Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 Mei 2026 | 14.51 WIB

Orang yang Jarang Merasa Benar-benar Dicintai Saat Kecil Biasanya Menunjukkan 8 Perilaku Ini Saat Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang merasa tidak benar-benar dicintai / foto: Magnific/Frolopiaton Palm - Image

seseorang yang merasa tidak benar-benar dicintai / foto: Magnific/Frolopiaton Palm

JawaPos.com - Pengalaman masa kecil memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang berpikir, merasakan, dan berhubungan dengan orang lain saat dewasa. Dalam bidang Psikologi Perkembangan, banyak penelitian menunjukkan bahwa kurangnya rasa dicintai secara emosional di masa kecil—bukan sekadar kebutuhan fisik—dapat membentuk pola perilaku tertentu di kemudian hari.

Bukan berarti semua orang dengan pengalaman masa kecil seperti ini pasti “bermasalah”. Namun, ada kecenderungan pola psikologis yang sering muncul sebagai bentuk adaptasi diri terhadap lingkungan emosional yang kurang hangat atau tidak konsisten.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (12/5), terdapat delapan perilaku yang sering terlihat pada orang dewasa yang jarang merasa benar-benar dicintai saat kecil.

1. Sulit Mempercayai Orang Lain

Salah satu dampak paling umum adalah kesulitan membangun kepercayaan. Mereka cenderung waspada berlebihan terhadap niat orang lain, bahkan ketika tidak ada ancaman nyata.

Secara psikologis, ini sering muncul karena pengalaman awal di mana kebutuhan emosional tidak konsisten dipenuhi, sehingga otak belajar bahwa kedekatan tidak selalu aman.

2. Takut Ditolak atau Ditinggalkan

Orang dengan latar belakang ini sering memiliki sensitivitas tinggi terhadap penolakan. Hal-hal kecil seperti balasan pesan yang terlambat atau perubahan nada bicara bisa memicu kecemasan.

Ketakutan ini biasanya berakar dari pengalaman masa kecil ketika perhatian dan kasih sayang terasa tidak stabil atau bersyarat.

3. Terlalu Mandiri atau Sulit Bergantung pada Orang Lain

Mereka sering terlihat “kuat” dan mandiri, tetapi di balik itu ada kesulitan untuk benar-benar bergantung pada orang lain.

Ini adalah mekanisme perlindungan diri: jika dulu bergantung pada orang lain terasa tidak aman, maka menjadi mandiri secara ekstrem dianggap lebih aman.

4. Sulit Mengekspresikan Emosi

Banyak yang tumbuh dengan belajar bahwa emosi tidak selalu diterima atau dipahami. Akibatnya, saat dewasa mereka bisa kesulitan mengungkapkan perasaan, bahkan kepada orang terdekat.

Kadang mereka merasa canggung, takut dianggap lemah, atau tidak terbiasa memproses emosi secara terbuka.

5. Mencari Validasi dari Luar

Orang yang kurang mendapatkan validasi emosional di masa kecil sering mencari pengakuan dari lingkungan luar saat dewasa.

Hal ini bisa muncul dalam bentuk kebutuhan untuk selalu dipuji, takut dikritik, atau terlalu bergantung pada pendapat orang lain untuk merasa berharga.

6. Sulit Menjalin Hubungan yang Stabil

Dalam hubungan romantis maupun pertemanan, mereka bisa mengalami pola naik-turun yang intens—misalnya sangat dekat lalu tiba-tiba menjauh.

Ini berkaitan dengan pola keterikatan emosional (attachment style) yang terbentuk sejak kecil, terutama jika ada ketidakstabilan dalam hubungan dengan pengasuh utama.

7. Merasa “Tidak Cukup Baik” Meski Sudah Berhasil

Banyak individu dengan pengalaman ini mengalami apa yang disebut “imposter feelings”—perasaan bahwa pencapaian mereka tidak benar-benar pantas atau hanya kebetulan.

Akar masalahnya sering berasal dari masa kecil ketika apresiasi atau cinta tidak diberikan secara konsisten terhadap usaha mereka.

8. Kesulitan Menerima Cinta yang Tulus

Ironisnya, ketika ada orang yang benar-benar peduli, mereka justru bisa merasa tidak nyaman atau curiga.

Cinta yang stabil dan sehat terasa asing bagi sistem emosional yang terbiasa dengan ketidakpastian, sehingga muncul kebingungan: “Apakah ini benar-benar tulus?”

Penutup

Penting untuk dipahami bahwa pola-pola ini bukanlah “vonis permanen”. Dalam psikologi modern, manusia dipandang memiliki kemampuan untuk berubah melalui pengalaman baru yang konsisten dan hubungan yang sehat.

Dengan kesadaran diri, dukungan emosional, dan kadang bantuan profesional, pola yang terbentuk di masa kecil bisa dipahami ulang dan diperbaiki secara bertahap.

Yang paling penting: masa lalu memang membentuk kita, tetapi tidak harus menentukan seluruh masa depan kita.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore