
Seseorang yang terjebak antara percaya diri berlebihan dan keangkuhan. (Freepik)
JawaPos.com - Di dunia yang ideal, kita tentu berharap bisa disukai oleh semua orang, mulai dari sahabat, rekan kerja, hingga orang asing yang baru ditemui. Namun, kenyataan hidup sering kali menunjukkan gambaran yang berbeda. Ramah atau baik saja terkadang tidak cukup, karena akan selalu ada momen di mana seseorang merasa tidak cocok atau bahkan tidak menyukai kita secara personal.
Bagi Anda yang memiliki kecenderungan selalu ingin menyenangkan orang lain (people-pleaser), penolakan sosial semacam ini tentu terasa sangat berat untuk diterima. Padahal, ketidaksukaan orang lain tidak selalu lahir dari niat buruk yang disengaja. Faktanya, banyak orang yang dijauhi justru karena menunjukkan perilaku keliru yang tidak mereka sadari dalam interaksi sehari-hari.
Para pakar psikologi hubungan mengungkapkan ada tiga kebiasaan utama yang paling sering membuat seseorang diam-diam tidak disukai dalam lingkaran sosial.
Media modern sering kali mempopulerkan stereotip "karakter arogan yang menarik" lewat tokoh-tokoh fiksi di film atau televisi. Karakter tersebut mungkin terlihat unik dan menggemaskan di layar kaca, namun realitasnya akan sangat berbeda saat dihadapkan langsung di dunia nyata.
Sikap yang condong sombong atau angkuh secara instan akan membuat lawan bicara merasa tidak nyaman dan dihargai. Sadar atau tidak, sangat penting bagi kita untuk rutin mengevaluasi bahasa tubuh dan cara menampilkan diri agar tidak memberikan kesan superior di depan orang lain.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang pendengar yang baik cenderung jauh lebih mudah disukai dalam pergaulan karena mereka mampu membuat orang lain merasa dihargai. Sebaliknya, terus-menerus membicarakan diri sendiri dan menunjukkan rentang perhatian yang pendek akan langsung mengusir ketertarikan orang lain.
Banyak individu yang gagal menyadari bahwa mereka memiliki kebiasaan mendengarkan yang buruk, seperti sibuk memikirkan kalimat balasan dibanding menyimak secara aktif. Sebuah studi ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science bahkan menunjukkan bahwa manusia rata-rata hanya mengingat sekitar setengah dari apa yang dikatakan orang lain dalam sebuah percakapan. Sifat abai dan sering membuat asumsi sepihak inilah yang memicu retaknya komunikasi.
Melampiaskan kekesalan sesekali karena hari yang buruk kepada keluarga atau sahabat terdekat adalah hal yang normal dan sehat. Namun, jika Anda menjadi sosok yang terlalu pesimis dan selalu melihat segala hal dari sudut pandang negatif, orang-orang di sekitar Anda perlahan akan menjauh.
Manusia secara alami tertarik pada individu yang memancarkan energi positif karena getaran emosi tersebut menular dan membawa kebahagiaan. Jika kehadiran Anda justru terus-menerus menurunkan suasana hati (mood) lingkungan sekitar, intensitas pertemuan dengan teman-teman dipastikan akan menurun drastis.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
