
seseorang yang memeriksa ponsel saat orang lain berbicara / foto: Magnific/thanyakij-12
JawaPos.com - Di era digital saat ini, hampir semua orang membawa ponsel ke mana pun mereka pergi. Kebiasaan mengecek ponsel saat sedang berbicara dengan orang lain menjadi hal yang semakin umum. Namun, dalam perspektif psikologi, perilaku ini tidak selalu sekadar “kebiasaan buruk”—ia bisa mencerminkan pola perhatian, kepribadian, hingga cara seseorang memproses interaksi sosial.
Penting untuk dicatat: tidak semua orang yang sesekali melihat ponsel saat berbicara otomatis memiliki karakter tertentu. Konteks sangat berpengaruh—misalnya notifikasi penting, pekerjaan, atau kondisi darurat. Namun jika kebiasaan ini sering terjadi, psikologi sosial dan kepribadian memberikan beberapa pola yang menarik untuk dipahami.
Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (15/5), terdapat tujuh ciri kepribadian yang sering dikaitkan dengan orang yang kerap menggulir ponsel saat percakapan berlangsung.
1. Tingkat Fokus Tersebar (Divided Attention yang Tinggi)
Sebagian orang memang terbiasa membagi perhatian antara beberapa stimulus sekaligus. Dalam psikologi kognitif, ini dikenal sebagai multitasking attention style.
Orang dengan kecenderungan ini sering merasa mampu mengikuti percakapan sambil tetap memantau hal lain seperti pesan masuk, media sosial, atau notifikasi kerja. Namun, penelitian menunjukkan bahwa otak manusia sebenarnya tidak benar-benar multitasking, melainkan berpindah fokus dengan cepat.
Akibatnya, orang dengan gaya perhatian seperti ini:
Mudah terdistraksi
Sering “setengah mendengarkan”
Merasa tetap produktif meski perhatian terbagi
2. Kecemasan Sosial Ringan atau Ketidaknyamanan dalam Interaksi
Pada beberapa kasus, penggunaan ponsel saat berbicara bisa menjadi mekanisme “pelarian halus” dari situasi sosial yang terasa kurang nyaman.
Ini tidak selalu berarti gangguan kecemasan sosial, tetapi bisa berupa:
Rasa canggung dalam percakapan mendalam
Kesulitan mempertahankan kontak mata
Ketidaknyamanan saat terjadi keheningan
Ponsel menjadi “alat aman” untuk mengisi jeda atau mengurangi tekanan sosial.
3. Ketergantungan pada Stimulasi Instan
Media sosial, pesan instan, dan aplikasi hiburan melatih otak untuk terbiasa dengan rangsangan cepat dan berulang.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Unjuk Gigi!
Voli Indonesia Berduka, Mantan Pemain Jakarta Pertamina Enduro Meninggal Dunia
Gratis di YouTube! Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Vietnam di Piala AFF 2026
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Update Kondisi Alex Martins! Dibawa ke Rumah Sakit, Pelatih Persebaya Surabaya Tunggu Kabar Terbaru
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Misi Berat Macan Kemayoran!
3 Fakta Respons Kedubes Iran usai Pidato Prabowo soal Nuklir, Tegaskan Programnya Hanya untuk Tujuan
