Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Juli 2026 | 21.29 WIB

7 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Saat Terlalu Berusaha Terlihat “Kelas Atas” Menurut Psikologi

seseorang yang terlalu berusaha terlihat kelas atas / foto: Magnific/thanyakij-12

 

JawaPos.com - Keinginan untuk terlihat sukses, berkelas, dan dihormati adalah hal yang sangat manusiawi. Dalam psikologi sosial, ini sering berkaitan dengan impression management—cara seseorang mengatur citra dirinya di mata orang lain.

Masalahnya muncul ketika usaha tersebut berubah menjadi “terlalu berusaha”. Alih-alih terlihat berkelas, justru yang muncul adalah kesan tidak autentik, canggung, atau bahkan tidak percaya diri.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (3/7), terdapat tujuh kesalahan umum yang sering terjadi menurut sudut pandang psikologi.

1. Terlalu fokus pada simbol status, bukan nilai diri

Banyak orang mengira “kelas atas” identik dengan barang mahal: pakaian branded, gadget terbaru, mobil tertentu, atau tempat nongkrong eksklusif.

Dalam psikologi, ini disebut status signaling. Masalahnya, ketika simbol status menjadi fokus utama, orang cenderung mengabaikan fondasi yang lebih penting: kompetensi, karakter, dan cara berinteraksi.

Ironisnya, penelitian tentang persepsi sosial menunjukkan bahwa orang yang benar-benar percaya diri justru tidak terlalu menonjolkan simbol status secara berlebihan.

Akibatnya:

Terlihat “mencoba keras”
Interaksi terasa tidak natural
Orang lain lebih fokus pada penampilan, bukan isi percakapan
 
2. Meniru gaya hidup tanpa memahami konteks

Banyak orang meniru cara bicara, gaya hidup, atau kebiasaan kelompok sosial tertentu tanpa benar-benar memahami latar belakangnya.

Dalam psikologi, ini disebut mimicry without integration—meniru bentuk luar tanpa internalisasi nilai.

Contohnya:

Menggunakan istilah asing berlebihan tanpa konteks
Berusaha terlihat “santai mahal” padahal tidak sesuai kepribadian
Mengadopsi kebiasaan sosial tertentu hanya di permukaan

Hasilnya sering terlihat janggal, karena manusia sangat peka terhadap ketidaksesuaian antara perilaku dan kepribadian.

3. Overcompensation karena rasa kurang percaya diri

Salah satu akar paling umum dari perilaku ini adalah inferiority complex atau rasa kurang berharga yang dikompensasi berlebihan.

Orang yang merasa “kurang” secara internal cenderung:

Menonjolkan status secara berlebihan
Menghindari kesan “biasa saja”
Membuat persona sosial yang terlalu dibangun

Psikologi Adler menyebut ini sebagai upaya kompensasi yang tidak sehat—bukan mengatasi rasa kurang, tetapi menutupinya dengan citra eksternal.

4. Terlalu sering mengoreksi cara orang lain melihat dirinya

Orang yang berusaha terlihat “kelas atas” sering terlalu sadar terhadap bagaimana mereka dipersepsikan. Akibatnya, mereka:

Sering menjelaskan diri berlebihan
Mengoreksi kesalahpahaman kecil secara defensif
Terlihat ingin “mengontrol kesan”

Dalam psikologi sosial, ini disebut high self-monitoring yang tidak stabil.

Alih-alih terlihat elegan, perilaku ini justru membuat interaksi terasa tegang dan tidak spontan.

Orang yang benar-benar nyaman dengan dirinya tidak terlalu sibuk mengontrol setiap persepsi kecil.

5. Menganggap “kelas atas” berarti menjauh dari orang lain

Kesalahan lain adalah mengasosiasikan kelas sosial tinggi dengan jarak sosial.

Sebagian orang mulai:

Bersikap dingin agar terlihat eksklusif
Menghindari interaksi sederhana
Menganggap keramahan sebagai sesuatu yang “kurang elegan”

Padahal, dalam banyak studi psikologi sosial, orang dengan status sosial tinggi yang benar-benar stabil justru cenderung:

Lebih tenang dalam interaksi sosial
Tidak perlu merendahkan orang lain untuk terlihat tinggi
Memiliki social ease, bukan jarak emosional

Elegansi sosial sering muncul dari kenyamanan, bukan jarak.

6. Terlalu mengikuti tren demi validasi

Keinginan untuk terlihat “up-to-date” sering membuat seseorang mengikuti tren secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kecocokan pribadi.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan external validation dependency—ketergantungan pada pengakuan orang lain.

Tandanya:

Mengikuti tren mahal meskipun tidak sesuai kebutuhan
Merasa perlu selalu “terlihat relevan”
Takut terlihat ketinggalan

Masalahnya, orang yang terlalu bergantung pada validasi eksternal akan sulit membangun identitas yang stabil. Akhirnya, citra yang terbentuk terasa seperti “hasil tiruan algoritma sosial”, bukan kepribadian nyata.

7. Mengabaikan kesederhanaan yang justru terlihat elegan

Banyak orang lupa bahwa dalam psikologi persepsi, kesederhanaan sering dikaitkan dengan kepercayaan diri.

Ketika seseorang terlalu berusaha terlihat mewah atau berkelas:

Bahasa tubuh menjadi kaku
Pilihan kata terlalu dipikirkan
Penampilan terasa “berlebihan”

Padahal, konsep effortless impression menunjukkan bahwa orang sering menilai elegansi dari sesuatu yang terlihat alami, bukan dipaksakan.

Kesederhanaan bukan berarti rendah, tetapi menunjukkan bahwa seseorang tidak sedang “membuktikan apa pun”.

Kesimpulan

Keinginan untuk terlihat berkelas sebenarnya tidak salah. Itu adalah bagian dari kebutuhan manusia untuk diterima secara sosial.

Namun menurut psikologi sosial, masalah muncul ketika citra eksternal lebih penting daripada kenyamanan internal.

Paradoksnya, orang yang benar-benar terlihat “kelas atas” sering kali bukan yang paling berusaha, tetapi yang paling tidak sibuk membuktikan dirinya.

Kesan elegan lebih sering lahir dari:

Kepercayaan diri yang stabil
Konsistensi perilaku
Kenyamanan menjadi diri sendiri

Bukan dari usaha berlebihan untuk terlihat seperti seseorang yang “seharusnya”.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore