
seseorang yang memiliki umur yang panjang / freepik
JawaPos.com - Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia. Di berbagai wilayah seperti Okinawa, tidak jarang ditemukan orang-orang yang tetap aktif, sehat, dan bahagia bahkan setelah melewati usia 95 tahun. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan genetik, melainkan hasil dari pola hidup dan kebiasaan mental yang konsisten dijaga selama puluhan tahun.
Dari sudut pandang psikologi, ada sejumlah kebiasaan yang hampir selalu ditemukan pada para lansia panjang umur di Jepang. Menariknya, kebiasaan ini bukan sesuatu yang rumit atau mahal—melainkan praktik sederhana yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan konsistensi.
Dilansir dari Expert Editor pada MInggu (26/4), terdapat 7 kebiasaan yang hampir tidak pernah mereka tinggalkan:
1. Memiliki Tujuan Hidup (Ikigai)
Salah satu konsep paling terkenal dari Jepang adalah ikigai, yang berarti “alasan untuk hidup.” Orang yang hidup hingga usia sangat tua biasanya memiliki alasan kuat untuk bangun setiap pagi—entah itu merawat kebun, membantu keluarga, atau sekadar menjalani rutinitas yang mereka cintai.
Dalam psikologi, memiliki tujuan hidup terbukti dapat meningkatkan kesehatan mental, mengurangi stres, dan bahkan memperpanjang umur. Tujuan ini memberi rasa makna dan arah, yang sangat penting terutama di usia lanjut.
2. Tetap Aktif Secara Fisik (Tanpa Berlebihan)
Mereka tidak berhenti bergerak. Namun, aktivitas yang dilakukan bukan olahraga berat, melainkan gerakan ringan yang konsisten seperti berjalan kaki, berkebun, atau melakukan pekerjaan rumah.
Psikologi perilaku menunjukkan bahwa aktivitas fisik ringan yang rutin jauh lebih berkelanjutan dibandingkan olahraga intens yang jarang dilakukan. Aktivitas ini juga membantu menjaga fungsi kognitif dan suasana hati.
3. Menjaga Hubungan Sosial
Orang Jepang yang berumur panjang cenderung tidak hidup dalam isolasi. Mereka menjaga hubungan dengan keluarga, tetangga, dan komunitas. Di Okinawa, ada konsep moai—kelompok sosial kecil yang saling mendukung sepanjang hidup.
Dari perspektif psikologi sosial, koneksi manusia sangat penting untuk kesejahteraan emosional. Kesepian kronis bahkan disamakan dampaknya dengan merokok dalam hal risiko kesehatan.
4. Mengelola Stres dengan Sederhana
Alih-alih menghindari stres sepenuhnya (yang hampir mustahil), mereka memiliki cara untuk mengelolanya. Misalnya melalui meditasi, menikmati teh, berjalan santai, atau sekadar menerima keadaan.
Dalam psikologi, kemampuan regulasi emosi adalah kunci. Orang yang mampu menerima dan memproses emosi negatif dengan baik cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih stabil.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
