Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Maret 2026, 09.46 WIB

Orang-orang yang Masih Memiliki Teman Sejati di Usia 70-an Diam-diam Melepaskan 7 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang masih memiliki teman sejati di usia tua./Freepik/freepik - Image

seseorang yang masih memiliki teman sejati di usia tua./Freepik/freepik

JawaPos.com - Banyak orang percaya bahwa persahabatan sejati hanya kuat di masa muda. Namun kenyataannya, sebagian orang justru memiliki lingkaran pertemanan yang lebih hangat dan bermakna ketika memasuki usia 70-an.

Mereka masih memiliki teman yang setia, saling mendukung, dan tetap terhubung meski waktu telah berjalan puluhan tahun.

Menurut berbagai penelitian dalam bidang Psikologi Sosial dan Psikologi Perkembangan, hubungan yang bertahan lama bukan hanya soal keberuntungan atau lamanya waktu mengenal seseorang. Lebih dari itu, hubungan tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan mental dan emosional yang dibangun selama hidup.

Menariknya, orang-orang yang masih memiliki sahabat sejati di usia lanjut sering kali memiliki satu kesamaan: mereka diam-diam melepaskan beberapa kebiasaan yang merusak hubungan.

Dilansir dari Geediting pada Senin (16/3), terdapat tujuh kebiasaan yang biasanya mereka tinggalkan.

1. Kebiasaan Selalu Ingin Benar

Salah satu kebiasaan yang paling merusak hubungan adalah kebutuhan untuk selalu benar dalam setiap percakapan atau perdebatan.

Ketika seseorang selalu ingin menang dalam diskusi, hubungan perlahan berubah menjadi kompetisi. Dalam jangka panjang, ini membuat orang lain merasa tidak dihargai.

Orang-orang yang memiliki persahabatan panjang memahami bahwa menjaga hubungan jauh lebih penting daripada memenangkan argumen kecil. Mereka belajar mengatakan, “Mungkin kamu juga ada benarnya,” atau sekadar memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan yang tidak penting.

Seiring bertambahnya usia, mereka menyadari bahwa kedamaian dalam hubungan jauh lebih berharga daripada ego pribadi.

2. Kebiasaan Menghakimi Terlalu Cepat


Semakin dewasa seseorang, semakin ia memahami bahwa setiap orang memiliki cerita hidup yang kompleks.

Orang yang masih memiliki sahabat dekat di usia 70-an biasanya telah meninggalkan kebiasaan menilai orang lain secara cepat. Mereka tidak langsung mengkritik pilihan hidup teman mereka, baik soal karier, keluarga, maupun keputusan pribadi.

Alih-alih menghakimi, mereka lebih memilih untuk mendengarkan dan memahami. Sikap ini menciptakan rasa aman dalam persahabatan—sebuah ruang di mana seseorang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi.

3. Kebiasaan Menyimpan Dendam

Persahabatan yang bertahan puluhan tahun hampir pasti pernah mengalami konflik.

Namun orang-orang yang mampu mempertahankan hubungan tersebut biasanya tidak menyimpan dendam terlalu lama. Mereka belajar bahwa memaafkan bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk ketenangan diri sendiri.

Penelitian dalam Psikologi Positif menunjukkan bahwa kemampuan memaafkan berhubungan dengan hubungan sosial yang lebih sehat dan tingkat stres yang lebih rendah.

Dengan melepaskan kebiasaan menyimpan sakit hati, hubungan bisa kembali tumbuh tanpa beban masa lalu.

4. Kebiasaan Selalu Membandingkan Hidup


Di masa muda, banyak orang terjebak dalam perbandingan: siapa yang lebih sukses, siapa yang lebih kaya, atau siapa yang hidupnya terlihat lebih sempurna.

Namun orang-orang yang memiliki persahabatan panjang biasanya sudah meninggalkan pola pikir ini.

Mereka menyadari bahwa setiap orang berjalan di jalur hidup yang berbeda. Alih-alih membandingkan, mereka belajar merayakan keberhasilan teman mereka dengan tulus.

Ketika rasa iri berkurang, ruang untuk kehangatan dan dukungan dalam hubungan menjadi jauh lebih besar.

5. Kebiasaan Hanya Menghubungi Saat Butuh

Hubungan yang kuat tidak dibangun hanya ketika seseorang membutuhkan bantuan.

Orang-orang yang mempertahankan persahabatan hingga usia lanjut biasanya memiliki kebiasaan sederhana: mereka tetap menjaga komunikasi bahkan ketika tidak ada kepentingan khusus.

Kadang hanya dengan pesan singkat, telepon singkat, atau sekadar bertanya kabar. Kebiasaan kecil ini menciptakan rasa keterhubungan yang terus hidup selama bertahun-tahun.

Persahabatan bukan hanya tentang hadir saat masalah muncul, tetapi juga tentang hadir dalam momen-momen biasa.

6. Kebiasaan Terlalu Sibuk dengan Diri Sendiri


Di usia produktif, banyak orang begitu fokus pada karier, keluarga, dan tanggung jawab pribadi sehingga hubungan pertemanan sering terabaikan.

Namun orang yang tetap memiliki sahabat di usia 70-an biasanya belajar menyeimbangkan kehidupan mereka. Mereka menyadari bahwa hubungan sosial adalah bagian penting dari kebahagiaan jangka panjang.

Dalam studi tentang kebahagiaan jangka panjang seperti yang dilakukan oleh Harvard Study of Adult Development, kualitas hubungan sosial terbukti menjadi salah satu faktor terbesar yang memengaruhi kesehatan dan kebahagiaan seseorang.

Itulah sebabnya mereka meluangkan waktu untuk menjaga hubungan, bahkan ketika hidup terasa sibuk.

7. Kebiasaan Menutup Diri Secara Emosional


Persahabatan sejati membutuhkan kerentanan.

Orang-orang yang masih memiliki hubungan pertemanan yang dalam di usia lanjut biasanya tidak takut untuk menunjukkan perasaan mereka—baik itu kesedihan, kekhawatiran, maupun rasa syukur.

Mereka tidak selalu berusaha terlihat kuat atau sempurna. Sebaliknya, mereka berani berbagi cerita hidup yang jujur.

Kejujuran emosional seperti ini menciptakan kedekatan yang sulit tergantikan oleh hubungan yang hanya bersifat permukaan.

Penutup

Persahabatan yang bertahan hingga usia 70-an bukanlah hasil kebetulan. Hubungan tersebut tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dijaga selama bertahun-tahun.

Orang-orang yang memiliki sahabat sejati di usia lanjut biasanya tidak melakukan sesuatu yang spektakuler. Mereka hanya perlahan melepaskan kebiasaan yang merusak hubungan: ego yang terlalu besar, kecenderungan menghakimi, menyimpan dendam, atau terlalu sibuk dengan diri sendiri.

Sebagai gantinya, mereka memilih empati, kesabaran, dan keterbukaan.

Pada akhirnya, persahabatan yang bertahan lama bukan tentang seberapa sering kita bertemu, tetapi tentang bagaimana kita memperlakukan satu sama lain sepanjang perjalanan hidup.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore