Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 Maret 2026 | 21.49 WIB

Orang yang Tidak Benar-Benar Baik Hati Namun Juga Jarang Bersikap Jahat Secara Terang-terangan Biasanya Menunjukkan 9 Pola Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tidak benar-benar baik. (Freepik/rantaimages)

 

JawaPos.com - Di kehidupan sehari-hari kita sering bertemu orang yang terlihat baik. Mereka tidak pernah berteriak, tidak pernah terang-terangan menyakiti orang lain, dan tampak ramah di permukaan.

Namun setelah mengenal lebih lama, kita mulai merasakan sesuatu yang aneh. Mereka juga tidak benar-benar tulus, tidak benar-benar peduli, dan terkadang membuat kita merasa tidak nyaman tanpa alasan yang jelas.

Dalam psikologi sosial, ada tipe kepribadian yang berada di wilayah abu-abu ini. Mereka bukan orang yang secara jelas jahat, tetapi juga tidak benar-benar baik hati. Mereka cenderung menghindari konflik terbuka dan menjaga citra diri, namun perilaku mereka sering meninggalkan dampak emosional yang tidak menyenangkan bagi orang lain.

Menariknya, orang dengan karakter seperti ini sering memperlihatkan pola perilaku yang mirip.

Dilansir dari Silicon Canals, terdapat sembilan pola yang sering muncul menurut perspektif psikologi perilaku dan hubungan sosial.

1. Terlihat Ramah, Tetapi Jarang Tulus Membantu

Orang seperti ini biasanya cukup sopan. Mereka tersenyum, menyapa, dan bersikap ramah dalam interaksi sehari-hari. Namun ketika benar-benar dibutuhkan, mereka jarang hadir.

Mereka mungkin berkata, “Kalau butuh bantuan bilang saja,” tetapi ketika orang benar-benar meminta bantuan, mereka sering punya alasan untuk menghindar.

Dalam psikologi, ini sering disebut sebagai prosocial appearance, yaitu tampilan sosial yang baik tanpa komitmen emosional yang nyata.

2. Sering Bersikap Netral Ketika Ada Ketidakadilan

Orang yang benar-benar baik hati biasanya memiliki keberanian moral untuk bersuara ketika melihat sesuatu yang salah.

Sebaliknya, tipe orang ini cenderung memilih posisi aman. Mereka tidak membela korban, tetapi juga tidak ikut menyerang. Mereka hanya diam atau berkata, “Saya tidak mau ikut campur.”

Secara psikologis, ini berkaitan dengan fenomena bystander effect, yaitu kecenderungan untuk tidak bertindak ketika tanggung jawab dapat dialihkan kepada orang lain.

3. Menghindari Konflik, Tetapi Membiarkan Masalah Berlarut

Alih-alih menyelesaikan masalah secara langsung, mereka lebih suka menghindarinya.

Jika ada kesalahpahaman, mereka jarang membicarakannya secara jujur. Mereka hanya menjauh atau bersikap dingin. Akibatnya, masalah kecil sering berkembang menjadi ketegangan yang lebih besar.

Dalam jangka panjang, sikap ini membuat hubungan terasa tidak sehat karena komunikasi tidak pernah benar-benar terbuka.

4. Memberikan Dukungan yang Terasa Dangkal

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore