Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 Juni 2026 | 02.16 WIB

Orang dengan Jiwa Welas Asih Tinggi Biasanya Menunjukkan 6 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang memiliki jiwa welas asih (Magnific/Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang memiliki jiwa welas asih (Magnific/Freepik)

JawaPos.com - Di tengah dunia yang bergerak cepat, penuh persaingan, dan terkadang terasa acuh, kehadiran orang-orang yang penuh welas asih menjadi penyejuk yang menenangkan. Mereka mungkin tidak selalu tampil menonjol atau banyak bicara, namun kehadiran mereka mampu membawa kedamaian bagi sekitarnya.

Dalam ilmu psikologi, welas asih (compassion) bukan sekadar kebaikan biasa. Ini adalah kemampuan emosional yang mendalam, sebuah perpaduan antara empati, kesadaran diri, dan keinginan tulus untuk membantu meringankan beban orang lain, tanpa harus mengorbankan kesehatan mental atau fisik diri sendiri.

Menariknya, orang yang memiliki jiwa welas asih tinggi cenderung menunjukkan pola kepribadian yang khas. Ciri-ciri ini tidak dibuat-buat demi pujian atau pencitraan sosial, melainkan tumbuh secara alami dari kedewasaan emosional mereka.

Melansir dari Geediting, berikut adalah enam ciri kepribadian yang menurut psikologi sering melekat pada orang-orang yang berjiwa penuh welas asih:

1. Mereka Mampu Berempati Tanpa Kehilangan Jati Diri

Welas asih bukan berarti larut dalam emosi orang lain. Justru, orang yang benar-benar welas asih mampu merasakan perasaan orang lain tanpa tenggelam di dalamnya. Dalam psikologi, ini disebut empathic balance, kemampuan memahami penderitaan orang lain sambil tetap menjaga batas emosional diri sendiri.

Mereka bisa mendengarkan cerita sedih tanpa merasa harus "memperbaiki" segalanya. Mereka hadir, bukan mendominasi. Inilah yang membuat kehadiran mereka terasa aman: tidak menghakimi, tidak menggurui, dan tidak mencuri panggung penderitaan orang lain.

2. Mereka Tidak Cepat Menghakimi, Bahkan saat Berbeda Pandangan

Salah satu tanda paling kuat dari jiwa welas asih adalah kemampuan menunda penilaian. Orang-orang ini memahami bahwa setiap manusia membawa latar belakang, luka, dan cerita yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Secara psikologis, ini berkaitan dengan tingkat cognitive empathy yang tinggi, kemampuan melihat suatu situasi dari sudut pandang orang lain. Mereka mungkin tidak selalu setuju, tetapi jarang merendahkan. Bagi mereka, memahami lebih penting daripada memenangkan argumen.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore