaik untuk melindungi diri.
6. Menjadi People Pleaser
Banyak orang yang kurang merasakan cinta saat kecil belajar bahwa kasih sayang harus "diperjuangkan".
Mereka mulai percaya bahwa mereka hanya akan diterima jika selalu menyenangkan orang lain.
Saat dewasa, hal ini dapat terlihat melalui kebiasaan:
Sulit mengatakan tidak.
Mengutamakan kebutuhan orang lain.
Takut membuat orang kecewa.
Menghindari konflik dengan segala cara.
Meskipun terlihat baik hati, perilaku ini sering kali membuat mereka mengabaikan kebutuhan dan kesejahteraan diri sendiri.
7. Terlalu Keras pada Diri Sendiri
Anak yang tumbuh dengan kritik berlebihan atau minim apresiasi sering kali menginternalisasi suara kritis tersebut.
Ketika dewasa, suara itu berubah menjadi dialog internal yang sangat keras.
Mereka mungkin:
Menyalahkan diri sendiri atas kesalahan kecil.
Sulit merasa puas dengan pencapaian.
Terus mengejar kesempurnaan.
Merasa harus bekerja lebih keras daripada orang lain untuk layak dihargai.
Psikolog menyebut kondisi ini sebagai self-criticism yang kronis, yaitu kecenderungan terus-menerus menghakimi diri sendiri secara negatif.
8. Merasa Kesepian Bahkan Saat Bersama Orang Lain
Salah satu dampak emosional yang paling mendalam adalah perasaan kesepian yang sulit dijelaskan.
Seseorang mungkin memiliki:
Teman yang baik.
Pasangan yang peduli.
Keluarga yang mendukung.
Namun, mereka tetap merasa ada jarak emosional yang tidak terlihat.
Hal ini terjadi karena sejak kecil mereka tidak memiliki pengalaman yang cukup tentang koneksi emosional yang aman dan mendalam. Akibatnya, mereka terkadang kesulitan mempercayai bahwa orang lain benar-benar menerima mereka apa adanya.
Apakah Perilaku Ini Berarti Seseorang Mengalami Masa Kecil yang Buruk?
Tidak selalu.
Psikologi tidak melihat perilaku manusia melalui satu penyebab tunggal. Banyak faktor lain yang dapat memengaruhi kepribadian seseorang, termasuk temperamen bawaan, pengalaman hidup, budaya, lingkungan sosial, dan hubungan yang dibangun saat dewasa.
Selain itu, menunjukkan satu atau dua perilaku dalam daftar ini bukan berarti seseorang pasti kurang dicintai saat kecil. Yang lebih penting adalah melihat pola yang konsisten dan bagaimana pola tersebut memengaruhi kualitas hidup serta hubungan dengan orang lain.
Penutup
Pengalaman masa kecil memiliki pengaruh yang kuat, tetapi tidak menentukan seluruh masa depan seseorang. Banyak orang yang tumbuh tanpa merasa benar-benar dicintai berhasil membangun kehidupan yang sehat, hubungan yang hangat, dan rasa percaya diri yang kuat ketika dewasa.
Langkah pertama adalah menyadari pola-pola yang mungkin terbentuk sejak lama. Kesadaran ini dapat membantu seseorang memahami dirinya dengan lebih baik, mengembangkan hubungan yang lebih sehat, dan memberikan kepada dirinya sendiri kasih sayang yang mungkin dulu tidak sempat ia terima.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
