Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Juli 2026 | 20.57 WIB

9 Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Menjauhkan Anak-Anak yang Sudah Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang menjauhkan anaknya yang telah dewasa / foto: Magnific/freepik

 

JawaPos.com - Ketika anak masih kecil, orang tua menjadi pusat dunia mereka. Segala cerita, keluhan, hingga keputusan selalu melibatkan ayah dan ibu. Namun, seiring bertambahnya usia, hubungan tersebut akan berubah. Anak-anak tumbuh menjadi individu yang mandiri, memiliki keluarga sendiri, pekerjaan, serta tanggung jawab yang semakin besar.

Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang merasa hubungan dengan anak menjadi renggang. Telepon semakin jarang, kunjungan berkurang, bahkan percakapan terasa kaku. Banyak yang mengira penyebabnya adalah kesibukan atau jarak tempat tinggal. Padahal, menurut berbagai penelitian psikologi, sering kali ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang tanpa disadari membuat anak dewasa memilih menjaga jarak.

Bukan berarti anak tidak menyayangi orang tuanya. Justru dalam banyak kasus, mereka tetap mencintai orang tuanya, tetapi merasa hubungan tersebut terlalu melelahkan secara emosional.

Dilansir dari Hack Spirit pada Jumat (10/7), terdapat sembilan kebiasaan kecil yang diam-diam dapat menjauhkan anak-anak yang sudah dewasa menurut sudut pandang psikologi.

1. Terlalu Sering Memberikan Kritik, Bahkan untuk Hal-Hal Kecil

Sebagian orang tua percaya bahwa mengkritik adalah bentuk perhatian. Mereka ingin anak menjadi lebih baik, lebih sukses, atau tidak mengulangi kesalahan.

Namun, ketika kritik muncul hampir setiap kali bertemu, anak dewasa bisa merasa dirinya tidak pernah cukup baik.

Komentar seperti:

"Kamu sekarang tambah gemuk."
"Seharusnya kamu ambil pekerjaan yang lebih bagus."
"Cara mendidik anakmu kurang tepat."

Mungkin terdengar sepele, tetapi jika terus berulang, lama-kelamaan anak akan menghindari percakapan karena takut kembali dihakimi.

Psikologi menunjukkan bahwa hubungan yang dipenuhi evaluasi negatif cenderung menciptakan stres dan mengurangi kedekatan emosional.

2. Tidak Menghargai Batasan Pribadi

Saat anak masih kecil, orang tua memang mengatur hampir seluruh aspek kehidupannya. Namun ketika mereka dewasa, mereka membutuhkan ruang untuk mengambil keputusan sendiri.

Beberapa contoh pelanggaran batas yang sering terjadi antara lain:

Datang ke rumah tanpa memberi kabar.
Memaksa mengetahui semua urusan pribadi.
Ikut campur dalam keputusan rumah tangga.
Menuntut jawaban atas setiap pilihan hidup.

Dalam psikologi keluarga, menghormati batasan merupakan salah satu fondasi hubungan yang sehat. Anak yang merasa batasannya dihormati justru lebih nyaman untuk tetap dekat.

3. Selalu Ingin Menjadi yang Paling Benar

Setiap keluarga tentu memiliki perbedaan pendapat. Masalah muncul ketika orang tua tidak pernah mau mengakui kemungkinan dirinya salah.

Kalimat seperti:

"Pokoknya ikuti kata orang tua."
"Orang tua selalu lebih tahu."
"Jangan membantah."

Dapat membuat diskusi berubah menjadi hubungan satu arah.

Anak dewasa biasanya menginginkan komunikasi yang setara. Mereka ingin didengarkan, bukan sekadar diperintah.

4. Menggunakan Rasa Bersalah sebagai Alat Mengendalikan

Ini termasuk kebiasaan yang sering tidak disadari.

Misalnya mengatakan:

"Ibu sudah berkorban banyak buat kamu."
"Sekarang kamu lupa sama orang tua."
"Kalau kamu sayang keluarga, kamu pasti datang."

Kalimat seperti ini dapat membuat anak merasa bersalah, tetapi bukan merasa lebih dekat.

Psikologi menyebut pola ini sebagai guilt-tripping, yaitu menggunakan rasa bersalah untuk memengaruhi perilaku orang lain. Dalam jangka panjang, strategi ini justru mendorong anak mengurangi interaksi agar tidak terus-menerus merasa tertekan.

5. Terlalu Sering Membandingkan Anak

Perbandingan bisa terjadi dengan saudara kandung, sepupu, teman, bahkan tetangga.

Misalnya:

"Adikmu sudah punya rumah."
"Temanmu kariernya lebih bagus."
"Lihat anak tetangga, lebih perhatian."

Meskipun dimaksudkan sebagai motivasi, perbandingan justru membuat anak merasa identitasnya tidak pernah dihargai.

Menurut psikologi perkembangan, setiap individu membutuhkan penerimaan tanpa syarat agar hubungan keluarga tetap hangat.

6. Sulit Menghargai Pilihan Hidup Anak

Setiap generasi memiliki cara pandang yang berbeda.

Pilihan pekerjaan, pasangan hidup, gaya mengasuh anak, hingga tempat tinggal sering kali tidak sesuai harapan orang tua.

Jika setiap keputusan selalu disambut dengan kritik atau penolakan, anak akan belajar bahwa berbagi cerita hanya menghasilkan konflik.

Akhirnya mereka memilih diam.

Bukan karena tidak peduli, tetapi karena ingin menjaga ketenangan hubungan.

7. Jarang Mengakui Kesalahan atau Meminta Maaf

Banyak orang tua dibesarkan dengan keyakinan bahwa meminta maaf kepada anak dapat mengurangi wibawa.

Padahal, penelitian psikologi menunjukkan bahwa permintaan maaf yang tulus justru memperkuat hubungan.

Kalimat sederhana seperti:

"Ayah salah waktu itu."
"Maaf kalau ucapan ibu menyakitimu."

Dapat menjadi langkah besar untuk memulihkan kepercayaan.

Sebaliknya, jika setiap konflik selalu dianggap kesalahan anak, luka emosional dapat bertahan hingga bertahun-tahun.

8. Tidak Benar-Benar Mendengarkan

Sering kali orang tua bertanya tentang kehidupan anak, tetapi sebelum anak selesai berbicara, mereka sudah memberikan nasihat.

Akibatnya, anak merasa:

Tidak didengar.
Tidak dipahami.
Tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaannya.

Dalam psikologi komunikasi, mendengarkan secara aktif merupakan salah satu cara paling efektif membangun kedekatan emosional.

Terkadang, anak tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya ingin didengar tanpa dihakimi.

9. Menganggap Kasih Sayang Tidak Perlu Diungkapkan

Banyak orang tua berasal dari generasi yang menunjukkan cinta melalui tindakan, bukan kata-kata.

Mereka bekerja keras, memenuhi kebutuhan keluarga, dan berkorban demi anak. Namun, mereka jarang mengucapkan:

"Ayah bangga padamu."
"Ibu sayang kamu."
"Terima kasih sudah datang."

Padahal, anak yang sudah dewasa tetap membutuhkan validasi emosional.

Ungkapan kasih sayang yang sederhana dapat memperkuat ikatan keluarga dan membuat anak merasa selalu memiliki tempat yang aman untuk pulang.

Mengapa Kebiasaan Kecil Bisa Berdampak Besar?

Dalam psikologi, hubungan tidak hancur hanya karena satu peristiwa besar. Lebih sering, hubungan perlahan berubah akibat akumulasi pengalaman kecil yang terus berulang.

Satu kritik mungkin bisa dilupakan.

Satu komentar yang menyakitkan mungkin bisa dimaklumi.

Namun ketika hal tersebut terjadi selama bertahun-tahun, anak mulai mengasosiasikan kehadiran orang tua dengan rasa lelah, cemas, atau tidak nyaman.

Akibatnya, mereka membatasi komunikasi, mengurangi kunjungan, atau hanya berbicara seperlunya.

Cara Memperbaiki Hubungan dengan Anak Dewasa

Kabar baiknya, hubungan keluarga hampir selalu bisa diperbaiki selama kedua belah pihak masih memiliki keinginan untuk saling memahami.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

Dengarkan tanpa terburu-buru memberi nasihat.
Hargai keputusan anak meskipun berbeda dengan keinginan Anda.
Kurangi kritik dan perbanyak apresiasi.
Berikan ruang bagi anak untuk menjalani kehidupannya sendiri.
Jangan menggunakan rasa bersalah untuk mendapatkan perhatian.
Berani meminta maaf jika memang melakukan kesalahan.
Luangkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati.
Tunjukkan kasih sayang melalui kata-kata maupun tindakan.

Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali jauh lebih bermakna daripada hadiah besar atau nasihat panjang.

Penutup

Hubungan antara orang tua dan anak yang sudah dewasa bukan lagi hubungan yang didasarkan pada kendali, melainkan rasa saling menghormati, kepercayaan, dan kedewasaan emosional.

Kesibukan memang bisa membuat frekuensi pertemuan berkurang. Namun, jika setiap interaksi dipenuhi kehangatan, penghargaan, dan penerimaan, anak biasanya akan tetap mencari waktu untuk hadir.

Sebaliknya, kebiasaan-kebiasaan kecil seperti terus mengkritik, melanggar batasan pribadi, menggunakan rasa bersalah, atau tidak mau mendengarkan dapat perlahan menciptakan jarak yang semakin sulit dijembatani.

Pada akhirnya, anak yang sudah dewasa tidak mengharapkan orang tua yang sempurna. Mereka hanya berharap memiliki orang tua yang mau belajar, mau mendengarkan, dan tetap menjadi tempat pulang yang penuh kasih, bukan sumber tekanan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore