
seseorang yang tidak bisa berhenti menonton berita./Freepik/13nuta
JawaPos.com - Di banyak keluarga, ada satu kebiasaan yang sering terlihat: orang tua atau generasi yang lebih tua menonton berita hampir setiap hari, bahkan berkali-kali dalam sehari. Televisi berita bisa menyala sejak pagi hingga malam. Anehnya, meskipun berita sering berisi konflik politik, kriminalitas, bencana, atau krisis ekonomi yang membuat mereka cemas, kebiasaan ini tetap sulit dihentikan.
Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan biasa. Dari sudut pandang psikologi, ada beberapa mekanisme mental yang membuat generasi tua lebih sulit berhenti mengonsumsi berita, bahkan ketika berita tersebut berdampak negatif pada perasaan mereka.
Dilansir dari Expert Editor pada Senin (16/3), terdapat enam alasan utamanya.
1. Otak Manusia Secara Alami Tertarik pada Informasi Ancaman
Dalam psikologi evolusioner, manusia memiliki negativity bias — kecenderungan otak untuk lebih memperhatikan informasi negatif dibandingkan informasi positif.
Secara evolusi, kemampuan ini membantu manusia bertahan hidup. Nenek moyang kita yang lebih peka terhadap ancaman (seperti bahaya atau konflik) memiliki peluang lebih besar untuk selamat.
Berita modern secara tidak langsung memanfaatkan bias ini. Banyak berita berfokus pada:
konflik
bencana
kriminalitas
krisis politik
masalah ekonomi
Hal-hal tersebut langsung memicu sistem kewaspadaan otak. Bagi generasi tua yang sudah terbiasa dengan format berita televisi tradisional, stimulus ini sangat kuat sehingga mereka terus kembali menonton meskipun merasa cemas.
2. Kebiasaan yang Terbentuk Selama Puluhan Tahun
Banyak generasi tua tumbuh di masa ketika televisi adalah sumber utama informasi. Pada masa itu:
berita malam adalah ritual keluarga
hanya ada beberapa saluran televisi
berita dianggap sebagai sumber informasi paling kredibel
Ketika kebiasaan ini dilakukan setiap hari selama puluhan tahun, terbentuklah habit loop dalam otak.
Habit loop terdiri dari tiga bagian:
Cue – waktu tertentu (misalnya jam berita)
Routine – menonton berita
Reward – merasa mendapatkan informasi penting
Seiring waktu, kebiasaan ini menjadi otomatis. Bahkan ketika berita membuat stres, otak tetap menjalankan rutinitas yang sama.
3. Kebutuhan Akan Rasa Kontrol
Salah satu penyebab kecemasan terbesar pada manusia adalah ketidakpastian.
Menonton berita memberi ilusi bahwa seseorang:
memahami apa yang sedang terjadi
bisa memprediksi masa depan
lebih siap menghadapi perubahan
Dalam psikologi, ini disebut information seeking behavior — perilaku mencari informasi untuk mengurangi ketidakpastian.
Ironisnya, terlalu banyak berita justru sering memperburuk kecemasan karena informasi yang diterima semakin banyak dan seringkali negatif.
Namun bagi otak, mencari informasi tetap terasa seperti tindakan “mengambil kendali”.
4. Faktor Usia dan Sensitivitas terhadap Ancaman
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa ketika seseorang menua, mereka cenderung:
lebih memikirkan keamanan
lebih peduli pada stabilitas sosial
lebih sensitif terhadap perubahan besar
Karena itu, berita tentang:
ekonomi
keamanan negara
konflik politik
kesehatan publik
terasa lebih relevan dan mengancam bagi generasi tua dibandingkan generasi muda.
Hal ini membuat mereka lebih terdorong untuk terus memantau berita.
5. Berita Sebagai Sumber Identitas Sosial
Bagi sebagian generasi tua, mengikuti berita juga berkaitan dengan identitas sosial.
Mengetahui berita membuat mereka merasa:
tetap terhubung dengan dunia
bisa ikut berdiskusi dengan orang lain
tidak tertinggal zaman
Dalam banyak lingkungan sosial, terutama di kalangan orang tua, percakapan sehari-hari sering dimulai dengan topik seperti:
politik
kondisi ekonomi
kejadian nasional
isu global
Menonton berita menjadi cara untuk tetap merasa relevan dalam percakapan tersebut.
6. Sistem Dopamin: Ketagihan Informasi Baru
Setiap kali manusia mendapatkan informasi baru, otak melepaskan dopamin, yaitu neurotransmitter yang terkait dengan rasa penasaran dan reward.
Berita modern sering dirancang dengan pola seperti:
breaking news
update terbaru
perkembangan kasus
Format ini menciptakan loop rasa penasaran.
Otak terus merasa bahwa:
“mungkin ada informasi penting berikutnya.”
Akibatnya, orang terus menonton atau mencari update berita berikutnya, bahkan jika kontennya membuat mereka stres.
Dampak Jika Terlalu Banyak Menonton Berita
Psikolog menyebut fenomena ini sebagai doomscrolling atau konsumsi berita berlebihan.
Beberapa dampaknya antara lain:
peningkatan kecemasan
stres kronis
rasa dunia lebih berbahaya dari kenyataan
gangguan tidur
kelelahan mental
Hal ini bisa terjadi pada siapa saja, tetapi sering lebih terlihat pada generasi yang sangat terbiasa dengan media berita tradisional.
Kesimpulan
Generasi tua tidak selalu menonton berita karena mereka menyukai rasa cemas yang ditimbulkannya. Sebaliknya, kebiasaan tersebut muncul dari kombinasi beberapa faktor psikologis:
Bias otak terhadap informasi negatif
Kebiasaan yang terbentuk selama puluhan tahun
Keinginan untuk merasa memiliki kontrol terhadap situasi
Sensitivitas yang lebih tinggi terhadap ancaman seiring bertambahnya usia
Kebutuhan akan identitas sosial dan relevansi dalam percakapan
Sistem dopamin yang membuat manusia terus mencari informasi baru
