Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 Juni 2026 | 03.22 WIB

10 Ungkapan yang Sering Diucapkan Orang Kelas Atas Tanpa Sadar, tetapi Terdengar Menunjukkan Privilege Menurut Psikologi

seseorang yang menunjukkan privilege tanpa sadar./Magnific/katemangostar - Image

seseorang yang menunjukkan privilege tanpa sadar./Magnific/katemangostar

Jawapos.com - Tidak semua bentuk privilese terlihat dari rumah mewah, mobil mahal, atau gaya hidup glamor. Dalam psikologi sosial, privilese sering muncul melalui cara seseorang memandang dunia dan mengekspresikannya dalam percakapan sehari-hari.

 Menariknya, banyak orang yang tumbuh dengan akses ekonomi, pendidikan, atau lingkungan yang mendukung tidak menyadari bahwa beberapa kalimat yang mereka anggap biasa justru terdengar tidak realistis atau kurang peka bagi orang lain.

Psikolog menyebut fenomena ini sebagai bias titik buta privilese (privilege blind spot), yaitu kecenderungan seseorang untuk menganggap pengalaman hidupnya sebagai sesuatu yang normal dan universal, padahal tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama.

Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (13/6), terdapat 10 ungkapan yang sering diucapkan orang dari latar belakang lebih mapan tanpa menyadari bahwa kalimat tersebut dapat terdengar menunjukkan privilese.

1. “Kalau tidak bahagia dengan pekerjaanmu, ya tinggal resign saja.”

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi secara psikologis mengandung asumsi bahwa setiap orang memiliki tabungan, jaringan sosial, atau dukungan finansial yang cukup untuk menghadapi masa tanpa penghasilan.

Bagi banyak orang, pekerjaan bukan hanya soal kepuasan, melainkan kebutuhan untuk bertahan hidup. Mereka mungkin memiliki tanggungan keluarga, cicilan, atau tidak memiliki dana darurat.

Psikologi sosial menjelaskan bahwa orang yang memiliki rasa aman finansial cenderung lebih fokus pada aktualisasi diri, sedangkan orang yang menghadapi keterbatasan lebih berfokus pada kebutuhan dasar.

2. “Kalau mau sukses, semua orang punya kesempatan yang sama.”

Ungkapan ini berangkat dari keyakinan bahwa kerja keras adalah satu-satunya faktor penentu keberhasilan. Padahal, penelitian psikologi menunjukkan bahwa kesuksesan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk lingkungan keluarga, kualitas pendidikan, akses kesehatan, serta jaringan sosial.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore