Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Juli 2026 | 20.19 WIB

Jika Anda Ingin Kehidupan Sehari-hari Terasa Lebih Ringan dan Tenang, Ucapkan Selamat Tinggal pada 5 Kebiasaan yang Melelahkan Ini

seseorang yang kehidupannya lebih ringan dan tenang / foto: Magnific/zavalishina

 

JawaPos.com - Di tengah rutinitas yang semakin padat, banyak orang menganggap rasa lelah sebagai sesuatu yang wajar. Kesibukan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, hingga tuntutan media sosial sering kali menjadi kambing hitam ketika energi terasa habis. Namun, psikologi menunjukkan bahwa bukan hanya banyaknya aktivitas yang membuat seseorang kelelahan. Cara berpikir dan kebiasaan sehari-hari juga memiliki peran yang sangat besar.

Tanpa disadari, ada kebiasaan-kebiasaan mental yang terus menguras energi emosional. Kebiasaan ini tidak terlihat secara fisik, tetapi dampaknya dapat membuat seseorang mudah stres, sulit menikmati hidup, kehilangan motivasi, bahkan merasa lelah meski tidak melakukan pekerjaan berat.

Kabar baiknya, kebiasaan tersebut bisa diubah. Dengan mengenali pola yang selama ini menguras energi, Anda dapat menciptakan kehidupan yang lebih ringan, lebih damai, dan lebih sehat secara mental.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (3/7), terdapat lima kebiasaan yang sebaiknya mulai ditinggalkan menurut berbagai temuan dalam psikologi.

1. Terlalu Sering Memikirkan Hal yang Belum Terjadi

Pernahkah Anda menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan kemungkinan terburuk yang bahkan belum tentu terjadi?

Misalnya, khawatir akan gagal sebelum mencoba, takut ditolak sebelum melamar pekerjaan, atau membayangkan berbagai skenario buruk saat orang terdekat belum memberi kabar.

Dalam psikologi, kecenderungan ini sering disebut sebagai catastrophizing atau membayangkan situasi secara berlebihan ke arah negatif.

Otak memang dirancang untuk mengantisipasi ancaman sebagai bentuk perlindungan diri. Namun ketika kemampuan tersebut digunakan secara berlebihan, pikiran justru terus berada dalam mode siaga. Akibatnya, tubuh melepaskan hormon stres lebih sering sehingga energi mental terkuras.

Daripada terus bertanya, "Bagaimana kalau semuanya gagal?", cobalah mengubah pertanyaan menjadi, "Apa yang bisa saya lakukan hari ini?"

Mengalihkan fokus pada tindakan nyata membantu otak merasa lebih memiliki kendali dibanding terus memikirkan kemungkinan yang belum tentu terjadi.

2. Selalu Ingin Menyenangkan Semua Orang

Bersikap baik adalah hal yang positif. Namun, ketika kebahagiaan diri sendiri selalu dikorbankan demi memenuhi harapan orang lain, kondisi tersebut justru menjadi beban.

Orang yang memiliki kebiasaan people pleasing sering kali sulit mengatakan "tidak". Mereka merasa bersalah ketika menolak permintaan, takut mengecewakan orang lain, dan selalu berusaha memenuhi ekspektasi siapa pun.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menyebabkan kelelahan emosional karena energi terus dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan orang lain, sementara kebutuhan pribadi diabaikan.

Psikologi menekankan pentingnya memiliki batasan yang sehat (healthy boundaries). Menetapkan batas bukan berarti egois. Sebaliknya, itu merupakan bentuk penghargaan terhadap waktu, tenaga, dan kesehatan mental.

Ingatlah bahwa Anda tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan semua orang. Anda hanya bertanggung jawab untuk bersikap baik tanpa mengorbankan diri sendiri.

3. Terus Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Media sosial membuat kehidupan orang lain tampak sempurna. Ada yang baru membeli rumah, naik jabatan, menikah, liburan ke luar negeri, atau memulai bisnis yang terlihat sukses.

Tanpa sadar, kita mulai bertanya-tanya mengapa hidup sendiri terasa tertinggal.

Dalam psikologi terdapat konsep social comparison, yaitu kecenderungan manusia menilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain.

Sesekali membandingkan diri memang dapat menjadi motivasi. Namun jika dilakukan setiap hari, dampaknya justru menurunkan rasa percaya diri, meningkatkan kecemasan, dan membuat seseorang sulit merasa bersyukur.

Yang sering terlupakan adalah kita hanya melihat bagian terbaik dari kehidupan orang lain. Kita tidak melihat perjuangan, kegagalan, atau masalah yang mereka alami.

Daripada membandingkan diri dengan orang lain, cobalah membandingkan diri Anda hari ini dengan diri Anda beberapa bulan atau beberapa tahun lalu.

Kemajuan sekecil apa pun tetap merupakan kemajuan yang layak dihargai.

4. Terlalu Keras Mengkritik Diri Sendiri

Banyak orang percaya bahwa bersikap keras terhadap diri sendiri akan membuat mereka menjadi lebih sukses.

Padahal berbagai penelitian psikologi menunjukkan hal yang berbeda.

Mengkritik diri secara berlebihan justru meningkatkan stres, rasa malu, dan kecemasan. Orang menjadi lebih takut mencoba karena khawatir melakukan kesalahan.

Sebaliknya, memiliki self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri terbukti membantu seseorang lebih tangguh menghadapi kegagalan.

Bayangkan seorang sahabat melakukan kesalahan. Kemungkinan besar Anda akan memberikan dukungan, bukan terus-menerus menyalahkannya.

Lalu mengapa kita sering memperlakukan diri sendiri jauh lebih buruk?

Mulailah mengganti kalimat seperti:

"Aku memang selalu gagal."

Menjadi:

"Aku melakukan kesalahan, tetapi aku bisa belajar darinya."

Perubahan cara berbicara kepada diri sendiri mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya sangat besar terhadap kesehatan mental.

5. Menganggap Istirahat sebagai Bentuk Kemalasan

Budaya produktivitas sering membuat orang merasa bersalah ketika sedang beristirahat.

Padahal tubuh dan otak membutuhkan waktu untuk memulihkan energi.

Dalam psikologi, pemulihan (recovery) merupakan bagian penting dari produktivitas. Tanpa jeda, kemampuan berkonsentrasi menurun, kreativitas melemah, emosi menjadi lebih sensitif, dan risiko mengalami kelelahan mental meningkat.

Istirahat bukan berarti berhenti berkembang.

Sebaliknya, istirahat memberikan kesempatan bagi otak untuk memproses informasi, memperbaiki fokus, dan mengembalikan energi.

Tidur yang cukup, berjalan santai, membaca buku, menikmati secangkir teh, atau sekadar duduk tanpa membuka ponsel dapat menjadi bentuk pemulihan yang sangat bermanfaat.

Orang yang mampu beristirahat dengan baik justru cenderung memiliki produktivitas yang lebih stabil dalam jangka panjang.

Mengubah Kebiasaan Memang Tidak Mudah, tetapi Sangat Mungkin

Tidak ada perubahan besar yang terjadi dalam semalam. Kebiasaan yang telah dilakukan bertahun-tahun tentu membutuhkan waktu untuk diubah.

Mulailah dari langkah kecil.

Jika biasanya Anda terus memikirkan masa depan, cobalah fokus menyelesaikan satu pekerjaan hari ini.

Jika selama ini sulit menolak permintaan orang lain, latih diri mengatakan "tidak" dengan sopan pada hal-hal yang memang berada di luar kemampuan Anda.

Jika terbiasa mengkritik diri sendiri, gantilah satu kalimat negatif menjadi kalimat yang lebih penuh empati.

Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar terhadap kualitas hidup.

Penutup

Kehidupan yang lebih ringan bukan selalu berarti memiliki lebih sedikit pekerjaan atau tanggung jawab. Sering kali, yang membuat hidup terasa berat justru berasal dari kebiasaan mental yang terus menguras energi tanpa kita sadari.

Berhenti memikirkan hal yang belum tentu terjadi, tidak lagi berusaha menyenangkan semua orang, mengurangi kebiasaan membandingkan diri, memperlakukan diri dengan lebih penuh kasih, dan memberi diri sendiri waktu untuk beristirahat merupakan langkah sederhana yang dapat membawa perubahan besar.

Pada akhirnya, hidup yang tenang bukanlah tentang memiliki kehidupan yang sempurna. Hidup yang tenang adalah tentang memiliki cara berpikir yang lebih sehat dalam menghadapi segala sesuatu yang datang.

Ketika Anda mulai melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang melelahkan tersebut, bukan hanya energi yang kembali, tetapi juga ruang untuk menikmati hidup dengan lebih utuh, lebih bahagia, dan lebih bermakna.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore