
seseorang yang tidak benar-benar baik / foto: Magnific/gpointstudio
JawaPos.com - "Tidak semua orang yang terlihat baik benar-benar memiliki niat yang baik." Kalimat ini mungkin terdengar sinis, tetapi psikologi menunjukkan bahwa perilaku seseorang jauh lebih penting daripada citra yang mereka tampilkan. Banyak orang mampu membangun reputasi sebagai pribadi yang ramah, murah hati, dan peduli. Namun di balik semua itu, ada pola perilaku yang justru menunjukkan karakter yang kurang sehat.
Menjadi orang baik bukan berarti tidak pernah marah, tidak pernah melakukan kesalahan, atau selalu menyenangkan semua orang. Orang baik tetap bisa kecewa, membuat kekeliruan, bahkan sesekali bersikap tegas. Perbedaannya terletak pada bagaimana mereka memperlakukan orang lain secara konsisten, terutama ketika tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh.
Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (26/6), dalam psikologi, terdapat sejumlah perilaku yang sering menjadi tanda adanya manipulasi, kurangnya empati, atau kecenderungan merugikan orang lain. Jika seseorang terus-menerus melakukan perilaku berikut, maka kebaikan yang mereka tunjukkan bisa jadi hanyalah topeng.
Berikut tujuh tandanya.
1. Mereka Bersikap Baik Hanya Saat Ada Maunya
Salah satu ciri paling jelas dari orang yang tidak benar-benar baik adalah mereka hanya menunjukkan kebaikan ketika ada sesuatu yang ingin didapatkan.
Mereka akan sangat perhatian ketika membutuhkan bantuan, ingin mendapatkan promosi, meminjam uang, atau memperoleh dukungan. Namun setelah tujuannya tercapai, sikap hangat itu perlahan menghilang.
Dalam psikologi, perilaku ini dikenal sebagai hubungan yang bersifat transaksional. Orang lain dipandang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan pribadi, bukan sebagai individu yang layak dihargai.
Perhatikan pola, bukan momen. Semua orang bisa bersikap baik sesekali. Yang membedakan adalah apakah kebaikan itu tetap ada ketika tidak ada keuntungan yang diperoleh.
2. Mereka Sering Memanipulasi Perasaan Orang Lain
Manipulasi tidak selalu dilakukan dengan ancaman atau kebohongan terang-terangan. Justru bentuk manipulasi yang paling berbahaya sering kali tampak halus.
Misalnya:
Membuat orang lain merasa bersalah agar menuruti keinginannya.
Berpura-pura menjadi korban agar mendapatkan simpati.
Menggunakan rasa sayang sebagai alat untuk mengendalikan orang lain.
Memelintir fakta sehingga orang lain meragukan ingatannya sendiri.
Orang yang manipulatif biasanya pandai membaca emosi orang lain. Sayangnya, kemampuan tersebut digunakan untuk mengontrol, bukan membantu.
Hubungan yang sehat dibangun di atas kejujuran dan rasa hormat, bukan permainan emosi.

Prediksi Skor Kolombia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Misi Los Cafeteros Lolos 16 Besar, Siap Kirim Pulang Wakil Afrika
Prediksi Skor Australia vs Mesir di 32 Besar Piala Dunia 2026: The Pharaohs Menang Tipis Lewat Duel Sengit
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Penjelasan Gol Offside Kroasia ke Gawang Portugal! Keputusan Kontroversial di 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Spanyol vs Austria: Bursa Taruhan Jagokan La Roja, Opta Klaim Peluang Menang 70,6 Persen
Kemenhub Ungkap Kronologi Putus Kontak Pesawat PK-RCY di Balinggama Papua, Pilot Dilaporkan Meninggal Dunia
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
