Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Juli 2026 | 23.04 WIB

Orang yang Terlalu Sering Dikritik Saat Masih Kecil Seringkali Menunjukkan 7 Ciri Ini Saat Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang terlalu sering dikritik saat kecil / foto: Magnific/peoplecreations

 

JawaPos.com - Masa kecil merupakan fondasi penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. Cara orang tua, guru, maupun lingkungan memperlakukan anak dapat meninggalkan jejak yang bertahan hingga dewasa. Salah satu pengalaman yang sering kali memiliki dampak jangka panjang adalah kritik yang berlebihan.

Perlu dipahami bahwa kritik yang sehat berbeda dengan kritik yang terus-menerus. Kritik yang sehat bertujuan membimbing dan membantu anak belajar dari kesalahan. Sebaliknya, kritik yang berlebihan cenderung berfokus pada kekurangan, disampaikan dengan nada merendahkan, atau membuat anak merasa dirinya tidak pernah cukup baik.

Menurut berbagai penelitian dalam bidang psikologi perkembangan, anak yang tumbuh dalam lingkungan yang terlalu kritis dapat mengembangkan pola pikir dan perilaku tertentu yang terbawa hingga usia dewasa. Meskipun tidak semua orang mengalaminya dengan cara yang sama, ada beberapa ciri yang cukup umum ditemukan.

Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (5/7), terdapat tujuh ciri khas yang sering muncul pada orang yang terlalu sering dikritik saat masih kecil.

1. Sangat Keras pada Diri Sendiri

Salah satu dampak paling umum adalah munculnya kritik internal yang sangat kuat. Ketika kecil, seseorang mungkin sering mendengar kalimat seperti:

"Kamu selalu salah."
"Kenapa tidak bisa seperti orang lain?"
"Itu saja tidak becus."

Lama-kelamaan, suara-suara tersebut menjadi bagian dari dialog batin mereka. Saat dewasa, meski tidak ada lagi yang mengkritik, mereka tetap melakukannya sendiri.

Kesalahan kecil terasa seperti kegagalan besar. Prestasi yang sebenarnya membanggakan justru dianggap biasa saja karena mereka selalu merasa masih kurang.

Dalam psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan berkembangnya inner critic yang sangat dominan. Individu menjadi sulit memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri karena standar yang dimiliki terlalu tinggi.

2. Sulit Menerima Pujian

Orang yang sejak kecil lebih sering mendengar kritik daripada apresiasi sering kali merasa tidak nyaman ketika dipuji.

Ketika seseorang mengatakan, "Kerjamu bagus sekali," respons mereka mungkin justru:

"Ah, biasa saja."
"Masih banyak yang kurang."
"Itu cuma kebetulan."

Bukan karena mereka rendah hati, melainkan karena mereka benar-benar sulit mempercayai bahwa dirinya layak mendapatkan pengakuan.

Fenomena ini berkaitan dengan konsep self-esteem atau harga diri yang rendah. Gambaran diri yang telah terbentuk sejak kecil membuat mereka lebih mudah mempercayai kritik dibandingkan pujian.

3. Takut Melakukan Kesalahan

Bagi sebagian orang, kesalahan hanyalah bagian dari proses belajar.

Namun bagi mereka yang dibesarkan dalam lingkungan penuh kritik, kesalahan sering dipandang sebagai sesuatu yang memalukan.

Akibatnya, mereka menjadi sangat berhati-hati sebelum mengambil keputusan.

Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam memeriksa ulang pekerjaan, merasa cemas sebelum mengirim email, atau bahkan menunda memulai sesuatu karena takut hasilnya tidak sempurna.

Dalam psikologi, kecenderungan ini sering berkaitan dengan perfeksionisme yang dipicu oleh rasa takut terhadap penolakan atau hukuman.

4. Selalu Berusaha Menyenangkan Orang Lain

Anak yang sering dikritik biasanya belajar bahwa kasih sayang atau penerimaan harus "diperjuangkan."

Saat dewasa, pola ini dapat berubah menjadi kebiasaan untuk selalu menyenangkan orang lain.

Mereka sulit mengatakan "tidak", merasa bersalah ketika menolak permintaan, bahkan rela mengorbankan kebutuhan pribadi demi menjaga hubungan.

Sekilas sifat ini terlihat positif. Namun jika dilakukan terus-menerus, mereka dapat kehilangan kemampuan mengenali kebutuhan dan batasan dirinya sendiri.

Psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai people pleasing, yaitu perilaku yang didorong oleh kebutuhan memperoleh penerimaan dari orang lain.

5. Sangat Sensitif terhadap Kritik

Menariknya, orang yang sejak kecil sering dikritik justru lebih sensitif terhadap kritik ketika dewasa.

Bahkan masukan yang sebenarnya disampaikan secara baik dapat terasa seperti serangan pribadi.

Misalnya, atasan hanya memberikan saran kecil untuk memperbaiki laporan. Namun dalam pikiran mereka, hal itu diterjemahkan menjadi:

"Aku memang tidak kompeten."

Reaksi ini muncul karena pengalaman masa lalu membuat otak lebih waspada terhadap kemungkinan penolakan.

Bukan berarti mereka tidak mau belajar, melainkan sistem emosional mereka sudah terbiasa menghubungkan kritik dengan rasa sakit atau rasa malu.

6. Sulit Percaya Diri Meski Berprestasi

Tidak sedikit orang dengan pencapaian luar biasa yang diam-diam merasa dirinya tidak pantas berada di posisi tersebut.

Mereka terus merasa bahwa suatu hari nanti orang lain akan mengetahui bahwa mereka sebenarnya "tidak cukup pintar."

Perasaan ini dikenal sebagai impostor syndrome.

Meski penyebabnya bisa beragam, kritik yang berlebihan pada masa kecil dapat menjadi salah satu faktor yang memperkuat munculnya pola pikir tersebut.

Akibatnya, mereka lebih fokus pada kekurangan daripada keberhasilan yang telah diraih.

Prestasi dianggap keberuntungan, sementara kegagalan dianggap bukti bahwa mereka memang tidak mampu.

7. Sulit Menunjukkan Belas Kasih kepada Diri Sendiri

Orang yang tumbuh dengan banyak kritik sering kali belajar untuk memaafkan orang lain, tetapi sangat sulit memaafkan dirinya sendiri.

Ketika gagal, mereka cenderung berkata:

"Aku bodoh."
"Aku memang selalu mengecewakan."
"Seharusnya aku bisa lebih baik."

Padahal jika teman mereka mengalami hal yang sama, mereka justru mampu memberikan dukungan dan pengertian.

Dalam psikologi, kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan dikenal sebagai self-compassion. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat self-compassion yang tinggi berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih baik, kemampuan mengelola stres, dan ketahanan menghadapi tantangan hidup.

Sayangnya, bagi mereka yang sejak kecil terbiasa menerima kritik keras, mengembangkan belas kasih kepada diri sendiri sering kali membutuhkan proses yang tidak singkat.

Apakah Ciri-Ciri Ini Bisa Berubah?

Kabar baiknya, pengalaman masa kecil memang berpengaruh, tetapi bukan berarti menentukan seluruh masa depan seseorang.

Otak manusia memiliki kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi sepanjang hidup. Dengan kesadaran, dukungan dari lingkungan yang sehat, serta proses refleksi atau bantuan profesional bila diperlukan, seseorang dapat membangun pola pikir yang lebih positif.

Belajar mengenali suara kritik dalam diri, menggantinya dengan dialog batin yang lebih sehat, serta menerima bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan merupakan langkah penting menuju pemulihan.

Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam. Namun sedikit demi sedikit, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan dirinya sendiri.

Penutup

Sering dikritik saat masih kecil bukan berarti seseorang akan selamanya hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Namun pengalaman tersebut dapat meninggalkan pola perilaku yang memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan berinteraksi dengan orang lain.

Tujuh ciri di atas bukanlah alat untuk mendiagnosis diri, melainkan gambaran umum berdasarkan temuan psikologi mengenai dampak lingkungan pengasuhan yang terlalu kritis. Jika Anda mengenali beberapa ciri tersebut pada diri sendiri, itu bukan berarti ada yang salah dengan Anda. Bisa jadi, itu adalah cara pikiran dan emosi beradaptasi terhadap pengalaman masa lalu.

Yang terpenting, setiap orang memiliki kesempatan untuk bertumbuh. Dengan memahami asal-usul pola tersebut, kita dapat mulai membangun rasa percaya diri, mengembangkan belas kasih kepada diri sendiri, dan menciptakan kehidupan yang lebih sehat secara emosional.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore