Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 28 Juni 2026 | 04.41 WIB

Jika Seseorang Melakukan 7 Hal Ini, Sebenarnya Mereka Bukanlah Orang yang Benar-Benar Baik Menurut Psikologi

seseorang yang tidak benar-benar baik / foto: Magnific/gpointstudio - Image

seseorang yang tidak benar-benar baik / foto: Magnific/gpointstudio

JawaPos.com - "Tidak semua orang yang terlihat baik benar-benar memiliki niat yang baik." Kalimat ini mungkin terdengar sinis, tetapi psikologi menunjukkan bahwa perilaku seseorang jauh lebih penting daripada citra yang mereka tampilkan. Banyak orang mampu membangun reputasi sebagai pribadi yang ramah, murah hati, dan peduli. Namun di balik semua itu, ada pola perilaku yang justru menunjukkan karakter yang kurang sehat.

Menjadi orang baik bukan berarti tidak pernah marah, tidak pernah melakukan kesalahan, atau selalu menyenangkan semua orang. Orang baik tetap bisa kecewa, membuat kekeliruan, bahkan sesekali bersikap tegas. Perbedaannya terletak pada bagaimana mereka memperlakukan orang lain secara konsisten, terutama ketika tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (26/6), dalam psikologi, terdapat sejumlah perilaku yang sering menjadi tanda adanya manipulasi, kurangnya empati, atau kecenderungan merugikan orang lain. Jika seseorang terus-menerus melakukan perilaku berikut, maka kebaikan yang mereka tunjukkan bisa jadi hanyalah topeng.

Berikut tujuh tandanya.

1. Mereka Bersikap Baik Hanya Saat Ada Maunya

Salah satu ciri paling jelas dari orang yang tidak benar-benar baik adalah mereka hanya menunjukkan kebaikan ketika ada sesuatu yang ingin didapatkan.

Mereka akan sangat perhatian ketika membutuhkan bantuan, ingin mendapatkan promosi, meminjam uang, atau memperoleh dukungan. Namun setelah tujuannya tercapai, sikap hangat itu perlahan menghilang.

Dalam psikologi, perilaku ini dikenal sebagai hubungan yang bersifat transaksional. Orang lain dipandang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan pribadi, bukan sebagai individu yang layak dihargai.

Perhatikan pola, bukan momen. Semua orang bisa bersikap baik sesekali. Yang membedakan adalah apakah kebaikan itu tetap ada ketika tidak ada keuntungan yang diperoleh.

2. Mereka Sering Memanipulasi Perasaan Orang Lain

Manipulasi tidak selalu dilakukan dengan ancaman atau kebohongan terang-terangan. Justru bentuk manipulasi yang paling berbahaya sering kali tampak halus.

Misalnya:

Membuat orang lain merasa bersalah agar menuruti keinginannya.
Berpura-pura menjadi korban agar mendapatkan simpati.
Menggunakan rasa sayang sebagai alat untuk mengendalikan orang lain.
Memelintir fakta sehingga orang lain meragukan ingatannya sendiri.

Orang yang manipulatif biasanya pandai membaca emosi orang lain. Sayangnya, kemampuan tersebut digunakan untuk mengontrol, bukan membantu.

Hubungan yang sehat dibangun di atas kejujuran dan rasa hormat, bukan permainan emosi.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore