Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 31 Maret 2026 | 18.58 WIB

Orang yang Tumbuh dengan Perasaan Tidak Dicintai Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku Ini Saat Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang tumbuh dengan perasaan tidak dicintai. (Freepik/prostock-studio) - Image

seseorang yang tumbuh dengan perasaan tidak dicintai. (Freepik/prostock-studio)



JawaPos.com - Tidak semua luka masa kecil terlihat secara kasat mata. Ada luka yang tumbuh diam-diam, tertanam dalam pengalaman emosional, dan baru benar-benar terasa dampaknya saat seseorang beranjak dewasa. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah tumbuh dengan perasaan tidak dicintai—baik karena kurangnya perhatian, kasih sayang yang tidak konsisten, atau hubungan emosional yang dingin dengan orang tua.

Dalam dunia psikologi, pengalaman ini sering dikaitkan dengan attachment issues atau pola keterikatan yang tidak sehat. Ketika kebutuhan emosional dasar tidak terpenuhi di masa kecil, individu akan mengembangkan mekanisme bertahan yang kemudian terbawa hingga dewasa.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat tujuh perilaku yang sering muncul pada orang yang tumbuh dengan perasaan tidak dicintai:

1. Sulit Mempercayai Orang Lain

Orang yang tidak mendapatkan rasa aman secara emosional sejak kecil cenderung mengembangkan rasa tidak percaya terhadap orang lain. Mereka mungkin selalu merasa bahwa orang lain akan mengecewakan, meninggalkan, atau bahkan menyakiti mereka.

Akibatnya, mereka sering:

Menjaga jarak dalam hubungan
Sulit membuka diri
Mencurigai niat orang lain

Ini bukan karena mereka ingin seperti itu, tetapi karena pengalaman masa lalu membentuk keyakinan bahwa “kedekatan itu berbahaya.”

2. Haus Validasi Eksternal

Karena tidak mendapatkan cukup pengakuan atau kasih sayang saat kecil, mereka tumbuh dengan kebutuhan besar akan validasi dari luar.

Mereka sering:

Mencari pujian berlebihan
Takut dianggap tidak cukup baik
Mengukur nilai diri dari pendapat orang lain

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan low self-worth atau harga diri yang rendah.

3. Takut Ditinggalkan (Fear of Abandonment)

Perasaan tidak dicintai seringkali berakar pada pengalaman ditinggalkan—baik secara fisik maupun emosional. Hal ini bisa memicu ketakutan mendalam akan kehilangan orang yang mereka sayangi.

Dalam hubungan dewasa, ini terlihat sebagai:

Terlalu bergantung pada pasangan
Overthinking terhadap hal kecil
Panik ketika komunikasi terganggu

Mereka tidak hanya takut kehilangan orang lain, tapi juga takut mengulang rasa sakit yang sama.

4. Terlalu Mandiri (Hyper-Independence)

Menariknya, sebagian orang justru berkembang menjadi sangat mandiri—bahkan terlalu mandiri.

Mereka berpikir:

“Kalau aku tidak bisa mengandalkan siapa pun, aku harus mengandalkan diri sendiri.”

Ciri-cirinya:

Enggan meminta bantuan
Menyembunyikan kesulitan
Merasa lemah jika bergantung pada orang lain

Padahal, ini adalah bentuk pertahanan diri dari kekecewaan masa lalu.

5. Kesulitan Mengelola Emosi

Tanpa bimbingan emosional yang sehat saat kecil, seseorang bisa tumbuh tanpa kemampuan regulasi emosi yang baik.

Akibatnya:

Mudah meledak atau sebaliknya, memendam emosi
Bingung mengidentifikasi perasaan sendiri
Merasa “kosong” secara emosional

Psikologi menyebut ini sebagai kurangnya emotional regulation skills.

6. Pola Hubungan yang Tidak Sehat

Sering kali, mereka tanpa sadar tertarik pada hubungan yang mencerminkan luka masa lalu—misalnya pasangan yang dingin, tidak konsisten, atau tidak tersedia secara emosional.

Ini terjadi karena:

Otak menganggap pola lama sebagai “familiar”
Ada dorongan untuk “memperbaiki” masa lalu melalui hubungan saat ini

Sayangnya, ini justru membuat siklus luka terus berulang.

7. Sulit Menerima Cinta

Ironisnya, ketika akhirnya mendapatkan cinta yang tulus, mereka justru merasa tidak nyaman.

Mereka mungkin:

Merasa tidak pantas dicintai
Mencurigai ketulusan pasangan
Menarik diri saat hubungan mulai serius

Dalam banyak kasus, mereka tidak pernah belajar bagaimana rasanya dicintai dengan sehat, sehingga hal itu terasa asing.

Penutup: Luka Bisa Sembuh

Penting untuk dipahami bahwa perilaku-perilaku ini bukanlah kelemahan, melainkan bentuk adaptasi dari masa lalu. Otak dan emosi seseorang melakukan yang terbaik untuk bertahan dalam kondisi yang tidak ideal.

Kabar baiknya, pola ini bisa disadari dan diubah.

Dengan:

Kesadaran diri (self-awareness)
Terapi atau konseling
Lingkungan yang suportif
Latihan membangun hubungan yang sehat

Seseorang bisa belajar mencintai diri sendiri dan orang lain dengan cara yang lebih sehat.

Tidak dicintai di masa lalu bukan berarti tidak layak dicintai sekarang.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore