Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 Maret 2026, 10.18 WIB

6 Alasan Mengapa Generasi Tua Tidak Bisa Berhenti Menonton Berita Meski Membuat Mereka Cemas Menurut Psikologi

seseorang yang tidak bisa berhenti menonton berita./Freepik/13nuta - Image

seseorang yang tidak bisa berhenti menonton berita./Freepik/13nuta

JawaPos.com - Di banyak keluarga, ada satu kebiasaan yang sering terlihat: orang tua atau generasi yang lebih tua menonton berita hampir setiap hari, bahkan berkali-kali dalam sehari. Televisi berita bisa menyala sejak pagi hingga malam. Anehnya, meskipun berita sering berisi konflik politik, kriminalitas, bencana, atau krisis ekonomi yang membuat mereka cemas, kebiasaan ini tetap sulit dihentikan.

Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan biasa. Dari sudut pandang psikologi, ada beberapa mekanisme mental yang membuat generasi tua lebih sulit berhenti mengonsumsi berita, bahkan ketika berita tersebut berdampak negatif pada perasaan mereka.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (16/3), terdapat enam alasan utamanya.

1. Otak Manusia Secara Alami Tertarik pada Informasi Ancaman

Dalam psikologi evolusioner, manusia memiliki negativity bias — kecenderungan otak untuk lebih memperhatikan informasi negatif dibandingkan informasi positif.

Secara evolusi, kemampuan ini membantu manusia bertahan hidup. Nenek moyang kita yang lebih peka terhadap ancaman (seperti bahaya atau konflik) memiliki peluang lebih besar untuk selamat.

Berita modern secara tidak langsung memanfaatkan bias ini. Banyak berita berfokus pada:

konflik

bencana

kriminalitas

krisis politik

masalah ekonomi

Hal-hal tersebut langsung memicu sistem kewaspadaan otak. Bagi generasi tua yang sudah terbiasa dengan format berita televisi tradisional, stimulus ini sangat kuat sehingga mereka terus kembali menonton meskipun merasa cemas.

2. Kebiasaan yang Terbentuk Selama Puluhan Tahun

Banyak generasi tua tumbuh di masa ketika televisi adalah sumber utama informasi. Pada masa itu:

berita malam adalah ritual keluarga

hanya ada beberapa saluran televisi

berita dianggap sebagai sumber informasi paling kredibel

Ketika kebiasaan ini dilakukan setiap hari selama puluhan tahun, terbentuklah habit loop dalam otak.

Habit loop terdiri dari tiga bagian:

Cue – waktu tertentu (misalnya jam berita)

Routine – menonton berita

Reward – merasa mendapatkan informasi penting

Seiring waktu, kebiasaan ini menjadi otomatis. Bahkan ketika berita membuat stres, otak tetap menjalankan rutinitas yang sama.

3. Kebutuhan Akan Rasa Kontrol


Salah satu penyebab kecemasan terbesar pada manusia adalah ketidakpastian.

Menonton berita memberi ilusi bahwa seseorang:

memahami apa yang sedang terjadi

bisa memprediksi masa depan

lebih siap menghadapi perubahan

Dalam psikologi, ini disebut information seeking behavior — perilaku mencari informasi untuk mengurangi ketidakpastian.

Ironisnya, terlalu banyak berita justru sering memperburuk kecemasan karena informasi yang diterima semakin banyak dan seringkali negatif.

Namun bagi otak, mencari informasi tetap terasa seperti tindakan “mengambil kendali”.

4. Faktor Usia dan Sensitivitas terhadap Ancaman


Penelitian psikologi menunjukkan bahwa ketika seseorang menua, mereka cenderung:

lebih memikirkan keamanan

lebih peduli pada stabilitas sosial

lebih sensitif terhadap perubahan besar

Karena itu, berita tentang:

ekonomi

keamanan negara

konflik politik

kesehatan publik

terasa lebih relevan dan mengancam bagi generasi tua dibandingkan generasi muda.

Hal ini membuat mereka lebih terdorong untuk terus memantau berita.

5. Berita Sebagai Sumber Identitas Sosial


Bagi sebagian generasi tua, mengikuti berita juga berkaitan dengan identitas sosial.

Mengetahui berita membuat mereka merasa:

tetap terhubung dengan dunia

bisa ikut berdiskusi dengan orang lain

tidak tertinggal zaman

Dalam banyak lingkungan sosial, terutama di kalangan orang tua, percakapan sehari-hari sering dimulai dengan topik seperti:

politik

kondisi ekonomi

kejadian nasional

isu global

Menonton berita menjadi cara untuk tetap merasa relevan dalam percakapan tersebut.

6. Sistem Dopamin: Ketagihan Informasi Baru

Setiap kali manusia mendapatkan informasi baru, otak melepaskan dopamin, yaitu neurotransmitter yang terkait dengan rasa penasaran dan reward.

Berita modern sering dirancang dengan pola seperti:

breaking news

update terbaru

perkembangan kasus

Format ini menciptakan loop rasa penasaran.

Otak terus merasa bahwa:

“mungkin ada informasi penting berikutnya.”

Akibatnya, orang terus menonton atau mencari update berita berikutnya, bahkan jika kontennya membuat mereka stres.

Dampak Jika Terlalu Banyak Menonton Berita


Psikolog menyebut fenomena ini sebagai doomscrolling atau konsumsi berita berlebihan.

Beberapa dampaknya antara lain:

peningkatan kecemasan

stres kronis

rasa dunia lebih berbahaya dari kenyataan

gangguan tidur

kelelahan mental

Hal ini bisa terjadi pada siapa saja, tetapi sering lebih terlihat pada generasi yang sangat terbiasa dengan media berita tradisional.

Kesimpulan

Generasi tua tidak selalu menonton berita karena mereka menyukai rasa cemas yang ditimbulkannya. Sebaliknya, kebiasaan tersebut muncul dari kombinasi beberapa faktor psikologis:

Bias otak terhadap informasi negatif

Kebiasaan yang terbentuk selama puluhan tahun

Keinginan untuk merasa memiliki kontrol terhadap situasi

Sensitivitas yang lebih tinggi terhadap ancaman seiring bertambahnya usia

Kebutuhan akan identitas sosial dan relevansi dalam percakapan

Sistem dopamin yang membuat manusia terus mencari informasi baru

Memahami mekanisme ini membantu kita melihat bahwa kebiasaan tersebut bukan sekadar pilihan sederhana, melainkan hasil dari proses psikologis yang kompleks.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore