
Ilustrasi kuliner unik di Magetan (Dok. YouTube Tanboy Kun)
JawaPos.com - Bepergian bukan hanya tentang mengunjungi tempat-tempat baru. Tetapi juga tentang tenggelam dalam budaya baru dan bagian pentingnya adalah mencoba kuliner lokal.
Namun, tidak semua orang menyukai bagian perjalanan ini. Sebagian orang bahkan menghindari mencoba hidangan lokal sama sekali. Psikologi mungkin dapat menjawab pilihan orang-orang ini.
Dilansir dari Geediting, terdapat tujuh perilaku dari orang-orang yang jarang mencoba kuliner lokal saat traveling. Mereka adalah orang yang berpegang teguh pada makanan yang sudah teruji daripada mencoba yang baru.
1. Takut pada hal yang tidak diketahui
Keluar dari zona nyaman bukan untuk semua orang. Ini adalah keputusan dan tugas yang berat, dan tidak semua orang menginginkannya. Begitu juga saat bepergian.
Orang yang menghindari mencoba kuliner lokal mungkin memiliki ketakutan yang mendalam terhadap hal yang tidak diketahuinya. Perilaku ini berasal pada naluri dasar untuk bertahan hidup.
Bagi sebagian pelancong, berpegang teguh pada apa yang mereka ketahui dapat memberikan jaring pengaman. Hal ini menghilangkan risiko mencoba sesuatu yang baru dan berpotensi tidak menyukainya, atau lebih buruk lagi, mengalami reaksi yang merugikan.
2. Kebutuhan untuk mengendalikan
Saat bepergian mereka bahkan tidak ragu untuk menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari tahu restoran yang menyajikan hidangan yang dikenal alih-alih mencoba kuliner lokal yang lebih khas.
Seperti yang pernah dikatakan psikolog Carl Jung, "Segala hal yang membuat kita jengkel terhadap orang lain dapat menuntun kita untuk memahami diri kita sendiri."
Sering kali, orang menghindari mencoba hidangan lokal saat bepergian mungkin melakukannya karena mereka merasa lebih mampu mengendalikan diri saat berpegang pada apa yang mereka ketahui.
Kebutuhan untuk mengontrol ini dapat terwujud dalam berbagai cara, mulai dari memilih makanan yang familiar hingga mengikuti rutinitas dan rencana yang ketat.
3. Pengaruh pola asuh
Mereka mungkin adalah orang-orang yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak menganjurkan mencoba makanan baru. Sebagai pelancong, mereka mendapati dirinya melakukan hal yang sama: memilih makanan yang sudah dikenal.
Seperti yang dikatakan psikolog terkenal Erik Erikson, "Hidup tidak akan berarti tanpa saling ketergantungan. Kita saling membutuhkan, dan semakin cepat kita mempelajarinya, semakin baik bagi kita semua."
Kutipan ini juga berlaku dalam konteks makanan. Preferensi makanan kita sering kali dibentuk oleh kebiasaan makan keluarga dan latar belakang budaya.
Saat kita terpapar pada variasi makanan yang terbatas saat tumbuh dewasa, mungkin sulit untuk melepaskan diri dari kebiasaan tersebut dan mencoba sesuatu yang baru. Kebiasaan ini dapat mengikuti kita hingga dewasa, memengaruhi pilihan kita bahkan saat kita bepergian.
4. Peka terhadap rasa dan bau
Sebagian orang lebih sensitif terhadap rasa dan bau dibandingkan yang lain. Kepekaan ini dapat membuat mereka enggan mencoba makanan baru, terutama saat bepergian.
Orang dengan indra penciuman yang tajam, yang juga dikenal sebagai pencium super, sering kali lebih pemilih dalam hal makanan. Mereka cenderung menghindari makanan dengan rasa atau bau yang kuat, yang sering ditemukan dalam masakan lokal di seluruh dunia.
Bukan berarti mereka tidak mau merasakan budaya setempat, tetapi kepekaan mereka terhadap rasa dan bau mengalahkan rasa ingin tahunya.
5. Nyaman dengan keakraban
Tak dapat dipungkiri, ada orang-orang yang merasa nyaman dengan hal-hal yang sudah dikenal, bahkan ketika mereka berada ribuan mil jauhnya dari rumah. Ini sering kali berlaku pada pilihan makanan mereka.
Mencoba kuliner lokal bisa menjadi petualangan yang mengasyikkan, tetapi juga bisa menakutkan. Saat Anda berada di tempat baru, menjelajahi budaya dan bahasa yang berbeda, menyantap hidangan yang sudah dikenal dapat memberikan rasa nyaman dan normal.
Seseorang memesan cheeseburger di Shanghai alih-alih dim sum lokal, mungkin itu bukan karena mereka tidak suka makanan Cina. Mereka mungkin hanya ingin mencari sedikit rasa kampung halaman di tengah semua hal yang tidak mereka kenal.
6. Takut ketinggalan
Ini mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, tetapi terkadang, orang menghindari mencoba masakan lokal karena takut ketinggalan. Saat Anda berada di tempat baru dengan banyak pilihan makanan, tekanan untuk membuat pilihan yang 'tepat' bisa sangat besar.
Paradoksnya, hal ini kerap kali dapat menyebabkan kelumpuhan keputusan, di mana rasa takut membuat pilihan yang salah dan kehilangan sesuatu yang lebih baik menyebabkan seseorang menghindari pengambilan keputusan sama sekali.
Seperti yang dibahas oleh psikolog Barry Schwartz dalam bukunya “ The Paradox of Choice”, memiliki terlalu banyak pilihan sebenarnya dapat menyebabkan kecemasan dan stres. Stres ini dapat menyebabkan orang kembali pada apa yang mereka ketahui dan menghindari membuat pilihan baru.
7. Pembatasan makanan
Sebagian orang yang menghindari mencoba masakan lokal karena pantangan makanan. Baik karena alergi, intoleransi, atau keyakinan pribadi, faktor-faktor ini dapat membatasi pilihan makanan seseorang.
Seperti yang pernah dikatakan oleh psikolog Albert Bandura, “Agar bisa sukses, orang perlu memiliki rasa percaya diri.” Bagi mereka yang memiliki pantangan makanan, menjaga kendali atas asupan makanan selama bepergian dapat menjadi hal yang penting bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Sebelum menghakimi seseorang karena tidak menikmati kuliner setempat, pertimbangkan bahwa mereka mungkin sedang menjalani pantangan makanan sehingga lebih sulit menikmati makanan yang tidak dikenal.
