
seseorang yang tidak bisa meminta maaf dengan tulus./Sumber foto: Freepik/Wavebreak Media
JawaPos.com - Meminta maaf adalah salah satu bentuk kedewasaan emosional yang paling sederhana—namun justru paling sulit dilakukan. Tidak sedikit orang yang mampu mengucapkan kata “maaf”, tetapi langsung merusaknya dengan tambahan kata “tetapi”.
Contohnya:
“Maaf ya aku telat, tapi tadi macet.”
“Aku minta maaf kalau kamu tersinggung, tapi aku cuma jujur.”
Sekilas terdengar seperti permintaan maaf, tetapi sebenarnya mengandung pembelaan diri. Dalam psikologi, fenomena ini bukan sekadar kebiasaan bicara, melainkan bisa mencerminkan pola kepribadian tertentu.
Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (27/3), terdapat enam masalah kepribadian yang sering dimiliki oleh orang yang tidak bisa meminta maaf tanpa embel-embel “tetapi”.
Baca Juga:Orang yang Menghindari Kontak Mata Memiliki 9 Perilaku Terkait Kepercayaan Diri Menurut Psikologi
1. Sulit Mengakui Kesalahan (Defensiveness Tinggi)
Orang yang selalu menambahkan “tetapi” cenderung memiliki mekanisme pertahanan diri yang kuat. Mereka merasa bahwa mengakui kesalahan sepenuhnya sama dengan menunjukkan kelemahan.
Akibatnya:
Mereka mencari alasan untuk membenarkan diri
Mengalihkan fokus dari kesalahan ke situasi
Lebih fokus “menjelaskan” daripada “memperbaiki”
Dalam psikologi, ini disebut sebagai defensiveness, yaitu kecenderungan melindungi ego dari rasa bersalah atau malu.
2. Ego yang Tinggi
Permintaan maaf yang tulus membutuhkan kerendahan hati. Namun bagi sebagian orang, ego mereka terlalu besar untuk mengakui bahwa mereka sepenuhnya salah.
Kata “tetapi” menjadi cara halus untuk berkata:
“Aku salah, tapi tidak sepenuhnya.”
Orang dengan ego tinggi biasanya:
Sulit menerima kritik
Ingin selalu terlihat benar
Tak nyaman berada dalam posisi “bersalah”
3. Kurangnya Empati
Permintaan maaf sejati berfokus pada perasaan orang lain. Sebaliknya, permintaan maaf dengan “tetapi” berfokus pada diri sendiri.
Contoh:
“Maaf kalau kamu sakit hati, tapi aku lagi capek.”
Di sini, perasaan lawan bicara tidak benar-benar divalidasi.
Ini menunjukkan kurangnya empati, yaitu:
Tidak sepenuhnya memahami perasaan orang lain
Tidak menempatkan diri di posisi orang lain
Lebih peduli pada pembenaran diri daripada dampak tindakan
4. Ketidakdewasaan Emosional
Kedewasaan emosional terlihat dari kemampuan seseorang untuk:
Mengakui kesalahan tanpa syarat
Menahan dorongan untuk membela diri
Bertanggung jawab atas tindakan
Orang yang selalu berkata “maaf, tapi…” sering kali belum mencapai tingkat ini.
Mereka cenderung:
Reaktif
Sulit mengelola rasa bersalah
Menghindari tanggung jawab penuh
5. Takut Kehilangan Kendali atau Status
Bagi sebagian orang, mengakui kesalahan terasa seperti kehilangan posisi atau kendali—terutama dalam hubungan atau lingkungan kerja.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022