Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 April 2026 | 09.57 WIB

Mengapa Kita Terobsesi dengan Gosip Selebriti? Ini 9 Kebutuhan Emosional yang Sering Tersembunyi Menurut Psikologi

seseorang yang mengikuti gosip selebriti./ Freepik/freepik - Image

seseorang yang mengikuti gosip selebriti./ Freepik/freepik

JawaPos.com - Di era media sosial dan akses informasi tanpa batas, gosip selebriti bukan lagi sekadar hiburan ringan—bagi sebagian orang, itu menjadi bagian dari rutinitas harian.

Dari hubungan asmara, konflik, hingga gaya hidup mewah para figur publik, semuanya terasa begitu menarik untuk diikuti. Namun di balik kebiasaan ini, psikologi melihat sesuatu yang lebih dalam: adanya kebutuhan emosional yang belum sepenuhnya terpenuhi.

Tanpa disadari, ketertarikan berlebihan terhadap kehidupan selebriti bisa menjadi “cermin” dari kondisi batin seseorang.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (20/4), terdapat sembilan kebutuhan emosional yang sering tersembunyi di balik obsesi terhadap gosip selebriti.

1. Kebutuhan akan Pelarian (Escapism)

Kehidupan sehari-hari yang penuh tekanan membuat banyak orang mencari pelarian. Gosip selebriti menawarkan dunia alternatif—penuh drama, kemewahan, dan sensasi—yang membantu seseorang sejenak melupakan masalah pribadinya.

2. Kebutuhan akan Koneksi Sosial

Mengikuti gosip memberi bahan obrolan. Ini mempermudah seseorang merasa “nyambung” saat berbincang dengan teman atau komunitas. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia untuk merasa terhubung dengan orang lain.

3. Kebutuhan untuk Membandingkan Diri

Tanpa disadari, banyak orang membandingkan hidupnya dengan selebriti. Kadang untuk merasa lebih baik (“hidupku tidak seburuk itu”), atau justru merasa kurang (“kenapa hidupku tidak seperti mereka?”). Ini adalah bentuk social comparison.

4. Kebutuhan akan Validasi Emosional

Saat seseorang melihat selebriti mengalami masalah—putus cinta, konflik, atau kegagalan—mereka bisa merasa emosinya “divalidasi”. Seolah-olah, “ternyata semua orang juga mengalami ini, bahkan yang terkenal sekalipun.”

5. Kebutuhan akan Sensasi dan Stimulasi

Gosip penuh dengan drama dan kejutan. Bagi otak, ini memberikan stimulasi yang mirip dengan menonton film atau membaca cerita menarik. Ini bisa menjadi cara cepat untuk mengusir kebosanan.

6. Kebutuhan akan Identitas dan Role Model

Sebagian orang menggunakan selebriti sebagai acuan identitas—cara berpakaian, berbicara, bahkan gaya hidup. Mengikuti gosip membuat mereka merasa lebih dekat dengan figur yang mereka kagumi.

7. Kebutuhan akan Kontrol

Menariknya, mengikuti kehidupan orang lain—terutama yang penuh konflik—bisa memberi ilusi kontrol. Ketika hidup sendiri terasa tidak pasti, mengetahui detail kehidupan orang lain memberikan rasa “memahami” sesuatu dengan jelas.

8. Kebutuhan akan Superioritas (Merasa Lebih Baik)

Ada kepuasan tersendiri saat melihat selebriti melakukan kesalahan atau terlibat skandal. Ini bisa memicu perasaan “setidaknya aku tidak seperti itu”, yang secara psikologis meningkatkan harga diri sementara.

9. Kebutuhan akan Makna dan Narasi

Manusia menyukai cerita. Gosip selebriti menyediakan alur narasi—awal, konflik, klimaks, dan resolusi. Mengikuti cerita ini memberi rasa keterlibatan emosional, seolah-olah kita menjadi bagian dari kisah tersebut.

Jadi, Apakah Ini Buruk?

Tidak selalu. Mengikuti gosip selebriti dalam batas wajar adalah hal yang normal. Masalah muncul ketika hal ini menjadi sumber utama kebahagiaan, mengganggu produktivitas, atau menggantikan hubungan nyata.

Psikologi tidak menghakimi kebiasaan ini, tetapi mengajak kita untuk lebih sadar:
Apa yang sebenarnya kita cari di balik ketertarikan itu?

Penutup

Obsesi terhadap gosip selebriti seringkali bukan sekadar rasa penasaran, tetapi refleksi dari kebutuhan emosional yang lebih dalam. Dengan memahami hal ini, kita bisa lebih bijak dalam mengelola perhatian dan energi—tidak hanya untuk mengikuti kehidupan orang lain, tetapi juga untuk membangun kehidupan kita sendiri.

Kalau kamu merasa salah satu poin di atas “kena banget”, itu bukan hal yang aneh—justru itu bisa jadi awal untuk lebih mengenal diri sendiri.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore