Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 April 2026 | 03.38 WIB

Rahasia Kebahagiaan Bukanlah Berpikir Positif atau Menulis Jurnal Rasa Syukur, Melainkan Kemampuan tidak Bergantung pada Pengakuan dari Luar

Ilustrasi kebiasaan sederhana orang bahagia yang mencintai hidupnya dan menemukan makna sejati dalam kehidupan (Geediting) - Image

Ilustrasi kebiasaan sederhana orang bahagia yang mencintai hidupnya dan menemukan makna sejati dalam kehidupan (Geediting)

JawaPos.com - Selama sebagian besar masa usia tiga puluhan, saya menulis jurnal rasa syukur. Saya menuliskannya dengan tekun, tiga hal setiap malam sebelum tidur, seperti yang disarankan oleh setiap buku dan podcast tentang kesehatan mental.

Saya bersyukur atas cahaya pagi yang masuk melalui jendela apartemen saya, atas kesehatan saya, atas aroma teh yang diseduh pada pukul 05.45 pagi. Namun, saya tetap merasa sedih secara diam-diam dengan cara yang tak bisa saya jelaskan.

Pandangan umum sangat tegas mengenai hal ini. Berpikir positif, praktik rasa syukur, dan afirmasi yang diulang di depan cermin: semua ini seharusnya menjadi fondasi kehidupan yang baik.

Jutaan orang meyakini hal itu. Industri-industri besar beroperasi berdasarkan premis bahwa jika Anda bisa mengubah cara berpikir, Anda bisa mengubah realitas Anda.

Namun, yang saya temukan, baik melalui pengalaman pribadi saya maupun melalui penelitian yang valid selama bertahun-tahun, adalah bahwa praktik-praktik ini sering kali berfungsi sebagai distraksi yang indah dari rasa lapar yang lebih dalam, yang kebanyakan dari kita enggan telusuri. Rasa lapar akan konfirmasi dari orang lain bahwa kita baik-baik saja.

Yang saya yakini kini adalah bahwa validasi eksternal seringkali menjadi pendorong utama ketidakbahagiaan bagi banyak orang. Bukan karena kurangnya rasa syukur. Bukan karena kurangnya pemikiran positif. Melainkan kebutuhan yang tak henti-hentinya dan melelahkan agar orang lain melihat hidup kita dan berkata, “Ya, itu berarti.”

Dilansir dari geediting pada Rabu (15/4), saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga di mana membaca suasana hati orang lain adalah keterampilan bertahan hidup.

Sifat emosional ibu saya yang tidak stabil membuat saya belajar mencari tanda-tanda persetujuan seperti halnya anak-anak lain belajar mengikat tali sepatu.

Setiap ekspresi sekecil apa pun di wajah orang dewasa menjadi data yang saya gunakan untuk menyesuaikan perilaku saya.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore