Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Mei 2026 | 20.51 WIB

Jika Anda Ingin Mencintai Hidup Lagi, Ucapkan Selamat Tinggal pada 9 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang mulai mencintai hidup lagi / foto: Magnific/freepik - Image

seseorang yang mulai mencintai hidup lagi / foto: Magnific/freepik

JawaPos.com - Ada fase dalam hidup ketika semuanya terasa datar. Bangun pagi bukan lagi sesuatu yang dinanti, rutinitas terasa berat, dan hal-hal yang dulu membawa kebahagiaan kini seperti kehilangan warna.

Banyak orang mengira solusi untuk kembali mencintai hidup adalah menemukan sesuatu yang besar: pekerjaan baru, pasangan baru, liburan mahal, atau perubahan drastis lainnya. Padahal, menurut psikologi, sering kali masalahnya bukan pada apa yang kurang dalam hidup kita—melainkan pada kebiasaan kecil yang diam-diam menguras energi emosional setiap hari.

Tanpa sadar, kita bisa terjebak dalam pola pikir dan perilaku yang membuat hidup terasa lebih berat daripada seharusnya.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (20/5), jika Anda ingin kembali merasakan antusiasme, rasa syukur, dan ketenangan dalam menjalani hari, mungkin sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal pada 9 kebiasaan berikut.

1. Terlalu keras pada diri sendiri

Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa kritik diri adalah cara untuk berkembang.

Mereka berpikir, “Kalau saya tidak keras pada diri sendiri, saya akan jadi malas.”

Namun psikologi menunjukkan hal sebaliknya. Kritik diri berlebihan justru meningkatkan stres, kecemasan, dan rasa tidak pernah cukup.

Orang yang terus-menerus menghukum dirinya atas kesalahan kecil akan sulit menikmati pencapaian apa pun. Bahkan ketika berhasil, suara dalam kepala tetap berkata, “Seharusnya kamu bisa lebih baik.”

Mencintai hidup dimulai ketika Anda belajar berbicara kepada diri sendiri seperti Anda berbicara kepada seseorang yang Anda sayangi: jujur, tetapi tetap lembut.

2. Membandingkan hidup dengan orang lain

Media sosial membuat kebiasaan ini semakin mudah.

Dalam hitungan menit, Anda bisa melihat teman menikah, seseorang membeli rumah baru, orang lain liburan ke luar negeri, atau meraih pencapaian karier.

Yang jarang disadari adalah Anda sedang membandingkan kehidupan lengkap Anda dengan cuplikan terbaik milik orang lain.

Psikolog menyebut ini sebagai upward social comparison—membandingkan diri dengan orang yang terlihat “lebih baik,” yang sering memicu rasa iri, rendah diri, dan ketidakpuasan hidup.

Setiap orang memiliki timeline yang berbeda. Hidup bukan perlombaan dengan garis finish yang sama.

3. Menunda kebahagiaan

“Saya akan bahagia kalau sudah punya lebih banyak uang.”

“Saya akan menikmati hidup setelah semua masalah selesai.”

“Saya akan mulai santai ketika target ini tercapai.”

Masalahnya, selalu ada target baru.

Psikologi mengenal fenomena hedonic adaptation: manusia cepat terbiasa dengan pencapaian baru, lalu kembali merasa kurang.

Jika Anda terus menunda kebahagiaan sampai kondisi sempurna, Anda bisa menunggu sangat lama.

Belajar menikmati momen kecil—kopi pagi, obrolan hangat, udara sore, buku bagus—sering kali lebih berdampak daripada mengejar kebahagiaan besar yang abstrak.

4. Mengisi setiap waktu dengan kesibukan

Produktif memang penting, tetapi ada perbedaan antara hidup produktif dan hidup yang terus sibuk untuk menghindari diri sendiri.

Sebagian orang takut diam karena saat sunyi datang, pikiran yang selama ini dihindari ikut muncul.

Akhirnya mereka memenuhi jadwal dengan pekerjaan, scrolling tanpa henti, atau aktivitas lain.

Padahal, hidup yang dicintai bukan hidup yang selalu penuh agenda.

Anda butuh ruang untuk bernapas, berpikir, dan sekadar hadir.

Istirahat bukan kemalasan; itu kebutuhan psikologis.

5. Mengabaikan kebutuhan emosional sendiri

Sering kali kita sangat peka terhadap kebutuhan orang lain, tetapi buta terhadap kebutuhan diri sendiri.

Kita tahu kapan teman butuh dukungan, tetapi tidak sadar saat diri sendiri sudah lelah secara mental.

Anda tidak bisa terus menuang dari gelas yang kosong.

Mengabaikan emosi—sedih, marah, kecewa, lelah—tidak membuatnya hilang. Itu hanya menumpuk.

Psikologi menekankan pentingnya emotional awareness: mengenali, menerima, dan memproses emosi dengan sehat.

Terkadang yang Anda butuhkan bukan solusi besar, hanya tidur cukup, batasan sehat, dan waktu untuk memulihkan diri.

6. Berusaha menyenangkan semua orang

People-pleasing terlihat seperti kebaikan, tetapi jika berlebihan, itu bisa mengikis identitas diri.

Anda mulai mengatakan “ya” ketika sebenarnya ingin menolak.

Anda takut mengecewakan orang lain, sehingga terus mengorbankan kebutuhan pribadi.

Lama-lama muncul kelelahan emosional dan resentmen.

Tidak semua orang harus menyukai Anda. Itu bukan tugas hidup Anda.

Psikologi menunjukkan bahwa batasan yang sehat justru meningkatkan kualitas hubungan.

Mengatakan “tidak” bukan tindakan egois; itu bentuk penghormatan terhadap diri sendiri.

7. Terlalu fokus pada hal yang tidak bisa dikendalikan

Kita sering menghabiskan energi mental untuk memikirkan opini orang lain, masa lalu, atau skenario buruk yang belum tentu terjadi.

Akibatnya, hidup terasa penuh kecemasan.

Konsep locus of control dalam psikologi menjelaskan bahwa orang yang lebih fokus pada hal-hal yang dapat mereka pengaruhi cenderung memiliki kesejahteraan mental lebih baik.

Anda tidak bisa mengontrol segalanya.

Tetapi Anda bisa mengontrol respons, keputusan, dan langkah kecil berikutnya.

Kadang ketenangan datang bukan ketika hidup menjadi pasti, tetapi ketika Anda berhenti memaksa segalanya berada dalam kendali.

8. Menyimpan dendam terlalu lama

Menyimpan kemarahan terasa seperti mempertahankan keadilan.

Namun dalam praktiknya, Anda sering menjadi orang yang paling lelah karenanya.

Dendam mengikat energi emosional pada masa lalu.

Memaafkan bukan berarti membenarkan perlakuan buruk orang lain. Itu berarti Anda memilih untuk tidak lagi membiarkan kejadian tersebut terus menyewa ruang di kepala Anda secara gratis.

Sedikit lucu memang—mengizinkan seseorang tinggal di pikiran kita tanpa bayar sewa.

Melepaskan adalah hadiah untuk diri sendiri.

9. Menganggap hidup harus selalu bahagia

Ini salah satu jebakan terbesar.

Banyak orang merasa ada yang salah ketika mereka sedih, bosan, kecewa, atau kehilangan motivasi.

Padahal, emosi negatif adalah bagian alami dari pengalaman manusia.

Psikologi modern menekankan bahwa well-being bukan tentang bahagia setiap saat, tetapi kemampuan menjalani spektrum emosi dengan fleksibel.

Hidup yang dicintai bukan hidup tanpa masalah.

Itu adalah hidup yang tetap terasa bermakna, bahkan di hari-hari yang sulit.

Penutup

Mulai mencintai hidup lagi jarang datang dari satu perubahan dramatis.

Lebih sering, itu berasal dari keputusan kecil yang diulang setiap hari: berhenti terlalu keras pada diri sendiri, berhenti membandingkan, berani menetapkan batasan, dan memberi ruang bagi diri untuk menjadi manusia.

Karena terkadang, hidup sebenarnya tidak perlu “diperbaiki” sepenuhnya.

Anda hanya perlu berhenti melakukan kebiasaan-kebiasaan yang membuatnya terasa jauh lebih berat.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore